Category Archives: Jalan-jalan

Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

veteran perang 45 Mbah Ngadimin

Mbah Ngadimin Hadiprayitno, sedang menyanyi keroncong di gerbong 7.

NGADIMIN, nama itu tertulis di atas saku kiri baju veterannya. Beliau memakai baju seragam lengkap, hijua tentara, langbang jasa, dan topi kuning. Umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh. Mungkin seumuran dengan Bapak Alhmarhum.

Sejak nunggu kereta di stasiun Pasar Senen, beliau sudah menarik perhatian. Biacaranya ceplas-ceplos. Beliau duduk menunggu di dekat tempat aku duduk. Ternyata waktu di kereta pun duduknya di depanku.

Mbah Ngadimin mengajak ngobrol akrab dengan siapa saja. Ngobrol sambil bercanda. Sayangnya pendengarannya sudah jauh berkurang. Jadi kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Jadi kami mangut2 saja kalau beliau ngajak ngomong.

Ketika para penumpang sedang asik dengan HP masing2, tiba-tiba Mbah Ngadiman memecah kesunyian. Beliau menyanyi keroncong dengan keras. Kami jadi terhenyak. Beliau terus menyanyi dengan keras, tampa memperdulikan sekitarnya. Ketika sebuah lagu selesai, Mbah Ngadiman menyelanya dengan pantun;

“Ali-ali ilang matane; ojo lali karo kancane”

“Pring peting cagakke radio; pontang panting bojone loro”

“Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir”

Mendengar pantun itu penumpang tertawa kepingkal-pingkal. Kami semua jadi terhibur. Kemudian dia berhenti sejenak.

“Sik ….. aku meh nguyuh sik,” katanya sambil berdiri menuju wc.

***
Setelah diam beberapa saat. Dia minta saya untuk mengambilkan tas rangselnya yang disimpan di tempat tas di atas. Saya ambil dan serahkan tas itu padanya.

Dia membuka tas dan mengambil seauatu dari dalam tas. Sebuah tumpukan kertas yang diikat dengan tali karet. Dia membuka ikatan karetnya dan memilah2 isinya. Lebar demi lembar dia buka, seperti sedang mencari seauatu. Dia mengambil sebuah buku catatan lusuh. Bukunya sudah tidak ada sampulnya. Kertasnya sudah menguning dan tulisannya sudah agak luntur.

“Di bawah sinar bulan purnama…..”
Mbah Ngadiman mulai menyanyi lagi. Ternyata Mbah Ngadiman mengambil buku catatan lagu keroncong.

Tujuh lagu dia bawakan. Dengan selingan pantun2 lucu yang menghibur. Mbah Ngadiman membawakan lagu dengan gaya penyiar radio.

Kami semua jadi terhibur sepanjang perjalanan ini.

Mbah Ngadiman bercerita kalau dia pemimpin band keroncong veteran di Semarang dan biasa siaran di RRI. Pantes.

Sampai di Semarang Mbah Ngadamin turun. Saya pun turun di sini. Beliau sudah ditunggu oleh anaknya.

Sugeng tindak. Semoga tetap sehat Mbah Ngadiman.

Saya meneruskan perjalanan ke timur. Memuntahkan rasa rinduku pada buah hatiku.

TPA Sampah Kota Pati: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yang Menjadi Taman Rekreasi

image
Gerbang masuk TPA Kota Pati


Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH


Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota Pati, Jawa Tengah, berbeda dengan TPA tempat lain. Di sini tempatnya rapi, bersih, ada rusa, kera, sapi, merak, dan binatang-binatang lain. Ada juga pusat pembuatan kompos dan pengolahan sampah plastik menjadi solar. Tidak tercium bau busuk menyengat. Orang-orang datang ke TPA ini bukan mau buang sampah, tetapi mau berekreasi.

TPA Sampah Pati memiliki konsep yang berbeda dengan TPA-TPA lain. Kalau di tempat lain, TPA selalu terkesan kumuh, bau, jorok, dan sumber penyakit, TPA Pati justru kebalikannya. Kalau di tempat lain keberadaan TPA selalu ditentang oleh masyarakat disekitarnya, TPA Pati justru banyak dikunjungi untuk rekreasi. Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang TPA ini, sayangnya tidak ada pengelola yang ‘berwenang’ di sini, dan cuaca gerimis, jadi tulisan ini hanya laporan ‘pandangan mata’ saja.

image
Lokasi TPA kota Pati. Hanya 7 km dari alun2 kota Pati.

TPA Kota Pati berada di desa Sukorejo, kec. Margirejo, Pati. Jaraknya kurang dari 7 km dari pusat kota. Saya tidak tahu sejak kapan TPA ini mulai beroperasi. Kalau dilihat dari tumpukan sampahnya sepertinya belum cukup lama. Di gerbang pintu masuknya terdapat tulisan besar “Selamat Datang di TPA Pati”.  Masuk ke TPA ini seperti tidak masuk ke tempat pembuangan sampah. Tempatnya bersih. Jalan masuknya rapi. 
Kalau Anda datang dengan membawa mobil atau motor, disediakan tempat parkir yang cukup luas. Tempat parkirnya masih tanah, ketika musim hujan seperti ini tanahnya lembek. Jadi hati2 memilih tempat parkir, jangan sampai terjebak di lumpur. Tidak jauh dari tempat parkir terdapat lapangan yang cukup luas. Lapangan ini bisa dijadikan tempat berolah raga atau camping. Di pingir lapangan terdapat gazebo untuk berteduh.

Ketika saya berkunjung ke TPA ini tidak banyak orang yang datang. Terlihat beberapa remaja naik motor berboncengan dan motor2 trail yang lewat melintas. Mungkin karena cuaca yang mendung dan hujan, jadi pengunjungnya sedikit. Menurut pedagang yang berjualan di lokasi TPA, penunjung biasanya banyak di sore hari dan hari minggu/hari libur.

Berseberangan dengan tempat parkir, terdapat kandang rusa. Ada cukup banyak rusa yang dipelihara di tempat ini. Anda bisa memberi makan rusa dengan rumput, wortel, atau sayuran, seperti orang2 yang memberi makan rusa2 di istana Bogor. Ada beberapa kandang rusa, salah satu kandang berisi rusa jantan yang besar.

Di lokasi sekitar kandang rusa terdapat pepohonan yang besar dan tinggi. Pohon2nya cukup banyak. melihat besarnya pohon ini kemungkinan pohon ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah ada sebelum TPA ini dioperasikan.

Di sebelah kandang rusa ada beberapa kandang yang berisi kera. Pengunjung biasanya melempar kacang atau biskuit untuk kera2 ini. Tidak jauh dari kandang monyet terdapat beberapa kurungan besar yang berisi burung merak. Ada juga angsa, enthok dan burung dara yang dibiarkan bebas. Di dekat kandang2 binatang itu juga disediakan arena bermain untuk anak2, seperti: ayunan dan plosotan. Ada juga tempat duduk yang cukup nyaman untuk menikmati binatang2 ini. 
Di dekat kandang rusa, terdapat bangunan yang berisi mesin2 untuk membuat kompos dan pupuk organik. Di tempat yang sama juga terdapat mesin2/peralatan pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi minyak solar. Sayangnya mesin2 ini sedang tidak beroperasi.

Berjalan lebih ke dalam di sisi kiri, terdapat areal luas yang ditanami beberapa tanaman buah2an. Namun, tanamannya masih pendek2 dan belum berbuah. Dari denah lokasi TPA, areal ini adalah areal kebun buah. Jika tanamannya sudah besar dan berbuah, areal ini akan menjadi area favorit pengunjung. Di TPA ini juga terdapat tempat pembibitan tanaman. Saya lihat tidak banyak bibit yang ada di tempat ini. Hanya ada beberapa bibit, sepertinya bibit durian.

Berjalan terus ke arah belakang terdapat kandang sapi dan kandang kambing. Ada sekitar 6 ekor sapi yang dipelihara. Sapi2 ini dirawat cukup baik. Makanannya rumput segar, tidak seperti di TPA lain yang diberi makan ‘sampah’. Saya tidak tahu berapa jumlah kambing yang dipelihara, karena posisinya sulit dijangkau.

Berjalan terus ke belakang terdapat instalasi pengolahan lindi sampah. Ada beberapa bak2 dan kolam pengolahan. Lindi seperti ini bisa menghasilkan biogas, dan sisanya bisa diolah lagi menjadi pupuk cair. Posisi kolam pengolahan lindi berada di bawah yang curam. Di sisi kanan kirinya terdapat ‘gunung sampah’.

Semakin dekat dengan tempat penimbunan sampah bau menyengat mulai tercium. Mungkin karena sedang musim hujan, sampah menjadi basah dan baunya semakin menyengat. Beberapa waktu sebelumnya saya pernah datang di musim kemarau, baunya tidak menyengat seperti ini.
Di salah satu ‘gunung sampah’ terdapat instalasi pipa2 pralon yang ditanam ke dalam tumpukan sampah. Saya menduga instalasi ini adalah instalasi untuk menangkap biogas (methane capture). Biogas yang diambil ditampung dan dialirkan ke warung2 yang berada di dekat tempat parkir.
Di dekat lokasi penimbunan juga mulai terlihat tumpukan2 plastik yang sudah disortir dan sebagian sudah dikemas. Beberapa pemulung terlihat sedang bekerja merapikan plastik2 tersebut. Jumlah pemulung tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Di TPA tempat lain jumlah pemulungnya sampai ratusan orang.

TPA Pati memang tidak seperti taman yang indah di kota2 besar. Pengelolaannya dan perawatannya belum maksimal. Namun, TPA ini menawarkan konsep yang bagua sekali. Andaikan TPA ini dikelola dengan baik bisa menjadi percontohan untuk TPA-TPA lain di Indonesia.

Artikel lain tentang sampah, silahkan klik di link ini: BERKAH DARI SAMPAH

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Kupu-kupu hinggap di tangaku

Ketika sedang asik memotret di kali. Ada seekor kupu-kupu yang terbang dekat denganku. Bahkan beberapa kali hinggap di tangaku.

Hati2 kalau memotret di sungai saat musim hujan.

fotografi kamera saku

Foto ini memiliki kenangan khusus bagi saya. Jika tidak ada acara khusus di weekend biasanya saya bersepeda sambil menyalurkan hobi foto2. Hujan deras sejak kemarin hari tidak menyuritkan niat saya untuk mencari keringat. Begitu hujan reda, pagi hari pukul setengah tujuh, saya langsung mengayuh pedal sepeda. Tujuan saya adalah pangkalan pasir di kali ciapus.
Belum banyak penambang pasir ketika saya sampai di pingiran sungai. Saya letakkan sepeda di tanah kering yang ada di tengah sungai. Saya titipkan ke salah seorang penambang pasir. Saya tenang2 saja, karwna banyak penambang pasir yang mulai bekerja.
Saking asiknya memotret, pelan2 tanpa sadar saya menuju ke bagian atas yang penuh batu2 dan menjauh dari lokasi penambang pasir.
Ketika sedang asik memotret sayup2 saya dengar ada orang yang berteriak keras; “hoooiiiii……pergi….pergi….!!!!” Teriak orang itu sambil tangannya melambai-lambai menyuruh orang untuk pergi dari sungai. Posisiku yang sedikit di tengah agak susah untuk ke pinggir. Saya semua orang lari bergegas ke pingir sungai. Truk2 segera pindah mencari tempat aman. Hanya aku yg masih di tengah. Kontan saja semua orang berteriak menyuruhku minggir. Ternyata air mulai keruh dan perlhan2 naik.

Sontak saya panik. Kamera dan hape segera saya masukkan ke tas dan saya lari sebisanya ke pingir sungai. Tulang keringku memar2 karena kena batu kali. Sialnya, saya minggir ke arah hutan yang ada di sisi kiri sungai, sedangkan orang2 minggir ke sisi kanan.

Sesampai di pingir aku sempatkan menengom sepedaku. Sepedaku masih di tengah sungai. Air sudah mulai naik. Moga2 sepedaku tidak terseret arus, doaku dalam hati.
Aku berdzikir minta perlindungan Allah. Aku mencari jalan agar bisa ke tempat yang agak landai. Aku menerobos semak2 berduri. Sakitnya duri yang menusuk tangan dan kakiku tidak aku hiraukan.
Setelah sampai ke tempat yg agak landai dan tidak berbatu2 aku mencari jalan untuk bisa menyeberang.

Dua orang pengali pasir membantuku. Satu orang menunjukkan jalur yang dangkal sedangkan yang satunya lagi membantu mengambilkan sepedaku.

Alhamdulillah. Dengan sedikit susah payah akhirnya aku bisa sampai ke pinggir. Aku selamat dan sepedaku juga selamat.

Pelajaran hari ini: Hati2 kalau mau motret2 di kali saat musim hujan, karena nyawa taruhannya. Banjir badang bisa datang tiba2.

 fotografi kamera saku

 fotografi kamera saku

 fotografi kamera saku

 fotografi kamera saku

image

image

image

image

image

Mandi di Kali Ciapus

Gowes di Gunung Rowo

Saya mulai menikmati aktivitas bersepeda. Awalnya tujuannya untuk ‘cari keringat’ sambil ‘mengecilkan perut’. Ternyata bersepeda sangat mengasikkan. Sambil berolah raga, kita bisa menikmati pemandangan.

Kali ini saya bersepeda dengan Arroyan. Kami sengaja bersepeda berdua saja dan tidak mengajak Abim, karena jalur yang akan kami lalui cukup jauh, dan tanjakannya tinggi. Pukul 06.15 menit kami sudah meninggalkan rumah menuju Gunung Rowo.

Jarak rumah kami ke Gn. Rowo kurang lebih 18km. Lumayan jauh. Apalagi jalurnya menanjak terus. Ada beberapa tanjakan yang cukup tinggi sebelum sampai ke waduk Gn. Rowo.

Maklum badan saya agak kelebihan sedikit beratnya. Perut maju ke depan. Ditambah napas yang sudah berumur. Saya mengayuh sepeda santai-santai saja. Yang penting bisa sampai atas sudah luar biasa.

Delapan kilo meter pertama dilalui dengan lancar. Tanjakannya masih landai. Saya baru berhenti karena ‘kebelet pipis’. Di balik pohon randu besar yang tumbuh di dekat jalan saya ‘membuang hajat kecil’ saya. Minum seteguk air dan langung gowes lagi.

Napas saya mulai tersengal-sengal setelah sampai ditanjakan yang cukup curam di areal kebun singkong. Saya paksakan terus mengayuh dengan gigi pada posisi 1-1 alias yang paling ringan. Royan terlihat masih segar bugar dibelakang saya sambil terus memberiku semangat untuk tetap mengayuh.

Kaki saya pegel sekali. Akhirnya saya menyerah dan berhenti di depan sebuah padepokan yang gapuranya berwarna hitam kelam. Saya duduk sambil melepas lelah di pokok kayu yang tumbang. Padepokan ini unik. Suasananya sedikit ‘angker’. Di halaman depannya ada batu nisan yang diletakkan agak tinggi. Ada tulisan yang cukup jelas saya baca dari luar gapuro: Tujuan Hidup. Aneh.

Kami meneruskan perjalanan menuju Gunung Rowo. Setelah melewati gapuro desa Sitiluhur jalanan terus menanjak tajam. Terpaksa kami berhenti sampai 3 kali, karena tidak kuat terus mengowes sepeda kami.

Alhamdulillah, dengan napas tinggal satu dua, akhirnya sampai juga ke waduk. Kami berhenti dan istirahat di salah satu gubuk yang ada di pinggir waduk. Kami memesan es degan untuk membasahi dahaga.

Rasa capek kami terobati setelah melihat keindahan Gunung Rowo. Langit cerah membiru. Sekeliling waduk yang ditumbuhi rumput menghijau. Ada beberapa nelayan yang sedang mengkap ikan. Di kejauhan ada gunung yang berdiri gagah. Benar-benar pemandangan yang indah sekali. Subhanallah.

image

Satu setengah jam lebih kami menikmati pemandangan di gunung Rowo. Ketika matahari mulai terik. Kami memutuskan untuk turun kembali ke rumah.

Perjalanan pulang berjalan cepat karena jalanan menurun. Rasa lelah tidak ada lagi.

Suatu saat kami akan gowes ke sini lagi sambil ngajak Abim, Yusuf, dan Umminya Royan. Insya Allah.

image

image

Setia sampai tua renta

Jangan Terkecoh dengan Diskon Abal-abal

Siapa yang tidak suka diskon? Rasanya semua orang tertarik dengan diskon, apalagi diskon besar-besaran alias obral besar. Diskon atau potongan harga menjadi senjata ampuh para produsen untuk mengejot pemasaran produknya. Namun, Anda perlu berhati-hati. Tidak semua diskon itu benar-benar harga diskon. Banyak yang sekedar kamuflase saja alias abal-abal. Saya membuktikannya sendiri.

Diskon abal-abal ini saya ketahui secara tidak sengaja. Kebetulan HP Android kesayangan saya jatuh dan harus ‘opname’ berhari-hari di bengkel service. Sayang, akhirnya HP tersayang itu tetap tidak berfungsi normal seperti sedia kala. Dengan berat hati, akhirnya saya mesti mencari penganti HP Android itu. Saya coba survey ke mana-mana. Browsing di internet. Coba banding-bandingkan harga dan spesifikasi. Browsing testimoni-testimoni, atau pun complaint tentang HP incaran saya. Saya juga survey ke mall-mall dan counter-counter HP ternama di kota saya. Beberapa tabloid dan majalah khusus HP-pun saya koleksi. Akhirnya pilihan saya jatuh pada 2 HP Android incaran.

Ketika sedang melihat acara TV, ada iklan salah satu merek HP android terkenal. Di iklan itu disebutkan ada diskon dan cast back untuk pembelian HP seri tertentu. Waktunya cuma tiga hari. Tanpa menunggu lama, keesok harinya saya langsung menuju ke gerai resmi HP itu. Saya menanyakan ke salesnya dan memang benar ada cast back. Namun, harganya adalah dihitung dari harga normal seperti yang disebutkan di iklan. Kalau harga pas-nya ternyata sama saja seperti harga di hari biasa tanpa ada diskon. Duh…saya langsung merasa tertipu dengan iklan itu. Karena kecewa, saya urungkan niat membeli HP itu.

Iseng-iseng saya coba melihat-lihat dan tanya-tanya ke counter HP yang lain. Counternya jauh lebih kecil daripada gerai resminya. Betapa kagetnya saya, sales di counter HP itu berani memberikan harga yang lebih rendah lagi daripada harga di gerai resmi. Terpautnya cukup jauh, karena diskonnya hampir dua kali dari diskon yang resmi. Nah…lho…, saya semakin merasa ditipu oleh iklan di TV itu.

Terus terang, sejak saat itu saya jadi tidak percaya lagi dengan iklan-iklan diskon di TV atau di media lain. Saya memang belum mendalami untuk merek-merek atau produk-produk lain. Namun, rasanya tidak jauh berbeda.
Ini berbeda sekali dengan diskon-diskon yang ada di luar negeri. Kebetulan saya sempat singgah sebentar di negerinya Ibrahimovic, Swedia. Di negeri ini biasanya ada diskon besar-besaran ketika mendekati libur natal, tahun baru, dan libur musim panas. Diskonnnya gila-gilaan, sampai 40% dari harga normal. Saya membeli HP android untuk istri saya dengan merek yang sama seperti HP android yang saya sebutkan di atas. Harganya sangat murah, karena diskonnya 30% dari harga normal. Ketika saya kembali ke tanah air, saya coba bandingkan harga HP tersebut dengan harga di Indonesia. Ternyata harga diskonnya bener-bener lebih rendah 30% dengan nilai kurs yang sama. Gila tidak? Menyesal saya hanya membeli satu HP.

Makanya tidak heran jika sering kita lihat di berita TV banyak orang yang antri sampai panjang menunggu toko buka di hari-hari penuh diskon, menjelang natal, tahun baru, dan musim panas. Mereka rela antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan barang yang diinginkannya dengan harga super murah. Diskon di negera-negera Eropa memang benar-benar harga diskon. Bukan diskon abal-abal seperti di tanah air.

Jadi, jangan tertipu oleh iklan-iklan diskon di televisi.Diskonnya mungkin abal-abal saja. Mendingan cari-cari dan survei ke beberapa toko. Siapa tahu mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga diskon.

Kuliner Soto di Jambon Magelang

Penjual soto banyak ditemui di sekitar Jambon Jl. P. Diponegoro Magelang. Tidak kurang dari enam warung soto ada di sepanjang jalan ini. Meskipun letak warung-warung ini berdekatan, namun warung ini laris. Mereka punya pelanggannya sendiri-sendiri.

Ketika saya kecil dulu, sekitar tahun 80-an, hanya ada satu penjual soto yang mangkal di Jambon jl. Diponegoro ini. Tepatnya persis di trotoar depan hotel Pringgading Jambon. Nama penjualnya Pak Sarju. Pagi hari setelah subuh, Pak Sarju sudah mendorong gerobaknya dari kampung Bayeman ke depan hotel Pringgading. Pelanggannya kebanyakan ibu-ibu yang membelikan soto untuk sarapan anaknya sebelum berangakat sekolah, atau bapak-bapak yang sarapan pagi sebelum pergi ke tempat kerja.

Gerobak soto ini semakin laris. Kemudian Pak Sarju membuka tenda di lahan kosong seberang hotel Pringgading ini yang dekat dengan perempatan Jambon. Tempatnya lebih luas dan bisa lebih banyak diletakkan kursi dan meja. Entah kapan persisnya, Pak Sarju yang sudah tua meninggal. Usahanya ini diteruskan oleh anaknya, Pak Sugi dan menempati di tempat yang sama. Salah seorang pembantu Pak Sarju, yaitu Pak No, kemudian juga membuka gerobak sotonya sendiri. Pak No, ini berjualan di jl. Merbabu yang letaknya kurang dari 50 m dari tempat Pak Sarju.

Waktu terus berlalu, entah sejak kapan mulainya, warung soto di jambon ini semakin banyak. Di sebelah timur perempatan Jambon ada warung soto Pak Trimo, letaknnya juga kuran dari 50 meter dari warung sotonya Pak Sarju. Kemudian di dekat lapangan gladiool juga dibuka satu warung soto. Kini setelah gladiool disulap jadi real estate, warung soto ini pindah ke singoranom. Warung soto Pak No juga kemudian pindah beberapa kali mencari tempat yang lebih luas, dan kini mangkal di SMUN 1 Magelang dekat dengan Taman Kyai Langgeng. Warung soto yang lain buka di krekopan dekat kantor kelurahan Magelang.

Dari sekian banyak warung soto itu, soto Pak Sugi dan Soto Pak Trimo adalah yang paling banyak pelanggannya. Setiap pagi banyak mobil atau motor parkir di sekitar warung soto. Kebanyakan mereka makan untuk sarapan. Warung soto ini biasanya buka dari pagi hingga jam 10 atau 11 siang saja.

Soto di Jambon Magelang ini adalah soto ayam dengan kuah bening. Soto Magelang lebih mirip dengan soto ayam Kudus. Sotonya terdiri dari bihun putih, kecambah, suwir-suwiran daging ayam, dan perkedel. Pak Sugi dan Pak No memakai perkedel dari ketela atau kimpul. Sedangkan Pak Trimo menggunaka perkedel kentang. Di meja makan disediakan juga sate ayam atau sate usus, tersedia juga ada juga gorengan tempe atau tahu.

Sarapan soto memang segar dan nikmat. Silahkan menikmati soto kota Magelang.

Jajanan Ndeso di Pasar Tukangan Magelang

isroi_kuliner_tukangan-1

Jenang Blendung, gempol, tiwul, gatot, lopis, biji jali-jali, gendar, ketan, jenang jewawut, jenang kacang ijo kupas, jenang candil, coro bikan, semua jajanan ‘ndeso’ ini bisa dijumpai di pasar Tukangan Magelang. Meskipun pasar ini kecil, dan berada di gang tukangan, tapi ramai sekali. Pasarnya bersih, tdk bau, dan barang-barang yang dijual berkualitas.

Orang luar Magelang mungkin tidak akan mengira jika di balik gang di gapura ini ada pasar yang cukup ramai. Meskipun tempatnya di lorong sempit dan tidak terlalu besar, di dalam pasar ini dijual jajanan ‘Ndeso’ yang mengoyang lidah.
Sekilas dari luar gapura ini tidak jauh beda dengan gapura di gang-gang lain. Di balik gapura inilah terletak ‘Pasar Tukangan’ Magelang. Posisinya di tengah kota di daerah Pecinan (Pecinaan). Daerah ini memang dikenal dengan nama pencinan, karena memang mayoritas warganya adalan para keturuanan cina. Seperti daerah pecinaan yang lain, banyak toko-toko di wilayah ini.

isroi_kuliner_tukangan-1-11

Lebar gang ini hanya sekitar 2 meter. Sempit. Tetapi begitu masuk ke gang ini di kedua sisinya banyak penjual yang menjajakan dagangannya. Panjang lorong ini tidak terlalu panjang, mungkin sekitar 100 – 150 meter saja. Meskipun begitu, para pedagang sudah berjejalan mulai dari satu ujung ke ujung yang lain. Hampir semua barang kebutuhan sehari-hari bisa ditemukan di pasar ini. Mulai dari sayuran, buah-buahan, daging, ayam, jamu, ikan, bahkan daging babi pun banyak yang jual. Meskipun kecil, barang-barang yang dijual di pasar ini berkualitas baik. Maklum para pembelinya adalah encik-encik yang berkantong tebal. Pokoknya barang dagangannya pilihan. Harganya pun menyesuaikan dengan kualitasnya.

isroi_kuliner_tukangan-1-6

Kadang-kadang saya mengantar istri ke pasar. Jika di pasar-pasar lain biasanya saya hanya menunggu di luar, tapi kalau di pasar Tukangan saya sering ikut masuk ke pasar. Alasannya karena di pasar ini jajanan pasarnya enak-enak. Jajanan yang mungkin sudah jarang ditemui di tempat lain, di pasar ini bisa ditemukan.

Jenang Blendong

isroi_kuliner-1-6

Jenang blendong adalah jajanan pasar yang dibuat dari jagung putih lokal dituangi dengan jenang beras putih manis. Jagungnya adalah jagung lokal yang pulen. Jagung ini ditaburi parutan kelapa dan sedikit garam. Rasanya gurih enak. Rasanya semakin lengkap setelah dicampur dengan rasa manis dari jenang beras putih. Mak Nyus tenan…….

isroi_kuliner_tukangan-1-9
Continue reading