Tag Archives: cerita

Catatan buku: cerita-cerita horor

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Mungkin ada orang yang tidak percaya hantu, namun banyak juga orang yang mempercayainya. Bagi sebagian orang cerita-cerita hantu yang menyeramkan dan mistis menarik untuk di baca.

Buku horor pertama yang saya baca dulu berjudul “Penunggu Jenazah”; sebuh novel horor yang saya pinjam di sebuah penyewaan buku dekat alun-alun Magelang. Waktu itu saya masih SMP atau SD. Lupa, yang jelas saya masih kecil. Saya lupa nama pengarangnya.

Ceritanya tentang jaman dulu banget. Ada orang yang berprofesi sebagai pengurus jenazah merangkap jadi dukun. Hidupnya menyendiri dan misterius. Dia membawa jenazah dengan menggunakan gerobak kuda. Cerita pun berlanjut hingga tentang tumbal orang untuk pembagunan jembatan atau bangunan konstruksi lainnya.

Lalu cerita2 orang yang mati. Bagaimana mereka mati. Kondisi jasadnya.  Dan cerita2 mengerikan lainnnya.

Di rumahnya yang menyendiri ada satu ruangan khusus. Di ruangan itu ada tengkorak manusia. Pak Tua penunggu jenazah punya ritual meminum darah segar yang dikucurkan di atas tengkorak itu.

Hiii…… seram………

Kini kami kadang2 membeli atau meminjam buku-buku cerita horor, baik novel, kumpulan cerita, maupun komik horor. Misalnya saja: 4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu, Penunggu Puncak Ancala, Sekolah-sekolah Berhantu, Blitz dan beberapa judul lain.

Menurut saya cerita-cerita di buku-buku itu biasa-biasa saja. Cerita hantu yang tidak menyeramkan. Ceritanya tidak bisa membuat saya bergidik dan bulu kuduk saya tidak berdiri. Berbeda ketika saya membaca kisah tentang pak tua penunggu jenasah. Bayangan kengerian muncul di kepala saya.

image

Satu buku horor yang menarik menurut saya adalah buku “4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu”. Cerita horor berdasarkan kisah nyata ini cukup menarik. Kisahnya tentang sebuah keluarga yang membeli rumah di kawasan Depok. Rumah kuno yang asri itu ternyata menyimpan misteri hantu. Sejak hari pertama ganguan hantu sudah mulai terasa. Dari gangguan-gangguan kecil hingga lantai tanah yang menyembul menjadi kuburan. Seremmmmmm………

Buku cerita yang berjudul Blitz menurut saya cukup bagus. Ceritanya agak datar dan terpengaruh cerita zombie dari luar negeri. Lumayan menghibur.

Membaca cerita-cerita horor bisa menjadi selingan yang menyegarkan. Cerita horor ibarat bumbu penyedap ketika membaca buku-buku ‘berat’ lainnya.

Selamat membaca.

Baca juga : Catatan Buku.

image

Catatan Buku: S H A G, Rusa Kutup Tak Kenal Mundur

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku ini juga salah satu buku lama yang mengisi rak buku kami. Beberapa kali kami mensortasi isi rak buku dan menghibahkan beberapa buku yang jarang kami baca, namun buku kuno yang sudah sobek2 ini tetap kami pertahankan ada di rak buku.

Buku ini berjudul: Shag, Rusa Kutup Tak Kenal Mundur. Sebuah buku terjemahan karangan C. Bernard Rutley.  Sepertinya buku ini merupakan pengadaan diknas untuk anak2 sekolah.

Buku ini menceritakan tentang kisah kehidupan  Shag si rusa kutup mulai dari lahir hingga menjadi pemimpin kawanannya. Buku ini ditulis berdasarkan riset tentang kehidupan rusa kutup di alam liar. Rangkaian cerita, kondisi lingkungan, dan uraiannya dibuat seperti kehidupan rusa kutup itu sendiri.

Membaca cerita Shag seperti belajar tentang kehidupan rusa kutup. Cara belajar seperti ini menurut saya lebih mengena daripada pelajaran menghafal buku-buku teks pelajaran. Dengan membaca cerita seperti ini anak-anak juga dirangsang untuk mencintai lingkungan.

Jaman dulu, ketika saya masih kecil, ketika tv masih hitam putih dan jarang, membaca cerita adalah kegiatan yang mengasikkan. Anak-anak tidak terkacaukan dengan acara televisi, main game, atau internetan.

Saat ini kegiatan membaca anak kalah dengan acara televisi yang melenakkan. Jika acaranya mendidik sih tidak mengapa. Masalahnya banyak acara, film, atau iklan TV yang tidak mendidik dan tidak menambah informasi. Anak-anak menjadi malas membaca dan belajar. Waktunya lebih banyak dihabiskan di depan TV, atau gadget. Apalagi membaca buku-buku yang sudah lusuh, kusut, dan gambarnya kurang menarik.

Entah, saya juga binggung bagaimana caranya agar anak2 saya gemar membaca.

image

Baca juga : Catatan Buku.

image

Tragedi Buah Kurma

Abim menghilang

Abim menghilang

Ini sepenggal kisah kami di bulan Ramadhan lalu. Sebagai orang tua belum pernah saya mengalami panik yang luar biasa. Anakku yang nomor dua, Abim, hilang.

Sehari sebelum masuk bulan Ramadhan saya memboyong seluruh keluarga kembali ke Bogor dari rumah Eyang Pati. Anak-anak masih libur sekolah, jadi mereka bisa istirahat di rumah. Rumah masih berantakan. Buku-buku belum semua tertata di rak. Baju-baju masih menumpuk di sofa. Tas dan kardus masih berantakan di ruang depan dan ruang tengah. Cucian menumpuk segunung di mesin cuci.

Puasa hari pertama kami awali dengan sahur seadanya. Tidak banyak persiapan bahan makanan yang ada di kulkas. Tidak masalah. Kami semua bahagia, karena bisa mengawali puasa bersama seluruh keluarga. Alhamdulillah.
Continue reading

Teman Baru

Hidup ini kadang-kadang tidak terduga dan selalu ada kejutan-kejutan. Kemarin pagi saya mendapatkan kejutan itu. Pagi-pagi ketika saya baru saja sampai ke kantor, tiba-tiba telepon saya berdering. Telepon yang tidak biasa saya gunakan untuk menelpon. Ketika saya lihat, nomornya tidak terdaftar dalam daftar kontak saya. Artinya telepon dari ‘orang yang tidak dikenal’.
Biasanya saya abaikan telepon-telepon semacam ini. Karena biasanya kalau tidak dari asuransi, kartu kredit, atau malah ‘telepon mama minta pulsa’. Saking jengkelnya saya dengan telepon semacam ini, sampai saya buat tip singkat untuk memblokir telepon spam (Klik di sini). Namun, pagi ini tidak. Saya terima telepon itu.

“Assalamu’alaikum…”, sapa saya.
Tidak ada suara yang terdengar. Hanya samar-samar seperti ada suara orang berjalan dan gemericik air.
Saya ulangi sekali lagi “Assalamu’alaikum….”.
Sesaat tidak ada balasan apa-apa. Hampir saja saya tutup telepon itu.
Tapi kemudian ada suara menyahutnya:
“Wa’alaikum salam….dengan Bapak Isroi?”, tanya orang di seberang.
“Ya betul saya sendiri…”, jawab saya.
Kemdian dia memperkenalkan diri, menyampaikan dari mana dia mendapatkan nomor ini, dan seterusnya.
Continue reading

Pengalaman Memalukan & Menjijikkan: Defekasi yang tak terkendali (bag. 2)

2. Gara-gara minum kopi di Siborong-borong

Kejadiannya sudah cukup lama, tapi pengalaman ini tidak pernah terlupakan.

Ceritanya saya sedang menjadi ‘enumerator’ untuk survey kopi di Prop. SumUt, tepatnya di Kab. Tapanuli Utara. Ini pengalaman pertama saya pergi ke daerah sekitar danau Toba. Saya pergi sendirian. Di daerah ini terkenal dengan kopi Sidikalang. Saya tidak pergi ke Sidikalang, tetapi ke daerah lain sentra penghasil kopi. Ada dua jenis kopi yang ditanam di daerah ini, yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika. Citarasa kedua kopi ini berbeda. Kalau kopi arabika ada rasa asamnya.

Singkat cerita saya menyewa motor dan satu orang guide untuk mengantar saya keliling daerah danau Toba. Orang batak memang gemar minum kopi dan tuak. Kalau sore biasanya mereka minum2 di kedai. Kopi biasanya mereka sangrai dan tumbuk sendiri. Cita rasanya pun bisa berbeda2 antar warung kopi. Saya diantar oleh guide saya, Pak Purba, ke salah satu warung yang cukup terkenal kopinya. Sampai di warung saya langsung pesan satu gelas kopi panas. Pak Purba sudah memperingatkan saya, kalau belum terbiasa minum kopi arabika jangan minum banyak2. Sajian kopi ala warung kopi itu adalah satu gelas gede.

“Ah….tidak apa2, Pak Purba. Saya suka minum kopi, kok,” jawab saya sedikit sombong.

Kami pun ngobrol, makan, dan minum kopi. Tak terasa satu gelas kopi itu pun habis tak tersisa. Kopinya terasa sedikit asem tapi enak. 

Kopinya memang nikmat di mulut, tapi ketika sampai di perut rasanya lain. Perut seperti dikocok2. Seperti ada gas yang mulai terakumulasi perut. Saya pun mengajak P Purba segera pulang.

Perut saya semakin terasa tidak karuan. Mules, kembung, dan seperti mau meledak. Sampai di tempat penginapan saya segera lari menuju toilet. Secepat kilat saya buka celana dan langsung jongkok di jamban.

“Jrrrooootttr…..cret…..dduuuuttt…,”
Isi perut keluar tanpa bisa dicegah. Malam itu saya pergi ke toilet tiga empat kali.

Esok hari, Pak Purba sudah datang menjeput. Hari ini rencananya saya mau wawancara dengan beberapa petani kopi. Perut sebenarnya masih belum ‘tenang’. Namun, saya tetap pergi.

Kami pergi ke desa2 dengan naik motor sewaan. Ketika sampai di tengah2 kebun, perut mulai berulah lagi.
“Pak….pak berhenti dulu…..perut saya….tidak tahan…..,” pinta saya ke Pak Purba.

Setengah berlari saya turun dari motor dan lari menuju rimbunan pohon kopi. Tanpa pikir panjang saya segera buka celana dan jongkok. Isi perut langsung keluar tanpa permisi. Cair-cair kenthal. Aku intip sedikit, seperti bumbu kacang….hiiiii…..

[Tidak perlu aku ceritakan detailnya]

“Kan sudah saya peringatkan kemarin, jangan banyak2 minum kopinya. Si Mas sih tidak nurut. Tuh akibatnya, ” kata Pak Purba.

“Iya…pak. Saya tidak tahu kalau seperti ini jadinya.”

Tiga hari lamanya aku sering buang hajat di kebun kopi. Yah….anggap ngasih pupuk gratis ke petani. Sejak itu saya kalau minum kopi di warung pesan porsi kecil.

Sebulan lamanya saya keliling Taput dan sekitarnya. Cukup kenyang nyobain bermacam2 kopi lokal. Dan saya tidak kapok minum kopi arabika lagi. Nikmat sih.

==TO BE CONTINUED==

Pengalaman Memalukan & Menjijikkan: Defekasi yang tak terkendali

Setiap orang punya pengalaman yang memalukan, tapi mungkin tidak banyak yang punya pengalaman memalukan sekaligus menjijikkan. Berat dan malu sebenarnya saya ketika akan menuliskan cerita ini. Biarlah.  Saya manusia normal dan biasa saja. Ada sisi-sisi kelam dalam hidup saya.

PERINGATAN KERAS:
KALAU ANDA SEDANG MAKAN ATAU MAU MAKAN. JANGAN TERUSKAN MEMBACA. KALAU ANDA JIJIK. JANGAN TERUSKAN MEMBACA.

1. SERANGAN “BOM ATOM”

Belakang rumah saya ada sungai irigasi. Kali Bening namanya. Persis di belakang rumah adalah DAM kali bening. Dulu kali ini jernih sekali. Ikan2 terlihat jelas. Batu-batu kerikil di dasar kali terlihat. Banyak tumbuh ganggang/tanaman air di kali bening.

Seperti halnya sungai2 lain di Indonesia. Kali adalah jamban raksasa. Hampir semua penduduk sepanjang kali kalau buang hajat di kali. Dan, dam adalah tempat favorit untuk ‘buang hajat’. Kami sering menyebutnya juga kali “Mekong” (meme bokong = menjemur pantat). Di beberapa tempat kali bening juga jadi tempat untuk mandi dan mencuci.

Ketika masih kecil, usia SD, saya dan teman2 biasa “mekong” di dam. Maklumlah anak kecil, di mana saja selalu bercanda. Bahkan, buang hajat saja sambil bercanda. Sampai keterlaluan bercandanya. Suatu hari ketika main dengan temen2, salah seorang temenku mengajak ‘buang hajat’ bareng di dam kali bening.
“Wetengku meles he … kepingin ng***ng,” katanya.
“Nang kali yuk…..,” ajaknya.
“Wegah ah….ora arep ng***ng aku,” jawabku dan temen yang lain.
“Alah….ayo lah….wis kebelet ki, ” rengeknya sambil menahan sakit perutnya.

Karena merengek terus dan demi solidaritas antar teman, akhirnya kami berempat pergi ke dam. Sampai di dam kami ambil posisi masing2. Dua orang jongkok menghadap barat dan dua orang menghadap timur. Kami “buang hajat” berhadap-hadapan di jembatan dam yang lebarnya cuma 1 meter.

Seperti biasa kami jongkok sambil bercanda2. Kami taruhan siapa yang keluar BABnya duluan. (Terlalu ng***ng aja taruhan). Rupanya temen saya yang mengajak tadi sudah beberapa hari tidak buang hajat. BABnya mungkin keras dan susah keluar. Saya dan teman2 yang memang tidak ada rencana buang hajat juga tidak keluar2 BABnya.

Kami ‘ngeden’ (mengejan) agar isi perut segera keluar. Tiba2:
“Breeettttt…..bessss…., ” keluar suara serak2 sember dari salah seorang temen. Vibrasinya jelas2 kurang lancar, tanda ada ‘benda’ yang menghambat jalannya udara.

Kami semua tertawa semua….
“Bom atom…bom atom…..” teriak temen2 sambil menutup hidung dan ketawa.
“Dudu….iki dudu bom atom. Bom atome durung metu,” kata temen yang baru saja buang angin.

Kami pun mengolok2 temen tadi. Wajahnya lucu dan mengemaskan ketika ‘ngeden’. Dia tidak terima diolok2 seperti itu. Lalu dia mengancam.

“Etheni wae bom atomku. Nek metu tak bom kowe,” ancamnya.

Kami pun ketawa-ketawa lagi. Kembali taruhan, kalau ada “bom” yang duluan keluar akan di-bom. Kami jadi balapan ‘ngeden’.
‘Eeeggggghhhhhh….’

Tiba-tiba temenku tadi meletakkan telapak tangannta di bawah d***rnya.
“Meh ngopo kowe…meng ngopo kowe,” teriak temen2 yang lain.

Temenku diam saja, bahkan semakin menngeraskan ‘edennanya’.

‘Hhhhgggghhh…”

Perlahan tapi pasti keluar benda coklat hitam dari d***rnya. Sepertinya keras jadi susah keluar. Aroma tidak sedap mulai merayapi hidung2 kami. Bisa dibayangkan bagaimana bau *A* yang sudah beberapa hari tidak keluar dari perut.

Kami pun mulai riuh dan berteriak2…
“He…heh….bomme metu..bomme metu,”

Temenku benar2 ‘kurang waras’, *A*nya bener2 ditangkap dengan tangannya. Benda yang lunak2 anget itu sudah ada di tangannya.

“Hhhhaaaaaa……..”, dia menyeringai penuh ancaman.

Kami pun serempak berdiri tanpa menaikkan celana kolor kami. Tanpa diberi aba-aba kami lari menuju sawah2 di samping dam. Kami lari sambil tertawa.

Rupanya temen saya tadi terus mengejar kami sambil membawa “bom atomnya”. Kami kejar2an di parit sawah tanpa pakai celana.

Sekian lama kami kejar-kejaran akhirnya temenku melempar “bom”nya. Dan salah seorang temenku beruntung kena lemparan bom itu.

“Haaaa…..hoek…..njelehi….” teriaknya setengah menangis.

“Bom Atom” itu tepat kena punggungnya dan melumer dengan sukses. Yang punya bom ketawa kepingkal2. Kami semua ketawa.

Dengan wajah cemberut mau nangis, temenku pergi ke pancuran air. Di bawah sawah2 itu ada mata air yang ada pancurannnya. Tempat ini biasa buat mandi orang2 kampung. Akhirnya temenku yang kena bom tadi melepas bajunya dan mandi di pancuran. Dia marah2 dan minta temen yang empunya bom untuk mencucikan bajunya.

Kami pun mandi dan mencuci baju ramai2, sambil terus bercanda dan ketawa. Kecuali temenku yang jadi korbam bom. Wajahnya tetap cemberut dan marah.

===TO BE CONTINUED===

Pengalaman Konyol: Salah Naik Kereta

Hari itu saya baru saja menyelesaikan pekerjaan pengomposan seresah tebu di kebun Glenmore, dekat Kec. Genteng Banyuwangi. Seminggu di kebun, badan rasanya sudah seperti ikan asin. Biasanya kalau kerja di lapangan saya bawa satu pasang pakaian lapang khusus untuk kerja. Mau kerja seminggu atau dua minggu pokoknya pakaiannya itu. Tidak pernah dicuci sebelum selesai kerja. Keringat, debu, asep, semua numpuk jadi satu. Kalau pernah ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan), pasti bisa membayangkan baunya. 🙂

Badan rasanya seperti habis digebukin. Capek banget. Saya dianter orang kebun sampai terminal Jember. Saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan naik bus umum. Sampai di Surabaya sudah tengah malam. Terpaksa saya cari penginapan sedapatnya. Saya menginap di losmes kelas melati. Horor suasananya. Meski kamar2nya terkesan sedikit kumuh dan mesum, saya tetap ambil, yang penting bisa ‘merem’ sejenak.

Esok harinya saya mampir ke dinas, ketemu seseorang. Selesai dari sana saya bergegas ke Stasion Turi. Saya cuma diberi tiket kereta Agro Bromo dari stasiun Turi ke Gambir. Singkat cerita sampailah saya di Gambir menjelang magrib.

Badan letih. Isi pikiran cuma satu, cepat sampai rumah, berendam air panas, makan masakan istri, suruh mijitin anak2, lalu molor sepuasnya. Saya segera beli tiket KRL Eksekutif Pakuan jurusan Bogor (waktu itu baru ada Pakuan). Saya nunggu di peron. Duduk di bangku sambil ngantuk-ngantuk.
Continue reading

Ajit

image

Ajit, malam2 mencari sampah untuk biaya sekolah

Namanya Ajit, tinggal di Gang Bengkong. Umurnya sekitar 10 tahunan. Pakai celana merah panjang sebetis, seragam SD, kaos oblong hitam dan tidak beralas kaki.  Malam2 seperti ini dia menyusuri jalanan dengan membawa karung. Dia punguti gelas & botol bekas air mineral. Dia punguti ‘sampah’ yang masih bisa dijual lagi.

Dia duduk di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan & orang2 yang berlalu lalang. Saya tanya ke dia, ” Kamu sekolah?”
“Ya…”, jawabnya singkat.

Wajahnya polos. Pandangannya cerah. Saya melihat cahaya semangat di matanya.

“Sekolah yang rajin, ya”,  lanjutku.
Dia mengangguk sedikit.

Ternyata dia tidak sendiri. Adik laki2nya membututi agak jauh darinya. Di belakangnya lagi aku lihat seorang ibu2 menarik gerobak rongsokan.

……………….
;-(

Alhamdulillah, akhirnya kami punya rumah sendiri

Royan dan Ummi

Royan dan Umminya di depan rumah kontrakan pertama kami

Sebagai karyawan honorer waktu itu gaji saya masih sangat kecil. Uang gaji saya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan saja. Saya bekerja sambil melanjutkan kuliah S2 di IPB Bogor. Meskipun gaji saya pas-pasan, saya memberanikan diri untuk segera memenuhi separo agama; menikah. Dihitung pakai calculator apa pun, uang gaji saya tidak pernah cukup untuk menghidupi anak orang. Saya mengakhiri masa lajang dengan modal 1% keberanian dan 99% nekad. Saya percaya rizqi Allah yang mengatur. Alhamdulillah, meskipun rizqi pas-pasan, saya dan istri tidak pernah sampai kelaparan.

Setelah menikah kami mengontrak rumah petak berukuran kira-kira 6 x 6 m terpotong. Rumah itu berada paling pojok, dibangun di atas bekas empang kecil, dan bentuk tanahnya miring seperti trapesium. Di rumah itu hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, dan dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Di samping rumah masih ada sedikit kolam ikan yang disisakan dan tepat di teras rumah masih ada lubang sumurnya. Meskipun kami tinggal di rumah yang boleh dibilang RSSSS (Rumah Sangat-Sangat Sederhana Sekali), kami tinggal dengan tentram, senang, dan bahagia. Di rumah mungil ini, alhadulillah, setahun kemudian anak pertama kami lahir; Arroyan.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat, selain kerja honorer, saya mencoba untuk berusaha dan berkerja apa saja. Menjelang hari raya qurban biasanya saya berjualan hewan qurban domba dan sapi. Penjualan hewan qurban cukup laris, omzetnya pernah mencapai 210 ekor domba plus 10 ekor sapi. Sampai-sampai teman-teman saya menjuluki saya JURKAM (Juragan Kambing). Saya juga pernah berjualan komputer bekas ex luar negeri. Dari usaha kecil-kecilan itu Allah memberikan rizqi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya masih bisa bershodaqoh dan menambung dari sisa rizqi yang ada. Alhamdulillah.
Continue reading

Gelandangan di jalan ‘Ngarakkan’

gelndangan magelang

gelandangan magelang

Malam itu saya mengantar umminya anak-anak ke dokter. Istri saya sudah beberapa hari batuk dan belum juga reda meskipun sudah meminum obat batuk. Dalam perjalanan kami melihat seorang gelandangan yang sedang duduk di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Pakaiannya compang-camping, sudah robek di sana-sini. Rambutnya pun panjang dan gimbal karena tidak pernah mandi. Kami ingat gelandangan ini, beberapa hari yang lalu kami juga melihatnya di sisi jalan yang lain. Malam-malam dia berjalan di kegelapan, kemudian berhenti di sebuah tong sampah dan mengais-ngais isinya. Mungkin dia lapar lalu mencari-cari sisa makanan yang bisa untuk mengisi perutnya.

Kali ini dia duduk di trotoar yang sedikit gelap. Cahaya remang-remang dari arah depan membuat tubuhnya terlihat seperti siluet. Dia duduk termenung dan sekali-kali mengais-ngais isi keranjangnya. Entah apa yang dia cari.
‘Kasihan dia, Bi!’, celetuk istri saya.
‘Iya’, jawab saya lirih.
Continue reading