Category Archives: Jahe

Artikel, tips, budidaya, panen, dan paskapanen tanaman jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah

Media Tanam Jahe: Abu dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit

kompos tandan kosong kelapa sawit

Kompos tandan koson kelapa sawit


Melanjutkan lagi tentang bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam untuk jahe, terutama bahan-bahan alami yang mengandung ‘gizi’ K alias pottasium yang tinggi. Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang coco peat sebagai media tanam jahe yang kaya K (Bacaa di sini: coco peat). (Silahkan baca dulu: Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe). Bahan alami yang juga kaya akan kandungan K adalah tandan kosong kelapa sawit. Indonesia adalah negera produsen sawit terbesar dan memiliki kebun sawit terluas di dunia. Artinya, ada banyak sekali sumber tandan kosong kelapa sawit. Melimpah ruah di pabrik-pabrik kelapa sawit.

tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit

tkks utuh

Tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit atau TKKS atau sering disebut juga tankos kaya akan kandungan ‘gizi’ K. Berikut ini adalah kandungan hara tanaman tkks segar: 0,54% N total, 0,06% P, 2,03% K, dan 0,19% Mg (Sumber: Heriansyah).

Namun, bahan organik segar seperti tankos kurang baik jika langsung digunakan sebagai media tanam. TKKS perlu dikomposkan terlebih dahulu dengan menggunakan Promi. Promi bisa digunakan untuk pembuatan kompos dari bahan organik apa saja, termasuk TKKS dengan waktu yang singkat dan tanpa membutuhkan bahan tambahan.

Kompos TKKS

kompos tkks kaya K

Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawwit

Kompos tkks juga kaya akan K. Kandungan hara kompos TKKS adalah sebagai berikut: 1.45% N, 2,9% K, 0,25% Mg, dan 0,37% Ca. Kandungan N-nya meningkat daripada tkks segar, tetapi kompos tkks lebih baik daripada tkk segar.

Kompos TKKS mudah diperoleh di daerah-daerah sentra kelapa sawit, seperti di P Sumatera, sebagian Kalimantan dan sulawesi. Kalau di P jawa memang sangat jarang pabrik dan kebun kelapa sawit. Hanya di jawa Barat dan Banten saja yang ada Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Abu TKKS

abu tankos janjang tkks yang kaya akan K

Abu tankos (tkks) yang kaya akan unsur K

Jaman dulu tkks lebih banyak dibakar di pabrik-pabrik sawit. Janjang segar dimasukkan ke dalam acinerator/tungku dan dibakar sampai jadi abu. Karena bahan asalnya kaya akan K, abu tkks juga kaya dengan unsur K. Di jurnal terbitan PPKS Medan yang pernah saya baca, kandungan K di dalam abu tkks sampai 27-30%. Kandungan ini sangat tinggi sekali. Namun, K di dalam abu berada dalam bentuk oksida yang tidak mudah tersedia bagi tanaman. Abu tankos juga mengandung ‘gizi’ mikro yang lain seperti: Mg, Zn, dan Fe. Hara mikro ini juga diperlukan oleh tanaman jahe.

Abu tankos sudah lama digunakan sebagai pupuk di perkebunan sawit atau perkebunan lain yang membutuhkan unsur K yang tinggi. Tanaman jahe juga sangat membutuhkan K yang tinggi, karena itu menurut saya abu janjang sawit cocok digunakan sebagai salam satu bahan untuk media penanaman jahe. Abu janjang juga bereaksi basa, jadi perlu diperehatikan rasio pemakaiannya, jika terlalu tinggi bisa kurang bagus untuk tanaman.

Media Tanam Jahe: Coco Peat

coco peat sebagai media tanam jahe

Coco peat sebagai media tanam jahe

Dalam artikel sebelumnya (Pola dan Kebutuhan Makan Tanaman Jahe) sudah diketahui jika ‘gizi’ alias pupuk yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman jahe adalah ‘gizi’ K alias potasium alias kalium. Bahkan kebutuhan ‘gizi’ K ini melebihi kebutuhan akan ‘gizi’ N alias nitrogen. Secara umum tanaman lebih banyak membutuhkan nitrogen, tetapi tanaman jahe beda sendiri, tanaman jahe lebih banyak membutuhkan K. Ada banyak sumber-sumber mineral yang biasanya digunakan sebagai pupuk K, seperti: MOP atau kalium klorida alias KCl, kalium fosfat, kalium sulfat, kalium nitrat, kalium dihidrogen fosfat, abu jangkos dan lain-lain. Memang sebagian besar bahan-bahan itu adalah bahan buatan pabrik, ada juga sih yang mineral alami, seperti abu jangkos.
Continue reading

Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe

Semua mahluk hidup membutuhkan asupan makanan, termasuk tanaman. Makanan untuk tanaman adalah hara mineral alias pupuk. Tanaman ‘makan’ (maksudnya ‘menyerap’) sari pati makanan dari dalam tanah dengan menggunakan akar-akarnya. Jadi akar tanaman itu ibarat mulutnya tanaman. Namun, tanaman juga memiliki mulut yang letaknya di daun. Mulut ini disebut dengan ‘stomata’ alias mulut daun. Mulut daun juga bisa digunakan untuk menyerap saripati makanan dan udara (CO2 dan O2). Karena ‘mulut daun’ juga digunakan untuk menyerap udara, ‘mulut daun’ ibarat ‘hidungnya tanaman’. Tanaman berbeda dengan mahluk lain dalam hal makan. ‘Makanan’ tanaman alias pupuk diserap dalam bentuk mineral, karena itu orang juga sering menyebutnya saripati makanan.

‘Makanan’ alias pupuk tadi ada beberapa macam, yang sering dibagi menjadi dua kelompok utama. Gampangnya, ‘gizi’ tanaman ada dua macam, yaitu: ‘gizi’ makro dan ‘gizi’ mikro. ‘Gizi’ makro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah besar, sedangkan mikro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah suedikit zekali. ‘Gizi’ makro yang dibutuhkan tanaman adalah N alias nitrogen, P alias fosfor, K alias potasium atau kalium, Ca alias calsium atau kapur dan Mg atau magnesium. Nah, sedangkan ‘gizi’ mikro hanya dibutuhkan dalam jumlah yang suangat-suangat sedikit, karena saking sedikitnya satuan yang digunakan juga kecil, yaitu ppm atau seper sejuta.

Para ahli sudah meneliti tentang pola makan tanaman jahe ini. Lagi-lagi ahlinya dari China dan India. (maaf saya cari literatur yang dari Indonesia tidak ketemu). Para ahli dari negeri produsen utama jahe dunia itu mengamati serapan saripati makanan oleh tanaman jahe sejak masih bibit sampai umur 4 bulan. Umur 4 bulan adalah umur panen jahe muda yang biasa dilakukan oleh petani jahe di India dan China. Kalau di Indonesia kebiasannya umur 6-8 bulan. Karena tidak ada data yang dari Indonesia, saya gunakan saja data dari negeri seberang itu.

Ternyat pola ‘makan’ tanaman jahe kalau dibuat gambar grafik jadinya seperti gambar di bawah ini.

pola serapan hara mineral pupuk oleh tanaman jahe

Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Dari grafik di atas terlihat jika pola ‘makan’ tanaman jahe membentuk kurva exponensial alias melengkung ke atas. Di fase2 awal sedikit, lalu perlahan-lahan naik, dan di akhirnya meningkat dengan pesat. Pola ini bisa dipahami dengan melihat fase-fase pertumbuhan tanaman jahe (baca di sini: Fase-fase pertumbuhan jahe). Di fase awal, yaitu fase benih dan bibit, kebutuhan ‘makanan’ tanaman jahe lebih banyak dipenuhi dari ‘simpanan makanan’ yang ada di dalam rimpang jahe. Kita tahu bahwa tanaman jahe menimbun dan menyimpan makanannya di dalam rimpangnya, karena itu rimpangnya besar dan penuh gizi. Serapan saripati makanan dari dalam tanah di fase-fase ini kecil. Di jurnal lain disebutkan jika efisiensi pupuk N (nitrogen) pada fase ini hanya sekitar 20%an. Kecil sekali.

Continue reading

Indonesia Peringkat 6 Produsen Jahe Dunia

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang prosek peningkatan produksi jahe Indonesia (baca artikelnya di sini: Prospek Jahe Balitro). Rasa penasaran saya terusik, pertama karena jahe sedang marak di Indonesia, tetapi data dari jurnal Balitro menyebutkan kita peringkat ke 14 dunia dalam produks jahe. Ada yang janggal menurut saya. Kemudian saya mencoba mencari informasi dari sumber data yang menjadi rujukan, yaitu data dari FAOSTAT (http://faostat3.fao.org/download/Q/QC/E). Data dari FAO ini selalu menjadi data rujukan utama untuk melihat trend produksi dan perdagangan komoditas pertanian dunia. Pagi ini saya searching data dan mencoba membuat grafik dan analisa sederhana. Hasilnya adalah seperti gambar di bawah ini.

Produksi Jahe di 10 negara produsen utama (data dari FAOSTAT)

Produksi Jahe di 10 negara produsen utama (data dari FAOSTAT)

Dari data itu menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara peringkat ke-6 dalam produksi jahe dunia. Peringkat pertama dalah India dan kemudian di ikuti oleh China. Namun, yang menarik adalah hampir di semua negara 10 produsen utama jahe dunia mengalami penurunan. Memang beberapa tahun sebelumnya di Indonesia juga mengalami penurunan produksi ketika negara-negara lain mengalami kenaikan produksi.

Yang patut disyukuri adalah dalam dua tahun terakhir (2012-2013) produksi jahe Indonesia mengalami kenaikan, sedangkan produksi di negara-negara produsen besar mengalami penurunan. Hanya Nigeria yang juga mengalami kenaikan. Nigeria sedang konflik, jadi bisa dimaklumi jika produksinya naik dan turun secara drastis.
Data FAO tersebut adalah data tahun 2013, data terbaru belum divalidasi dan mungkin juga belum masuk. Setidaknya dari data ini, petani jahe Indonesia perlu optimis untuk terus mengenjot produksi, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas jahe. Mumpung produksi jahe di negera India dan China sedang turun. Semoga kita bisa merebut pasar jahe dunia dan mengalahkan China dan India, Insha Allah.

Tapi jangan lengah, petani jahe Indonesia juga perlu hati-hati. Saya tidak tahu data teruptodate dan kondisi pertanian jahe di negara-negara produsen utama jahe tersebut (India dan China). Siapa tahu saat ini mereka sedang memperbaiki diri dan mengenjot produksinya. Jika di dua negara ini terjadi peningkatan produksi yang tinggi, bisa dipastikan jahe Indonesia akan dilibas oleh jahe dari India dan China.

Status dan prospek peningkatan produksi dan eksport jahe Indonesia – jurnal dari Balitro

Sedang mencari-cari jurnal tentang produksi dan eksport jahe Indonesia dan ketemu jurnal ini. Jurnalnya terbit tahun 2013 atau dua tahun yang lalu. Dari sisi akademis, jurnal ini ralatif baru, tetapi dari sisi bisnis mungkin sudah kadaluwarsa data-datanya. Isinya agak sedikit mengejutkan dan bertolak belakang dengan apa yang diyakini para praktisi jahe saat ini. Ternyata Indonesia menduduki peringkat ke-14 produsen jahe di dunia. Produksi jahe juga cenderung turun. Nah, lho…
Padahal para praktisi jahe sedang optimis mengembangkan jahe. Apakah prosek jahe di Indonesi masih cerah sampai saat ini atau justru malah suram?

Artikel lain tentang jahe, silahkan klik di sini: JAHE

Pertumbuhan Rimpang Jahe

Saya tergelitik dengan beberapa postingan di grup FB yang mengupload foto rimpang jahe. Petani jahe sering penasaran dengan pertumbuhan rimpang jahe dan membongkar polybag untuk mengetahui pertumbuhannya. Rimpang jahe itu kemudian difoto, diupload di FB dan minta pendapat apakah pertumbuhan rimpang jahenya normal atau tidak. Jawaban dan komentar yang muncul bermacam2.

Saya tergelitik apakah sudah ada yang meneliti dan mengamati pertumbuhan rimpang jahe ini. Lagi2 laporan dari negeri tirai bambu yang saya dapatkan. China sebagai produsen dan eksportir jahe terbesar di dunia telah mengamati pertumbuhan rimpang jahe ini. Berikut ini adalah pertambahan bobot rimpang jahe dari berbagai ukuran awal tunas jahe. Penelitian ini hanya mengamati sampai usia 4 bulan saja.

image

Grafik di atas menunjukkan jika pertumbuhan rimpang jahe bersifat eksponensial. Awalnya pertumbuhannya lambat hingga usia 2 bulan. Ini adalah fase bibit (baca: fase pertubuhan jahe), jadi wajar kalau rimpangnya masih kecil2. Setelah bulan kedua bobot segar rimpang jahe masih berkisar di antara 100 gr s/d 130 gr. Pada bulan ke tiga, ketika fase percabangan tiga, bobot segar rimpang mencapai 300gr. Masih cukup kecil. Yang banyak tumbuh adalah akarnya.

Setelah usia 90 hst baru terjadi pertumbuhan bobot rimpang yang pesat. Fase ini jahe akan membentuk anakan baru/tunas baru. Fase berikutnya adalah pembesaran rimpang, usia >90 hst. Bobot segar rimpang pada usia ini tumbuh sangat pesat, karena itu disebut fase pembesaran rimpang.

rimpang jahe 3 bulan

Rimpang jahe umur 3 bulan. Ada tiga anakan dan banyak akar yang tumbuh.

Di beberapa laporan ilmiah disebutkan satu rumpun jahe gajah bisa mencapai beberapa kg. Bobot rimpang jahe ini dicapai selama sebulan-dua bulan setelah fase percabangan tiga. Tanaman jahe banyak menyerap hara nutrisi tanaman. Pada usia2 ini lah mestinya rimpang jahenya mulai besar2 dan gemuk2. Ketika rimpang mulai membesar maksimal, pertumbuha batang dan daunnya justru berhenti dan justru mulai masuk fase kematian. Batang2 dan daun2 yang sudah tua mulai menguning.


Pupuk Organik Cair Khusus Jahe klik di sini.


Jahe Gajah

Rimpang Jahe Gajah yang tumbuh maksimal

Aplikasi Hormon (ZPT) Paclobutrazol untuk Menghambat Tunas Jahe

Hormon atau zpt (zat pengatur tumbuh) tanaman tidak hanya digunakan untuk memperbesar dan meningkatkan produksi rimpang jahe, tetapi juga untuk menghambat tumbuhnya tunas jahe (baca juga: Hormon giberelin untuk memperbesar rimpang). Jahe konsumsi yang dipanen sudah cukup tua jika dibiarkan lama kelamaan bisa muncul tunas-tunas baru. Jahe konsumsi yang bertunas akan menurunkan kwalitas dan harganya. Untuk menahan agar rimpang jahe tidak bertunas bisa diberi perlakuan paclobutrazol. Paclobutrazol diberikan dalam jumlah kecil dan aman.

Hormon/zpt yang digunakan:

Paclobutrazol serbuk.

Pembuatan Larutan Stok Paclobutrazol:

1. Masukkan 1 gr paclobutrazol serbuk ke dalam gelas kaca atau gelas beker atau erlenmeyer volume minimal 1000ml.
2. Tambahkan 100ml aquadest. Aduk hingga larut.
3. Jika belum larut sempurna, tambahkan aquadest sedikit demi sedikit sampai semua hormon terlarut semua.
4. Tambahkan aquadest hingga volumenya 1000 ml. Aduk hingga semua terlarut sempurna.
5. Masukkan larutan paclobutrazol ke dalam botol plastik.
6. Simpan ditempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Aplikasi Hormon Paclobutrazol:

1. Ambil 100ml larutan stok paclobutrazol.
2. Tambahkan 900ml air bersih. Aduk hingga terlarut sempurna.
3. Larutkan hormon sesuai kebutuhan. Masukkan larutan hormon ke dalam ember atau bak.
4. Masukkan rimpang jahe yang sudah dibersihkan ke dalam ember.
5. Rendam rimpang jahe selama kurang lebih 15 menit.
6. Tiriskan rimpang jahe.
7. Jahe siap dikemas dan dijual.

Sisa larutan paclobutrazol jangan dibuang. Simpan larutan itu dan dipakai kembali jika diperlukan.

Informasi hormon tanaman: Hormon Tanaman

hormon tanaman zpt


Pupuk Organik Cair Khusus Jahe


Aplikasi Hormon (ZPT) Giberelin (GA3) untuk Meningkatkan Produksi Rimpang Jahe

Ada beberapa cara untuk meningkatkan hasil produksi rimpang jahe, salah satunya adalah dengan aplikasi hormon tanaman atau zpt (zat pengatur tumbuh) tanaman. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari hormon yang sesuai untuk meningkatkan produksititas rimpang. Hormon tanaman yang sudah terbukti bisa meningkatkan produksi rimpang jahe adalah hormone giberelin yang disemprotkan dengan konsentrasi sangat tinggi (150 ppm). Hasil penelitian Sengupta et al. (2008) aplikasi giberelin bisa meningkatkan produksi rimpang jahe hingga 50% daripada rimpang jahe yang tidak diberi perlakuan giberelin. Dalam literaturnya Sengupta et al (2008) itu disebutkan jika produksi rimpang jehe yang diberi aplikasi giberelin mencapai 69,86 ton/ha, sedangkan yang tidak menggunakan giberelin hanya 45,60 ton/ha. Berikut ini saya sarikan cara praktis aplikasi giberelin untuk meningkatkan produksi rimpang jahe. Aplikasi hormon giberelin harus dibarengi dengan ketersediaan hara/pupuk di dalam media tanam jahe. Produksi rimpang yang tinggi membutuhkan ketersediaan hara yang tinggi juga, salah satunya dengan aplikasi pupuk organik cair (POC Jahe).

Bukti Ilmiah Aplikasi Hormon/ZPT Giberelin untuk Jahe


Catatan:
Aplikasi hormon tidak menjadi jaminan jika hasil panennya akan meningkat pesat. Hormon giberelin bukanlah nutrisi tanaman. Aplikasi hormon tidak akan berpengaruh jika media tanam miskin hara atau kekurangan nutrisi hara tanaman.
Agar aplikasi hormon optimal harus dibarengi dengan ketersediaan nutrisi hara yang cukup dan berimbang. Media tanam harus subur atau diberi pupuk yang cukup dan sesuai.
Hasil panen di atas adalah hasil penelitian. Hasil kenyataan di lapangan bisa bervariasi, tergantung pada varietas jahe, kesuburan media, pupuk yg digunakan, teknik budidaya, iklim, hama, penyakit dll.


Hormon atau zpt yang digunakan adalah:

Giberelin (GA3) yang berbentuk serbuk.

Pengenceran/Pembuatan Larutan Stok Hormon Giberelin:

  1. Masukkan 1 gr serbuk hormon giberelin ke dalam gelas kaca atau jika ada gelas beker atau erlenmeyer 1000ml.
  2. Tambahkan 10 ml ethanol absolut (>95%) dan diaduk hingga larutan hormon larut. Jika hormon belum larut, tambahkan sedikit demi sedikit etanol hingga semua hormon terlarut sempurna.
  3. Tambahkan air hingga volumenya mencapai 1000 ml atau 1 L. Aduk hingga semua hormon tercampur merata.
  4. Untuk pembuatan larutan yang lebih banyak, volume etanol dan air yang digunakan dikalikan dengan berat (gr) hormon yang akan dilarutkan.
  5. Masukkan larutan hormon ke dalam botol. Larutan hormon siap diaplikasikan ke tanaman jahe. Botol disimpan di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

Lihat pengenceran giberelin di link ini: Pengenceran Giberelin.

Pengenceran untuk penyemprotan ke tanaman:

  1. Ambil 150ml larutan hormon giberelin yang sudah dibuat sebelumnya.
  2. Tambahkan dengan air bersih sebanyak 850ml hingga volumenya 1 liter.
  3. Larutan diaduk hingga tercampur merata.
  4. Larutan hormon giberelin siap disemprotkan ke tanaman.
  5. Untuk volume yang lebih banyak, kalikan volume di atas dengan volume yang diinginkan. Misal, untuk satu tangki semprot 14L, volume larutan stok hormon yang diperlukan adalah 150ml x 14 = 2,1 L.
  6. Satu rumpun jahe memerlukan kurang lebih 15-20 ml larutan hormon. Satu tangki 14L cukup untuk menyemprot 700 rumpun jahe.

Waktu Penyemprotan:

Aplikasi hormon giberelin diberikan dua kali saja, yaitu pada tanaman jahe usia 90 hst dan 120 hst atau pada awal fase percabangan tiga dan fase pembesaran rimpang. (baca: fase-fase pertumbuhan jahe).

Informasi hormon giberelin klik di sini: Hormon Tanaman

Referensi

Jayachandran, B. and P. Sethumadhavan (1988). “Effect of CCC, ethrel and kinetin on quality of ginger (Zingiber officinale Rosc.).” Agric. Res. J. Kerala 26(2): 277-279.
Kandiannan, K., K. Sivaraman, et al. (1996). “Agronomy of ginger (Zingiber officinale Rosc.)-a review.”
Obasi, M. and S. Atanu (2005). “Effect of growth regulators on growth, flowering and rhizome yield of ginger (Zingiber officinate Rosc).” Nigerian Journal of Horticultural Science 9(1): 69-73.
Ravindran, P. and K. N. Babu (2004). Ginger: the genus Zingiber, CRC Press.
Sengupta, D., T. Maity, et al. (2008). “Effect of growth regulators on growth and rhizome production of ginger (Zingiber officinale Rosc.) in the hilly region of Darjeeling district.” Journal of Crop and Weed 4(2): 10-13.
Velayutham, T. and S. Parthiban (2013). “Role of Growth Regulators and Chemicals on Growth, Yield and Quality Traits of Ginger (Zingiber officinalis Rosc.).” International Journal of Horticulture 3.

Jahe Gajah Bengkak

Jahe Gajah Bengkak

hormon tanaman zpt

Aplikasi Hormon (ZPT) Giberelin untuk Meningkatkan Produksi Rimpang Jahe

Silahkan klik gambar di bawah ini jika Anda membutuhkan hormon tanaman/zpt.

hormon tanaman zpt

Fase-fase Pertumbuhan Jahe – updated

Ginger The Genus of ZingiberTulisan ini lanjutan dan update dari tulisan sebelumnya (baca di sini). Tulisan ini adalah cuplikan dari Buku Ginger The Genus of Zingiber dan bebeapa sumber journal lain. Sedangkan tulisan sebelumnya dari artikel Liujiu et al, 2010. Memahami fase-fase ini penting diketahui untuk para praktisi jahe, terutama untuk mengamati pertumbuhan tanamannya, mengatur pemupukan, dan kegiatan-kegiatan teknis budidaya lainnya.

fase pertumbuhan jahe

Fase-fase pertumbuhan jahe: (1) Fase pertunasan, (2) fase bibit, (3) fase pertumbuhan dan perkembangan, (4) fase rimpang tidur. Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Menurut buku Ginger The Genus of Zingiber, fase pertumbuhan jahe bisa dibagi menjadi beberap fase/tahapan, yaitu: (1) fase pertunasan, (2) fase bibit, (3) fase pertumbuhan dan perkembangan, dan (5) fase rimpang tidur.


Panduan aplikasi pupuk anorganik khusus jahe
Pupuk Organik.Cair Khusus Jahe
Aplikasi hormon atau ZPT (zat pengatur tumbuh) Giberelin untuk meningkatkan produktivitas jahe


Fase Pertunasan

tunas jahe gajah

tunas jahe gajah yang sedang berkecambah.

Fase pertunasan dimulai ketika tunas tidur mulai ‘bangun dari tidurnya’ samnpai mulai terbuka daun yang pertama. Para penjual bibit jahe sudah terbiasa dengan fase ini. Rimpang jahe segar tidak bisa langsung ditanam dan bisa bertunas sendiri, tetapi rimpang jahe tua perlu ‘ditidurkan’ dulu alias didormankan. Kalau tidak ditidurkan dulu pertumbuhan tunas tidak bisa maksimal. Rimpang yang digunakan sebagai tunas juga mesti rimpang tua yang umurnya >8 – 10 bulan. Hati-hati dengan penjual bibit nakal yang menggunakan rimpang konsumsi/rimpang muda untuk bibit jahe. Hanya karena ingin dapat harga jual yang lebih mahal, rimpang muda dipaksakan jadi bibit jahe. Jelas tidak akan bisa maksimal pertumbuhan tunasnya.

Pada fase dorman alias tidur ini, tunas akan ‘bersemedi’ dan bersiap-siap untuk menjelma menjadi tanaman jahe. Untuk merangsang pertumbuhan jahe beberapa penelitian sudah dilakukan dengan menggunakan hormon organik atau zpt. Aplikasi hormon bisa mempercepat proses pertunasan, meningkatkan jumlah dan kualitas tunas jahe. ZPT diaplikasikan pada saat awal pemeraman dengan konsentrasi tinggi. Temperatur dan pH pemeraman juga berpengaruh terhadap kualitas tunas jahe. Insya Allah akan saya bahas di tempat lain.

Proses pertumbuhan tunas jahe

Proses pertumbuhan tunas jahe. Foto dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Continue reading