Buku Bunga Anggrek; Permata Belantara Indonesia, karya S. M. Latief

Buku Anggrek Spesies Kuno Indonesia karya M Latief 1960


Saya mencari literatur-literatur klasik Indonesia tentang tanaman Anggrek dan menemukan salah satu buku antik ini: Bunga Anggek; Permata Belantara Indonesia, karya M. Latief. Buku yang saya dapatkan adalah cetakan kedua tahun 1960. Cetakan 58 tahun yang lalu. Masih pakai ejaan lama dan gaya penulisan jaman dulu. Perlu kesabaran untuk membaca buku ini.

Buku ini mungkin buku terlengkap dan tertua tentang anggrek yang ditulis oleh orang Indonesia asli. Sebenarnya, tanaman anggrek Indonesia sudah dicantumkan di dalam buku Flora of Java, karangan Prof. Backer, di buku jilid 2. Cuma buku Flora of Java ini adalah semacam buku kunci identifikasi tanaman. Gambar-gambarnya sedikit dan lebih merupakan gambar teknis pengenalan tanaman. Buku Flora of Java kurang cocok untuk orang awam dan penghobi anggrek spesies seperti saya ini.

Buku Bungga Anggrek karya M Latief ini dilengkapi dengan beberapa ilutrasi yang digambar dengan tangan, seperti pada umumnya buku-buku jaman dulu. Sebagian besar ilustrasinya berwarna hitam putih. Namun, ada beberapa halaman yang mencantumkan gambar ilustrasi berwarna. Menarik.

Dari buku ini juga saya jadi tahu, ternyata Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keragaman jenis anggrek spesies sangat besar. Disebutkan di dalam buku ini diperkirakan jenisnya mencapai 5000 spesies. Gila bener. Banyak banget.
Continue reading

Anggrek Spesies Dendrobium anosmum var. semi alba

Dendrobium anosmum var. semi alba

Dendrobium anosmum var. semi alba, anggrek spesies

Anggrek spesies dengan nama spesies Dendrobium anosmum var. semi alba ini saya beli di salah satu kebun anggrek di kota Magelang, Jawa Tengah. Ketika saya beli masih mudah dan belum berbunga. Penjualnya bilang, kalau ini salah satu jenis anggrek spesies yang warna bunganya putih agak pink. Satu tahun setelah saya rawat baru mulai berbunga.

Dendrobium anosmum var. semi alba

Dendrobium anosmum var. semi alba, anggrek spesies

Anggrek Spesies Cymbidium finlaysonianum

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Anggrek spesies Cymbidium finlaysonianum ini adalah salah satu anggrek spesies yang kita punya. Tanaman anggrek ini saya dapatkan dari tetangga saya Pak Iso. Bentuk tanamannya tidak mirip anggrek dendrobium seperti yang biasa kita kenal. Daunnya memanjang dan bergerombol. Panjang daunnya bisa cukup panjang sampai hampir satu meteran. Tangkai bunganya muncul dari bagian pangkal dan menjuntai ke bawah. Panjang tangkai bunganya ini bisa sampai 1.5 meter. Pangjang banget. Bunganya tumbuh sepanjang tangkai bunga ini. Cukup banyak bunganya. Tanaman yang sudah dewasa dan tua bisa sampai muncul banyak tangaki bunga. Warna bunganya kuning kecoklatan dan merah.

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Cymbidium finlaysonianum, Anggrek Spesies

Cara Menanam Anggrek Spesies Cabutan dari Hutan

Anggrek adalah tanaman hias yang sudah terkenal dari jaman dulu. Indonesia termasuk negeri yang kaya akan berbagai jenis anggrek. Banyak sekali tanaman anggrek spesies asli Indonesia. Kami, saya dan keluarga, juga mulai suka mengkoleksi tanaman anggrek, terutama anggrek hutan.

Kalau ada waktu berlibur, biasanya kami jalan-jalan ke hutan, situ, gunung atau curug. Berburu anggrek hutan menjadi salah satu kegiatan kami ketika berlibur di alam ini. Kami sering mendapatkan banyak tanaman anggrek yang menempel di batang kayu atau ranting pohon-pohon besar.

Saya belajar cara menanam anggrek spesies cabutan dari hutan ini dari salah satu kebun anggrek yang ada di Bogor. Pengelolanya, Mas Teguh, mengajari saya bagaimana cara menanam anggrek cabutan dari hutan. Media atau tempat penanamannya bukan dengan papan pakis atau arang, seperti yang biasa dilakukan oleh orang, tetapi dengan menggunakan potongan ranting pohon atau kayu. Cara ini lebih mendekati tumbuhnya tanaman anggrek di alam aslinya.

Bahan dan peralatan yang diperlukan sederhana saja, yaitu:
1. Batang atau dahan pohon. Ukurannya tergantung dengan ukuran anggrek yang akan kita tanam.
2. Tali plastik
3. Gunting,
4. Tang,
5. Kawat

Anggrek spesies cabutan ini ditempelkan di dahan kayu, lalu diikat dengan kuat menggunakan tali plastik. Untuk mengantung dahan kayu itu digunakan kawat.

Mudah sekali bukan.

Cara Tradisional Membuat Kripik Tempeh untuk Industri Rumahan

Kupat Tahu Pelopor, Magelang

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Kami sekeluarga lebih suka berlibur ke alam; hutan, gunung, kebun, situ dan ladang. Ketika jalan-jalan ke hutan kita suka mengamati tanaman-tanaman hutan yang unik-unik. Mencari-cari jamur hutan. Atau mengamatai serangga-serangga di hutan. Salah satu tanaman yang sering kita cari-cari ketika sedang di hutam adalah tanaman anggrek hutan. Tanaman anggrek ini sering kali tidak secantik anggrek-anggrek hibrida, tapi bentuknya unik. Itu yang kami suka.

Nah, ada satu tanaman anggrek; atau lebih tepatnya diduga jenis anggrek, yang ukurannya sangat kecil. Hanya beberapa centi saja. Anggrek-anggrek ini menempel di pohon-pohon besar. Kami menduga tanaman kecil ini anggrek karena bentuk daunnya yang mirip tanaman anggrek pada umumnya. Meski masih kecil, tanaman ini sudah berbunga. Tanaman ini memang sangat kecil dari sono-nya. Sayang bunganya sangat kecil, jadi kita tidak bisa melihat dengan jelas bentuk dan bagian-bagian bunganya. Bentuk dan bagian-bagian bunga akan lebih menyakinkan apakah ini termasuk jenis anggrek atau bukan.

Waktu kami menemukan anggrek-anggrek spesies yang berukuran mini ini, beterai HP sedang low batt. Pinginnya mengabadikan anggrek ini melalui video atau foto. Sayang sekali.

Kemi mengambil beberapa batang tanaman aggrek spesies mini ini. Kami berharap tanaman anggrek ini bisa hidup dan berbunga ketika ditanam di tempat yang lebih rendah dan lebih panas. Semoga.

****
Saya coba cari-cari dan tanya-tanya ke teman yang ahli anggrek. Anggrek mini ini kemungkinan namanya adalah Ascocentrum miniatum. Terus terang, saya penasaran mengunggu anggrek mini ini berbunga.

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Trichoderma – Kapang yang Bermanfaat untuk Tanaman

trichoderma

Percobaan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan biji arabidopsis di cawan petri

Trichoserma sp sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu bahan aktif biofertilizer dan biocontrol. Banyak spesies Trichoderma yang sudah terbukti bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman, melarutkan fosfat dan menghasilkan hormon tanaman. Beberapa spesies Trichoderma juga dikenal bisa menjagi agen antagonis untuk berbagai penyakit tular tanah. Contoh yang sudah cukup dikenal adalah penggunaan Trichoderma untuk pengedalian penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman komoditas lainnya.

Saya sedang iseng-iseng mencari literatur tentang Trichoderma dan menapatkan litratur baru yang menguraikan peranan Trichoderma oleh Lopez-Bucio et al 2015. Di dalam paper itu ditunjukkan salah satu percobaan untuk membuktikan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan benih Arabidopsis. Dan hasilnya sangat mencengangkan saya. Jelas sekali terlihat perbedaan pertumbuhan kecambah yang ada trichodermanya dan yang tidak ada trichodermanya. Ruar biasa.

Di dalam paper itu juga disebutkan beberapa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Trichoderma. Ada banyak sekali seperti yang ada di gambar di bawah ini.

Trichoderma

Metabolit yang dihasilkan oleh Trichoderma

López-Bucio, José, Ramón Pelagio-Flores, and Alfredo Herrera-Estrella. “Trichoderma as biostimulant: exploiting the multilevel properties of a plant beneficial fungus.” Scientia horticulturae 196 (2015): 109-123.

Pak Haji Fathur

Pak Haji Fathur haji berkali-kali

Pak Haji Fathur dan saya di Masjid Nabawi.

Namanya Pak Haji Fathur. Orang Madura, tapi tinggal di Jember. Ketika umroh saya gabung (digabungkan) dengan jama’ah umroh keluarga Pak Haji Fathur yang berjumlah 16 orang. Pak Haji Fathur sudah pergi haji 4 kali dan pergi umroh sudah berkali-kali. Semangatnya luar biasa. Saya banyak terinspirasi oleh Beliau. Semoga Allah memberi kemampuan pada kami untuk bisa pergi haji dan umroh berkali-kali, seperti keluarga Pak Haji Fathur ini. Aamiin

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2

Manasik Terakhir

Kira2 satu minggu sebelum jadwal pemberangkatan ada pesan WA masuk dari Ustad Doddy.
“Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, Akhi. Untuk persiapan terakhir dan informasi keberangkatan umroh, semua CJU (calon jamaah umroh) diwajibkan mengikuti manasik terakhir di Mampang Prapatan, Jakarta. Alamat dan jamnya akan dikabari lagi. Terima kasih.”

Kami senang mendapatkan kabar itu, karena selama ini kami masih bertanya-tanya kepastian keberangkatan kami. Lokasi manasiknya di sebuah sekolah IT di jalan utam kayu, Mampang. Jadwal pertemuannya hari minggu pukul 09 pagi.

Hari minggu pagi-pagi kami sudah bersiap menuju ke Mampang. Mesti bisa bawa mobil sendiri, saya minta Pak Rifai untuk mengantar kami ke Jakarta. Kami sempat kesulitan menemukan alamatnya, karena sekolah itu sedang di renovasi dan nomor rumahnya tertutup oleh seng bangunan. Mobil parkir di pinggir jalan yang agak sempit itu. Kami masuk ke lokasi dan ada penjaga sekolah pakai seragam coklat. Saya menanyakan apakah benar ini sekolah IT yang ditunjukkan oleh Ustad Dodi.

“Benar, Pak. Bapak mau manasik, ya? Lokasinya di lantai 2, Pak. Ustad Iwan sudah ada.” Jawan penjaga itu dengan sopan sambil menunjuk ke lantai dua sekolah IT ini.

Ustad Iwan adalah direktur biro umroh tempat kami akan melaksanakan ibadah umroh ini. Saya belum pernah ketemu Beliau dan baru pertama kali ini kami datang manasik di tempat ini. Kami biasanya manasik di Bogor.

Kok masih sepi tempatnya? Padahal sudah pukul sembilan lebih, kata saya dalam hati.

Ketika naik ke lantai dua kami bertemu dengan Bapak dan Ibu sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Suaminya, maaf, jalannya agak pincang. Istrinya jalan di belakangnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa saya sambil menjabat tangannya.

“Mau manasik, Pak?”
“Iya.”
“Saya juga, katanya di lantai dua. Ruangan yang mana, ya?”, kata saya sambil berbasa-basi.
Di atas ada Bapak2 berumur sekitar lima puluhan memakai baju koko dan kopiah. Sambil tersenyum dia menyambut kami.
“Dari Bogor, ya? Pak Isroi? Saya Irman.” Katanya memperkenalkan diri.
“Silahkan, Pak. Manasiknya di kelas itu yang pintunya terbuka.”
Kami pun masuk ke ruang kelas itu. Masih kosong. Kelas SD dengan bangku kecil untuk satu anak. Saya masuk dengan Istri. Kami mengambil tempat duduk di baris ke dua agak ke depan dan di ujung. Bapak dan Ibu yang ketemu dengan kita tadi duduk di belakang.
“Saya Isroi, Pak, dari Bogor. Ini istri saya.” Kata saya memperkenalkan diri.
“Saya Soleh, dari Bekasi.” Jawabnya.
“Baru kita saja yang datang, ya? Memangnya berapa orang jamaah umroh kali ini?” Tanya saya lagi.
“Tidak tahu juga saya. Iya masih kita sendiri.” Jawab Pak Soleh singkat. Dari logatnya saya tebak Pak Soleh orang Sunda.
Kami pun ngobrol basa-basi sambil menunggu yang lain. Sementara itu Pak Irman menyiapkan sound system dan layar proyektor.
Tak berapa lama, masuk seorang laki2. Tubuhnya kecil altletis, rambutnya pendek, berkumis dan mengenakan kaos.
“Assalamu’alaikum.”
Sapanya sambil masuk ke ruangan. Dia mengambil tempat duduk di depan sisi kiri. Kami tidak banyak bicara dan menyibukkan diri dengan aktifitas masing2.
Tak berselang lama, masuk lagi seorang ke ruangan. Masih cukup muda, rabutnya tipis, wajahnya bulat, tidak terlalu tinggi dan tubuhnya sedikit besar. Wakahnya selalu tersenyum.
“Assalamu’alaikum.” Katanya ketika masuk ruangan dan menyalami kami satu per satu. Dia mengambil tempat duduk di depan di dekat bapak yang betubuh altletis tadi.
Tak berapa lama, ada Bapak2 yang lain lagi masuk dengan memba snack box dengan kantong plastik putih. Dia mengeluarkan snack box itu dan membagikannya pada kami.
“Silahkan… silahkan…”
Saya iseng bertanya, “Yang lain belum datang, Pak?”
“Tidak. Jamaah umroh kali ini hanya segini.”
“Enam orang saja?”
“Ya.”
Bapak itu, namanya Pak Rusdi, membagikan juga botol minuman air mineral ukuran kecil.
Beberapa menit kemudian, masuk Bapak2 berpakaian koko, memakai kacamata, menggenakan kopiah. Di tangannya membawa segepok buku hijau kecil; pasport. Dia duduk di depan. Pak Irman berdiri membuka acara. Beliau memperkenalkan diri dan mengenalkan bapak yang duduk di depan adalah Ustad Iwan, direktur biro umroh dan haji Maksimal. Pak Irman mempersilahkan Ustad Iwan untuk menyampaikan materi manasik kali ini.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..”
Sebagaimana pembukaan ceramah, ustad Iwan membaca hamdalah, sahadat dan sholawat atas Nabi. Lalu membaca beberapa ayat dan hadist tentang haji dan umroh. Ustad Iwan menampilkan slide dengan proyektor.
Ustad Iwan menyampaikan materi tentang keutamaan haji dan umroh, hukum2 umroh, larangan2 umroh, sunnah2 umroh dan benerapa tips Umroh. Materi yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di buku saku yang dibagikan dan video2 manasik di YouTube. Di sesi tanya jawab saya menanyakan lagi tentang peserta umroh.
“Jamaah yang umroh kali ini berapa orang, Ustad?”
“Jamaah umroh kali ini hanya enam orang saja.”
“Jadi kita semua yang ada di sini, ya Ustad?”
“Ya.”
Ustad Iwan membuka buku pasport yang diikat karet. Lalu beliau membaca namanya satu per satu.
“Pak Gunawan?”
Lelaki pendek berambut tipis itu mngacungkan jari. Namanya Pak Gunawan.”Pak Soleh?””Bu Mariati?””Pak Totok?”Bapak- bapak berbadan atletis itu menunjukkan jarinya. “Pak Isroi?””Bu Happy?”
Semua orang sudah diabsen. Kami pun diminta untuk mengisi absensi.
Kemudian Pak Gunawan bertanya, “Maaf, Ustad. Jadwal kita nanti di sana seperti apa ya, Ustad? Tiket kita pakai pesawat apa, ya?”
Ustad Iwan menjawab sambil membagikan lembaran fotokopian bersisi jadwal kegiatan umroh selama di Makkah dan di Madinah.
“Ini jadwal kita. Kita insya Allah akan berngkat hari kamis sore jam 14 kumpul di Bandara. Di depan Hokben Terminal 2. Pesawat kita Etihad.”
Ustad Iwan menjelaskan satu persatu jadwal tersebut.
Pertanyaan2 berikutnya seputar tips selama beribadah Umroh.
Acara manasik selesai menjelang adzan dhuhur. Pihak travel sudah menyediakam makan siang nasi kotak. Kami semua dibagikan nasi kotak sebelum pulang.
Wajah2 kami terlihat ceria. Senyuman selalu tersungging di wajah jamaah umroh yang hanya enam orang ini. Meskipun hanya sedikit, tetapi setwlah mendengarkan penjelasan Ustad Iwan, kami merasa optimis dan senang karena akan segera bernagkat ke tanah suci.
Kami pun pualng ke rumah masing2. Saya dan Umminya Royan pulang ke Bogor. Pak Gunawan ke BSD. Pak Totok ke Ciputat. Pak Soleh dan istrinya kembali ke Bekasi.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah