Beli Buku Luar Negeri On-Line: AbeBooks.com

Biasanya saya beli buku luar negeri di situs raksasa Amazon.com. Sudah sering saya beli buku di Amazon.com ini. Tapi, kadangkala buku itu tidak ada di Amazon.com dan ada di situs lainnya lagi, yaitu AbeBooks.com. Saya coba beli buku itu di AbeBooks.com.

Saya sedang mencari buku tentang penyakit-penyakit durian dan kelainan-kelainan pada durian. Belum saya temukan di buku-buku terbitan bahasa Indonesia. Cari-cari di internet, ketemu buku yang ditulis oleh orang Malaysia. Judulnay: Durian: Diseases and Disorders. Buku bagus. Saya cek di penerbitnya di Malaysia tidak ketemu. Alternatif berikutnya ya di Amazon.com. Ternyata sudah sold out. Untungnya, ada iklan kalau buku ini masih ada di AbeBooks.com. Saya coba cek situs ini bonafid tidak. Karena baru pertama kali saya agak ragu-ragu juga. Ternyata situs yang lumayan juga dan sudah diakusisi oleh Amazon.com. Jadi saya percaya dengan situs ini.

Langkah berikutnya adalah mengecek penjualnya, seller, saya lihat diprofilenya dan riwayat-riwayat penjualannya. Lumayan meyakinkan. Di situs ini tersedia feature untuk kirim pesan ke penjualnya. Saya tulis pesan ke penjualnya apakah bisa kirim ke Indonesia. Hanya selang satu hari, pesan saya dijawab via email langsung dari penjualnya di US. Lalu kita komunikasi beberapa kali tentang biaya kirim, pajak dll. Akhirnya, saya jadi beli buku itu.

Buku sudah dalam perjalanan. Semoga lekas sampai di rumah.

 

Durian: Diseases and Disorders

Pilih-pilih Tabungan Emas: Bukalapak dan Pegadaian (Lanjutan)

Sejak saya menulis postingan sebelumnya tentang memilih tabungan emas (Baca di sini: Pilih Tabungan Emas: Bukalapak, Tokopedia, Pegadaian), saya jadi lebih sering melihat pergerakan harga emas di tiga penyedia layanan tersebut. Ada yang menarik. Harganya ada yang nggak konsisten.

Grafik Harga Emas di Bukalapak

Awalnya saya banyak ‘nabung’ emas di Bukalapak dengan nilai nominal yang kecil, hanya beberapa ribu rupiah saja per hari, karena sambil ikut promo Serbu. Sehari paling cuma Rp. 5000, kadang2 Rp. 10.000, paling banter Rp. 60.000. Hari ini saya lihat grafik harga emas jual di Bukalapak berbeda. Lihat screenshoot yang saya ambil beberapa waktu yang lalu dan hari ini. Harga emas beli di Bukalapak Tgl 23/11/2019 adalah Rp. 702.301/gr.  Anehnya ketika saya cek grafik harga beli tanggal 29/11/2019 grafiknya ada kenaikan harga emas. Di grafik tersebut di hari yang sama tgl 23/11/2019 harga emasnya tertulis Rp. 704.052/gr. Kok nggak konsisten…???? Mestinya kan harga di hari yang sama tidak berubah angka-nya.

Informasi grafik di Bukalapak ini sebenarnya sangat membantu konsumen untuk memutuskan apakah mau membeli emas atau tidak. Melihat apakah hargnya sedang bergerak turun atau bergerak naik. Tapi melihat informasi ini, terus terang, saya jadi meragukan informasi yang diberikan oleh Bukalapak. Semoga dikemudian hari informasinya bisa jadi lebih valid dan bisa dipercaya.

Schreeshoot tgl 23/11/2019

Bandingkan dengan screenshoot tgl 29/11/2019

 

Grafik Harga Emas di Pegadaian

Bagi saya pribadi grafik harga emas di Pegadaian memang kurang informatif dibandingkan dengan grafik di Bukalapak. Di Pegadaian kita tidak bisa melihat pergerakan harga emas sejak setahun terakhir. Grafiknya tidak dinamis. Tapi informasi harga emas di Pegadaian konsisten. Lihat screenshoot yang saya ambil di bawah ini, waktu pengambilan di hari yang sama seperti yang di Bukalapak. Harga yang tertera di situ tanggal 23/11/2019 adalah Rp. 7.010/0.01 gr. Hari ini tgl 29/11/2019 adalah Rp. 6.990/0.01 gr. Harga tgl 23/11 tidak terlihat di grafik tgl 29/11, tapi nilai di grafiknya sama. Artinya konsisten. 

 

 

Kesimpulan saya

Informasi harga emas di Bukalapak memang informatif, tapi bagi saya menyesatkan. Karena kalau kita lihat di grafik harganya tetap, tetapi realitasnya harganya sebenarnya ada kenaikan. Konsumen yang tidak jeli dengan informasi grafik ini mungkin akan memutuskan untuk beli karena harga tetap atau cenderung turun. Padahal ada kenaikan sekitar Rp. 2000/gr.

Informasi grafik harga di Pegadaian memang agak sedikit ‘kaku’. Tapi kalau kita jeli, justru harganya malah turun. Tadinya saya pikir hari ini akan ada kenaikan harga dari harga kemarin yang Rp. 7.000/0.01 gr,  hari ini malah turun menjadi Rp. 6.990/0.01 gr. Sedikit sih penurunannya. Tapi lumayan juga dalam jangka panjang. Selisihnya dengan Bukalapak lumayan lho Rp. 4.038/gr emas. 

 

Menggunakan Microsoft Word di HP Smartphone

Microsoft Word mungkin aplikasi pengolah dokumen paling populer saat ini di komputer PC atau laptop. Kini aplikasi MSnWord juga tersedia di perangkat mobile, smartphone berbasis Android atau iOS. Dengan aplikasi ini membuat dokumen, surat menyurat, laporan, naskah, artikel menjadi lebih mudah dan cepat. Untungnya lagi aplikasi MS Word di smartphone ini gratis.

Kalau Anda belum memiliki applikasi ini, unduh dan install dulu dari Apple Play Store atau Google Play. Proses intalasinya juga mudah dan nggak ribet.

Tampilan MS Word di Smartphone sedikit berbeda dengan tampilan di layar komputer. Tampilan menyesuaikan dengan ukuran layarnya. Nggak masalah, cuma perlu membiasakan diri saja. Ada dua tampilan di MS Word versi mobile ini; yaitu: mobile view dan print view atau document view.

Aplikasi ini sangat bermanfaat untuk profesional yang pekerjaannya lebih banyak menulis, seperti: jurnalis, penulis/author, dan pengajar/dosen. Kita tidak perlu membawa-bawa laptop yang berukuran besar untuk menulis dan menuangkan ide-ide, cukup dengan HP smartphone yang bisa digenggam.

MS Word versi mobile ini biasanya saya pakai untuk menuliskan ide-ide awal tulisan. Saya lebih suka pakai tampilan mobile view, karena lebih simple dan lebih jelas. Yang paling penting menulis dulu, format huruf, tulisan dan kertas (page) urusan nanti.

Setelah isi tulisan selesai, baru kita melakukan koreksi terhadap tulisan itu. Biasanya ada saja salah ketik atau salah ejaan. Editing semacam ini cukup mudah dilakukan dengan MS Word mobile. Setelah editing tulisan selesai, baru beralih pada format text, paragraf dan page/halaman. Kita bisa mengatur jarak baris, jenis font, ukuran font, spasi, batas pinggir, nomor halaman, header, footer, dll.
Bahkan di MS Word versi mobile kita juga bisa menambahkan table dan gambar/foto. Canggih lah.

Silahkan mencoba. Semoga bermanfaat.

Pilih-pilih Tabungan Emas: Bukalapak, Tokopedia, Pegadaian..??

Postingan sebelumnya saya sudah ceritakan tentang menabung emas, atau lebih tepatnya investasi emas (Baca di sini: Tabungan Emas). Cara paling sederhana adalah menyimpan perhiasan emas atau koin emas LM/UBS. Sekarang sudah lebih maju lagi. Investasi emas atau tabungan emas banyak pilihannya dan sangat mudah. Saya coba ceritakan pengalaman saya pilih-pilih tabungan emas yang sudah saya coba sendiri: Bulapak, Tokopedia dan Pegadaian.

Bukalapak

Saya salah satu pengguna setia Bukalapak. Bahkan sejak awal-awalnya dulu, waktu masih sering main sepeda. Rekomendasi temen-temen biker, kalau nyari onderdil sepeda yang murah, lengkap dan terpercaya ya di Bukalapak. Cukup nyaman dan betah saya pakai Bukalapak. 

Sampai akhirnya saya lihat ada fitur baru di Bukalapak, yaitu BukaEmas. Ada iklannya bersliweran di applikasi. Saya coba-coba baca penjelasanya, aturan mainnya dan lain-lain. Saya semakin tertarik ketika ada promo Serbu yang uangnya masuk ke rekening BukaEmas. Coba-cobalah saya. 

Di aplikasi Bukalapak ada menu BukaEmas. Di menu ini ada tombol untuk Beli, Jual dan Ambil Emas (logo mobil bak). Di bawahnya ada infografik harga Beli dan harga jual emas yang berlaku saat ini. Harga ini berubah setiap hari mengikuti perkembangan harga emas dunia. Contohnya saat saya tulis artikel ini, harga kalau kita beli emas di Bukalapak adalah Rp. 702.301/gr, harga kalau kita jual tabungan emas kita di Bukalapak adalah Rp. 665.470/gr. 

Di aplikasi Bukalapak juga ada perkembangan harga emas (jual dan beli) dalam 7 hari, 1 bulan, 3 bulan dan satu tahun. Jadi kita bisa tahu apakah harga sedang bergerak turun atau bergerak naik. 

Kita bisa membeli dengan nominal sangat rendah Rp.10.000 saja. Ada dua pilihan, kita beli berdasarkan nilai nominal rupiah atau gr emasnya. Pembayarannya pun bisa macam-macam: Dana, transfer ATM, dan transfer virtual account bank. Mudah sekali.

Tampilan saldo BukaEmas kita ditunjukkan dalam bentuk nilai rupiah. Tapi di bawahnya ada pilihan juga dalam bentuk gr. Lalu ada perhitungan yang menunjukkan keuntungan kita, apakah positif (untung) atau negatif (rugi) dan persentasenya. Menarik. 

Fitur lainnya dari BukaEmas ini adalah membeli otomatis ketika kita belanja di Bukalapak. Kita bisa atur nominalnya; Rp. 10rb, Rp 20rb atau lebih tinggi lagi. Nominal ini akan ditambahkan setiap kita membeli dari Bukalapak. Jadi mudahnya, nabung sambil belanja. Nilainya cukup kecil, jadi tidak terasa. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit juga.

Fitur lainnya adalah Cicilan Emas. Mirip dengan yang ditawarkan di Bank-bank syariah dan konvensional. Cuma yang ini harganya lebih miring sedikit. Kita bisa berapa banyak dan berapa lama cicilannya. Terus terang saya belum pernah coba fitur ini. 

Perlu kita sadari sebelum mulai menabung emas adalah ada perbedaan harga beli dan harga jual. Ini berlaku untuk semua produk emas dan mau dijual di mana saja. Selisih antara harga jual dan harga beli ini lah keuntungannya penyedia jasa, Bukalapak. Jadi untuk harga saat ini, selisih harga jual dan beli di Bukalapak adalah Rp. 702.301 – Rp. 665.470 = Rp. 36.831/gr. Kalau dihitung persentase dari harga beli adalah 5,24%. Gede juga. Ini artinya Anda impas ketika menjual dengan harga 5,24% lebih tinggi daripada ketika Anda membelinya. 

Andaikan suatu ketika Anda membutuhkan uang dan ingin ‘mencairkan’ tabungan emas Anda di Bukalapak, sangat mudah sekali. Tinggal klik tombol Jual. Isi berapa banyak emas yang akan dijual mengikuti harga saat itu. Uangnya akan masuk ke rekening DANA dan bisa dipindahkan ke rekening bank kita pribadi.

Tabungan emas juga bisa ditarik dalam bentuk kepingan emas LM atau koin emas LM. Monimalnya mulai dari 1 gr, 2,3,4,5,10 dan 25 gr. Tapi, ketika kita mengambil kepingan emas LM ada tambahan biaya: biaya sertifikat dan biaya kirim. Lumayan juga biayanya, misal untuk kepingan 1 gr, biaya sertifikatnya Rp. 100rb dan ongkirnya untuk saya Rp. 84rb. Dijumlahkan Rp. 184rb. Memang harga emas LM lebih tinggi dari harga emas di Bukalapak, tapi kalau dijumlahkan masih rugi juga menurut saya. Lebih murah jika tetap di simpan di Bukalapak.

Continue reading

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 11

Umroh: Tawaf, Sa’i dan Tahalul

Dari rukun Yamani kami berjalan ke arah rukun Hajar Aswad. Rukun ini adalah pojok2 Ka’bah. Tawaf dimulai dari rukun Hajar Aswad. Ustad Rofi’i memimpin kami melakukan tawaf ini. Sunnahnya, tawaf diawali dengan mencium hajar aswad. Susasana yang sangat ramai tidak memungkinkan semua orang menciumnya. Sejajar dengan hajar aswad ini ada lampu hijau. Lampu ini yang menjadi tanda dimulainya Tawaf. Ustad Rofi’i mengangkat tangannya tinggi2 dan mengarahkannya ke hajar aswad sambil mengucapkan: “Bismillahi Allahuakbar,” lalu mengecup tangan. Kami semua mengikuti apa yang dilakukan oleh Ustad Rofi’i. Putaran pertama sampai ketiga disunnahkan untuk berlari2 kecil, namun kali ini sama sekali tidak memungkinkan bagi kami untuk berlari2 kecil. Kami hanya bisa berjalan berdesak2an dengan jama’ah yang lain.

Ustad Rofi’i membimbing kami membaca kalimat tahmid, tahlil dan takbir. Kami baca berulang2. Kami berjalan di lingkaran luar. Kami melewati maqam Ibrahim. Berjalan terus sampai melewati hijr Ismail. Setelah dekat dengan rukun Yamani, ustad Rofi’i memberi aba2 lagi, beliau mengangkat tanggannya dan membaca sama seperti di awal tawaf. Namun, kali ini ucapan dzikirnya berubah:

“Robbana atina fiddunya khasanah, wafil akhkhiroti khasanah, waqina adzabannar”

Kami pun semua mengikuti apa yang diucapkan Ustad Rofi’i.

Putaran kedua kami masih bergabung dengan jamaah. Di putaran ketiga tidak terasa kami terpisah dari jama’ah. Kami mengikuti arus dan lebih mendekat ke arah Ka’bah. Di putaran keempat kami sangat dekat dengan Ka’bah. Di rukun Yamani, kami menyentuh dan mengusap dinding Ka’bah yang sedikit terbuka. Tapi kami tidak bisa mendekat ke hajar aswad. Kerumuman orang benar2 penuh dan berdesak2kan. Di dalam hijr ismail pun penuh sesak, di pintu masukknya di jaga askar. Sangat sulit bagi jama’ah untuk masuk atau pun keluar.

Putaran berikutnya giliran Pak Gunawan yang ke rukun Yamani. Beliau menciumi dinding Ka’bah sepuas2nya. Dinding dan kain kiswah penutup Ka’bah wangi sekali. Wanginya menempel di tangan-tangan kami.

Dengan bantuan karet gelang kami menghitung putaran tawaf kami. Setiap selesai satu putaran karet gelang dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan. Begitu seterusnya. Jika semua karet sudah berpindah, berarti sudah tujuh putaran.

Putaran terakhir kami mengarah ke lingkaran paling luar. Kami mencari tempat untuk bisa sholat dua rakaat. Tapi banyak askar yang di pingiran area tawaf. Tidak boleh ada jamaah yang berhenti apalagi sholat di area tawaf. Kalau ada yang sholat pasti akan didorong dan diusir oleh Askar.

“Haji… haji… tariq…!!!!!!” Begitu teriak askar2 itu.

Kami pun berjalan ke arah luar. Ada petunjuk yang mengarahkan ke tempat sa’i ke bukit Saffa. Kami sholat dua rakaat di jalan itu. Di pinggir2nya ada drum2 tempat air zam-zam. Kami ambil gelas dan minum air zam-zam. Sebagian airnya kami siramkam ke atas kepala kami.

Kami sudah terpisah dengan jamaah. Kami hanya berempat; saya, Umminya Royan, Pak Gunawan dan Pak Totok. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan ke tempat sa’i. Kami mengikuti arus orang2 yang berpakaian ihram. Kami yakin mereka pasti akan melakukan sa’i.

Jalan menuju tempat sai cukup lebar. Mungkin lebih dari 50 meter dan semua penuh orang berjalan satu arah. Jalanan sedikit menanjak. Diujung jalan itu ada tempat datar lalu ada tangga turun. Di kejauhan ada papan besar tertulis Saffa start here. Berarti itu adalah lokasi bukut safa tempat dimulainya ibadah Sai.

Kami berjalan mendaki ke Bukit Safa. Bukit Saffa saat ini sangat berbeda dengan jaman Siti Hajar dulu. Tempat sa’fi ini sudah masuk ke dalama komplek Masjidil Haram. Lantainya dari marmer halus dan dingin. Tempat Sa’i ini ada tiga lantai; lantai dasar, lantai satu dan lantai dua. Bukit Saffa masih tersisa bagian atasnya. Namun bagian puncak bukit saffa ini sekarang dikelilingi oleh tembok kaca. Jama’ah tidak bisa lagi naik ke puncak bukitnya lagi. Bagian ini berlubang sampai ke lantai yang paling tinggi. Jadi jamaah yang berada di lantai 1 dan 2 masih bisa melihat ke bawah ke puncak bukit Saffa.

Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ketika naik kami membaca awal surat …. … Lalu membaca takbir tiga kali. Di sisi puncak bukit itu kami menghadap ke arah Ka’bah dan membaca do’a:

……….

Dari puncak bukit safa kami menuju ke bukit Marwa. Jalur sa’i ini cukup lebar, mungkin lebih dari 50 meter lebarnya. Di bagian tengahnya ada jalur yang dikhususkan untuk orang-orang tua dan orang yang menggunakan kursi roda. Di putaran pertama sampai ke tiga kami berjalan setengah berlari sambil berdzikir apa saja. Saya menggucapkan kalimat tahmid, tahlil dan takbir, sesekali kami membaca sholawat untuk Nabi.

Di beberapa tempat sepajang jalur Sa’i ada tempat untuk minum air Zam-zam. Jadi, kalau ada jama’ah yang capai dan haus bisa berhenti untuk minum air zam-zam ini. Perjalanan dari satu bukit safa ke bukit Marfa dihitung satu putaran. Perjalanan dari bukit Marwa ke bukit safa juga dihitung satu putaran. Semuanya ada tujuh putaran. Dimulai dari bukit safa dan akan berakhir di putaran ke tujuh di bukit Marwa.

Sepanjang perjalanan sa’i ini kami membayangkan bagaimana dulu Siti Hajar yang baru saja melahirkan Ismail berlari-lari mencari air di antara dua bukit ini. Bukitnya batu-batu terjal. Cuaca panas dan terik. Dalam kondisi yang lemah itu terus mencari air di tengah gurun pasir yang gersang. Subhanallah.

Kisah-kisah di ArasoE: Tidur di Pondok Kayu

Terlelap sebentar di pondok kayu di tengah kebun. Alasnya papan kayu dan bantalnya buah kelapa tua. Nyenyak.

Seperti biasanya, pagi habis sarapan menuju ke kebun. Kali ini saya ke kebun upland wilayah barat; Kebun Walenreng 1. Jaraknya cukup jauh dari mess PG. Saya berangkat berdua dengan Ai. Saya naik Honda Win dan Ai naik Beat.

Jalan poros makadam kita lalui. Pertama kita singgah di Kebun Lompu. Lalu ke Kebun Talaga. Singgah sebentar beli minum di pondok rayon Barat; warungnya mandor Agus. Lanjut lagi, menyusuri tiang listrik, membelah kampung, lalu ke kebun Walenreng. Di sini sedang ada penanaman PC atau tebu baru.

Kami parkir motor di pinggir kebun dekat dengan kebun kakao milik warga. Kita cari-cari mandor kebunnya; Pak Iskandar. Nggak terlihat, padahal motor winnya parkir bersebelahan dengan motor saya.

Kita coba cari-cari di sekitar kebun tidak terlihat. Hanya ada beberapa buruh tanam yang sedang kletek bibit dan potong2 bibit.

Di kebun warga ada pondok kayu. Pondok kebun sederhana. Ukuranya 3 m x 6 m. Pondok ini berbentuk panggung tingginya hampir setinggi kepalaku. Di depannya ada tangga kecil kenuju ke teras pondok. Di teras ini terlihat ada orang tiduran di atas dipan kayu, Itu dia Pak Iskandar.

Kami segera menuju pondok dan naik di terasnya. “Assalamu’alaikum”, ucap kami hampir serempak sambil melambaikan tanggan. Pak Iskandar menyambut salam kami dengan wajah ceria. Di pelipisnya ada luka bekas jahitan. Seminggu yang lalu, jam 10 malam, Pak Iskandar kecelakaan menabrak kuda yang lari di tengah jalan. Tanggannya masih terkilir dan kepalanya masih kadang2 pusing.

Kami ngobrol di teras pondok. Di tempat itu ada banyak sekali buah kelapa tua. Ada satu dipan kayu panjang di sisi dalam. Anggin bertiup pelan membuat kesegaran di tengah terik matahari musim kemarau ini.

Lama2 mata jadi berat. Pingin tidur rasanya. Semakin lama pelupuk mata semakin berat dan sulit dibuka.

“Pinggin merbahkan badan, Pak Iskandar. Mata berat sekali. “

Saya ambil beberapa ikat buah kelapa muda dan saya letakkan di ujung dipan kayu. Saya rebahkan badan dan kepala di atas buah kelapa. Dipan kayu ini sempit, lebarnya sekitar 25 cm. Geser sedikit saja bisa jatuh.

Kesadaran saya pelan2 hilang. Saya miring sedikit ke arah dinding papan kayu. Melayang ke dunia mimpi.

***

Kenikmatan tidur bukan di atas spring bad yang empuk. Atau sejuknya AC. Mata yang terpejam dan pikiran lelap. Sebentar melupakan keruwetan.

Badan hampir iatuh. Lalu saya terbangun. Saya usap bibir dan dagu yang basah. Duduk sebentar sampai kesadaran saya pulih.

Matahari sudah condong ke barat. Perut mulai keroncongan. Saatnya makan siang. Kami pun turun dari pondok balik ke komplek PG.

Tandatangan Dokumen dengan SmartPhone

Menandatangani dokumen-dokumen sekarang bisa dilakukan dengan mudah menggunakan HP Smartphone. Aplikasi ini sangat memudahkan kita, terutama ketika sedang berpergian atau berada di lokasi yang jauh dengan dokumen yang harus kita tandatangani. Cara ini juga sangat bermanfaat jika akan mengirimkan dokumen tersebut via on-line, baik melalui email atau media sosial lainnya.

Kalau kita searching di Google Play atau Apple Store ada banyak sekali aplikasi yang bisa digunakan untuk menandatangani dokumen. Saya pernah mencoba beberapa aplikasi. Tetapi, pengalaman saya sendiri aplikasi yang sangat mudah digunakan adalah aplikasi yang dibuat oleh Adobe.inc.

Seperti yang kita tahu, Adobe.inc adalah pengembang format dokumen yang terkenal pdf (portable document format). Hampir semua dokumen digital saat ini banyak yang menggunakan format pdf. Adobe.inc mengeluarkan aplikasi atau softwere Adobe Acrobat untuk membuat dokumen pdf dan Adobe Acrobat Reader untuk membaca dokumen pdf. Dokume pdf juga bisa dibuat langsung dengan softwere office/pengolah dokumen lainnya, seperti MS Word, Google Doc, Oo Writer, Apple Pages dan lain-lain.

Aplikasi untuk menandatangani dokumen PDF dan mengisi formulir pdf namanya Adobe fill & Sign.  Aplikasi ini tersedia di Google Play dan Apple Store. Kelebihannya adalah aplikasi ini gratis, tidak perlu bayar lisensi atau pun berlangganan.

Caranya gampang saja. Pertama, install dulu aplikasi Adobe Fill & Sign. Download dan install dari HP Smartphone Anda.

Penggunaan aplikasi ini pun sangat mudah. Bahkan tidak perlu belajar lama, kita bisa langsung menggunakan aplikasi ini. Setelah aplikasi terinstall di HP Smartphone Anda. Coba untuk membuka aplikasi tersebut.

Coba buka aplikasi tersebut. Kemudian buka dokumen pdf yang akan anda isi atau tandatangani. Kalau anda ingin menandatangani, ketik bagian dokumen untuk tanda tangan. Lalu ketuk ikon pena, akan muncul pilihan untuk memasukkan tandatangan. Coba buat tandatangan di kolom yang sudah disediakan. Coba beberapa kali sampai diperoleh tandatangan yang bagus sesuai dengan tandatangan anda. Adobe Fill & Sign menyediakan dua versi tandangan yang bisa kita pakai. Ada bisa mengatur besar kecilnya tandatangan dan merubah posisi tanda tangan di atas dokumen.

Untuk mengisi formulir, kita tinggal ketuk posisi isiannya. Lalu akan muncul kursor atau text box untuk menambahkan teks. Kita bisa isi teksnya. Mudah sekali.

Setelah selesai, kita bisa kirimkan dokumen ini melalui email, aplikasi percakapan (Whatsapp, Line, Telegram), kirim ke media sosial, cloud dan lainnya.

Saya sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini. Apalagi saat ini saya sedang bekerja di kebun  yang jauh dari keramaian.

Senam Otak: Membaca

Prcaya aatu tidk, Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabrdge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna.

Katlimt  bsia dtiluis berantaakn, teatp ktia daapt mebmacayna.

Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, buukn ktaa per ktaa. Laur bisaa kan?

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat ”

Sdaar aatu ngagk adna brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag braentakan.

Inlaih khebeatan oatk mansuia, alpagi ynag
Mctipakn oatk ktia,

Allh Yang Maha Sempurna.

Gimana? Bisa ditangkap kan maksudnya?

# Ayo Senam Otak #

Silahkan di baca dan terjemahkan pesan berikut ini:

P354N 1N1 11131118UK71K4N 841-1W4 074K
K174 8154 1113L4KUK4N 1-14L Y6 LU412 81454
1113N4KJU8K4N!

P4D4 4W4LNY4 T312454 5UK412 74P1 5373L41-1
54111P41 D1841215 1N1 P1K1124N K174 8154
111311184C4NY4 53C4124 07O1114715 74NP4
8312P1K112 841-1W4 K174 111311184C4 4N6K4.

84N664L41-1! K4123N4 1-14NY4 0124N6-0124nN6
731273NTU Y4N6 8154 111311184C4 P35AN 1N1.
PL3453 F012W412D 1F U C4N 1234D 71-115 111355463.

Bagi yg bisa membaca ini, berarti otak kanan nan kirinya masih baik. Salam Senam Otak…:)

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail

Ada tiga tempat dan posisi yang paling dicari dan diburu oleh jama’ah di Masjidil Haram. Tiga tempat itu adalah Hadjar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Hajar Aswad memempel di salah satu sudut Ka’bah. Batu hitam yang sudah terpecah-pecah ini selalu di buru jama’ah untuk dicium atau hanya sekedar diusap tangan saja. Tawaf dimulai dari sudut Hajar aswad ini. Dulu Rasulullah memulai tawaf dengan mengucakan basmallah, takbir dan mencium hajar aswad. Praktek ini diikuti oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga saat ini. Jika tidak bisa mencium, mengusap saja atau melambaikan tangan sudah cukup sebagai isyarat memulai tawaf.

Hajar aswad ini adalah batu dari surga yang diturunkan untuk Nabi Adam AS. Lama kelamaan batu ini berubah menjadi hitam kelam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh ummat manusia. Meski hanya batu biasa yang tidak bisa mendatangkankan kebaikan maupun kemudhorotan, namun batu ini sangat dimuliakan sejak jaman dulu. Bahkan sejak sebelum kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika hari kimat kelak, batu ini akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menciumnya atau menyentuhnya. Karena itu banyak orang muslim yang berlomba-lomba untuk mencium hajar aswad.

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Dalam sebuah hadist dari Abullah ibnu Umar yang merapatkan seluruh badannya dan menempelkan pipi kanannya ke dinding Multazam. Beliau menyebutkan bahwa seperti itulah yang Beliau saksikan dari Rasulullah. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang makbul, atau tempat-tempat yang doa-doa akan dikabulkan. Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang juga berebut untuk bisa berdoa dan menempelkan badannya ke multazam.

Tempat ketiga adalah hijr Ismail. Salah satu sisi Ka’bah ada bangunan berbentuk setengah lingkaran dan setinggi kira-kira satu setengah meter. Banyak sekali orang mengantri untuk bisa masuk, sholat dan berdoa di dalam hijr Ismail ini. Dalam sebuah hadist Rasulullah dijelaskan kalau hijir Ismail ini adalah bagian dari Ka’bah. Sholat di dalam hijr Ismail sama seperti sholat di dalam Ka’bah. Siapa orang muslim yang tidak ingin sholat di dalam Ka’bah…??? Pastilah semua orang ingin bisa sholat di tempat yang paling mulia ini.

Ketika tawaf dalam rangkaian ibadah umroh hari pertama sama sekali kami tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Area tawaf penuh sesak dengan orang. Padahal saat itu masih sore hari. Setiap kali kami mencoba mendekat ke Ka’bah selalu mental kembali ke arah luar. Orang-orang menumpuk dan berjubel di rukun hajar aswad. Di hijr Ismail pun tidak kalau ramainya. Ustad Rofi’i juga sudah mengingatkan untuk tidak berusaha mencium atau mendekat ke Ka’bah ketika tawaf umroh. Sebaiknya selesaikan dulu rangkaian ibadah umroh. Mencium hajar aswad dilakukan di lain waktu saja.

Selepas sholat Magrib kami berempat kembali berpakaian ihram dan akan melakukan tawaf sunnah. Tujuannya agar bisa mendatangi tiga tempat yang mulia itu. Putaran pertama kami masih belum bisa mendekat. Di depan Hajar Aswad penuh sesak orang. Berkali-kali kami coba tetap tidak bisa mendekat. Putaran kedua masih sama. Tapi kalai ini Pak Gunawan terpisah dari rombongan. Kami hanya bertiga saja; saya, istri saya dan Pak Totok.

Di putaran ketiga kami kembali merapat ke Ka’bah. Tetap tidak bisa mendekat ke hajar aswad maupun multazam. Kami berjalan terus ke arah hijr Ismail. Orang-orang masih berdesak-desakan. Ketika sampai di dekat pintu masuk hijr Ismail terlihat terbuka. Dalam pandangan kami, pintu itu kosong, tidak ada orang berdesak-desakan akan masuk, tidak ada penjaganya juga.

“Subhanallah…., sepi Pak Totok”
“Iya…Pak….”
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam hijr Ismail. Di dekat pintu itu sudah banyak orang yang sedang sholat dan sujud. Bahkan di depan kami pas ada orang yang sujud. Lalu saya ajak mereka merengsek ke arah tengah dan terus ke sisi yang berseberangan.

Alhamdulillah di tempat ini suasana lebih longgar. Akhirnya, di sini kami bertiga berdiri mengambil posisi sholat. Istri saya, saya di tengah dan Pak Totok di samping kanan saya. Saya sholat taubat dua rakaat. Hati bergemuruh hebat. Rasanya senang, terharu, gembira, sedih bercampur menjadi satu. Ketika sujud, air mata tumpah tak bisa ditahan. Kami semua menangis seperti anak kecil. Kami menangis sejadi-jadinya. Kami tidak peduli lagi dengan suasana sekitar kita. Kami tidak peduli kepala-kepala kami dilangkahi dan diinjak orang. Kami mengadu kepuas-puasnya kepada Allah.

Selesai sholat pertama. Kami sholat dua rokaat lagi. Saya niat sholat hajat. Saya sudah tidak memperdulikan dengan istri dan Pak Totok lagi. Ketika saya menoleh, kiri kanan saya sudah beda orang. Air mata tumpah lagi, lebih deras daripada hujan di kota Bogor di bulan Februari seperti ini. Saya berdoa sepuas-puasnya. Dalam setiap sujud saya panjatkan do’a- do’a. Termasuk ditipan do’a dari keluarga, sanak famili dan teman-teman. Salah satu do’a yang saya ucapkan berulang-ulang adalah do’a agar dikaruniani kesehatan dan umur yang barokah. Selesai sholat saya angkat tangan tinggi-tinggi dan berdo’a lagi. Total saya bisa sholat tiga kali, masing-masing dua rokaat. Alhamdulillah.

Lalu saya berdiri. Istri ada di belakang dan Pak Totok juga sedikit di belakang saya. Saya gandeng mereka berdua mendekat ke dinding Ka’bah. Ada askar yang berjaga di sudut itu. Di dinding Ka’bah sudah ada jama’ah perempuan dan laki-laki yang menangis di dinding. Kami menunggu dengan sabar. Askar itu melihat kami. Saya tersenyum ke arah askar itu dan memberi isyarat kalau kami ingin mendekat ke dinding Ka’bah. Askar itu paham dan dengan isyarat kepala dia meminta kami untuk bersabar.

Tak berapa lama askar itu menarik orang yang di dinding Ka’bah dan menyerahkan tempat itu ke istri saya. Saya dan Pak Totok juga mendekat ke dinding. Tapi di depan kami masih ada orang yang sedang berdoa. Tak berapa lama, dia pun beranjak dan kami menempel ke dinding Ka’bah. Tangis kami tumpah lagi. Pak Totok yang menurut saya paling tegar di antar kami juga menangis sesenggukan. Suaranya keras seperti tidak pedulu dengan orang-orang di sekitarnya. Kami pun berdoa lagi. Memanjatkan semua keinginan dan harapan kami kepada Allah, Robb Ka’bah ini. Entah berapa lama kami menangis di dinding Ka’bah ini.

Sampai akhirnya, Istri saya berbisik:”Sudah…gantian dengan yang lain.”
Saya pun segera beranjak. Saya tepuk punggung Pak Totok dan Beliau pun segera beranjak pula. Kami menuju ke arah pintu hijr Ismail.

Ternyata mau keluar dari Hijr Ismail lebih sulit dari ketika masuk tadi. Di sekitar pintu masuk penuh orang. Banyak orang yang mau masuk dan banyak juga orang yang mau keluar. Ada juga orang yang sedang sholat dan berdoa di tengah-tengah keurumunan itu. Pelan-pelan kami terus merengsek ke luar. Maju terus, meski hanya setapak demi setapak. Setelah berdesak-desakan cukup lama, akhirnya kami berhasil keluar juga dari dalam Hijr Ismail. Alhamdulillah.

Kami melanjutkan tawaf yang baru di putaran ketiga. Di rukun yamani kami usap dinding Ka’bah yang terbuka. Berjalan terus dan melantunkan ‘do’a sapu jagad’. Sampai di hajar aswad, kami tetap tidak bisa mendekat. Gelombang orang berdesak-desakan luar biasa yang ingin mencium hajar aswad. Kami terpaksa harus sedikit melebar keluar agar bisa tetap terus melanjutnya putaran tawaf. Di dekat multazam saya coba lagi mendekat. Suasana tidak kalah serunya dibandingkan dengan yang di hajar aswad. Tapi kali ini saya coba paksakan

Jarak kami dengan multazam kira-kira tiga lapis orang. Semuanya berebut ingin mengantung di pintu Kabah, menempel di multazam dan merengsek ke hajar aswad. Saya coba paksakan untuk ikut merengsek ke depan. Badan saya dan istri tergencet. Saya sudah tidak ingat lagi di mana Pak Totok. Pikiran cuma satu, bagaimana badan bisa menempel di multazam. Itu saja.

Sekeras usaha yang kami coba, posisi tetap tidak beranjak. Saya tetap tidak bisa mendekat. Badan malah semakin tergencet. Jarak paling dekat yang sempat saya raih adalah menyentuh dinding multazam. Itu saja tidak bisa lebih lagi. Arus dan gelombang orang sangat kuat. Ketika tangan baru menyentuh sedikit, tiba-tiba gelombang orang keluar dari arah hajar aswad. Kami menjauh lagi dari multazam dan hajar aswad. Akhirnya kami menyerah. Kami mundur dan melanjutkan lagi putaran tawaf yang tersisa.

Putaran-putaran berikutnya kami tidak lagi berusaha mendekat ke hajar aswad atau multazam. Kerumuman orang sangat penuh. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bisa mendekat. Insya Allah di kesempatan lain kami akan coba lagi. Kami selesaikan tawaf sunnah ini. Lalu kami mencari tempat agak lapang untuk sholat. Sholat di areal tawaf sangat dilarang, karena mengganggu orang yang sedang tawaf. Askar-askar yang berjaga akan mendorong orang-orang yang nekad sholat di areal tawaf dan mengusir mereka ke arah luar.

Kami berjalan terus ke arah luar. Di Bagian belakang ke jalur yang menuju ke bukit shofa ada tempat minum air zam-zam. Seperti yang disunnahkan, kami minum air zam-zam sambil menghadap ka’bah dan membaca doa. Sebagian kami siramkam ke kepala. Kerongkongan rasanya segar sekali.

Kali ini saya sudah terpisah dengan Pak Totok dan Pak Gunawan. Entah di mana mereka. Kami lalu duduk menunggu sholat isya’ sambil berdizkir dan membaca Al Qur’an. Selepas sholat kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Di tempat makan kami menceritkan pengalaman kami ini. Pak Totok dan Pak Gunawan sudah ada di hotel duluan. Ustad Rofi’i, mutawif kami, menyarankan kalau kami ingin mencium hajar aswad sebaiknya selepas tengah malam. Sekitar jam 2 malam sampai menjelang waktu subuh. Konon katanya di waktu-waktu itu area tawa lebih sepi dan lebih mudah untuk mencium hajar aswad. Kami pun sepakat nanti malam mau mencoba lagi untuk bisa mencium hajar aswad. Rugi rasanya kalau sudah di Makkah dan di depan Ka’bah tetapi tidak mencium hajar aswad.

***


1. Muqodimah
2.Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10.Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12.Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13.Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16.Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 10

Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali

Bis yang ditunggu pun datang juga. Bisnya berwarna orange dan ada tiga pintu otomatis; pintu bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Di bagian depannya ada papan tulisan Deafah Hotel Group. Ustad Rofi’i memberi tahu bahwa bis ini gratis untuk pelanggan hotel. Tandanya gelang plastik warna orange dan ada logonya D; logo group hotel Deafah. Dari hotel ini hanya rombongan jama’ah umroh kami saja, maklum kami terlambat ikut sholat jamaah di masjidil haram.

Kami yang Bapak2 semua sudah berpakaian ihram, ibu2 ada yang mengenakan mukena putih ada juga yang menggenakann mukena hitam. Ustad Rofi’i terus membimbing kami mengucapkan kalimat talbiyah. Jarak antara hotel dengan masjidil haram tidak terlalu jauh, sekitar 500-700m saja. Naik bis tidak lebih dari 5 menit saja. Saya lihat ke arah luar. Dari kejauhan menara masjid sudah terlihat. Kami melewati bagian perluasan masjid yang belum jadi. Setelah tanjakan sedikit, lalu jalan menurun. Pelataran masjidil haram sudah terlihat. Hati berdegub keras serasa tidak percaya bahwa kami akhirnya sampai juga ke Makkah.

Bis berhenti tidak jauh dari pertigaan dekat pelataran masjid. Kami semua turun dengan tertib sambil mulut masing2 melafalkan kalimat talbiyah. Ustad Rofi’i berjalan di depan dan kami mengikutinya dari belakang. Saya gandeng tangan Umminya Royan erat-erat. Pak Gunawan dan Pak Totok berjalan di depan saya. Pak Soleh dan istrinya di belakang saya. Posisi kami ditengah2 jama’ah.

Kami melewati polisi yang berjaga di pertigaan. Jalan terus ditutup, sehingga mobil2 yang sebagian taksi dan bis harus berbelok balik ke arah bawah. Jalan ini macet dan ramai. Sesekali ada bunyi klakson taksi dan klakson bis. Setelah melewati aspal, kami melangkah menuju ke pelataran masjid yang tersusun dari lantai marmer putih. Ada semacam gedung kecil kotak dan di atasnya terlulis ‘EXIT 4’, ditulis juga dalam bahasa arab. Kami berjalan terus, melewati tempat wudhu untuk laki2 dan tempat orang minum. Di depan kami gerbang masjidil haram yang megah sudah terlihat. Di seberangnya berdiri kokoh Zam-Zam Tower yang terkenal itu. Di bagian atasnya adalah jam besar. Jam menunjukkan pukul satu siang lebih sedikit.

Pelataran masjid ini sangat luas. Orang2 berpakaian ihram mulai banyak terlihat berjalan searah dengan jalan kami. Ada orang arab, orang berwajah India atau Pakistan, ada juga orang Turki, dan orang2 berwajah putih dengan mata agak sipit, mungkin jamaah dari Eropa Timur. Kami semakin dekat dengan gerbang masjid. Di salah satu pintunya tertulis Gate 70. Tapi ustad Rofi’i tidak mengajak kami masuk ke pintu itu.

“Kita masuk lewat pintu khusus untuk jamaah umroh,” kata ustad Rofi’i memberi aba2 pada kami.

Kami pun melangkah mengikuti di belakang beliau. Kami berjalan terus mendekat ke arah Zam-Zam Tower. Melewati gerbang besar dengan dua menara yang mengapitnya. Tapi kita masih berjalan terus. Sampailah kita di pntu yang dijaga beberapa orang askar. Jama’ah diminta melepas sandal dan memasukkannnya ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di tas kecil yang kita bawa. Suasana hari ini benar-benar ramai. Pintu masuk untuk umroh ini kecil saja, membuat orang3 berdesak2kan untuk masuk.

Askar2 itu berjaga2 sambil matanya tajam mengawasi setiap jamaah yang mau masuk. Ada juga beberapa orang petugas berpakaian gamis putih dan menggunakan rompi coklat. Mereka mengawasi tas dan bawaan para jama’ah. Jika ada jamaah yang membawa bungkusan besar atau tas besar akan di hentikan dan diperiksa bawaannya. Tas yang besar tidak boleh di bawa masuk. Tas itu harus ditinggal atau dititipkan di tempat penitipan.

Terus terang, perasaan kami antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi dan kenyataan. Hati terasa diaduk; haru, sedih, gembira, menjadi satu. Saya pegang erat tangan Umminya Royan, samping saya Pak Gunawan, Pak Totok di depan saya. Ustad Rofi’i yang agak pendek tertutup oleh jamaah yang lain. Kalimat talbiyah terus terucap dari mulut kami. Bersahut2tan dengan jamaah lain.

Masjid ini benar2 megah. Langit2ya tinggi dan semuanya terbuat dari batuan alam. Kami belum bisa melihat Ka’bah. Kami berjalan pelan2 sambil berdesak2kan. Semuanya dengan wajah terharu dan tidak sabar ingin melihat Ka’bah. Kami berjalan terus dan berbelok dua kali. Di beberapa bagian masjid ini ditutup dan tidak boleh dilewati karena sedang ada renovasi, mungkin karena itu jama’ah harus berjalan sedikit memutar.

Meski jama’ah penuh sejak, suasana di dalam masjidilharam terasa dingin. Banyak kipas yang ada di atas kepala kami. Kipasnya berukuran besar dan hanya berjarak sekitar 1,5m dari atas kepala jama’ah. Di beberapa tiang ada kipas2 yang lebih kecil yang menempel dan mengarah ke bawah. Di bagian bawah setiap tiangnya juga terasa udara dingin yang berhembus. Udaranya lebih dingin daripada di puncak. Saya pun terasa kedinginan.

Lampu2 gantung besar mengantung di langit2 masjidil haram. Ada lampu2 lain yang menempel di dinding dan melingkar di tiang2 masjid. Suasana di dalam majid ini terang benderang.

Setelah berjalan beberapa lama, di depan kami ada tangga menuju ke lantai bawah. Di tengah2nya ada dua eksalator (tanga berjalan). Jamaah berduyun2 ke bawah. Di lantai bawah ini lah kami bisa melihat langit luar dan cahaya matahari yang cerah. Dari kejauhan, di atas kerumunan orang2 itu di depan kami mulai terlihat bagunan kotak berwarna hitam. Ya…. itulah bagian atas Ka’bah yang kami rindukan.

Tanpa teras air mata kami tumpah seketika. Do’a-do’a, kalimat2 pujian meluncur dari mulut kami. Hampir semua wajah-wajah itu berlinang air mata. Kami berjalan masih berdesak-desakan. Ustad Rofi’i sesekali menengok ke belakang untuk melihat jamaahnya. Kami masuk dari rukun Yamani.

Tangan kanan saya memeluk istri saya. Saya pegang erat-erat. Tangan kanan saya pegangan dengan tangan Pak Gunawan. Istri Pak Soleh pegangan tangah istri saya, Pak Soleh di belakangnya. Pak Totok dibelakang sendiri. Kami bergandengan seperti ular yang berada di lautan manusia.

Tidak ada mata yang tidak mengucurkan air mata. Tidak ada mulut yang tidak basah berdzikir.

Ya …Robb kami penuhi panggilanmu


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah