Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam

Sekitar jam 2 malam kami sudah bangun. Saya ketuk pintu kamar istri saya. Kamar kami dipisah, laki-laki dengan laki-laki satu kamar dan perempuan dengan perempuan di kamar yang lain. Saya memberitahu istri saya agar bersiap-siap menuju ke Ka’bah lagi. Kami, yang bapak-bapak berpakaian ihram. Karena yang boleh berada di area tawaf hanya yang berpakaian ihram saja.

Kamar samping saya dihuni ibu-ibu dari rombongan jember. Mereka ternyata juga tidak tidur.

“Mau ke mana, nak?” tanya salah satu nenek-nenek.
“Insya Allah, kami mau tawaf lagi.” jawab saya singkat.

“Mau nyium hajar aswad,ya?” tanya nenek-nenek yang lain dengan logat maduranya.

“Insya Allah, Mbah.”

“Saya juga pingin, boleh ikut bareng?”

“Saget, Mbak. Ikut bareng kami saja.”

Ada satu orang nenek yang ingin ikut. Namanya, Mbak Arstuti. Usianya 67 tahun berasal dari Bondowoso. Nenek Arstuti berangkat sendiri dan dititipkan ke rombongannya Mas Sugiono. Ada satu lagi nenek-nenek dari Surabaya. Usianya mungkin lebih tua dari Mbak Arstuti dan jalanya sedikit payah. Nenek ini berangkat bersama dengan anak-nya.

“Saya juga pingin ikut, tapi anak saya masih tidur. Katanya kecapaian.”

“Nanti saja, Mbak. Bareng dengan anak sampeyan saya. Saya tidak berani kalau ada apa-apa nanti.” kata saya.

Akhirnya, hanya Mbah Arstuti yang ikut kami tawaf malam ini. Kami serombongan bertujuh menuju ke masjidil haram naik bis hotel. Turun dari bis jalanan terlihat lebih sepi daripada malam tadi. Sesepi-sepinya masjidil haram tetap saja ramai orang. Kami masuk melalui pintu yang memang dikhususkan untuk orang yang akan umroh dan berpakaian ihrom. Istri saya selalu bersama dengan Mbah Arstuti. Dan saya menjaga mereka berdua. Pak Totok dan Pak Gunawan berjalan beriringan. Pak Soleh dan Istrinya juga berjalan beriringan.

Kami masuk dari sisi rukun yamani menuju ke rukun hajar aswad. Kami memulai tawaf seperti biasanya. Putaran pertama kami belum berhasil mendekat. Lanjut ke putaran kedua. Di putaran ini belum berhasil mendekat juga. Di putaran ketiga kami terpisah. Saya hanya bertiga; saya, istri saya dan Mbah Arstuti. Kewajiban saya untuk menjaga kedua wanita ini. Mbah Arstuti tumbuhnya pendek dan badannya kecil. Tapi, semangatnya kuat sekali untuk bisa mencium hajar aswad. Jadi selama tawaf berkeliling Ka’bah, saya berada ditengah sedikit di belakang mereka.

Di putara ketiga ini kami mendekat ke Ka’bah. Di depan hajar aswad penuh sekali orang. Berdesak-desakan luar biasa. Mbah Arstuti saya pegang dengan tangan kiri dan istri saya dengan tangan kanan saya. Kita mengikuti arus mendekat ke arah hajar aswad dari sisi multazam. Jadi bertentangan dengan arus orang yang sedang tawaf. Kami tepat di depan multazam. Orang-orang berdesak-desakan luar biasa. Saya lihat Mbah Arstuti tetap bersemangat dan tetap melafalkan dizkir dan sholawat. Saya pun bertambah bersemangat dan berdzikir lebih keras lagi.

Ketika berdesak-desakan itu ada bapak-bapak yang menegur saya:
“Dibantu-dibantu….!!!!” katanya dengan logat madura yang kental.
Rupanya benar kata orang-orang, untuk mencium hajar aswad ada calo-nya juga. Saya sudah diwanti-wanti oleh Ustad Rofi’i kalau jangan mau kalau ditawari bantuan. Karena kalau berhasil mereka minta uang besar sekali. Harganya tidak hitungan. Ada yang bilang 1000 riyal, 1500 riyal atau 500 riyal. Uang yang banyak sekali itu.
“Tidak….Tidak…..”, jawab saya tegas dan singkat.

Tidak cuma sekali saya ditawari. Tapi berkali-kali oleh orang-orang yang berbeda. Mafia dan calo ini memang nyata adanya.

Kami terombang-ambing mengikuti gelombang gerakan orang-orang. Entah berapa lama, saya sudah tidak ingat lagi. Jarak kami dengan dinding Ka’bah kira-kira tiga lapis orang. Kebetulan dua lapis di depan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Dalam posisi terjepit ini kami melatunkan sholawat terus dan berdzikir terus. Saya perhatikan orang-orang ini. Rupanya mereka ini adalah sekelompok sindikat mafia hajar aswad. Saya bisa tahu karena mereka saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan bahasa madura. Meski saya tidak bisa dan tidak tahu bahasa Madura.

Ada seorang ibu-ibu muda yang sedang dibantu calo. Bapak-bapak di belakang saya memberi arahan.
“Maju terus….”
“Jalan lawan arus…ikuti saja”
“Maju lagi….geser ke depan.”
“Tahan….jangan mundur…”

Ooo…. ini ketua mafia-nya, pikir saya dalam hati.

Di bagian paling depan, tepat di samping hajar aswad ada perepuan arab (mungkin), perawakan besar sekali, tangannya besar, badannya besar. Meski di samping hajar aswad, perempuan ini seperti tidak ingin mencium hajar aswad. Kerjaannya memukul kepala laki-laki yang ada di depannya dan memberi jalan bagi orang-orang yang ada di belakangnya. Wah…. calo juga nih sepertinya.
Oleh askar yang menjaga hajar aswad perempuan ini dimarah-marahi. Sayang saya tidak bisa bahasa arab, jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Kami terus merengsek ke depan. Badan tergencet. Saya lihat nenek Arstuti tetap semangat meski badanya kecepit. Istri saya nafasnya sudah terengah-engah dan mau menyerah.
“Kita di depan multazam. Berdoa’ terus. Sholawat terus. MInta sama Allah agar kita bisa mencium hajar aswad,” kata saya ke mereka berdua.

Mereka berdua saya peluk kuat-kuat. Dorongan dari belakang saya keras. Dari depan tidak kalau kerasnya lagi. Perjuangan yang luar biasa. Ibaratnya kita tidak bisa maju tidak bisa mundur. Tergencet di tengah-tengah.

Ibu-ibu muda yang dibantu calo tidak kalah parahnya. Posisinya sekarang tepat di depan kami. Dia sudah sangat kepayahan. Dia berteriak-teriak minta tolong dan mau menyerah.

“Maju terus…. sedikit lagi….Jangan menyerah”, begitu aba-aba dari pimpinan calo di belakang saya. Tepat persis di telinga saya ngomongnya.

Suasana semakin tidak terkendali. Ibu-ibu arab gede besar itu sikut sana sikut sini membuka celah. Termasuk nenek Arstuti kena sikut ibu-ibu itu. Arus dari depan sangat kuat. Mereka bapak-bapak orang arab yang tinggi besar, orang-orang dari Afrika dan dari India yang juga ingin mencium hajar aswad. Dorongannya sangat kuat. Kami terlempar ke luar karena tidak sanggup menahan dorongan itu. Ibu-ibu yang dibantu calo kembali berteriak menyerah. Kerudungnya sampai tertarik lepas dari kepalanya. Wajahnya memerah dan kelihatan kesakitan sekali.

Tiba-tiba dari arah depan, Ibu-ibu Arab itu sikut sana-sikut sini. Mungkin karena tidak kuat menahan dorongan dari depan, Ibu-ibu arab itu menyikut dan mendorong wajah saya. Saya pernah latihan pencak silat dulu, tahu bagaimana menangkis serangan semacam ini. Saya kibaskan tangan saya ke atas, sehingga tubuh ibu-ibu arab itu terlempar ke luar lewat samping saya.

Saya segera pegang kuat-kuat dua wanita yang saya lindungi. Saya dorong maju, hingga jarak kami dengan hajar aswad hanya tinggal satu orang lagi. Ada orang berambut gimbal yang mencium hajar aswad. Perasaan lama sekali dia menciumnya. Tiba-tiba tangan askar itu menarik kepala itu. Badannya sedikit bergeser ke belakang. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek Arstuti saya dorong ke depan hajar aswad.

Alhamdulillah, nenek arstuti bisa masuk ke dalam hajar aswad. Tangan saya bertahan di besi pelindung hajar aswad, saya berusaha sekuat tenaga melindungi istri saya dan nenek ini. Saya tidak bisa mencium hajar aswad karena terhalang tubuh nenek arstuti. Tangan istri saya saya tarik agar bisa menyentuh hajar aswad. Tiba-tiba nenek arstuti terpeleset jatuh. Tangan saya masuk ke hajar aswad. Hajar aswad tepat di depan mata saya. Saya bisa melihat dengan jelas pecahan batu hitam itu. Tapi saya tidak bisa menciumnya, karena kalau saya mencium hajar aswad pasti menginjak nenek arstuti.

Nenek arstuti berteriak dan bertakbir “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……Allahu Akbar….!!!!!””””
Tangannya melambai-lambai ke atas seperti minta pertolongongan. Saya terus berusaha melindungi beliau, karena dorongan dari belakang, kanan dan kiri sangat kuat sekali.
Saya pun berterik ke askar “Askar……Askar…..Askar…..!!!!!””””

Askar menoleh ke arah saya. Dia pun segera meraih tangan nenek arstuti dan mengankatnya ke belakang. Saya segera raih nenek arstuti dengan tangan kiri saya. Tangan kanan saya tetap memegang dan memeluk istri saya. Saya tarik mereka ke belakang. Saya berjalan mundur. Dari arah depan orang-orang segera merangsek lagi. Lalu kami pelan-pelan terlempar ke arah luar.

Perjuangan dan pengalaman yang luar biasa. Keringat kami bercucuran. Napas kami tersengal-sengal. Saya lihat wajah istri saya memerah berkeringan kecapaian. Nenek arstuti lebih parah lagi. Ternyata ketika berdesak-desakan tadi tas yang dibawa nenek Arstuti jatuh.

“Biarkan saja, Mbah….!” kata saya.

Kami pun melanjutkan lagi tawaf sampai tujuh putaran. Di lingkaran luar, saya ketemu dengan Pak Gunawan dan Pak Totok. Saya sampaikan ke mereka:
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mencium hajar aswad.”

Rupanya Pak Gunawan dan Pak Totok hanya bisa menempel di Multazam dan belum bisa mencium hajar aswad. Cerita kami ini ternyata menambah semangat Pak Gunawan dan Pak Totok untuk berusaha lebih keras agar bisa mencium hajar aswad. Tanpa sepengetahuan kami, mereka kembali lagi dan akhirnya berhasil juga mencium hajar aswad.

Padahal waktu itu suasana sangat ramai dan padat. Rasanya mustahil bisa mencium hajar aswad dalam suasana seperti ini.

Kami lalu menunggu sholat subuh dan berdzikir sampai waktu syurug. Setelah lewat syuruq kami sholat dua rokaat dan baru beranjak pulang ke hotel untuk sarapan.

***
Ruang makan adalah tempat berkumpul semua orang. Kami ceritakan pengalaman luar biasa kami pagi hari ini. Rupanya, cerita kami memberi inspirasi untuk teman-teman yang lain yang belum mencium hajar aswad. Malam berikutnya mereka ingin mencium hajar aswad dengan dibimbing oleh Ustad Rofi’i.

Esoknya Mbah Arstuti bercerita kalau badannya sakit semua. Di bawah mata kirinya ada lebam biru karena kena sikut orang. Tangan kanan dan kiri biru-biru semua. Kaminya juga biru. Mungkin terbentur waktu jatuh di depan hajar aswad ketika itu. Tapi Mbah Arstuti bangga karena bisa mencium hajar aswad. Biru di matanya malah menjadi pertanda perjuanganya ini. Saya jadi ingat Mak saya di kampung. Ketiak memeluk mereka berdua, yang saya ingat hanya emak saya di kampung. Saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk mengajak Mak saya pergi umroh. Insya Allah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kisah-kisah di ArasoE: Kisah Pohon Kelapa di Kebun Tempei

Pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun Tempeh ini ternyata punya kisah seru.Lokasi tepatnya ada di Kebun Tempe IV blok 25.

Ketika saya lewat di kebun Tempe, ada yang menarik perhatian saya; yaitu: satu pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah-tengah kebun. Pohon kelapa ini benar-benar sendirian saja. Di area kebun yang luasnya beberapa puluh hektar ini tidak ada pohon lainnya. Pohon kelapa Jomblo.

Saya sangat ingin foto pohon kelapa ini, karena memang menarik bagi saya. Saya foto dari sisi kanan, sisi kiri, kadang-kadang dari timur atau dari barat, tergantung posisi matahari di saat itu. Nggak ada foto yang bagus.

Hari ini saya ketemu dengan SKW wilayah itu, Pak Rusli, yang beberapa hari sebelumnya di sengat lebah di kebun Tempeh (Baca kisahnya di sini: Pak Rusli diserang lebah). Saya tanya tentang pohon kelapa yang ada di tengah kebun Tempe ini. Lalu, Pak Rusli mulai menceritakan kisah pohon kelapa di tengah kebun ini.

Pohon kelapa ini pernah ditumbangkan dengan bulldoser sampai roboh. Keesok harinya, pagi-pagi ketika warga mulai berangkat ke kebun, orang-orang terkejut dan terheran-heran, karena pohon kelapa ini sudah berdiri tegak lagi. Aneh memang, tapi nyata.

Kebun tempeh ini memang terkenal angker di kalangan tenaga tebang tebu. Dulu tidak jauh dari lokasi pohon ini ada bangsal penebang. Bangsal atau pondok ini  semacam barak panjang yang jadi tempat tinggal sementara tenaga tebang. Posisinya ada di pojok kebun. Dalam satu bangsal ada ratusan orang penebang. Mereka datang dari jauh; Bulukumba, Palu, NTT, Jawa Timur atau Jawa Tenggah. Setiap musim tebang, di pondok ini selalu ada tenaga tebang yang meninggal. Hanya tahun 2019 ini saja tida ada tenaga penebang yang meninggal di kebun ini. Sekarang pondok ini sudah tidak ada, karena tidak ada yang mau menempatinya lagi.

Kejadian aneh-aneh juga sering terjadi di kebun ini. Beberapa waktu lalu ada kerjaan kletek daun tebu. Tujuannya kletek adalah untuk meningkatkan rendemen dan agar tebunya lebih ‘matang’. Selama pekerjaan itu dilakukan, ada empat tenaga buruh kletek yang kesurupan. Salah satu dari mereka menceritakan ke Pak Rusli, kalau ada orang tinggi besar dan hitam mencekik lehernya. Tenaga kerja kesurupan adalah hal biasa di kebun Tempeh ini. 

Ada kejadian lain lagi. Ada salah satu tenaga yang tidur-tiduran di bawah pohon kelapa itu. Cuaca yang panas dan terik, memang paling enak berteduh di bawah pohon. Angin semilir membuat mata menjadi berat. Orang ini tidur terus nggak bangun-bangun; tahu-tahu sudah meninggal.

Karena itu sekarang SKW pak Rusli selalu berpesan ke tenaga yang kerja di kebun Tempeh ini untuk banyak berdzikir ketika kerja, tidak banyak bercanda, tidak melakukan aktivitas yang aneh-aneh. Jangan sampai melamun, orang melamun gampang banget ‘kesambet’. 

Pak Rusli sendiri nggak pernah melihat sesuatu yang aneh di sekitar pohon ini. Sebagai sinder wilayah, kadang-kadang dia mesti keluar malam-malam untuk mengecek kebunnya. Keluar jam 2 malam. Biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya beberapa waktu lalu Pak Rusli kena musibah di serang lebah, tapi lokasinya agak jauh dari pohon kelapa ini.

Entah ‘dunia’ apa yang ada di sekitar pohon kelapa ini. Di mata saya hanya sebatang pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun.

Wallahua’lam.

Yang penasaran dengan lokasi pohonnya bisa lihat di google maps: https://goo.gl/maps/gzonv2bHudw96E4U8

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Amalan sederhana agar harta kita tidak dicolong tuyul, babi ngepet dan sejenisnya

Jaman modern kok masih percaya tuyul dan babi ngepet…..?????!!!!!!

Percaya atau nggak, itu urusan masing-masing. Silahkan saja.

Di dunia timur, praktek-praktek sihir dengan bekerjasama dengan jin/setan adalah kebudayaan kuno. Sampai sekarang pun masih ada orang yang percaya dan mempratekkan sihir semacam ini. Orang-orang syirik semacam ini melakukan perjanjian dengan setan untuk mengambil harta mereka dengan cara-cara ‘ghoib’. Dalam istilah orang jawa; memelihara tuyul dan ilmu babi ngepet. Entah bagaimana caranya, jin-jin itu bisa masuk ke dalam rumah dan mengambil uang atau harta tanpa sepengatuan kita.

Memelihara tuyul atau babi ngepet itu urusan mereka lah….. Mereka yang dapat dosa dan terlaknat di akhirat kelak.

Bagi saya yang penting adalah bagaimana caranya melindungi harta kita dari pencurian-pencurian ghoib pakai sihir semacam ini. Ternyata cara melindungi harta kita dari gangguan jin dan sihir ini sederhana sekali. Saya baca dari buku “Kumpulan Do’a Dalam Al Qur’an dan Hadist” karangan Syech Al Qothoni. Saya juga pernah dengar dari ceramah ustad ahli ruqyah Ustad Faizar dari Purwokerto. Kalau di bukunya Syech Al Qothoni ada di Bab 119 Tambahan. Senjata untuk menghindari tuyul dan babi ngepet adalah bacaan “BASMALLAH“.

Caranya sederhana juga. Jadi setiap kita menutup laci lemari tempat menyimpan uang atau perhiasan, menutup box tempat penyimpanan uang, dan menutup brangkas selalu ucapkan “Bismillahirohmannirrohim”. Itu saja. Dalam hadist disebutkan kalau syetan dan jin tidak akan bisa membuka tempat-tempat yang ditutup dengan menyebutkan Asma Allah. Bahkan, meskipun kita menutupnya hanya dengan selempang benang atau tali saja.

Basmallah juga dibaca ketika kita menutup jendela atau pintu di ruangan yang tertutup. Kadang-kadang kita meninggalkan rumah atau kamar dalam waktu yang cukup lama. Ruangan kosong yang ditinggal lama bisa menjadi tempat tinggal ‘jin’ atau syetan. Syetan akan berkeliaran di sore hari menjelang malam dan bisa masuk ke rumah-rumah orang. Kalau pintu dan jendela di tutup dengan membaca Basmallah, insya Allah tidak akan dimasuki oleh syetan.

Semoga bermanfaat.

Buku Doa Al Quran Hadist

Kisah-kisah di ArasoE: Serangan Lebah di Kebun Tempeh

Seperti hari-hari biasanya. Setiap sore SKW atau sinder kebun wilayah akan mengontrol kebunnya. Apalagi kalau musim tebang seperti sekarang ini. Sore2 biasanya mereka membakar daduk (daun tebu kering) sisa tebangan hari ini.

Selepas asar, Pak Rusli SKW C1 keliling kebun. Sambil naik motor KLX-nya yang gagah. Pak Rusli keliling dari jalan poros kebun ke Darampa lalu belok ke Tempeh. Pak Rusli ini orangnya kecil, tubuhnya langsing dan berjenggot tipis. Naik motor KLX warna hijau. Keren banget.

Pak Rusli menyusuri pingir kebun Tempeh yang berbatasan dengan kampung dan kebun warga. Di pinggir kebun banyak pohon besar dan rindang. Pak Rusli menaiki motornya pelan2 sambil memperhatikan kalau ada sapi yang masuk kebun.

Tiba2 ada tawon yang hinggap di dadanya. Pak Rusli mengibaskan tangan untuk mengusir tawon itu. Lalu datang lagi tawon lain. Pak Rusli memukul dadanya dan membuang lagi tawon itu.

Tak diduga. Datang kawanan lebah menyerang Pak Rusli. Tawon2 itu mulai menyengat tangan dan leher pak Rusli. Pak Rusli menghentikan motornya dan menangkis tawon2 yang datang.

Tawon yang menyerang semakin banyak. Topi dan wajahnya mulai tertutup oleh tawon2 itu. Pak Rusli lari menuju kampung dan minta pertolongan warga.

Namun, warga malah lari ketakutan dan menutup pintu rumah mereka. Mereka kira ada babi yang datang. Soalnya, seluruh tubuh Pak Rusli sudah tertutup ribuan lebah. Hitam semua.

Pak Rusli mulai kesakitan. Sengatan lebah terasa panas di wajahnya. Matanya mulai tidak bisa melihat, karena matanya mulai tertutup oleh lebah2 itu. Setiap kali dia ambil dengan tangan lebah2 itu. Ribuan lebah lain segera menyerangnya. Lebah2 itu masuk ke baju dan celananya.

“Tolong ….tolong…!!!!!”, teriaknya meminta pertolongan.

Nggak ada orang yang menolongnya.

“Mati aku ….”, pikirnya dalam hati.

Antara sadar dan tidak, Pak Rusli ingat kalau lemab takut dengan api. Dia merogoh saku jaketnya. Ada korek di situ.

Dia ambil kain, kebetulan ada solar. Kainnya dibasahi dengan solar dan hendak dibakarnya. Tapi, tangannya mulai kaku. Tangannya tidak bisa menyalakan api.

Pak Rusli lari lagi. Sayup2 dia mendengar ada ibu2 yang teriak dari dalam rumah;

“Buka semua bajunya ki.. sambil lari..”

Pak Rusli membuang topinya. Lebah2 menyerang topinya itu.

Pak Rusli membuang kaosnya yang berwarna putih. Kaosnya dalam sekejan jadi hitam karena dikerumuni lebah.

Dia buang celanya, hingga hanya tersisa celana dalam.

Ada warga yang berani keluar dan menyalakan api dari daun2 kering. Pak Rusli segera menuju api itu dan duduk di dekatnya.

Lebah2 mulai pergi. Setelah lebah2 pergi. Warga mulai datang menolongnya. Pak Rusli diangkat ke teras salah satu rumah warga. Mereka beramai2 mencabuti sisa2 sengatan yang ada di tubuhnya. Ada ribuan sengatan; di wajah, kepala, telapak tangan, leher. Hampir semua tubuhnya banyak sisa sengatan.

Antara sadar dan tidak sadar, Pak Rusli minta di telponkan asistennya dan wakernya yang rumahnya tidak jauh dari kampung ini.

Asistennya, Pak Umar datang. Setengah panik dia menelpon pak SKK untuk minta pertolongan. Kebetulan waktu itu Pak SKK sedang di kebun kasimpureng. Tidak jauh lokasinya.

“Assalamu’alaikum, Puang. Bisa minta bantuan ta’? Pak Rusli diserang lebah. Sekarang di tempeh.”

“Leh…leh… di mana itu ki?”

Karen panik pak SKK naik mobil jip daihatsunya menuju tempeh. Beliau belum hafal jalanan di situ. Di tengah jalan dia tanya ke petani yang ada di jalan. Ditunjunkkan arahnya.

“Terima kasih, pak di!” Katanya sambil menjalankan mobilnya.

Tanpa disadari di depannya ada got besar. Ban mobilnya tergelincir masuk got, mobilnya terguling di dasar got. Roda2nya menghadap ke atas.

Pak Umar mulai gelisah; kenapa pak SKK lama sekali nggak sampai2.

Pak Rusli mulai pingsan. Disengat satu ekor lebah saja sakit. Apalagi ini ribuan lebah. Nggak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya; panas, perih dan gatal di seluruh tubuh.

Pak Umar menelpon Pak SKK;

“Sampai mana, puang? Kenapa lama sekali?”

“Mobilku kebalik di kebun. Nggak bisa jalan ini.”

Mandor2 kebun lainnya berdatangan untuk menolong Pak SKK.

Akhirnya, Pak Rusli dibawa ke puskesmas Cina dengan naik motor.

Satu malam Pak Rusli dirawat. Setelah agak mendingan, Pak Rusli minta pulang ke rumah. Dokter hanya memberi obat penahan sakit dan vitamin.

Pak Rusli dirawat di rumah. Tiga hari kemudian, saya sudah ketemu dengannya di masjid waktu sholat subuh.

Alhamdulillah.

Statusku dulu 12 Nov 2013

Tgl 12, bulan 11, tahun 13.

Tak terasa 13 tahun lamanya kita mengarungi bahtera hidup ini bersama.
Samudera ini sangat luas. Gulungan ombak, topan, badai kita taklukan bersama. Kita akan terus mengejar matahari. Biar buah hati kita jadi anak-anak bahari yang kuat. Biar mereka menjadi anak-anak yang perkasa.
Kita akan terus berlayar bersama. Canda riang, tangis dan tawa, menjadi irama syahdu yang indah.
I love you full…

 

Foto Ularku yang Paling Laku di Shutterstock

Awalnya cuma iseng saja naruh foto untuk ‘dijual’ di Shutterstock. Gara-gara diming-imingi sama temen. Banyak banget soalnya foto di hardiskku. Kira-kira setahun yang lalu saya pelan-pelan mulai upload foto di Shutterstock. (Silahkan baca di link ini: Dapat Approval dari Shutterstock). Nggak terasa sudah 800-an foto aku upload. Foto-fotonya macam-macam sih. Laku Alhamdulillah, tidak juga ndak apa-apa. Iseng-iseng berhadiah.

Pelan-pelan mulai ada fotoku yang di download. Belum banyak yang di download sih, saat ini baru sekitar 116x dowload dari 800 foto. Dan sudah dua kali dapat trasfer dari Shutterstock. Lumayan buat ganti pulsa untuk upload.

Dari sekian banyak foto yang sudah saya upload, ternyata foto yang paling ‘laku’ ada foto ular cobra yang saya ambil di alun-alun Magelang.

Meskipun tidak seaktif dulu lagi, tapi sampai sekarang saya masih upload foto-foto. Kadang-kadang foto yang saya ambil dengan kamera mirrorless atau kamera HP saja.

Meskipun tidak banyak, lumayan lah. Ibaratnya nabung sedikit-demi sedikit.

Foto ular cobra

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Bukit Teletubies Mario

Bukit Telebubies adalah sebutan untuk bukit kecil di kebun Mario, Kec. Mare, Kab. Bone. Bukit ini berada di tengah kebun tebu yang luasnya 100-an ha. Letaknya tidak jauh dari jalan poros Sinjai-Watapone. Bukitnya kecil, tapi pemandangan di sini memang fotogenik. 

Pas saya ke sana, sedang musim kemarau panjang. Rumput-rumputnya kering dan ada bekas sisa pembakaran daduk tebu. 

Kalau pas musim hujan, bukit ini tampak hijau segar. 

Kisah-kisah di ArasoE: Pengembala Kesurupan di Sibulue

Sibulue adalah nama gunung kecil atau bukit di sebelah utara pabrik gula. Di sekeliling gunung ini terletak beberapa kebun tebu; Sibulue, Polewali, Kaju dan ArasoE. Nama-nama kebun sama dengan nama desa yang mengelilingi bukit Sibulue. Beberapa tempat di bukit Sibulue ini terkenal angker dan ada ‘penunggu’-nya. Kepercayaan masyarakat setempat.

Bukit Sibulue bukan bukit yang besar. Bukit ini banyak batu-batu kapurnya. Batu-batunya ada yang berukuran besar. Pohon-pohonnya tidak terlalu lebat dan rapat. Malah cenderung jarang-jarang, karena sedang musim kemarau panjang seperti saat ini. Rumput-rumputnya nampak kuning kecoklatan karena kering.

Warga kampung sekitar bukit Sibulue banyak yang memilhara sapi. Sapi-sapi itu digembalakan di pematang-pematang kebun tebu, di sawah-sawah atau di ladang-ladang terbuka lainnya yang ada rumpunya. Banyak juga warga yang membuat kandang di kaki bukit Sibulue. Luas kandangnya bisa ratusan meter dan diisi beberapa ekor sapi. Kadang ini dikelilingi oleh pagar kayu atau bambu dan kawat berduri. Setiap hari yang punya sapi akan datang dua kali, pagi dan sore hari, untuk memberi minum dan pakan untuk sapi-sapinya.

Ada juga peternak yang memiliki banyak ekor sapi, tetapi tidak punya kadang di kaki bukit. Mereka biasanya mengembalakan sapi-sapinya di kaki bukit Sibulue. Suatu hari ada warga desa yang mengembalakan sapinya ke Sibulue. Semua tanpak normal-normal saja. Pengembala menunggu sapi-sapinya makan sambil berteduh di bawah pohon. Dia mengawasi sapi-sapinya dari kejauhan. Mereka biasanya membawa bekal makan, minum dan tentunya juga rokok.

Si pengembala merasa pingin buang hajat kecil. Dia berdiri dari tempat duduknya semula. Lalu ‘clingak-clinguk’ mencari tempat yang relatin ‘aman’. Dia berjalan menuju balik batu besar dan melampiaskan hajatnya di situ. Seeerr…..  Lega.

Tiba-tiba…. belum selesai dia memasukkan burungnya lagi, lehernya seperti tercekik.

“eerrgghhhh…..”

Buru-buru dia merapikan diri lalu kembali ke tempatnya semula sambil sedikit berlari. Tangannya memegangi lehernya. Tak berapa lama wajahnya memerah…..lalu lama-lama membiru………..

Dia beranjak pulang dengan langkah sedikit gontai…sapi-sapinya ditinggalkannya begitu saja. Di tengah jalan dia ketemu dengan tetangganya…

“Kenapa kamu…???” tanya tetangganya dengan terheran-heran.

Si pengembala tidak banyak menjawab, hanya menunjuk ke lehernya yang agak susah bernapas. Tetangganya mengantarkannya pulang ke rumah. Dia ditidurkan di tempat tidurnya.

Kabar menyebar dengan cepat. Tetangganya berdatangan ke rumah kayunya, karena penasaran dan pingin tahu. Rumahnya jadi ramai.

Singkat cerita, mereka jadi tahu kalau si pengembala ini ‘mungkin’ kerusupan atau diganggu jin. Mereka memanggil tetua kampung untuk menolongnya.Tetua kampung datang dan melihat kondisinya. Lalu dia berkata pada keluarganya:

“Ambilkan ayam….!”

Keluarganya pun segera mencari ayam dan diserahkan ke tetua kampung itu.

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Mahasiswi Kesurupan di Lerang


Sejak bulan puasa yang lalu saya ditugaskan di Kab. Bone. Pertama kali di Camming dan kemudian di ArasoE. Ada banyak kisah-kisah menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Saya kisahkan di sini agar menjadi kenangan yang tak terlupakan. Semoga kisah-kisah ini juga bermanfaat untuk pengunjung blog ini. Selamat membaca.


Dua Mahasiswi Kesurupan di Lerang

Awal bulan Agustus ini ada sepuluh mahasiswa politan Pangkep yang magang. Enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Mereka magang selama kurang lebih tiga bulan di PG Bone ArasoE (PGB). Selama magang mereka di bawah bimbingan dari Risbang PGB. Orang Risbang yang menentukan aktivitas harian mereka. Kadang-kadang mereka di pengolahan lahan, kadang-kadang di pembibitan, kadang-kadang di penanaman atau di pemeliharaan tanaman.

Beberapa hari ini mereka diminta membantu penanaman KBI (Kebun Bibit Induk) oleh Pak SKW Risbang (SKW = Sinder Kebun Wilayah). Lokasi penanamannya di kebun Lerang 1. Kebun Lerang letaknya di wilayah desa Lerang. Posisinya agak di pinggir kebun dan berbatasan dengan lahan warga. Kebun ini dibatasi oleh sungai kecil dan banyak pohon-pohon rindang di pingir kebun ini. 

Mahasiswa magang ini membantu sejak mulai potong bibit sampai tanamnya. Kebetulan pada saat ini tenaga tebang dan tanam sedang sulit, jadi mereka yang membantu Risbang untuk penanaman KBI ini. Bibit diambil dari kebun bibit milik risbang yang ada di depan kantor Peltek (Pelayanan Teknis). Bibit diangkut dengan mobil pick up risbang yang sudah tua. Dan mahasiswa ini juga ikut naik di mobil pick up ini.

Bibit diturunkan di pinggir kebun, di bawah pohon-pohon yang rindang. Di sini teman-teman berkumpul. Beberapa ibu-ibu buruh tanam sudah menunggu di situ. Bak kayu berukuran 2m x 1m sudah disiapkan. Bak ini untuk merendam bibit dengan biostimulan Sucrosin. Namun air untuk merendamnya belum datang. Jadi mereka menunggu di bawah pohon sambil bercanda-canda.

Jam menunjukkan jam 9.30 lewat. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat mata jadi berat dan rasanya pingin tiduran saja. Ada dua orang mahasiswi yang tiduran di atas tumpukan bibit. Mereka tampak terlelap dan tidak menghiraukan suara ribut teman-temannya yang bercanda. 

Penanaman bibit pun di mulai. Mereka tetap tiduran. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Soalnya, mereka tidur lelap sekali. Kasihan. Mungkin kecapaian.

Cuaca terik sekali di kebun. Panas menyengat. Maklum, ArasoE dekat dengan pantai dan tingginya hanya beberapa puluh dpl saja. Tapi suasana di bawah pohon memang teduh, dingin dan angin berhempus pelan. Dua orang mahasiswi itu tetap saja tertidur. 

Sampai akhirnya setelah matahari telah bergeser dari ubun-ubun kepala, mereka bersiap-siap untuk istirahat pulang. Mahasiswi itu dibangunkan temannya dan dipapah ke atas mobil pick up. Mereka berjalan gontai dan melanjutkan istirahatnya di atas mobil. 

Jalan kebun nggak rata, jalan tanah yang dikeraskan dengan batu-batu kali. Meski mobil terguncang-guncang dengan keras, dua orang mahasiswi ini masih melanjutkan istirahatnya. Sepertinya mereka kecapaian sekali. Jarak antara kebun ke mess lumayan jauh, 30 menit perjalanan. 

Sampai di rumah. Mereka tetap saja masih mengantuk. Matanya berat dan mereka mengelosor di lantai kamar. Cuaca memang panas banget. Lebih nyaman tidur di lantai yang pakai alas plastik. Mereka berdua melanjutkan mimpinya yang terputus tadi. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Teman-temannya ada yang makan dan sholat. 

Sampai menjelang asar mereka tetap belum makan dan belum sholat. Teman-temannya mulai curiga. Lalu, mereka membangunkan dua orang ini.

Continue reading

BIODEGRADABILITY OF BIOPLASTIC IN NATURAL ENVIRONMENT

https://www.scribd.com/document/432721647/BIODEGRADABILITY-OF-BIOPLASTIC-IN-NATURAL-ENVIRONMENT