Category Archives: Jalan-jalan

Seni mini dari sebuah pensil oleh Jasenko Đorđević

Seni unik dari sebuah pensil oleh Jasenko Đorđević.

Seni bisa dibuat dari apa saja. Ukurannya bisa besar atau super mini. Seniman asal Rusia Jasenko Đorđević membuat sebuah karya seni mungil dari mata pensil. Ya… mata pensil yang kecil itu. Jasenko Đorđević memahat pensil itu dan membentuknya menjadi sebuah karya yang unik dan bercitarasa tinggi. Perhatikan beberapa karyanya di bawah ini. Tingkat kesulitan untuk membuat karya ini tentunya sangat tinggi. Perlu kesabaran ekstra dan ketekunan untuk dapat menyelesaikan sebuah karya.

Untuk menikmati karya ini perlu kaca pembesar, karena ukurannya memang sangat mini.

Selamat menikmati.

Sumber: https://youartsw.wordpress.com/2015/04/12/unique-pencil-sculptures-made-on-pencil-graphite-by-jasenko-dordevic-toldart/

Karya seni unik dari ujung pensil
Continue reading

Belajar Tali Temali

Beberapa teknik tali temali sederhana yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari atau ketika berkelana menjelajah hutan/alam bebas.

Jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas, Cipanas – Puncak

Kebun Raya Cibodas

Pintu Utama (1) Kebun Raya Cibodas, Cipanas.

Kebun Raya Cibodas, Wisata Alam Alternatif di Wilayah Puncak Bogor

Hari minggu ini kami pergi ke Kebun Raya Cibodas. Sudah lama kami ingin liburan ke sini, tapi baru sekarang terlaksana. Jaraknya sih tidak terlalu jauh dari rumah kami di Bogor. Cuma 48km. Masalahnya buka jaraknya, tapi waktu. Maklum, arah ke Puncak dan Ciboas sudah terkenal macetnya. Pengalaman saya pergi ke Cianjur, Cipanas dan Cibodas, jalur ini sangat macet di akhir pekan dan polisi menerapkan sistem buka tutup. Tipsnya untuk menghindari kemacetan adalah:

  • Harus sudah keluar tol Ciawi sebelum jam 6 pagi.
  • Harus sudah turun ke Bogor dan sampai di pintu tol Ciawi sebelum pukul 6 sore.

Karena itu kami berangkat di pagi buta. Selesai sholat subuh di masjid langsung berangkat. Kami sudah bangun pukul 03.30 pagi. Barang-barang yang mau dibawa sudah disiapkan sejak kemarin malam. Sholat subuh pun sudah dengan pakaian siap berangkat.

Karena masih pagi, jalanan masih cukup lancar. Masuk Tol cuma perlu waktu 20 menit. Keluar tol Ciawi masih pukul 5.30 pagi. Masih lancar. Meski begitu, jalan raya puncak sudah mulai ramai. Kecepatan rata-rata kami cuma 30 km/jam. Alhamdulillah, kami sudah sampai di pintu gerbang Cibodas pukul 06.20 pagi.

Harga Tiket Masuk Kebun Raya Cibodas

Masuk ke Kebun Raya Cibodas ada berlapis-lapis tiketnya. Sebel sebenarnya di sini. Pertama ada pungutan dari desa, besarnya di tiketnya Rp.3000 per orang, tapi tambah pungutan PMI Rp. 2000. Jadi total per orang Rp. 5000. Masih ada lagi pungutan untuk mobil. Entah berapa saya lupa.

Berikutnya tiket masuk ke Kebun Raya Cibodas. Ini tiket resmi dari LIPI yang mengelola Cibodas. Menurut saya sih murah. Harga tiket masuknya Rp. 9.500 per orang dan untuk Mobil Rp. 16.000. Tiket ini lebih murah daripada yang di Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Cibodas

Tiket masuk kebun raya Cibodas, Cipanas.

Jam 07.00 pagi loket baru buka. Jadi kami masuk ke pintu gerbang yang pertama kali. Pertama masuk belok ke kiri. Ini pertama kali kami masuk, jadi kami belum tahu tempat-tempat mana yang bagus dan mana yang kurang bagus. Kami berjalan sambil menyusuri taman-taman yang ada. Kalau ada tempat yang bagus kami turun dan bermain-main di situ.

Anak-anak seneng banget bermain-main di taman itu. Terutama Yusuf, dia lari sana-sini, plosotan dan kejar-kejaran dengan kakaknya.

Suasana Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas sedikit berbeda dengan Kebun Raya Bogor. Mungkin karena belum tua umurnya. Tanamannya belum terlalu banyak. Beberapa yang unik di tempat ini yang tidak ada di Kebun Raya Bogor adalah koleksi lumut dan koleksi kantung semar. Namun, sayang sekali, ketika kami ke sana, kedua taman ini tutup.

Di Kebun Raya Cibodas juga ada beberapa air terjun. Di Kebun Raya Bogor tidak ada air terjunnya. Airnya pun masih jernih sekali, bisa untuk mandi dan main air. Ketika kami sholat pun wudhu dengan air sungai yang jernih ini.

Kami juga seneng sekali, karena di Cibodas kami bisa membeli tanaman hias. Ada banyak sekali jenisnya. Harganya pun lumayan miring daripada di Bogor. Asalkan kita pintar-pintar menawar saja. Ada berbagai macam kaktus, tanaman bunga, bonsai, sekulen, anggrek dan beberapa jenis tanaman lainnya. Kami memborong banyak sekali tanaman.

Tapi kamu juga sedikit kecewa, terutama dengan pedagang asongan di parkiran Kebun Raya Cibodas. Kami beli kue moci dan straberry. Kecewa banget, karena kue mocinya kecil-kecil. Satu kotak cuma isi lima gelintir yang kecil-kecil. Rasanya nggak karu-karuan. Kapok deh. Sama ketika beli berry-berryan. Kalau pergi ke sana, mendingan tidak usah beli makanan-makanan seperti ini.

Untuk menghindari macet, kami harus keluar dari Kebun Raya sebelum pukul 3 sore. Pertimbanganya, meski jaraknya cuma sekitar 20km ke pintu tol Ciawi, jalan di sini macet. Bener saja, ketika kami keluar masih macet dan masih jalan dua arah. Pukul 3, jalan dibuat satu arah ke bawah saja. Meski begitu, jalanan tetap saja macet. Perjalanan pulang ke rumah kami tempuh dalam waktu 2.5 jam. Artinya 45km/2.5 jam, kecepatannya cuma 18 km per jam. Gila kan.

Tapi kami puas sih main-main ke Cibodas. Kapan-kapan main ke sini lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang. Kalau bisa dihari kerja, biar tidak macet banget.

Kebun Raya Cibodas

Di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas

Pemandangan di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas, Cipanas

Continue reading

Ciomas; Sentra Industri Kecil Sepatu di Bogor

Sentra Sepatu Ciomas Bogor

Sepeda motor yang mengangkut sepatu di jalanan Ciomas.

Entah sejak kapan Ciomas menjadi sentra industri kecil sepatu. Yang jelas saat ini di wilayah Ciomas dan sekitarnya banyak pengrajin sepatu rumahan. Mereka memproduksi sepatu pesanan toko. Bukan hanya satu dua rumah, tetapi banyak penduduk Ciomas yang mengais rejeki dengan membuat sepatu.

Kalau Anda berkunjung ke Ciomas akan banyak ditemui sepeda motor yang membawa tumpukan kardus sepatu. Di jalan Ciomas, Pasir Kuda, Cikaret dan Ciapus. Mereka membawa  dari rumah-rumah pengrajin ke toko grosir sepatu di Pasar Anyar Bogor.

Mereka tidak membuka toko sepatu sendiri, tapi hanya membuat khusus pesanan toko. Pengrajin juga tidak menjual sepatu secara eceran/grosir di rumah2. Jadi tidak banyak toko yang menjual sepatu di daerah Ciomas, seperti yang banyak dijumlai di Cibaduyut, Bandung. Justru yang banyak ditemui adalah toko2 yang menjual bahan2 untuk membuat sepatu.

Continue reading

Macet di Bogor; 12 km ditempuh 4 jam

Saya biasa kena macet di Bogor. Ini salah satu yang paling parah. Perjalanan saya dari Bogor – Cisarua yang jaraknya cuma kira2 12 km ditempuh dalam waktu 4 jam. Artinya kecepatannya 3 km per jam. Lebih cepat jalan kaki daripada naik mobil.

Hari weekend memang ada aturan buka tutup di jalur puncak. Jalan ke arah puncak ditutup dan dibuka sekirar pukul 6 sore. Saya kebetulan menjemput teman2 dari BPTP yang akan presentasi Monev kegiatan KKP3SL dan MP3I di sebuah hotel di Cisarua. Saya menunggu kedatangan mereka di pool Damri sampai kira2 pukul 4.30 sore. Kami langsung berangkat via tol ke arah puncak.

Saya tidak inggat kalau ada buka tutup jalan. Jadi saya ikut terjebak antrian keluar tol. Jika saya inggat, ada jln alternatif menuju puncak. Keluarnya lewat rest area yang ada sebelum keluar tol. Di samping rest area itu ada jalan kecil yang ada tepat di samping jln tol. Ikuti saja jln jecil ini. Biasanya banyak mobil2 yg lewat jln ini. Ada juga guide motor yang membimbing melewati jln2 kecil menuju puncak.

Setelah jam 6 pintu tol dibuka. Kami mulai jalan. Awalnya perjalanan lancar. Sampai di cipayung, kira2 8 km sebelum tempat tujuan jalan macet. Macet total. Jalannya tersendat2. Saya lihat pakai Waze, kemacetan sampai puncak.

Waze menyaranjan jalan alternatif lewat gang. Saya tawarkan ke temen2 apa kita mau lewat jalan alternatif. Sebagian ada yg khawatir dengan jalan itu, karena saya belum pernah lewat jalan itu. Kalau lewat jalan alternatif, kami bisa menghemat waktu 1 jam. Akhirnya kita lewat jalan itu.

Pintu masuknya sebuah gapura kecil yang hanya cukul 1 mobil saja. Semakin ke dalam semakin sempit jalannya. Jika ada mobil dari depan, kami tidak akan bisa lewat. Ada motor saja sulit untuk lewat.

Ada belokan yang sangat sempit. Saya tanya ke anak2 muda yang nongkrong di situ apakah jlannya bisa dilewati mobil. Mereka menjawab “Bisa”. Kami jalan terus menyusuri jalan sempit itu.

Akhirnya kami sampai di jalan yang cukup lebar. Jalan berkelok2 tajam. Ada tanyakan yang sangat tajam. Hampir2 mobil saya tidak kuat menanjak. Diganjal juga tidak kuat. Saya harus mundur untuk ambil ancang2. Denfan sedikit susah payah, akhirnya sampai juga di puncak tanjakan.

Pas di puncak, pas jalan membelok tajam ke kiri. Untungnya jalan itu sudah diaspal bagua dan cukup lebar. Kami mengikuti jalan itu sampai bertemu kembali ke jalan puncak. Di jalan puncak macet lagi. Macet total. Jarak sebemum tujuan 2.8 km. Kami bisa menghemat perjalanan sekitar 4 km.

Kira2 satu jam lebih kami baru sampai ke tempat tujuan. Kalai dihitung Bogor – Cisarua ditempuh dalam waktu 4 jam lebih dengan kecepatan 3 km per jam.

Citarasa Unik dari Secangkir Minuman Kopi

biji kopi sangrai

Biji kopi sangrai

Masih mencoba mempraktekkan ajaran dari Pak Yusianto untuk menikmati minum kopi (Citarasa Kopi). Citarasa kopi bermacam-macam, ada citarasa yang enak dan ada citarasa yang tidak enak. Nah, ternyata di dalam minuman kopi juga ada citarasa-citarasa yang unik. Antara lain ada rasa seperti rasa buah; fruity. Ada juga citarasa seperti kacang, kalau Pak Yusi menyebutnya citarasa sambel pecel. Memang ada yang menyebutkan ada kopi yang bercitarasa kacang almond, kacang mede, dan kacang tanah.

Ada juga rasa manis seperti gula atau karamel. Setingkat lagi ada citarasa seperti madu. Konon, di NTT ada kopi yang memiliki citarasa honeys. Ada juga citarasa seperti rasa coklat. Saya masih agak susah mengenali citarasa ini. Kalau untuk citarasa karamel dan honey masih bisa menemukannya.

Salah satu syarat untuk dapat menikmati citarasa kopi ini adalah minum kopi tanpa gula. Kalau kopinya pakai gula, citarasanya akan tertutup oleh rasa gula.

Silahkan dicoba.

Di Bogor Cuma Dua Pilihan: Kalau Tidak Macet Ya…. Macet Banget

KEMACETAN YANG TIDAK ADA PILIHAN

Kota Bogor memiliki banyak julukan. Dulu julukan kota Bogor adalah Kota Hujan. Itu dulu….. Sekarang Bogor punya banyak julukan lain: KOTA SEJUTA ANGKOT dan KOTA MACET. Saya yang sudah lumayan lama tinggal di Bogor memang benar-benar merasakan bagaimana tersiksanya dengan kondisi jalan di Kota Bogor ini. Sampai-sampai ada anekdot yang cukup terkenal di kota Bogor; Di Bogor cuma ada dua pilihan: kalau tidak macet ya macet banget.

Saya tinggal di pingiran kota yang jadi langganan kemacetan; Ciomas. Banyak simpul-simpul kemacetan di jalur yang setiap hari saya lewati. Bayangkan saja. Jarak rumah saya dengan kantor hanya 6.8 km (saya hitung pakai speedometer). Kalau saya naik mobil ke kantor, waktu tempuhnya 1:00 – 1:15 menit, kalau saya naik motor waktu tempuhnya 30 – 45 menit, kalau naik angkot waktu tempunya 1:30 menit. Artinya kecepatan kendaraan hanya 6.8 – 13.6 km per jam. Gila kan???!!! Kadang-kadang jalur ini super macet. Pernah saya dari rumah ke kantor naik mobil ditempuh dengan waktu 2 jam lebih. Minggu-minggu ini entah kenapa jalur tempat saya hampir selalu macet parah setiap hari. Celakanya, jalur ini sangat minim jalur alternatif untuk menghindar dari kemacetan. Jika sudah kena macet, tidak ada pilihan lain, kecuali putar balik kembali ke rumah.

Rumah saya ada di Ciomas, dekat dengan kantor kecamatan Ciomas. Ada beberapa simpul kemacetan di jalur ini. Mulai dari yang paling bawah dulu: pertigaan Kretek Ciomas, depan Bukit Asri Ciomas, depan Villa Ciomas, pertigaan pintu ledeng, pertigaan Ciomas Harapan dan SMP PGRI 1, pertigaan Pasir Kuda, pertigaan Gunung Batu, Merdeka sampai depan Station.

Continue reading

Ketika Waduk Gunung Rowo Kehilangan Airnya

Waduk Gunung Rowo Pati

Waduk gunung rowo pati yang sudah tidak ada airnya sama sekali.

Di Pati, Jawa Tengah, tempat favorit kami untuk bersepeda adalah waduk Gunung Rowo. Jalan menuju ke sana melewati kebun tebu, hutan jati, kebun singkong, sungai, kebun arbei, jagung dan pohon-pohon randu yang besar-besar. Jaraknya kurang lebih dari tempat kami 20 km. Sesampainya di waduk, rasa capek terobati dengan pemandangan waduk yang menghijau indah. Nelayan dan pencari ikan naik gethek/sampan kecil menjaring ikan-ikan yang ada di waduk ini. Ada juga orang yang memancing ikan dari pinggiran waduk. Di pingir-pingir waduk yang kering terlihat segerombolan sapi dan kambing/domba sedang merumput. Kami menikmati dari saung sambil menikmati ikan bakar dan es kelapa muda. Nikmat dan indah sekali.

TAPI ITU DULU. Waduk gunung rowo sekarang sudah kering kerontang. Tidak ada airnya sama sekali. Entah kemana perginya ikan-ikan itu. Entah kemana perginya air yang melimpah ruah itu. Kata Nano (Eyang Kakung) waduk Gunung rowo ini belum pernah kering. Meski kemarau dan panas panjang sekalipun. Waduk ini konon di bangun oleh penjajah Belanda. Berarti minimal lebih dari 70 tahun air waduk ini tidak pernah kering. Kenapa sekarang jadi kering.

Waduk gunung rowo pati jawa tengah

Pemandangan dulu ketika waduk gunung rowo banyak airnya.

Katanya waduk ini mengalami kebocoran. Ketika kami turun ke waduk, memang di tengah waduk seperti ada tambalan aspal yang besar sekali. Mungkin bagian ini yang bocor. Anehnya, meski yang bocor sudah ditambal, sampai sekarang tidak ada air sama sekali tergenang di waduk ini. Rumput-rumput yang dulu terlihat hijau saja sekarang gersang. Tidak terlihat sapi dan kambing yang merumput di pingiran waduk ini. Apalagi nelayan yang mencari ikan.

Keringnya waduk ini pastilah sebuah tanda dan peringatan, khususnya bagi warga kota pati dan sekitarnya. Mungkin juga ini adzab dari Allah Robb Semesta Alam. Mungkin juga ini ujian.

Semoga kita segera tersadar!!!

Belajar Menikmati Minum Kopi

Pak Yusianto Ahli Kopi

Saya dengan Pak Yusianto di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung. Saya banyak belajar dengan beliau bagaimana cara menikmati kopi. Beliau adalah ahli kopi, tapi bukan peminum kopi.

“Ada peminum kopi dan ada penikmat kopi,” kata pak Yusianto, salah satu tester kopi yang bersertifikat Internasional. Beliau menyampaikan itu waktu kami minum kopi di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung Bogor.

Tiga hari ini di kantor diselenggarakan acara pelatihan peningkatan citarasa kopi dengan teknik bioteknologi. Pembicara utamanya antara lain adalah Pak Dr. Surip Mawardi dan Pak Ir. Yusianto, peneliti senior di Puslit Koka. Mereka adalah para ahli perkopian. Mereka menyampaikan materi tentang citarasa kopi, pengenalan dan faktor2 yang mempengaruhi citarasa kopi.

Pak Yus dan saya diajak mampir ke rumah Kopi Rannin. Pak Yusianto diminta untuk mencicipi minuman kopi2 yang disuguhkan di sini dan memberikan komentarnya. Saya senang sekali, karena bisa dapat tambahan ilmu dari beliau.

biji kopi sangrai

Biji kopi sangrai

Secara umum memang ada dua tipe orang minum kopi, yang pertama peminum kopi dan penikmat kopi. Sebagian besar orang Indonesia adalah peminum kopi dan minum kopi untuk mendapatkan manfaat ‘melek’-nya. Sehari bisa minum dua sampai tiga gelas kopi. Kopi yang umum di pasaran lokal Indonesia adalah kopi robusta yang kandungan kafeinnya tinggi dan rasanya lebih pahit. Minumnya ditambah banyak gula biar rssanya manis. Sekali minum bisa langsung satu cangkir. Saya punya teman yang kalau tidak minum kopi rasanya lemes dan males.

Tipe kedua adalah penikmat kopi. Mereka meminum kopi untuk menikmati citarasa kopinya itu. Penikmat kopi biasanya minum kopi tanpa gula. Kopi yang dipilih kopi arabika atau kopi2 yang sudah terkenal citarasanya seperti kopi luwak, kopi gayo, kopi flores dan lain2. Saya belajar dari Pak Yusi bagaimana menikmati kopi dan mengenali citarasanya.

Kopi yang enak adalah kopi yang baru disangrai. Citarasanya belum banyak berubah. Kopi yang baru disangrai dan dihaluskan akan mengeluarkan bau yang khas. Bau ini namanya fragrance. Jika dicium, kopi akan mengeluarkan bau yang bermacam2. Baunya bisa seperti ada bau gulanya, madu, rempah2, kacang2an, atau bau jagung manis. Kopi yang enak akan berbau segar dan menyenangkan. Tapi kopi yang jelek akan berbau tanah, bau gosong, bau jamur/tengik dan lain2.

Setelah itu kopi baru diseduh tanpa diaduk. Kopi yang baru diseduh akan mengeluarkan aroma segar. Penikmat kopi pertama kali akan menikmati aroma ini. Aromanya juga bermacam-macam. Ada aroma seperti aroma buah, kacang2an atau rempah2. Selain itu ada juga aroma seperti gula/karamel dan coklat.

Setelah dinikmati aromanya baru diminum kopinya. Ketika diminum kopi yang enak akan meninggalkan citarasa di lidah. Rasanya tidak hanya pahit, ada rasa sedikit asam, sedikit manis dan sedikit sepat. Kopi robusta terasa lebih pahit dan tidak masam. Sedangkan kopi arabika terasa lebih masam dan tidak terlalu pahit. Kopi arabika lebih enak diminum dalam kondisi hangat.

Pak Tedjo, pemilik kopi Rannin, menyugguhkan beberapa kopi dengan berbagai cara penyeduhan/penyajian. Saya mencoba menikmati kopi2 ini. Memang terasa bedanya. Setiap kopi memiliki citarasanya sendiri2.

Sampai dirumah saya coba menyeduh kopi yang biasa kami beli di warung. Beda banget rasanya. Terasa sekali ada bau tanahnya, ada bau tengiknya, dan pahit banget. Minum kopi warung tidak enak kalau tidak pakai gula. Aroma dan citarasa yang kurang tadi akan tertutup dengan rasa gula yang manis.

Terima kasih, Pak Yus. Sekarang kalau minum kopi saya akan coba untuk menikmatinya.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pengalaman Konyol: Salah turun halte gara-gara HP

Ini pengalaman lama, tapi pengalaman konyol ini tidak pernah terlupakan dan jadi pengalaman berharga bagi saya. Hanya gara-gara asik main HP saya salah turun halte dan tersesat di belantara Yotebori (Göteborg).

Saya masih baru di kota Göteborg, jadi belum hafal jalur trem, bis dan peta kota. Biasanya saya naik bis menggunakan tram No. 10 dan turun tepat di depan kampus Chalmers. Tapi hari itu saya naik bis no. 16 yang turun di jalan belakang kampus. Sebenarnya in bukan yang pertama, sudah beberapa kali saya naik No. 16.

Jarak dari rumah sampai kampus ditempuh dalam waktu kurang lebih 25menit. Biasanya saya sempatkan waktu di tram atau di bis untuk menulis dengan HP. Kebetulan HP saya waktu itu adalah Motorola Millestone A1 yang sangat nyaman untuk menulis. Saya duduk di deretan nomor 2 dari sopir. Saya sangat asik menulis. Sampai saya lupa dengan keadaan sekeliling saya.

Tiba-tiba sopir menegur saya.
“Vi får”
“Stannar här”
Saya kaget dan belum bisa bahasa Swedia.
Saya cuma melonggo dan tengok kanan tengok kiri. Ternyata saya sudah sampai di ujung bis no. 16.

Di bis ini hanya saya saja penumpangnya. Saya segera turun dari bis dengan kebingunggan. Tertulis di halte itu Vasaplatsen.
“Ampun deh… turun di mana saya ini …. ?????”

Saya coba lihat di peta. Adanya peta jalur tram. Saya cuma ingin tahu saya ada di mana?

Ditengah kebingungan ini saya cobe telp temen sedepartemen saya, Bu Erna. Dia ternyata juga tidak hafal kota ini. Saya minta tolong ke Bu Erna untuk tanya ke teman lain, terutama teman yang asli swedia atau sudah lama di Swedia. Hasilnya nihil.

Saya lihat lagi peta tram dan coba mengenali daerah2 yang saya hafal. Yang saya hafal adalah Brunnsparken di tengah kota. Saya naik bis lagi dan turun di Brunnsparken. Dari sini saya naik lagi tram no. 10 dan turun di tempat biasanya saya turun.

****
Beberapa waktu berlalu, dan saya semakin hafal kota ini. Ternyata Vasaplatsen tidak terlalu jauh dari Chalmers. Jalan kaki kira 10-15 menit sampai juga ke kampus Chalmers.

Pengalaman ini jadi pelajaran penting bagi saya. Jangan sampai terlalu serius dan terlalu fokus sampai lupa keadaan di sekitar kita.