Category Archives: Jalan-jalan

Tas Kulit Kesayanganku

Tas kulit kesayang

Tas kulit kesayang

Saya ingin cerita tentang tas kulit kesayangan saya. Tas ini sudah saya miliki kurang lebih 3-4 tahun yang lalu. Sempat saya lupakan dan saya simpan di lemari. Celakanya kondisi di rumah yang cenderung lembab membuat tas kulit cantik ini jadi jamuren. Warnanya jadi sedikit kusam.

Tas kulit kesayang

Tas kulit kesayang

Sudah lama saya ingin beli tas kulit. Ketika itu saya lihat mahasiswa Chalmers yang memakai tas kulit. Lalu ketika saya jalan2 ke kota banyak juga yang memakai tas kulit. Pingin banget.

Continue reading

Menanam blueberry, blackberry, ghooseberry, strawberry di Indonesia

image

Menanam strawberry mungkin sudah lumrah di Indonesia. Buah-buahan dari negeri dingin ini bisa dijumpai di pasar atau di supermarket. Memang strawberrynya tidak sebaik yang dijumpai di eropa. Di negeri asalnya strawberry lebih besar, lebih manis, dan lebih segar.

Namun, menanam di blueberry atau blackberry tidak pernah terbayangkan. Waktu di GTB dulu di musim panas biasanya kami mencari blueberry di hutan Svarttemosse. Kalau beruntung bisa dapat ghooseberry dan blackberry. Rasanya tidak mungkin tanaman buah2an ini bisa ditanam di Indonesia.

Ternyata kemajuan pengetahuan manusia, kondisi iklim bisa direkayasa. Tanaman bisa ditanam di mana saja asalkan kondisinya dibuat optimum untuk tanaman itu. Intensitas cahaya, kelembaban, suhu, tanah, dll bisa dibuat.

Beberapa waktu lalu saya diajak berkunjung ke sebuah perkebunan di daerah Cipanas yang menanam tanaman daerah dingin. Menajubkan.

Sebuah rumah kaca besar. Di dalamnya di tanam strawberry, blueberry, blackberry, dan jenis berry-berry-an yang lain. Semua peralatan rumah kaca ini diimport langsung dari Israel. Teknologinya menggunakan teknologi yahudi. Semua produknya dieksport ke eropa, tidak dijual di Indonesia.

Hebatnya lagi tanaman2 ini bisa ditanam sepanjang tahun dan bisa panen sepanjang tahun. Tidak tergantung musim seperti di daerah asalnya. Di eropa buah2an ini berbuah di musim panas saja.

image

image

Catatan Kuliner: Sate Maranggi Cianjur; sate sapi dengan sambel oncom dan ketan bakar

image
Sate Maranggi dengan bumbu oncom dan ketan bakar.


Catatan kuliner: KULINER


Saya sering makan sate, tapi baru kali ini ketemu dengan kuliner sate yang ‘anti mainstream’. Umumnya sate dibuat dari daging ayam atau kambing dengan bumbu kacang atau kecap. Sate Maranggi Cianjur ini beda sendiri, karena dibuat dari daging sapi dan sambal oncom plus ketan bakar.

Sebelumnya saya pernah makan sate Maranggi yang di jalan Cikopo-Purwakarta. (Baca di sini: Sate Maranggi). Daging satenya memang daging sapi, tetapi bumbunya tetap bumbu kacang dan kecap. Mirip dengan sate-sate yang lain.

Ketika ke Cianjur saya diajak makan sate Maranggi yang berbeda. Lokasinya di jalan sawojajar (kalau tidak salah ingat). Warungnya kecil dan biasa-biasa saja, tetapi pembelinya ramai. Saya menunggu lebih dari setengah jam baru mendapatkan bagian.

image

Awalnya saya berfikir kalau satenya mirip dengan sate yang saya makan di Cikopo. Rupanya saya keliru. Menu satenya sedikit berbeda. Awalnya saya sedikit curiga; kok di bakaran satemya ada ketan yang di bakar. Kata temen saya kalau cara makan yang khas di sini makannya dengan ketan bakar. Saya jadi semakin penasaran dan tidak sabar menunggu pesanan sate saya datang.

Saya lebih heran lagi ketika melihat sambalnya kok tidak seperti biasanya. Dari kenampakan visual mirip sambal sambal yang biasa buat makan. Saya tanyak ke teman saya; “sambalnya apa itu?”
“Sambal oncom.”
“Sambal oncom?”
“Di sini memang makannya dengan sambal oncom.”
“Ooo……hhmmmm.”
Saya semakin penasaran.

image

Akhirnya pesanan saya datang juga. Tidak sabar saya pingin mengigitnya. Porsi satenya kecil2 dan dalam satu tusuk hanya ada sekitar 3 potong daging saja. Pertama saya cobain satenya dulu. Rasa dagingnya beda. Menurut saya lebih mirip rasa dendeng sapi dan sedikit manis. Kata penjualnya memang sate ini direndam dulu dengan bumbu semalaman sebelum di bakar.

Lalu saya coba colek satenya ke sambal oncom.
Hhmmmm……
Enak. Citarasanya beda. Lain dengan sate2 yang pernah saya makan sebelumnya. Sambal oncomnya tidak terlalu pedas. Di menunya juga tidak disediakan potongan tomat dan bawang merah mentah.

Continue reading

Menaklukkan Tanjakan Ciengkek Ciomas

image

Istirahat di tanjakan Ciengkek Ciomas

Bersepeda adalah salah satu. Olah-raga favoriteku untuk membakar tumpukan lemak di perut. Biasanya saya bersepeda sendiri atau bersama anak-anak menyusuri kampung-kampung (cross country) di seputaran tempat tinggal kami. Ada satu jalur sepeda yang memiliki tanjakan tajam dan menantang. Tanjakan Ciengkek namanya.

Tanjakan ini juga tanjakan favorite bagi para goweser yang menyukai tanjakan dan cross country. Kemiringannya mungkin sampai 40-45o. Artinya tajam banget tanjakannya. Di beberapa tempat orang mesti mengenjot sepeda sambil berdiri agar roda depan tidak terangkat ke atas. Jaraknya dari bawah sampai ke puncak sekitar 500 – 800 m. Ada beberapa kelokan di tanjakan ini.

Ketika melalui jalur ini saya sering ketemu dengan goweser-goweser lain. Pernah ketemu dengan satu atau dua orang. Pernah ketemu dengan rombongan delapan orang. Bahkan pernah ketemu dengan rombongan 40 sepeda. Banyak goweser ingin menaklukkan tanjakan ini.

image

Pete dan rute tanjakan Ciengkem

Peta dan rute tanjakan Ciengkek

Continue reading

Kuliner Bogor: Sop Buntut Ma’Emun VS Mbak Par

Sop buntut sudah terkenal sebagai kuliner favorite di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia punya kuliner sop buntutnya masing-masing. Tak terkecuali di kota Bogor. Ada banyak warung sop buntuk, dua yang terkenal adalah Sop Buntut Ma’Emun dan sop buntutnya Mbak Par.


Catatan kuliner: KULINER


Ada beberapa warung sop buntut yang pernah saya coba. Saya pernah makan sop buntut yang di dekat air mancur jl. A Yani. Kuah sop buntutnya berwarna kuning dan kental. Minyaknya banyak. Orang yang ‘anti’ kolesterol pasti tidak suka memakannya. Rasanya pun biasa-biasa saja. Saya tidak merekomendasikannya. Pernah juga makan sop buntut di Ciomas dekat perumahan Bukit Asri. Rasanya lumayan lah, cuma belum istimewa rasanya. Pernah juga makan sop buntut di daerah SurKen. Rasanya masih biasa-biasa saja.

Nah, sop buntut yang cukup istimewa rasanya yang pernah saya coba adalah sop buntutnya Ma’Emun dan Mbak Par.

Sop Buntut Ma’Emun

Kuliner Sop Buntut Ma' Emun Bogor.

Kuliner Sop Buntut Ma’ Emun Bogor.

Warung sop buntut Ma’Emun cukup terkenal di kota Bogor. Ada beberapa cabang warung sob buntut ini. Misalnya di Jl. A Yani di depan markas Zeni. Ada juga yang di Jl. Salak di GOR INIRO, ada juga di beberapa tempat. Konon sop buntut ini sudah lama berdiri dan sudah beberapa generasi.

Yang istimewa dari sop buntut ini adalah dagingnya yang masih berwarna merah dan sangat empuk. Ukuran porsinya besar dan banyak lemaknya. Meskipun lemaknya tidak sekental dan kebanyak di warung yang di dekat air mancur.

Rasanya enak dan mantap. Bumbunya pas. Tidak terlalu ‘njomplang’ rasanya. Soalnya, saya pernah makan sop buntut yang rasa rempah-rempahnya terasa banget. Jadi lebih mirip makan jamu daripada makan sop.

Continue reading

Mandi di Progo

image

Berenang di kali Progo bareng keluarga. Rasanya seperti kembali ke masa kecilku dulu. Dulu aku biasa berenang dengan teman2 di kali Progo ini.

Rumahku hanya 10-15 menit jalan kaki dari kali Progo. Dulu waktu kecil sering main dan berenang di kali Progo. Meskipun kalau pulang dari Progo selalu di-sabetin sama Emak, tetap saja tidak kapok main di Progo.

image

Continue reading

Catatan Kuliner: Sate Maranggi Hj. Tetty, Sadang Purwakarta

image


Catatan kuliner: KULINER


Orang mungkin lebih mengenal sate ayam Madura atau sate kambing Tegal.  Jangan salah di Purwakarta juga ada masakan sate yang tidak kalah enaknya dengan sate ayam Madura atau sate kambing Tegal, namanya Sate Maringgi Hj. Tetty.

Ini pertama kalinya saya makan di warung sate ini. Sebenarnya dulu saya sering lewat jalan ini, cuma baru sekarang saya diajak makan oleh teman. Lokasinya tidak begitu jauh dengan pintu tol Cikampek. Dari pintu tol belok kanan ke arah Sadang Purwakarta. Kira2 10 menit perjalanan akan Anda temui warung sate yang cukup ramai di sisi sebelah kiri jalan. Lokasi parkirnya cukup luas dan tempat makannya juga luas. Tempat makannya biasa saja. Meja panjang dan beberapa bangku panjang. Jelas terlihat kalau warung ini memang ditujukan untuk mengisi perut, bukan untuk bersantai-santai.

Konon warung sate ini berdiri sudah cukup lama. Awalnya cuma warung kecil, lalu berkembang menjadi besar seperti sekarang ini. Waktu kami datang, hampir semua meja terisi semua. Penuh.

Continue reading

Pemulung dan dua anaknya

Malam ini pukul 09.30 malam saya kembali bertemu dengan dua orang anak pemulung dan ibunya. Mereka anak2 yang sama yang saya temui beberapa waktu yang lalu. Mereka selalu memulung selepas isya’. Malam hari. Mereka menyusuri jalan2 di kedinginan malam. Mencari dan mengumpulkan barang2 yang masih bisa dijual. Barang itu dimasukkkan ke dalam gerobak yang didorong ibunya.

Saya salut dengan mereka. Keluarga miskin ini memilih untuk mencari rizqi yang halal; sampah yang bisa dijual. Mereka memilih memulung daripada duduk dipinggir jalan dan meminta-minta. Dua anak itu masih tetap sekolah. Mereka mulai memulung setelah malam tiba, mungkin setelah mereka selesai belajar.

Berjuanglah kawan. Semoga Allah memberi rizqi yang barokah pada kalian.

Daur Ulang Sampah Styrofoam untuk export

Daur Ulang Sampah Styrofoam:

Tip menghilangkan rasa pedas di mulut

sambel masakan

Anda suka makan pedas, sambal, atau cabe? Saya juga. Makan tidak pakai sambal seperti ‘minum kopi tidak pakai gula’ atau ‘makan sayur tanpa garam’. Rasanya ada yang kurang. Namun, efeknya mulut jadi panas dan salah-salah perut mules. Tapi, jangan khawatir, ada cara sederhana dan enak untuk menghilangkan rasa pedas.

Rasa panas dan pedas di mulut setelah makan sambal disebabkan kandungan asam capsaicinoids dalam cabai. Senyawa ini sebenarnya tidak berasa dan tidak berbau, tapi menimbulkan efek panas. Tidak hanya di mulut, di kulit pun kalau digosok2 dengan cabai akan merasakan panas juga. Nah asam capsaicinoids ini larut pada lemak.

Jika asam capsaicinoids ini larut maka rasa pedasnya juga berkurang. Itulah sebabnya mengapa ketika makan gorengan kita bisa banyak mengunyah cabai tapi tidak terasa begitu pedas. Itu juga sebabnya mengapa jika kita kepedasan dan minum air putih, rasa pedasnya tidak hilang-hilang. Makan garam juga bisa mengurangi rasa pedas. Mungkin garam ini akan menetralkan asam capsaicinoids dan mengurangi rasa pedasnya.

Kalau makan yang pedas-pedas, misalnya ketika makan di warung atau rumah makan, biasanya saya pesan minuman jus alpukat. Buah alpukat banyak mengandung lemak. Nah, ketika kepedasan tinggal ‘nyruput’ jus alpukat, rasa pedasnya akan segera ‘netral’ dan siap makan pedas-pedas lagi.

Kalau Anda sama seperti saya, suka makan yang pedas-pedas, sambal, dan cabai, cobalah minum jus alpukat. Dijamin.

Semoga bermanfaat.