Kupat Tahu Pelopor, Magelang

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Kami sekeluarga lebih suka berlibur ke alam; hutan, gunung, kebun, situ dan ladang. Ketika jalan-jalan ke hutan kita suka mengamati tanaman-tanaman hutan yang unik-unik. Mencari-cari jamur hutan. Atau mengamatai serangga-serangga di hutan. Salah satu tanaman yang sering kita cari-cari ketika sedang di hutam adalah tanaman anggrek hutan. Tanaman anggrek ini sering kali tidak secantik anggrek-anggrek hibrida, tapi bentuknya unik. Itu yang kami suka.

Nah, ada satu tanaman anggrek; atau lebih tepatnya diduga jenis anggrek, yang ukurannya sangat kecil. Hanya beberapa centi saja. Anggrek-anggrek ini menempel di pohon-pohon besar. Kami menduga tanaman kecil ini anggrek karena bentuk daunnya yang mirip tanaman anggrek pada umumnya. Meski masih kecil, tanaman ini sudah berbunga. Tanaman ini memang sangat kecil dari sono-nya. Sayang bunganya sangat kecil, jadi kita tidak bisa melihat dengan jelas bentuk dan bagian-bagian bunganya. Bentuk dan bagian-bagian bunga akan lebih menyakinkan apakah ini termasuk jenis anggrek atau bukan.

Waktu kami menemukan anggrek-anggrek spesies yang berukuran mini ini, beterai HP sedang low batt. Pinginnya mengabadikan anggrek ini melalui video atau foto. Sayang sekali.

Kemi mengambil beberapa batang tanaman aggrek spesies mini ini. Kami berharap tanaman anggrek ini bisa hidup dan berbunga ketika ditanam di tempat yang lebih rendah dan lebih panas. Semoga.

****
Saya coba cari-cari dan tanya-tanya ke teman yang ahli anggrek. Anggrek mini ini kemungkinan namanya adalah Ascocentrum miniatum. Terus terang, saya penasaran mengunggu anggrek mini ini berbunga.

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Trichoderma – Kapang yang Bermanfaat untuk Tanaman

trichoderma

Percobaan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan biji arabidopsis di cawan petri

Trichoserma sp sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu bahan aktif biofertilizer dan biocontrol. Banyak spesies Trichoderma yang sudah terbukti bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman, melarutkan fosfat dan menghasilkan hormon tanaman. Beberapa spesies Trichoderma juga dikenal bisa menjagi agen antagonis untuk berbagai penyakit tular tanah. Contoh yang sudah cukup dikenal adalah penggunaan Trichoderma untuk pengedalian penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman komoditas lainnya.

Saya sedang iseng-iseng mencari literatur tentang Trichoderma dan menapatkan litratur baru yang menguraikan peranan Trichoderma oleh Lopez-Bucio et al 2015. Di dalam paper itu ditunjukkan salah satu percobaan untuk membuktikan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan benih Arabidopsis. Dan hasilnya sangat mencengangkan saya. Jelas sekali terlihat perbedaan pertumbuhan kecambah yang ada trichodermanya dan yang tidak ada trichodermanya. Ruar biasa.

Di dalam paper itu juga disebutkan beberapa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Trichoderma. Ada banyak sekali seperti yang ada di gambar di bawah ini.

Trichoderma

Metabolit yang dihasilkan oleh Trichoderma

López-Bucio, José, Ramón Pelagio-Flores, and Alfredo Herrera-Estrella. “Trichoderma as biostimulant: exploiting the multilevel properties of a plant beneficial fungus.” Scientia horticulturae 196 (2015): 109-123.

Pak Haji Fathur

Pak Haji Fathur haji berkali-kali

Pak Haji Fathur dan saya di Masjid Nabawi.

Namanya Pak Haji Fathur. Orang Madura, tapi tinggal di Jember. Ketika umroh saya gabung (digabungkan) dengan jama’ah umroh keluarga Pak Haji Fathur yang berjumlah 16 orang. Pak Haji Fathur sudah pergi haji 4 kali dan pergi umroh sudah berkali-kali. Semangatnya luar biasa. Saya banyak terinspirasi oleh Beliau. Semoga Allah memberi kemampuan pada kami untuk bisa pergi haji dan umroh berkali-kali, seperti keluarga Pak Haji Fathur ini. Aamiin

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2

Manasik Terakhir

Kira2 satu minggu sebelum jadwal pemberangkatan ada pesan WA masuk dari Ustad Doddy.
“Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, Akhi. Untuk persiapan terakhir dan informasi keberangkatan umroh, semua CJU (calon jamaah umroh) diwajibkan mengikuti manasik terakhir di Mampang Prapatan, Jakarta. Alamat dan jamnya akan dikabari lagi. Terima kasih.”

Kami senang mendapatkan kabar itu, karena selama ini kami masih bertanya-tanya kepastian keberangkatan kami. Lokasi manasiknya di sebuah sekolah IT di jalan utam kayu, Mampang. Jadwal pertemuannya hari minggu pukul 09 pagi.

Hari minggu pagi-pagi kami sudah bersiap menuju ke Mampang. Mesti bisa bawa mobil sendiri, saya minta Pak Rifai untuk mengantar kami ke Jakarta. Kami sempat kesulitan menemukan alamatnya, karena sekolah itu sedang di renovasi dan nomor rumahnya tertutup oleh seng bangunan. Mobil parkir di pinggir jalan yang agak sempit itu. Kami masuk ke lokasi dan ada penjaga sekolah pakai seragam coklat. Saya menanyakan apakah benar ini sekolah IT yang ditunjukkan oleh Ustad Dodi.

“Benar, Pak. Bapak mau manasik, ya? Lokasinya di lantai 2, Pak. Ustad Iwan sudah ada.” Jawan penjaga itu dengan sopan sambil menunjuk ke lantai dua sekolah IT ini.

Ustad Iwan adalah direktur biro umroh tempat kami akan melaksanakan ibadah umroh ini. Saya belum pernah ketemu Beliau dan baru pertama kali ini kami datang manasik di tempat ini. Kami biasanya manasik di Bogor.

Kok masih sepi tempatnya? Padahal sudah pukul sembilan lebih, kata saya dalam hati.

Ketika naik ke lantai dua kami bertemu dengan Bapak dan Ibu sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Suaminya, maaf, jalannya agak pincang. Istrinya jalan di belakangnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa saya sambil menjabat tangannya.

“Mau manasik, Pak?”
“Iya.”
“Saya juga, katanya di lantai dua. Ruangan yang mana, ya?”, kata saya sambil berbasa-basi.
Di atas ada Bapak2 berumur sekitar lima puluhan memakai baju koko dan kopiah. Sambil tersenyum dia menyambut kami.
“Dari Bogor, ya? Pak Isroi? Saya Irman.” Katanya memperkenalkan diri.
“Silahkan, Pak. Manasiknya di kelas itu yang pintunya terbuka.”
Kami pun masuk ke ruang kelas itu. Masih kosong. Kelas SD dengan bangku kecil untuk satu anak. Saya masuk dengan Istri. Kami mengambil tempat duduk di baris ke dua agak ke depan dan di ujung. Bapak dan Ibu yang ketemu dengan kita tadi duduk di belakang.
“Saya Isroi, Pak, dari Bogor. Ini istri saya.” Kata saya memperkenalkan diri.
“Saya Soleh, dari Bekasi.” Jawabnya.
“Baru kita saja yang datang, ya? Memangnya berapa orang jamaah umroh kali ini?” Tanya saya lagi.
“Tidak tahu juga saya. Iya masih kita sendiri.” Jawab Pak Soleh singkat. Dari logatnya saya tebak Pak Soleh orang Sunda.
Kami pun ngobrol basa-basi sambil menunggu yang lain. Sementara itu Pak Irman menyiapkan sound system dan layar proyektor.
Tak berapa lama, masuk seorang laki2. Tubuhnya kecil altletis, rambutnya pendek, berkumis dan mengenakan kaos.
“Assalamu’alaikum.”
Sapanya sambil masuk ke ruangan. Dia mengambil tempat duduk di depan sisi kiri. Kami tidak banyak bicara dan menyibukkan diri dengan aktifitas masing2.
Tak berselang lama, masuk lagi seorang ke ruangan. Masih cukup muda, rabutnya tipis, wajahnya bulat, tidak terlalu tinggi dan tubuhnya sedikit besar. Wakahnya selalu tersenyum.
“Assalamu’alaikum.” Katanya ketika masuk ruangan dan menyalami kami satu per satu. Dia mengambil tempat duduk di depan di dekat bapak yang betubuh altletis tadi.
Tak berapa lama, ada Bapak2 yang lain lagi masuk dengan memba snack box dengan kantong plastik putih. Dia mengeluarkan snack box itu dan membagikannya pada kami.
“Silahkan… silahkan…”
Saya iseng bertanya, “Yang lain belum datang, Pak?”
“Tidak. Jamaah umroh kali ini hanya segini.”
“Enam orang saja?”
“Ya.”
Bapak itu, namanya Pak Rusdi, membagikan juga botol minuman air mineral ukuran kecil.
Beberapa menit kemudian, masuk Bapak2 berpakaian koko, memakai kacamata, menggenakan kopiah. Di tangannya membawa segepok buku hijau kecil; pasport. Dia duduk di depan. Pak Irman berdiri membuka acara. Beliau memperkenalkan diri dan mengenalkan bapak yang duduk di depan adalah Ustad Iwan, direktur biro umroh dan haji Maksimal. Pak Irman mempersilahkan Ustad Iwan untuk menyampaikan materi manasik kali ini.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..”
Sebagaimana pembukaan ceramah, ustad Iwan membaca hamdalah, sahadat dan sholawat atas Nabi. Lalu membaca beberapa ayat dan hadist tentang haji dan umroh. Ustad Iwan menampilkan slide dengan proyektor.
Ustad Iwan menyampaikan materi tentang keutamaan haji dan umroh, hukum2 umroh, larangan2 umroh, sunnah2 umroh dan benerapa tips Umroh. Materi yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di buku saku yang dibagikan dan video2 manasik di YouTube. Di sesi tanya jawab saya menanyakan lagi tentang peserta umroh.
“Jamaah yang umroh kali ini berapa orang, Ustad?”
“Jamaah umroh kali ini hanya enam orang saja.”
“Jadi kita semua yang ada di sini, ya Ustad?”
“Ya.”
Ustad Iwan membuka buku pasport yang diikat karet. Lalu beliau membaca namanya satu per satu.
“Pak Gunawan?”
Lelaki pendek berambut tipis itu mngacungkan jari. Namanya Pak Gunawan.”Pak Soleh?””Bu Mariati?””Pak Totok?”Bapak- bapak berbadan atletis itu menunjukkan jarinya. “Pak Isroi?””Bu Happy?”
Semua orang sudah diabsen. Kami pun diminta untuk mengisi absensi.
Kemudian Pak Gunawan bertanya, “Maaf, Ustad. Jadwal kita nanti di sana seperti apa ya, Ustad? Tiket kita pakai pesawat apa, ya?”
Ustad Iwan menjawab sambil membagikan lembaran fotokopian bersisi jadwal kegiatan umroh selama di Makkah dan di Madinah.
“Ini jadwal kita. Kita insya Allah akan berngkat hari kamis sore jam 14 kumpul di Bandara. Di depan Hokben Terminal 2. Pesawat kita Etihad.”
Ustad Iwan menjelaskan satu persatu jadwal tersebut.
Pertanyaan2 berikutnya seputar tips selama beribadah Umroh.
Acara manasik selesai menjelang adzan dhuhur. Pihak travel sudah menyediakam makan siang nasi kotak. Kami semua dibagikan nasi kotak sebelum pulang.
Wajah2 kami terlihat ceria. Senyuman selalu tersungging di wajah jamaah umroh yang hanya enam orang ini. Meskipun hanya sedikit, tetapi setwlah mendengarkan penjelasan Ustad Iwan, kami merasa optimis dan senang karena akan segera bernagkat ke tanah suci.
Kami pun pualng ke rumah masing2. Saya dan Umminya Royan pulang ke Bogor. Pak Gunawan ke BSD. Pak Totok ke Ciputat. Pak Soleh dan istrinya kembali ke Bekasi.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 15

Jin-jin di Makkah dan di Madinah

Karena penasaran dan rasa ingin tahu, saya iseng bertanya kepada Pak Gunawan.

“Pak Gunawan. Kalau di sini ada jin atau setan tidak…????” tanya saya.

Waktu itu kami sedang menunggu sholat magrib di dalam Masjidil Haram. Tepatnya di posisi tengah lantai 1, masuk dari pintu 74. Di sini lebih nyaman, karena karpetnya tebal, dekat dengan air zam-zam, dekat dengan rak Al Qur’an dan cukup ramai jama’ahnya. Namun, kekurangannya bagi kami, di posisi ini dingin banget. Setiap tiang di masjidil Haram ada AC-nya, bagian atas ada kipas yang selalu bergerak. Ukuran kipasnya besar dengan diameter kurang lebih 1.5 meter. Dingin plus angin….. kombinasi sempurna untuk mengigil.

“Di sini saya tidak melihat ada setan, Pak.” Jawab Pak Gunawan.
“Tidak ada sama sekali setan-setan seperti yang ada di Indonesia atau di hotel Malaysia itu. Tidak ada gendruwo, tidak ada raksasa, tidak ada leak, tidak ada kunti, tidak ada wewe, tidak ada pocong.” Lanjutnya lagi memberi pejelasan.

“Di sini yang ada jin. Jin Muslim kali, ya?”
“Waktu kita tawaf kemarin, mereka saya lihat banyak yang sholat di atas Ka’bah. Mereka besar-besar dan putih-putih.”
“Ada juga yang ikut tawaf bersama orang-orang. Mereka juga berpakaian ihram. Kalau ada orang yang tinggi-tinggi, besar-besar dan bau-nya wanggiiiiii……. banget… Itu Jin, Pak. Kalau Pak Roi ketemu, coba lihat kakinya napak ke bumi tidak? Jin-jin itu seperti terbang dan tidak terlihat kaki-nya.”
“Kadang-kadang kan ketika tawaf meskipun ramai dan penuh, selalu ada spot-spot yang seperti kosong. Mereka banyak di situ itu. Ikut tawaf bersama orang-orang.”

“Kalau di dalam masjid seperti tempat ini mereka terlihat tidak?” Tanya saya lagi menyelidik.

“Ada, Pak!”

“Di mana?”

“Tuh di sono….!” lanjut Pak Gunawan tanpa menunjukkan arah, hanya memberi isarat dengan pandangan mata.

Dalam pandangan Pak Gunawan, Jin-jin itu menempel di dinding-dinding dalam masjid. Ikut bertafakur bersama kita menunggu waktu sholat berjama’ah. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Surat Adz Dzariyat: 56, bahwa tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah, Robb Semesta Alam ini. Jin-jin muslim itu juga beribadah sebagaimana kita manusia beribadah. Bereka juga berumroh, melakukah tawah, sa’i dan ibadah-ibadah lainnya. Subhanallah.

***
Saya yang masih penasaran mencoba bertanya-tanya lagi ke Pak Gunawan. Apalagi tentang sesuatu yang ghoib dan tidak banyak orang yang tahu. Kebetulan, Pak Gunawan ini memang sudah bisa mendeteksi keberadaan ‘mahluk ghoib’ sejak kecil dulu. Bakat ini bukan diperoleh dengan sengaja, tetapi karena faktor ‘keturunan’. Nenek moyangnya dari garis keturunan ayahnya berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Kakeknya adalah tokoh supranatural yang cukup terkenal dan disegani. Dari garis keturunan kakek itu sampai sekarang masih ada yang mewarisi ‘ilmu’ dan menekuni praktek-praktek semacam ini. Pak Gunawan awalnya tidak sadar jika mewarisi ‘kekuatan’ ini dan tidak pernah mempraktekkan kegiatan-kegiatan supranatural. Keluarganya dari golongan terpelajar dan terpandang. Sekolahnya di Luar Negeri dan berpendidikan tinggi. Anehnya, kemampuan itu masih tetap ada dan tidak hilang.

Pak Gunawan sadar kalau kekuatan itu bukan sesuatu yang istimewa. Pernah ketika SMP dulu Pak Gunawan di ruq’yah syariah. Pak Gunawan menceritakan bahwa proses ruq’yah itu sakit sekali.

“Telinga saya ini rasanya ditusuk pakai kayu besar….!!!! Sakit sekali….!!!”
“Tangan ini seperti di sayat-sayat menggunakan pisau besar. Bayangkan sendiri bagaimana rasanya!”

Kata Pak Gunawan menceritakan rasa sakit ketika di ruq’yah. Karena tidak tahan Beliau minta dihentikan dan tidak dilanjutkan proses Ruq’yahnya.

“Kalau di luar masjidil Haram apakah juga ada setan dan jin? Misalnya di jalan-jalan atau di dalam hotel?” tanya saya lagi penuh penasaran.

“Tidak ada, Pak Isroi. Di sini bersih. Beda dengan di tempat kita di Indonesia, hampir semua tempat ada jin dan setannya. Apalagi di tempat-tempat maksiat, banyak sekali mereka.” Kata Pak Gunawan menjelaskan lebih jauh.

Di tempat-tempat atau ruangan yang dibiarkan kosong, hampir selalu ada setannya. Kalau masuk suatu ruangan, meski ruangan itu kosong, Pak Gunawan selalu mengucapkan salam “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”. Pak Gunawan menjelaskan kalau hanya ucapan salam itu yang tidak bisa dijawab oleh setan. Kalau kita mengucapkan salam seperti itu, setan-setan akan pergi dengan sendirinya dan kita tidak akan bisa diganggu setan.

***
Suatu ketika kita pulang sholat isya’ bertiga; saya, Pak Gunawan dan Pak Totok. Kita berjalan beriringan dari pintu 74 menuju ke arah exit 4 dan ke jalan Ummul Quro di depan Hotel Hilton Makkah. Di pertigaan itu jalanan macet. Banyak mobil taksi berhenti dan orang-orang berlalu lalang. Beberapa polisi berjaga di pertigaan jalan itu. Jalan ke arah depan Hotel Hilton di tutup polisi. Kami berjalan menyusuri pagar pembatas menyeberang jalan.

Tepatnya di ujung pertigaan, pas di samping tempat sampah ada sedikit ruangan. Tempatnya agak gelap dan remang-remang. Maklum hari sudah mulai malam. Tiba-tiba
“Hhhhhaaaaa…..!!!!!!”””””””

Kami semua kaget….. “Astaghfirullahal’adhim……!!!!!”
Lari menghindar sambil mengelus dada masing-masing.

Ada semacam mahluk duduk di samping tempat sampah itu dan mengangak tangannya tinggi-tinggi. Badannya besar. Besar banget pokoknya. Duduk berselonjor. Kakinya besar-besar… telapak kakinya besar, jari-jarinya besar banget. Matanya melotot. Wajahnya bulat dan gemuk. Hitam comang-cameng. Ketika kami lewat (maaf) baunya ruar biasa busuknya.

“Apa itu tadi, Pak…?????” tanya saya.
“Iya… apa itu ….????” kata Pak Totok mempertegas pertanyaan saya.

“Masya Allah apa itu tadi…???” kata Pak Gunawan.

“Itu jin atau setan ya, Pak Gunawan?” kata saya bertanya lagi.

“Bukan, Pak. Mungkin gelandangan atau orang gila.”

Tempat ini selalu kita lewati kalau berangkat dan pulang dari majid. Baru sekali ini kami ketemu dengan ‘makhluk’ ini. Benar-benar mengagetkan dan menakutkan.

Lain waktu berikutnya, ketika kami melewati jalan ini kami lebih berhati-hati dan coba memperhatikan ‘mahluk’ apa sebenarnya itu. Ternyata memang ada orang besar yang tiduran miring membelakangi jalan menghadap ke tembok. Berselimut kumal besar, tetapi masih terlihat sedikit punggungnya dan rambutnya. Jadi selama ini memang di pojokan itu ada ‘penghuni-nya’ yang luput dari perhatian orang-orang, termasuk kami.

***
Ketika di masjid Nabawi saya menanyakan hal sama ke Pak Gunawan. Suasana masjid Nabawi sangat berbeda dengan di Masjidil Haram. Masjid Nabawi lebih rapi, lebih teratur dan lebih tenang. Meski sedang musim dingin, suhu di Madinah ketika kami datang cukup bersahabat. Suhu di luar yang paling dingin masih belasan derajat celcius. Suhu di dalam majis lebih hangat lagi. Kami biasanya masuk melalui pintu No. 17 atau 18 dan mengambil posisi di tengah-tengah masjid yang agak lapang. Ketika sedang duduk-duduk menunggu sholat magrib saya bertanya ke Pak Gunawan.

“Di sini terlihat ada jin seperti yang di Makkah tidak, Pak Gunawan?” tanya saya penasaran.

“Hhmmmmm…… tidak ada, Pak.”

Lalu Pak Gunawan melihat-lihat ke sekeliling seperti mencari-cari sesuatu.

“Eh…. ada juga, Pak.”

“Sekarang ini sedang ada rombongan jin melintas di depan kita,” katanya mejelaskan.

Padahal karpet-karpet merah dan tebal di depan kita kosong sama sekali, tidak ada jama’ah yang duduk-duduk.

“Mereka berjalan rombongan menuju ke depan. Mungkin mereka mau sholat di dekat mihrob Nabi yang ada di bagian paling depan itu.” katanya lagi melanjutkan penjelasannya.

Perawakan mereka sama seperti manusia, seperti orang-orang Arab. Posturnya tinggi-tinggi, kulitnya putih-putih dan baunya wangi sekali. Tidak ada yang bentuknya aneh-aneh dan mengerikan, seperti yang ada di Indonesia.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
15. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
16. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh +3 +9 +3 – Bagian 1

Muqodimah

Setiap orang Islam yang beriman, pasti ingin berkunjung ke Tanah Suci Makkah dan berziarah ke makan Rasulullah di Madinah. Apalagi menunaikan ibadah Haji, Rukun Islam yang ke-lima, setiap muslim tentu ingin menunaikannya. Sayangnya, waktu tunggu keberangkatan haji bisa belasan tahun sampai tiga puluhan tahun. Menunaikan ibadah umroh (haji kecil) mejadi alternatif untuk berkunjung ke Tanah Suci. Ibadah umroh juga salah satu sunnah Nabi. Rasulullah menunaikan ibadah umroh sebelum akhirnya menunaiakan haji penuh. Setiap hari ribuan orang Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umroh ini.

Sudah lama sekali kami ingin berangkat umroh. Sampai suatu ketika rizqi itu datang. Kakak saya yang di Solo mengajak saya untuk berangkat umroh bersama-sama. Bulan empat tahun 2017 rencana keberangkatanya, sayang saya lupa memerpanjang pasport saya. Akhirnya saya tidak jadi berangkat bareng dengan kakak, saya berangkat sendiri di bulan 11, menjelang akhir tahun. Semua persayaratan sudah saya penuhi, pasport sudah diperpanjang, uang sudah dibayarkan. Kira-kira seminggu sebelum jadwal pemberangkatan saya mendapatkan kabar jika visa saya tidak bisa diproses, karena nama saya cuma satu kata. Saya harus merubah pasport dan menambahkan dua suku kata lagi. Karena waktu yang sudah mempet akhirnya saya batal lagi berangkat bulan 11.

Mundur satu bulan. Saya pun mengajak istri saya untuk berangkat bersama-sama. Kali ini kami mencoba mengurus passport sekaligus menambah nama. Entah, kenapa perpanjangan pasport yang mestinya mudah dan cepat, membutuhkan waktu cukup lama untuk selesai. Untuk yang ketiga kali-nya kami batal berangkat umroh di bulan 12. Oleh Ustad kami, kami disarankan ikut rombongan yang bulan Januari. Rencana keberangkatan sekitar pertengahan atau minggu ketiga januari. Semua persiapan dan persayaratan sudah kami penuhi, pasport sudah, nama sudah tigak suku kata, bayar sudah dilunasi. Tinggal nunggu jadwal pemberangkatan saja dari travel.

Seri tulisan ini adalah kumpulan catatan-catatan perjalanan kami selama melaksanakan ibadah umroh. Sebagian besar adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi dengan sedikit bumbu agar lebih enak di baca. Sebagian nama kami samarkan dan sembagian lokasi juga kami samarkan.

Banyak kejadian sedih, gembira, menegangkan, lucu, mendebarkan, mengharukan, membahagiakan dan menyenangkan yang kami alami bersama. Meski catatan ini adalah catatan pribadi, semoga isinya bermanfaat untuk pembaca. Terutama pembaca yang belum pernah pergi umroh, atau sedang merencanakan umroh. Semoga tulisan ini bisa menjadi ‘rambu-rambu’ agar bisa survive selama beribadah sana.

Kami, terutama saya, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dari isi tulisan-tulisan ini. Mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan isi tulisan ini.

Terima kasih dan selamat membaca.

1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
15. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
16. Belanja di Makkah
17. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
18. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
19. Pak Gunawan Makan Daging Unta
20. Saling Berbalas Kentut
21. Jabal Nur dan Gua Hiro
22. Suasana Jalan-jalan di Makkah
23. Mau Diusir dari Hotel
24. Katering Orang Madura
25. Ketika Tubuh Mulai Drop
26. Tawaf Wada’
27. Berangkat Menuju Madinah
28. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
29. Suasana di Madinah
30. Berkunjung ke Jabal Uhud
31. Pemakaman Baqi’
32. Katering di Madinah
33. Belanja di Madinah
34. Salam Perpisahan
35. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kenapa kita mesti membaca doa ketika masuk WC atau toilet

Dalam agama Islam disunnahkan untuk selalu berdoa ketika akan melakukan semua aktifitas. Minimal membaca basmallah. Termasuk ketika kita akan masuk WC atau toliet untuk membuang hajat kecil atau hajat besar. Kenapa…??? Temen saya yang seorang indigo membuat saya tersadar kenapa kita mesti selalu membaca doa ketika masuk WC.

Teman saya ini, namanya Pak Gunawan, sudah sejak kecil bisa melihat ‘mahluk lain’. Awalnya beliau tidak sadar akan kemampuannya ini. Beliau mengira mereka adalah orang2 biasa. Mereka diajak ngobrol, anehnya hanya dia sendiri yang melihat ‘orang2 ini’. Lama2 beliau bisa melihat mahluk2 yang aneh2. Barulah, dia sadar bahwa ‘mahluk2 ini’ adalah jin2 dan syaiton2, salah satu mahluk ciptaan Allah yang ada di dunia ini. Katanya, di dunia ini ada banyak sekali jin dan mereka ada di mana2. Bentuknya bermacam2. Patung2 berhala-berhala yang sering dipahat dengan batu atau kayu, ada wujud aslinya dalam bentuk jin.

Nah….. salah satu tempat favorite bagi kaum jin ini adalah WC atau toilet atau tempat manusia buang hajat dan kotoran. Jin atau syaiton ini adalah mahluk ‘kotor’ dan suka yang kotor-kotor. Karena itu tidaklah mengherankan kalau mereka sangat menyukai WC dan toilet. Ketika kami menginap di sebuah hotel yang sudah tua dan sepi, toiletnya terasa gelap dan ‘wingit’, saay pergi ke toilet untuk buang air kecil. Keluar dari toilet, dia tanya: “Bagiaman suasana di toilet, Pak? Serem nggak?”

“Memang terasa agak lain sih, tapi saya tidak lihat2 apa2,” kata saya.

“Ada banyak sekali tuh, Pak, di dalam sana.”

“Hah…. beneran, Pak?”

“Iya…!”

“Ada nenek-nenek yang di langit-langit…!”

Lalu Beliau menjelaskan apa2 saja yang tinggal di toilet. Beliau menjelaskan kalau mahluk2 itu memang suka tinggal di tempat kotor dan bau. Semakin kotor dan semakin mau semakin disukai oleh jin. Apalagi sudah lama dan jarang dipakai.

Syaitan memang pekerjaannya mengganggu manusia. Orang2 yang masuk WC akan diganggu oleh jin2 ini. Kalau kita bukan pakaian dan terbuka aurot kita, jin2 ini akan bisa melihatnya juga. Orang normal kalau terlihat aurotnya pasti akan malu dan akan menutupi aurotnya. Kebetulan yang melihat adalah mahluk lain yang ‘tidak terlihat’, kita tidak sadar dan biasa2 saja. Kalau kita tahu, pastilah kita malu.

Nah, salah satu cara untuk memberi hijab atau tabir agar jin tidak bisa melihat aurot kita. Saya mendengar dari Ustad saya, bahwa cara untuk memberi hijab itu dengan membaca doa, doa masuk WC. Doa ini juga menjadi pelindung dari gangguan jin2 syaiton.

Saya semakin tersadar dan selalu berusaha berdoa setiap akan masuk WC, toilet dan tempat2 semacamnya. Agar terhindar dari gangguan jin penghuni toilet.

Bacaan doa masuk dan keluar WC adalah sebagai berikut:

Doa masuk wc

Jin-Jin Pemakan Sesaji

Di masyarakat kita masih ada yang sering memberikan sesajian – atau orang jawa bilang ‘sajen’. Sesaji ini bisa berupa bunga2, wangi2-an, membakar kemenyan, makanan, buah2an, minuman kopi atau teh. Ternyata memang makanan2 sesaji ini benar2 ‘dimakan’ oleh jin2 itu.

Ini masih cerita teman saya yang indigo dan bisa melihat mahluk ‘astral’. Beliau menceritakan tentang jin2 yang suka memakan sesaji ini. Kalau ada sesaji, mahluk2 ini akan segera mendatanginya. Wujudnya mirip kera, tangannya lebih panjang daripada kakinya. Kukunya panjang2 dan berbulu lebat. Tapi ekornya pendek. Di kepalanya ada dua tanduk kecil. Mahluk ini meloncat2 seperti kera.

Jin ini makan dengan lahab. Sesaji ini dicakar2 dan dimakannya semua. Apa saja dimasukkan ke dalam mulutnya. Semuanya bisa masuk. Kalau sesajinya banyak, mahluk ini akan loncat dari satu sejaji ke sesaji yang lain. Setelah habis dia akan pergi.

Ternyata, mahluk ini datang ke jin2 lain yang lebih besar dan lebih menyeramkan. Misalnya gendruwo atau raksasa yang besar dan mengerikan. Mahluk ini memutahkan apa yang sudah mereka makan untuk dimakan oleh jin2 yang lebih besar ini. Dimutahkan utuh.

Teman saya ini membuat ujicoba sendiri. Makanan yang diberikan untuk sesaji dan dimakak jin, maka bobotnya akan berkurang meski hanya sedikit. Makanan2 yang sudah dimakan jin akan kehilangan ‘barokah-nya’. Kita, orang biasa, melihatnya seperti tidak ada perubahan apa2 pada makanan ini. Namun, hakekatnya makanan ini sudah tidak ada barokahnya lagi. Karena itu kita sebaiknya tidak memakan makanan2 sesaji atau makanan yang memang diperuntukan untuk jin. Janganlah kita makan makanan sisa jin.

Apalagi kita yang memberikan sesaji. Sesaji adalah salah satu bentuk pejembahan kepada selain Allah. Itu adalah perbuatan syirik dan salah satu dosa besar. Kadang, mungkin, orang menganggap remeh perbuatan ini, padahal dosanya ‘sundul langit’. Jangan lah sampai terucap pada kita kalau kita memberikan, makanan meskipun kecil, kepada jin dan syaitan. Karena hal itu menjadi jalan bagi jin dan syaitan untuk merasuki kita dan mengganggu kita.

Mitos Mata Air untuk Awet Muda dan Cantik

Di banyak tempat sering ada kepercayaan dan mitos yang mengatakan kalau air dari mata air atau sedang tertentu bisa menyebabkan awet muda. Orang yang mandi dan cuci muka di tempat itu, dipercayai akan terlihat awet muda, lebih cantik dan lebih ganteng. Silahkan dituliskan di komentar kalau di tempat kalian ada kepercayaan semacam ini.

Biasanya tempat2 semacam ini tekenal angker dan ‘wingit’. Tempat di mana banyak hantu dan jin-nya. Banyak orang yang ‘ngalap berkah’, bersemedi dan memberikan sesajen. Benar tidak…??????

Di hari-hari dan bulan-bulan tertentu, tempat-tempat semacam ini biasanya ramai dikunjungi orang. Bahkan banyak yang rela mengantri dan rela berdesak-desakan hanya untuk bisa ‘terlihat awet muda’.

Masih menjutkan cerita teman saya yang indigo itu. Beliau pernah datang di suatu tempat wisata yang terkenal karena airnya bisa menyebabkan awet mudah dan cantik/ganteng.

“Tahu tidak, Pak, apa yang saya lihat di tempat itu..????” Katanya mengawali pembicaraan.

“Tempat itu adalah tempat berkumpulnya para jin. Mereka buang air di situ, mereka ‘pub’ di situ. ‘E O’ di situ. Bahkan mereka ber-jima’ di situ. Itu tempat sejorok2-nya bagi bangsa jin.”

“Airnya itu tidak bening seperti yang kita lihat, Pak…”

“Air itu sampai berwarna putih, karena saking kotornya kena kotoran2 jin itu.”

“Jijik sekali pokoknya lah….”

“Mereka mandi, cuci muka …. hiiiii…. jijik pokoknya lah…”

Jadi, bayangkan saja kita cuci muka dengan air comberan yang super kotor. Muka kita dibaluri dengan kotoran-kotoran jin yang bermacam-macam jadi satu. Lalu kita senyum-senyum penuh percaya diri karena merasa terlihat lebih muda. Coba bayangkan….!!!!

Terlihat cantik atau muda hanyalah sihir bangsa jin saja. Mereka memberi tabir dan mengelabui mata manusia agar terlihat lebih muda dan cantik. Padahal hakekatnya mereka kotor dan menjijikkan sekali. Mereka sudah ditipu oleh jin syaiton.

Naudzubillahi mindzalik.

Karena itu, janganlah kita percaya dengan mitos2 yang tidak jelas. Apalagi mitos2 yang melibatkan jin dan syaiton. Percaya dengan ‘kekuatan’ air yang bisa membuat orang awet muda dan terlihat cantik adalah perbuatan syirik. Itu adalah tipu daya syaiton untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Cara itu menjadi jalan agar jin bisa merasuki dan mengganggu kita.