Category Archives: MyStories

Pengalaman konyol: Salah naik bis

Bis umum di kota Gothenburg Swedia

Maklum orang udik. Biasanya naik bis omprengan. Naik berebutan, dan tidak ada nomor kursi. Nunggu bus di pinggir jalan adalah hal biasa.

Ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Agak gagab dan kelihatan bloonnya. Saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di kota Göteborg (baca Yotebori), kota terbesar kedua di Swedia. Di sini angkutan umum sudah maju. Bisnya besar2 dan bersih. Bisnya ada wifinya. Pesan tiket bis bisa dilakukan via online dan waktu naik bis tinggal menunjukkkan kode bookingnya saja.

Suatu hari saya janjian saya Prof. Mohammad yang mengajar di Borås University, di kota Borås. Jaraknya sekitar 60 km dari Gtb. Biasanya kalau ke Borås saya numpang Prof. Mohammad, kebetulan beliau tinggal di Gtb. Ngirit ongkos. Tapi kali ini saya ada pekerjaan lab, dan saya janjian dengan beliau pukul 1 siang setelah makan siang. Atas saran temen2 saya naik bis Bus4U. Tiketnya beli on line.

Setelah menyelesaikan pekerjaan lab, saya segera ke stasion. Bis Bus4U ada di gate 32 dan berangkat pukul 11.15. Pukul 10.30 saya sudah ada di stasion. Saya segera cari gate 32. Di atas gate tertulia jurusannya “Stockholm”. Bis yang akan saya tumpangi memang jurusannya ke Stockholm, tapi saya turun di centrum, stasion Borås.
Continue reading

Pengalaman Konyol: Salah Naik Kereta

Hari itu saya baru saja menyelesaikan pekerjaan pengomposan seresah tebu di kebun Glenmore, dekat Kec. Genteng Banyuwangi. Seminggu di kebun, badan rasanya sudah seperti ikan asin. Biasanya kalau kerja di lapangan saya bawa satu pasang pakaian lapang khusus untuk kerja. Mau kerja seminggu atau dua minggu pokoknya pakaiannya itu. Tidak pernah dicuci sebelum selesai kerja. Keringat, debu, asep, semua numpuk jadi satu. Kalau pernah ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan), pasti bisa membayangkan baunya. 🙂

Badan rasanya seperti habis digebukin. Capek banget. Saya dianter orang kebun sampai terminal Jember. Saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan naik bus umum. Sampai di Surabaya sudah tengah malam. Terpaksa saya cari penginapan sedapatnya. Saya menginap di losmes kelas melati. Horor suasananya. Meski kamar2nya terkesan sedikit kumuh dan mesum, saya tetap ambil, yang penting bisa ‘merem’ sejenak.

Esok harinya saya mampir ke dinas, ketemu seseorang. Selesai dari sana saya bergegas ke Stasion Turi. Saya cuma diberi tiket kereta Agro Bromo dari stasiun Turi ke Gambir. Singkat cerita sampailah saya di Gambir menjelang magrib.

Badan letih. Isi pikiran cuma satu, cepat sampai rumah, berendam air panas, makan masakan istri, suruh mijitin anak2, lalu molor sepuasnya. Saya segera beli tiket KRL Eksekutif Pakuan jurusan Bogor (waktu itu baru ada Pakuan). Saya nunggu di peron. Duduk di bangku sambil ngantuk-ngantuk.
Continue reading

Indahnya Berbagi

Di hari jum’at yang penuh barokah ini saya menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati. Seperti biasa, setiap jam berangkat kerja jalanan selalu macet. Orang-orang bergegas ingin segera sampai ke tempat kerja. Tak terkecuali para pengemis yang sudah berada di ‘pos’-nya masing2 di trotoar jalan. Di tengah-tengah kemacetan itu saya melihat ibu-ibu, naik motor matic dan membawa kantong plastik penuh nasi bungkus. Ketika sampai di dekat salah satu pengemis dia mengeluarkan nasi bungkus dan memberikannya pada pengemis itu. Dia berjalan lagi, berhenti lagi dan melakukan hal sama ke pengemis-pengemis lainnya. Saya sengaja jalan pelan2 di belakang motor si Ibu itu. Subhanallah, ternyata Ibu itu membagikan nasi bungkus ke semua pengemis yang mangkal di sepanjang jalan ini.

Hari jum’at adalah hari yang penuh barokah. Sedekah di hari ini akan dilipatkan pahalanya. Ya Rabb, lipatgandakan pahala sedekah Ibu itu dan berilah balasan yang lebih baik dari sisi-Mu. Engkalah Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengasih. Amin.

Anak-anak Perkasa

Sulit saya mengungkapkan isi perasaan saya. Iba, sedih, marah, kecewa, geram, miris bercampur aduk jadi satu. Orang-orang yang tidak punya banyak saya temui di sekeliling saya. Mereka bukan pengemis, tetapi mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan berjuang. Entah dengan cara apa saya bisa membantu orang-orang ini.

Saya tidak bercerita tentang pengemis dan gelandangan. Terus terang saya jarang sekali memberi uang kepada pengemis yang sering mangkal di pingir jalan atau di masjid-masjid selesai sholat jum’at. Saya sangat selektif sekali kalau mau memberi uang kepada pengemis. Saya lebih ‘respect’ pada orang-orang miskin yang berusaha untuk bertahan hidup tanpa harus meminta-minta dengan mengeksploitasi kemiskinannya dan kemalangannya. Misalnya, Aki Penjual Telur Ayam.

Anak penjual combro

Beberapa waktu yang lalu banyak diberitakan di media tentang kisah Aisyah yang merawat bapaknya di dalam becak. Sebenarnya banyak anak-anak seperti mereka yang ada di sekitar kita. Pernahkah kita sedikit memperhatikan lingkungan kita. Banyak sekali anak-anak seperti Aisyah dan mereka membutuhkan uluran tangan kita.

Pernah saya temui seorang anak yang menjual combro malam-malam. Hujan gerimis dan malam sudah larut, tapi anak itu masih keliling komplek menjajakan dagangannya. Saya panggil anak itu. Saya pegang dagangannya sudah dingin semua. Saya tanya ke dia;”Kenapa malam-malam masih berjualan dan tidak pulang saja?”
“Takut dimarahi emak, karena dagangannya belum laku”, jawabnya singkat.
Deg…seperti disambar geledek saya mendengarnya. Saya borong gorengan-gorengan itu dan saya suruh dia segera pulang.

Anak Pemulung 1
Suatu malam saya makan di warung tenda dekat pasar. Selesai makan saya mau membayar makanan saya. Di balik gelapnya malam dan ramainya kendaraan, saya melihat seorang anak melintas dengan membawa kantong plastik. Dia memakai kaos hitam, celana seragam SD merah panjang dan tidak memakai alas kaki. Saya perhatikan anak itu memunguti botol dan gelas plastik bekas air mineral. Setelah berjalan beberapa jauh dia duduk termenung di pinggir jalan. Saya lihat jam tangan saya menunjuk angka 09.30.

Saya dekati anak itu, saya tanya namanya;”Siapa namamu, Dik?”
“Ucup”, jawabnya singkat. Saya tidak begitu jelas mendengarnya.
“Kamu sekolah?” tanya saya lagi.
Dia mengangguk singkat.
“Kamu tinggal di mana?” lanjut saya.
“Di Gang Bengkong,” jawabnya.
Trenyuh saya mendengarnya. Uang yang ada di saku saya serahkan ke dia,”Ini untuk sekolah kamu.”

Tak beberapa lama melintas seorang ibu menarik gerobak dan dibelakangnya ada seorang anak kecil lain yang juga membawa kantong plastik. Ternyata si Ibu itu adalah ibunya Ucup dan anak kecil itu adiknya.

Air mata saya tumpah tanpa terasa. Saya pulang dengan perasaaan campur aduk tidak karuan.

Anak Pemulung 2
Sore hari pulang kerja, saya melihat seorang anak berjongkok di perempatan komplek dekat rumah. Dari jauh anak itu seperti meringis, entah menangis, entah menahan sakit. Sampai di rumah saya minta orang yang kerja di rumah untuk menemui anak itu.embua
“Coba lihat, kenapa anak itu menangis,” pinta saya.
“Ajak anak itu ke rumah,” suruh saya lagi.

“Kemu kenapa menangis?” tanya saya ke anak itu.
“Tidak apa-apa,” jawabnya malu-malu.
“siapa namamu?”
“Rizki.”
“Rizki, kenapa kamu menangis? Ada anak yang nakal sama kamu?”
Riski mengeleng pelan.
“Perut saya sakit….belum makan”, jawabnya lirih sambil menunduk.

“Dir, ambil kue yang di meja dan buatkan anak ini minum!” pinta saya. Kebetulan di rumah sedang tidak ada makanan apa2, hanya ada sisa kue kemarin saja.

Anak itu saya suruh duduk di teras rumah. Sambil makan biskuit saya tanya lagi anak itu, dia tinggal di mana, apakah dia sekolah, dan orang tuanya siapa.

Rizki anak pertama dari empat bersaudara. Adiknya ada yang meninggal satu. Bapaknya kerja buruh membuat sepatu, tapi bapaknya suka main judi dan mabok. Jadi tidak pernah punya uang. Ibunya yang kerja serabutan. Dia memulung untuk mencari tambahan uang. Rizki sekolah di MI swasta sudah kelas 6, tapi tidak tahu apakah bisa melanjutkan sekolah atau tidak.

***
Hidup ini memang keras. Ada anak-anak perkasa yang harus berjuang bertahan hidup.

Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

veteran perang 45 Mbah Ngadimin

Mbah Ngadimin Hadiprayitno, sedang menyanyi keroncong di gerbong 7.

NGADIMIN, nama itu tertulis di atas saku kiri baju veterannya. Beliau memakai baju seragam lengkap, hijua tentara, langbang jasa, dan topi kuning. Umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh. Mungkin seumuran dengan Bapak Alhmarhum.

Sejak nunggu kereta di stasiun Pasar Senen, beliau sudah menarik perhatian. Biacaranya ceplas-ceplos. Beliau duduk menunggu di dekat tempat aku duduk. Ternyata waktu di kereta pun duduknya di depanku.

Mbah Ngadimin mengajak ngobrol akrab dengan siapa saja. Ngobrol sambil bercanda. Sayangnya pendengarannya sudah jauh berkurang. Jadi kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Jadi kami mangut2 saja kalau beliau ngajak ngomong.

Ketika para penumpang sedang asik dengan HP masing2, tiba-tiba Mbah Ngadiman memecah kesunyian. Beliau menyanyi keroncong dengan keras. Kami jadi terhenyak. Beliau terus menyanyi dengan keras, tampa memperdulikan sekitarnya. Ketika sebuah lagu selesai, Mbah Ngadiman menyelanya dengan pantun;

“Ali-ali ilang matane; ojo lali karo kancane”

“Pring peting cagakke radio; pontang panting bojone loro”

“Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir”

Mendengar pantun itu penumpang tertawa kepingkal-pingkal. Kami semua jadi terhibur. Kemudian dia berhenti sejenak.

“Sik ….. aku meh nguyuh sik,” katanya sambil berdiri menuju wc.

***
Setelah diam beberapa saat. Dia minta saya untuk mengambilkan tas rangselnya yang disimpan di tempat tas di atas. Saya ambil dan serahkan tas itu padanya.

Dia membuka tas dan mengambil seauatu dari dalam tas. Sebuah tumpukan kertas yang diikat dengan tali karet. Dia membuka ikatan karetnya dan memilah2 isinya. Lebar demi lembar dia buka, seperti sedang mencari seauatu. Dia mengambil sebuah buku catatan lusuh. Bukunya sudah tidak ada sampulnya. Kertasnya sudah menguning dan tulisannya sudah agak luntur.

“Di bawah sinar bulan purnama…..”
Mbah Ngadiman mulai menyanyi lagi. Ternyata Mbah Ngadiman mengambil buku catatan lagu keroncong.

Tujuh lagu dia bawakan. Dengan selingan pantun2 lucu yang menghibur. Mbah Ngadiman membawakan lagu dengan gaya penyiar radio.

Kami semua jadi terhibur sepanjang perjalanan ini.

Mbah Ngadiman bercerita kalau dia pemimpin band keroncong veteran di Semarang dan biasa siaran di RRI. Pantes.

Sampai di Semarang Mbah Ngadamin turun. Saya pun turun di sini. Beliau sudah ditunggu oleh anaknya.

Sugeng tindak. Semoga tetap sehat Mbah Ngadiman.

Saya meneruskan perjalanan ke timur. Memuntahkan rasa rinduku pada buah hatiku.

Ajit

image

Ajit, malam2 mencari sampah untuk biaya sekolah

Namanya Ajit, tinggal di Gang Bengkong. Umurnya sekitar 10 tahunan. Pakai celana merah panjang sebetis, seragam SD, kaos oblong hitam dan tidak beralas kaki.  Malam2 seperti ini dia menyusuri jalanan dengan membawa karung. Dia punguti gelas & botol bekas air mineral. Dia punguti ‘sampah’ yang masih bisa dijual lagi.

Dia duduk di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan & orang2 yang berlalu lalang. Saya tanya ke dia, ” Kamu sekolah?”
“Ya…”, jawabnya singkat.

Wajahnya polos. Pandangannya cerah. Saya melihat cahaya semangat di matanya.

“Sekolah yang rajin, ya”,  lanjutku.
Dia mengangguk sedikit.

Ternyata dia tidak sendiri. Adik laki2nya membututi agak jauh darinya. Di belakangnya lagi aku lihat seorang ibu2 menarik gerobak rongsokan.

……………….
;-(

Aku Bangga pada Bapakku

Aku Bangga dengan Bapakku

Aku bangga pada almarhum Bapakku. Meskipun beliau lahir di desa, tidak pernah sekolah, dan harus kerja keras untuk menghidupi keluarga kami, beliau selalu mendorongku untuk sekolah setinggi-tingginya. Dan, Alhamdulillah, saya bisa memenuhi harapannya. Meskipun beliau tidak sempat menyaksikannya sendiri.

Bapakku dilahirkan di desa kecil di selatan kota Solo, desa Nguter namanya. Kira-kira 11 km sebelum Wonogiri. Bapakku adalah anak ‘ragil’ dari 16 orang saudara. Bapak lahir sebelum penjajah Jepang datang ke Indonesia. Ketika lahir bapak diberi nama ‘Wagimin’, pangilannya ‘Min’. Kelak ketika dewasa namanya diganti menjadi ‘Minto Pawiro’. Tetap ‘Min’ atau ‘Minto’ panggilannya.

Bapak kecil hidup susah di desa. Simbah hanya petani biasa. Ketika itu sudah ada sekolah, tapi Bapak tidak boleh sekolah oleh simbah. Kata simbah; kalau bapak sekolah tidak ada yang mengurus sapi-sapinya Simbah. Masa kecil bapak dihabiskan di sawah dengan sapi-sapinya.

Jadi anak petani di desa hidupnya susah. Kalau mau pergi ke mana-mana dengan jalan kaki. Bapak pernah cerita, ketika masih kecil diajak Simbah Wedok pergi ke Kartosuro. Kota yang jaraknya kira-kira 20km itu ditempuh dengan berjalan kaki pulang-pergi. Kalau capek berjalan, mereka istirahat di bawah pohon sambil minum atau makan bekal yang mereka bawa dari rumah.

Saya tidak sempat mengenal Simbah Kakung dan Simbah Wedok. Mbah Kakung meninggal sebelum saya lahir dan Mbah Wedok meninggal waktu saya umur satu tahunan. Semoga mereka diampuni semua dosa-dosanya dan diberi rahmat di alam kubur.

Ketika beranjak besar, kira-kira seumuran anak SD, Bapak mulai banyak keinginan. Namun, keinginan itu banyak yang tidak terwujud. Suatu ketika di hari lebaran Bapak minta dibelikan baju baru ke Mbah Wedok. Tapi Mbah Wedok tidak membelikannya. Bapak dijanjikan mau dibelikan baju nanti waktu ‘bodo besar’ (hari raya qurban). Bapak kecewa dan sakit hati. Lalu, bapak pergi dari rumah dan ikut kakaknya yang paling besar, Pak De Kromo, di Palur Solo.

Pak De Kromo orang kaya di desanya. Kerjaannya ‘blantik’ sapi. Sapinya Pak De Kromo banyak dan sawahnya luas. Sayangnya Pak De Kromo tidak dikaruniai anak. Bapak ‘ngendong’ di rumahnya Pak De. Kerjaan bapak  masih sama: ‘angon sapi’.

Kerja ‘angon sapi’ tidak banyak memberi perubahan pada kehidupan Bapak. Bapak ingin bekerja di tempat lain, tapi Bapak tidak punya keahlian apa-apa. Bapak tidak sekolah, tidak punya ijazah, dan tidak bisa baca-tulis. Kalau pun mendapat pekerjaan, dapatnya pekerjaan yang ‘kasar’ juga. Bapak mencoba mencari kerjaan lain yang bisa memberikan uang lebih.

Akhirnya Bapak ikut tetangganya yang berjualan mi dan nasi goreng keliling. Setiap malam bapak ikut berjalan kaki keliling kampung-kampung untuk berjualan mi. Waktu itu angkringan mi-nya masih dipikul ke mana-mana. Bapak jadi pelayan yang pekerjaannya mencuci piring dan membuatkan minum.

Bapak memperhatikan cara tetangganya memasak mi dan nasi goreng. Di sela-sela waktu berjualan tetangganya sedikit-sedikit mengajari tip-tip memasak mi dan nasi goreng. Kurang lebih dua bulan bapak ikut tetangganya berjualan mi.

Kemudian bapak pindah rumah ke kakak perempuannya, Mbok De Karto, di Kerten Solo. Di sini Bapak memberanikan diri untuk berjualan mi keliling sendiri. Dengan uang celengan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Bapak membuat angkringan sendiri, beli perlengkapan sendiri, dan belanja sendiri. Bapak mulai berjualan keliling kampung Kerten, Purwosari, dan Manahan.

Kehidupan Bapak masih belum banyak berubah. Kehidupan keras sepanjang malam dijalaninya dari kampung ke kampung. Kemudian Bapak mencoba keberuntungan di kota lain. Bapak pindah berjualan mi ke kota Sragen. Di kota ini Bapak berjualan tidak lama, hanya beberapa bulan saja.

Bapak merantau lagi ke tempat yang lebih jauh dengan membawa angkringannya dan tas koper kecil tempat pakaian. Bapak pergi mengadu nasip ke Muntilan, Magelang. Tidak ada sanak saudara di kota kecil ini. Ketika malam tiba, Bapak keliling berjualan mi di sepanjang pertokoan Muntilan.

Banyak orang-orang Cina pemilik toko yang menjadi pelanggannya. Ada seorang pelanggan yang memberikan ‘resep rahasia’ untuk membuat masakan mi dan nasi goreng menjadi lebih enak. Awalnya Bapak tidak terlalu tertarik mencobanya. Namun, karena penasaran bapak mencoba ‘bumbu resep’ itu. Ternyata tambahan bumbu itu membuat masakan Mi-nya menjadi lebih enak.

Muntilan hanyalah kota kecil. Meskipun masakannya lebih enak, tetapi penjualannya tidak banyak meningkat. Akhirnya, dengan sisa uang yang ada bapak pergi ke kota Magelang yang lebih ramai.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika bapak menceritakan kisahnya sampai di kota Magelang. Bapak turun dari angkot di jalan tentara pelajar sekarang. Tepatnya di dekat Bank BRI. Dulu jalan ini adalah jalan utama Jogja-Semarang. Sisa uang di sakunya tinggal 50 perak. Tidak cukup untuk modal berjualan.

Kemudian Bapak pergi ke pasar dan mencari bahan-bahan dagangan dengan cara hutang. Bayarnya besok hari setelah mendapat uang. Ada beberapa pedagang pasar yang mau memberinya hutang bahan. Dengan modal belanjaan hutang itulah Bapak berjualan mi pertama kali di kota Magelang. Tas koper kecilnya diselipkan di bawah angkringan, dan kadang-kadang dijadikan alas duduk. Malam itu Bapak tidur di emperan toko, karena belum punya tempat tinggal.

Beberapa hari kemudian Bapak punya sedikit uang tambahan. Kemudian Bapak mencari tempat untuk di sewa. Bapak mendapat tempat kecil, ‘slompetan’ bekas kandang ayam di rumahnya Mbah Ali Jambon. Di ruang sempit ini pertama kali Bapak tinggal.

Setiap malam Bapak memikul angkringan berjualan mi dan nasi goreng dari kampung ke kampung. Berjalan menyusuri pertokoan pecinan Magelang. Seiring berjalannya waktu pelanggannya semakin banyak. Bapak membuat tempat berjualan yang lebih baik: gerobak. Kalau sebelumnya dipikul sekarang didorong.

Pada saat inilah Bapak bertemu Emak dengan bantuan Mbah Sastro. Akhirnya Bapak dan Emak menikah. Bapak tetap berjualan mi keliling. Lama kelamaan Bapak mulai menetap jualannya seiring dengan bertambahnya pelanggan. Bapak mendapat tempat berjualan yang tetap di depan hotel Pringgading.

Kalau pagi tempat itu digunakan untuk berjualan soto ayam Pak Sarju. Kalau malam Bapak yang berjualan di tempat itu. Bapak masih memakai gerobak dorong dan tidak ada naungannya. Kalau malam sudah agak larut, ada juga penjual sate madura keliling yang berhenti di situ. Saya masih ingat sekali kalau pergi ke warung kadang-kadang dibelikan sate oleh Bapak.

Pelanggan Bapak semakin banyak. Bapak kemudian berfikir untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga bisa membuat warung tenda untuk tempat berjualan. Akhirnya bapak mendapat tempat di halaman rumah Pak Soekidjo yang letaknya cuma berseberangan jalan dengan tempat sebelumnya.

Di tempat ini Bapak membuat tenda dan meja untuk berjualan. Pada saat itu, kami tinggal di rumah kecil di kampung Jambon Wot. Saya masih kelas satu dan adik saya belum sekolah. Kadang-kadang kalau malam kami ikut berjualan di warung, bermain-main di pinggir jalan dan sekali-kali membantu mencuci piring dan gelas kotor.

Saya sekolah di sekolah SD Inpres Cacaban 2, sekolah kecil di balik gunung sukorini. (Karena tidak ada muridnya, SD Cacaban 2 sekarang sudah ditutup). Saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak ada yang mengajariku belajar, karena Bapak dan Emak sibuk berjualan dan mereka tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca-tulis bagaimana bisa mengajari anaknya sekolah?

Walikota Magelang saat itu, Bapak Bagus Panuntun, berencana untuk menertibkan pedagang kaki lima. Pak Walikota membuatkan kompek warung di bekas pembuangan sampah di lereng Jambon. Ada 30 warung yang dibangun dan Bapak mengambil dua warung untuk berjualan Mi. Kampung itu bernama Jambon Tempel Sari.

Warung semakin berkembang dan kehidupan keluarga kami lebih banyak di warung daripada di rumah. Tidak beberapa lama kemudian kami pindah ke warung yang cuma berukuran 8×6 m itu. Tempat tidur kami adalah kolong meja tempat bapak berjualan. Mungkin ada pelanggan yang tidak sadar, ketika mereka makan, di bawahnya ada anak-anak yang sedang tidur.

Warung semakin ramai dan pelangan semakin banyak. Warung bapak diberi nama ‘Warung Bakmi Pak Mien’. Bapak mulai mengunpulkan uang sedikit demi sedikit. Bapak juga membeli beberapa becak untuk disewakan. Lereng belakang warung dijadikan ‘kandang becak’. Ada tujuh becak yang dimiliki Bapak.

Ketika uang yang terkumpul banyak, Bapak mulai membangun rumah di belakang warung. Ketika itu saya masih kelas 3 atau 4 SD. Saya masih ingat nama tukangnya; Pak Manduro. Beberapa sanak saudara juga ikut membantu; Lik Pangat, Pak De Sapari, Pak De Mudakri dan Mbah Amad Dakwan, simbahku sendiri. Kalau pulang sekolah saya membantu mengangkat batu bata sambil memperhatikan mereka bekerja. Bapak juga ikut membantu membangun rumah ketika pekerjaan warung selesai.

Bapak orang yang sangat rajin bekerja. Kalau orang bilang ‘ora duwe wudel’.  Kalau pagi kerja membangun rumah, malam berjualan. Meskipun tidak mahir, bapak bisa ‘nukang kayu’ dan ‘nukang batu’. Rumah kami itu dibangun sedikit demi sedikit. Kalau ada uang dibelikan material, kalau uang habis berhenti. Alhamdulillah, akhirnya rumah kecil itu jadi juga. Saya tidak lagi tidur di kolong meja, tapi sudah punya kamar sendiri.

Pada saat saya masih SD, Bapak yang hanya penjual Mi itu sudah bisa membangun rumah sendiri. Bapak lebih hebat dari saya. Di saat anak-anak saya hampir lulus SD, rumah saya kreditnya belum lunas, kecil lagi.

Sisa tanah di sebelah barat kemudian di bangun juga oleh Bapak. Kali ini yang mengerjakan lebih banyak Bapak sendiri dan selesainya lebih lama. Sungguh saya sangat hormat dengan kegigihan dan ketekunan Bapak bekerja dan membangun rumah tempat kami berteduh.

Ketika saya lulus SD, Bapak membelikan 40 ekor bebek untuk saya dan membuatkan kandang di belakang rumah. Setiap hari sebelum berangkat sekolah saya ‘angon bebek’ dulu. Telur-telurnya lumayan untuk tambah uang jajan. Bapak juga membuatkan saya gerobak kaki lima di pinggir jalan Diponegoro. Setiap sore hingga malam saya berjualan rokok, permen, dan minuman di warung gerobak itu.

Alhamdulillah, dengan dorongan Bapakku, akhirnya aku bisa kuliah di Unsoed Purwokerto. Bapak membiayai kuliahku dari hasil berjualan Mi.

Tidak lama setelah saya lulus ujian pendadaran, Bapak jatuh sakit tepat setelah sholat ‘iedhul fitri. Beliau terkena serangan ‘stroke’ dan harus rawat inap PKU Muhammadiyah Solo. Saya selalu menunggui Bapak selama di rumah sakit. Hanya sekali saja saya meninggalkannya, karena saya harus ke kampus untuk mendaftar wisuda. Alhamdulillah, akhirnya Bapak sembuh.

Setelah sembuh, Bapak membangun bagian atas warung menjadi mushola. Pembangunan itu Bapak kerjakan sendirian. Semua bahannya dari kayu dan papan. Subhanallah. Bapak semakin sehat dan semakin rajin beribadah.

Ketika kampung kami membangun masjid, Bapak sangat giat membantu pembangunan masjid itu. Bapak ikut menyumbang tenaga dan material untuk pembangunan majid. Setelah masjid itu berdiri, Bapak hampir selalu sholat wajib di masjid. Subhanallah. Allahuakbar.

Dengan dorongan dan doa Bapak, saya bisa melanjutkan kuliah saya di Institut Pertanian, Bogor, dilanjutkan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan saya bisa melakukan penelitian di Chalmers University of Technology, Gothenburg.

Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, HP saya berdering. Saya sudah tidur dan malas mengangkat HP itu. Ketika pagi habis sholat subuh saya lihat HP saya dan ternyata adik saya yang menelpon. Tidak biasanya adik saya menelpon dini hari. Beda waktu kami 6 jam. Dia biasanya menelpon siang, saya menerimanya malam hari.
Tidak beberapa lama telepon berbunyi lagi. Adik saya menelpon. Dari kejauhan dengan suara berat adik saya mengabarkan kalau Bapak sudah tidak ada dan sekarang menunggu dikebumikan. Innalillahi wa innalillahi roji’un. Serasa disamber geledek pada saat itu. Antara tidak percaya dan serasa di mimpi, kalau Bapak yang sangat saya cintai dan sangat saya hormati telah tiada.

Saya menangis seperti anak kecil di pangkuan istri saya. Hati saya hancur berkeping-keping. Bapak tiada ketika saya berada jauh darinya. Saya tidak bisa menemani Bapak ketika menghadapi sakaratul maut. Padahal dulu ketika Bapak sakit keras, saya selalu berada di sisinya. Saya juga tidak bisa pulang untuk menghadiri pemakamannya.

Menurut cerita adik dan keluarga, Bapak meninggal mendadak. Sehari sebelumnya Bapak masih kerjabakti membuat tower tandon air dan membangun atapnya. Sore hari, ketika hujan turun, tetangga-tetangga yang lain berteduh dari hujan, Bapak masih bekerja dan menyelesaikan pembuatan atap tandon air sumur umum yang letaknya di samping rumah itu. Selepas magrib Bapak pergi ke rumah Simbah menghadiri acara ‘tahlilan’ tiga hari meninggalnya Simbah Wedok. Pukul sebelas malam Bapak pulang ke rumah dan masih sempat membuat mie instant. Pukul dua belas malam, Bapak masih bercanda ngobrol dengan teman-teman adikku dan tetangga rumah.

Biasanya sebelum adzan subuh Bapak sudah pergi ke masjid. Hari itu Bapak belum bangun sampai lewat adzan subuh. Oleh Emak dibiarkan saja, karena dikira Bapak masih kecapaian setelah bekerja keras kemarin hari. Namun, ketika jam sudah hampir menunjuk angka 6, Emak membangunkan Bapak. Bapak diam saja, dan Emak menjadi panik. Emak lari memanggil adik saya. Adik saya segera datang dan membangunkan Bapak. Bapak diam tetap diam saja. Kemudian adik saya menelpon tetangga yang jadi perawat untuk memeriksa Bapak. Pagi itu Bapak dikabarkan sudah meninggal dunia. Adik saya langsung menelpon saya, tapi karena saya masih tidur dan dini hari saya tidak menjawab panggilan telepon itu.

Pagi itu suasana rumah jadi ramai. Tetangga-tetangga seakan tidak percaya dengan meninggalnya Bapak. Kabar menyebar cepat. Orang-orang ramai datang ke rumah. Bapak Walikota Magelang, anggota DPRD, sanak-saudara, dan pelanggan-pelanggan Bapak datang ikut mengantarkan jenasah Bapak dikuburkan di pemakaman Giridarmoloyo.

Selamat jalan Bapak. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amal-amalmu, dan menjagamu seperti engkau menimangku ketika aku masih kecil. Amin.

Kini, seperti yang selalu Bapak harapkan, akhirnya anakmu bisa menyelesaikan kuliah. Mendapatkan gelar pendidikan tertinggi. Gelar ini aku persembahkan untukmu.

Bapak, aku akan selalu mengingat kisah hidupmu yang selalu engkau ceritakan padaku. Kisah itu selalu membakar semangatku. Kan kuceritakan kisahmu pada anak-anakku, cucu-cucumu. Agar mereka selalu mengenangmu dan mendoakan engkau.

Bapak, aku selalu bangga padamu.

[Magelang, 21 September 2013]

Kelahiran Youssef

This slideshow requires JavaScript.

Youssef

Youssef umur satu hari


Muhammad Yusuf Abdurrahman umur satu hari.

Sebuah foto tidak hanya menyimpan gambar. Sebuah foto menyimpan sedetik peristiwa, merekam secuil memori, sepenggal kenangan, sepotong kebahagiaan, sejumput keindahan, atau kepedihan dan kesengsaraan. Sebuah foto – bagi saya – adalah rekaman sejarah kehidupan kami yang mungkin tak akan bisa terulang lagi. Salah satu foto-foto yang saya abadikan dan menjadi moment bersejarah bagi kami adalah foto-foto yang merekam kelahiran anak ketiga kami: Muhammad Yusuf Abdurrahman.

***

Minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan 1435 H di kota Go:teborg, Swedia. Istri saya menyampaikan kabar yang sedikit membuat saya terkejut sekaligus menggembirakan.

“Bi, Ummi terlambat”, katanya.

“Terlambat apa maksudmu?” tanyaku sedikit ragu.

“Harusnya Ummi sudah datang bulan, tapi sudah seminggu belum apa-apa nih. Jangan-jangan perut Ummi ‘isi’ lagi nih, Bi!”, katanya menjelaskan.

Saya sedikit terkejut dan seakan tidak percaya. Kami memang ingin punya anak lagi, rahim istri saya sudah ‘kosong’ sembilan tahun sejak kelahiran Abim – anak kedua kami. Tapi, tidak secepat ini yang saya duga.

“Masak, sih?” kata saya seakan tidak percaya sambil mengelus-elus perut istri saya tercinta.

Saya berjanji akan membeli alat tes kehamilan di apotik di Norstad sepulang dari kampus besok. Setelah saya membeli alat tes berbentuk strip itu, langsung saya memberikannya ke istri saya. Sore itu juga istri saya mengetest alat itu dengan urinnya.

“Bener, Bi. Hasilnya positif. Nih lihat sendiri!” katanya sambil menunjukkan strip tes kehamilan yang ada garis dua, tanda bahwa istri saya positif hamil. Senang, gembira, sekaligus khawatir jadi satu. Sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Langsung saya peluk dan saya ciumi istri saya. Saya elus-elus perutnya.

“Bener nih…Dedek ada di perut, Ummi? ” kata saya sambil mengelus-elus perut stri saya.

Kami memberi tahu anak-anak kami, Mas Royan dan Mas Abim.

“Horree……!!!!!”, teriak mereka serempak. Mereka memang sudah lama ingin punya adik lagi.

“Aku pingin punya adik laki-laki,” kata mereka hampir serempak.

Saya dan istri saya tentu saja ingin punya anak perempuan. Maklum, dua anak pertama kami laki-laki. Istri saya jadi orang paling cantik di rumah ini. Istri saya pun sudah capek menghadapi kenakalan kedua anak laki-laki kami. Hampir setiap hari mereka berantem yang membuat sewot umminya. Istri saya tidak bisa membayangkan jika ada tiga anak laki-laki di rumah.

Namun, bagi kami, laki-laki atau perempuan adalah semua karunia Allah. Laki-laki atau pun perempuan yang akan Allah karuniakan kepada kami akan kami terima dengan senang hati. Insya Allah.
Continue reading

Alhamdulillah, akhirnya kami punya rumah sendiri

Royan dan Ummi

Royan dan Umminya di depan rumah kontrakan pertama kami

Sebagai karyawan honorer waktu itu gaji saya masih sangat kecil. Uang gaji saya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan saja. Saya bekerja sambil melanjutkan kuliah S2 di IPB Bogor. Meskipun gaji saya pas-pasan, saya memberanikan diri untuk segera memenuhi separo agama; menikah. Dihitung pakai calculator apa pun, uang gaji saya tidak pernah cukup untuk menghidupi anak orang. Saya mengakhiri masa lajang dengan modal 1% keberanian dan 99% nekad. Saya percaya rizqi Allah yang mengatur. Alhamdulillah, meskipun rizqi pas-pasan, saya dan istri tidak pernah sampai kelaparan.

Setelah menikah kami mengontrak rumah petak berukuran kira-kira 6 x 6 m terpotong. Rumah itu berada paling pojok, dibangun di atas bekas empang kecil, dan bentuk tanahnya miring seperti trapesium. Di rumah itu hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, dan dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Di samping rumah masih ada sedikit kolam ikan yang disisakan dan tepat di teras rumah masih ada lubang sumurnya. Meskipun kami tinggal di rumah yang boleh dibilang RSSSS (Rumah Sangat-Sangat Sederhana Sekali), kami tinggal dengan tentram, senang, dan bahagia. Di rumah mungil ini, alhadulillah, setahun kemudian anak pertama kami lahir; Arroyan.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat, selain kerja honorer, saya mencoba untuk berusaha dan berkerja apa saja. Menjelang hari raya qurban biasanya saya berjualan hewan qurban domba dan sapi. Penjualan hewan qurban cukup laris, omzetnya pernah mencapai 210 ekor domba plus 10 ekor sapi. Sampai-sampai teman-teman saya menjuluki saya JURKAM (Juragan Kambing). Saya juga pernah berjualan komputer bekas ex luar negeri. Dari usaha kecil-kecilan itu Allah memberikan rizqi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya masih bisa bershodaqoh dan menambung dari sisa rizqi yang ada. Alhamdulillah.
Continue reading

Pak Tua Penyayang Burung Danau Svarttemossa

Pak Tua dan Burung photo essay

Pak Tua itu umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh, kulitnya sudah berkeriput, dan rambutnya sudah putih semua. Pak Tua itu seperti biasa pergi ke danau Svarttemosse dengan membawa biji-bijian dan roti, rutinitas yang selalu beliau lakukan hampir setiap hari. Biji-bijian dan roti itu untuk burung dara (Columba palumbus), angsa (Branta canadensis), bebek (Anas platyrhynchos), dan skratmass (Larus ridibundus) yang hidup di sekitar danau. Pak Tua berjalan menuju batu-batuan di ujung danau tempat burung-burung biasa berkumpul.

Burung-burung liar itu seperti sudah sangat akrap dengan Pak Tua. Burung-burung dara liar itu segera mengerumuninya. Burung-burung dara itu terbang hinggap di bahu dan lengan Pak Tua. Apalagi ketika Pak Tua mengeluarkan biji-bijian dari tas pinggangnya. Burung-burung dara segera berebut makan di tangannya. Burung-burung liar tampak tidak takut sama sekali dengan Pak Tua.

Saya mengamati Pak Tua dari jarak agak jauh agar burung-burung tidak takut dan terbang. Saya sangat takjub dengan pemandangan ini. Saya juga biasa memberi makan burung-burung di Svarttemossa, tetapi tidak pernah bisa sedekat itu dengan burung-burung. Saya hanya bisa melempar makanan ke danau dan belum pernah bisa menyentuhnya.

Pak Tua beranjak pergi dari batu menuju sisi danau yang lain. Burung-burung dara itu seperti tidak mau ditinggalkan. Burung-burung itu tetap terbang mengikutinya bahkan ada yang tetap hinggap di pundak dan lengannya. Pak Tua menuju ke tepi danau yang banyak angsa dan bebek-bebek liar.

Di tepi danau ini segera duduk. Tanpa perlu memanggil mereka, angsa-angsa liar dan bebek-bebek liar segera datang menghampirinya. Pak Tua mengeluarkan roti yang disimpan di kantong plastik dan memberikannya ke angsa-angsa dan bebek-bebek. Sekali lagi saya terpesona, karena angsa-angsa itu mengambil makanan dari tangan Pak Tua tanpa takut sama sekali. Bebek-bebek dan skrattmass menunggu dari jarak agak jauh, karena biasanya diusir oleh angsa dan mendekat setelah angsanya pergi.

Burung dara, angsa, bebek, dan skrattmas adalah binatang yang hidup liar di sekitar danau Svarttemossa. Tidak ada yang memburu atau menembak mereka. Bahkan orang-orang yang tinggal di sekitar danau menyayangi mereka, menjaga kelestarian mereka, dan memberi mereka makan. Seperti Pak Tua itu yang bisa sangat akrab dan dekat dengan burung-burung di danau Svarttemossa.

Pak Tua dan Burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay

Pak Tua dan burung photo essay