Yang Kesasar
- 3,655,686 hits
Choose Your Language
Cari di sini
- Buku Tamu
Silahkan isi buku tamu, agar saya tahu Anda pernah berkunjung. Klik di sini, atau Follow @Isroi Be My Friend on Facebook
Follow me on Twitter
- Dasar hukum KPK sita harta LHI dipertanyakan | SINDOnews nasional.sindonews.com/read/2013/05/2… #SINDOnews 8 hours ago
- KPK wajib jelaskan ke publik alasan sita harta LHI | SINDOnews nasional.sindonews.com/read/2013/05/2… #SINDOnews 9 hours ago
- Portrait series: abah #photography #portrait #people goo.gl/ssYhi http://t.co/vi0Qx3BwMT 9 hours ago
- Biodecomposer Bioethanol Biofertilizer Biofuel Download Fotografi Göteborg Jamur Jerami Kompos Komputer Kuliner Lignoselulosa Limbah Perkebunan Literatur MS PowerPoint MyFamily MyPoems MyResearch OpenOffice Organik Pestisida Nabati PROMI Pupuk Pupuk Organik Cair Pupuk Organik Granul Sampah Tikus Uncategorized Unik
-
Recent Posts
Kategori
Archives
Pustaka
- ASM
- Bank Pengetahuan Padi
- Bioresources
- Biotechnology for biofuel
- Canadian Journal of Microbiology
- Cari PDF
- Cellulosic Ethanol
- DocStroc
- Elseiver
- Fermentasi
- Fermentasi 2
- Gudang Ebooks
- Japan Society for bioscience
- JBC
- Journal Biological Chemistry
- Kelapa Sawit
- Lignin by Lundquist
- MDPI
- Mycologia
- National Agricultural Library
- NCBI
- Proquest
- PubMed
- Pustaka Biofuel
- Pustaka Gratis
- Science Direct
- springerlink
- Teori Distilasi
- USDA Library
Category Archives: Fotografi
Apa perlu mengatur White Balance kamera sebelum memotret?
Ini adalah tulisan keempat saya yang saya tulis dengan menggunakan suara. Lihat artikel saya tentang menulis dengan suara: Menulis dengan Suara.
Berbicara tentang white balance, terus terang saya tidak pernah mengatur white balance di kamera saya sebelum memotret. Setting white balance selalu saya buat auto. Saya selalu melakukan ini untuk semua kondisi pencahayaan pada saat pemotretan, baik pada saat cahaya cerah, cahaya mendung, waktu sore hari, pagi hari, di dalam ruangan maupun di luar ruangan, di bawah cahaya neon apapun bohlam lampu. Sangat jarang sekali kamera saya salah mengatur white balance. Foto hasil pemotretannya tampak baik baik saja, tidak tampak terlalu merah atau biru atau kehijau hijauan atau kekuning kuningan.
Tagged kampretos, King Cobra, kompasiana, photography, snake, ular, White balance
Aku dan Kamera Bututku
Aku membelinya kira-kira lima setengah tahun yang lalu, sebuah kamera saku Kodak EasyShare M863 8MP. Sejak saat itu kamera mungil ini seperti tidak lepas dari saku celana atau di dalam tas saya. Dengan kamera ini saya jatuh cinta dan belajar fotografi. Mungkin sudah ribuan foto saya ‘jepret’ dengan kamera saku ini, foto keluarga, foto rekreasi dan wisata, foto pemandangan, foto portrait, foto bunga, foto binatang, foto truk, foto orang….Pendek kata, hampir semua objek tidak lepas dari ‘jepretan’ kamera ini.
Saya memasang ‘cutting sticker’ di bagian depan kamera ini dengan tulisan: ISROI. Teman-teman saya sering bertanya:
“Mana kamera ‘ISROI’-nya..???” tanya mereka.
“Tenang…..Nih ada di sini,” jawab saya sambil menepuk-nepuk kantong depan celana saya.
Teman-teman saya sudah hafal, maklum bin mafhum, kalau saya senang memotret apa saja dengan kamera dekil ini. Meskipun tidak jarang mereka jadi objek saya untuk belajar fotografi.
Mungkin karena sering saya pakai dan sudah beberapa kali jatuh, kamera ini jadi mulai ‘ngadat’. Beberapa kali kamera ini rusak dan sempat ‘opname’ di bengkel service kamera. Hampir saja kamera ini saya pensiunkan. Alhamdulillah, kamera ini masih bisa diselamatkan dan sampai saat ini masih berfungsi dengan baik.
Setiap foto yang saya ambil dengan kamera ini memiliki kesan tersendiri bagi saya. Banyak kisah-kisah menarik dan motivasi dibalik pengambilan foto-foto itu. Saya punya beberapa ‘proyek fotografi‘ pribadi. Sebagian ‘proyek’ itu sudah selesai, namun ada juga ‘proyek fotografi‘ yang perlu waktu bertahun-tahun membuatnya. Berikut ini sebagian dari foto-foto yang paling berkesan bagi saya dan cerita di balik pengambilan foto itu.
Continue reading
Tagged anak-anak, Delsjon, Fotografi, Guthenburg, kamera saku, langit, photography
Kelahiran Youssef
Muhammad Yusuf Abdurrahman umur satu hari.
Sebuah foto tidak hanya menyimpan gambar. Sebuah foto menyimpan sedetik peristiwa, merekam secuil memori, sepenggal kenangan, sepotong kebahagiaan, sejumput keindahan, atau kepedihan dan kesengsaraan. Sebuah foto – bagi saya – adalah rekaman sejarah kehidupan kami yang mungkin tak akan bisa terulang lagi. Salah satu foto-foto yang saya abadikan dan menjadi moment bersejarah bagi kami adalah foto-foto yang merekam kelahiran anak ketiga kami: Muhammad Yusuf Abdurrahman.
***
Minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan 1435 H di kota Go:teborg, Swedia. Istri saya menyampaikan kabar yang sedikit membuat saya terkejut sekaligus menggembirakan.
“Bi, Ummi terlambat”, katanya.
“Terlambat apa maksudmu?” tanyaku sedikit ragu.
“Harusnya Ummi sudah datang bulan, tapi sudah seminggu belum apa-apa nih. Jangan-jangan perut Ummi ‘isi’ lagi nih, Bi!”, katanya menjelaskan.
Saya sedikit terkejut dan seakan tidak percaya. Kami memang ingin punya anak lagi, rahim istri saya sudah ‘kosong’ sembilan tahun sejak kelahiran Abim – anak kedua kami. Tapi, tidak secepat ini yang saya duga.
“Masak, sih?” kata saya seakan tidak percaya sambil mengelus-elus perut istri saya tercinta.
Saya berjanji akan membeli alat tes kehamilan di apotik di Norstad sepulang dari kampus besok. Setelah saya membeli alat tes berbentuk strip itu, langsung saya memberikannya ke istri saya. Sore itu juga istri saya mengetest alat itu dengan urinnya.
“Bener, Bi. Hasilnya positif. Nih lihat sendiri!” katanya sambil menunjukkan strip tes kehamilan yang ada garis dua, tanda bahwa istri saya positif hamil. Senang, gembira, sekaligus khawatir jadi satu. Sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Langsung saya peluk dan saya ciumi istri saya. Saya elus-elus perutnya.
“Bener nih…Dedek ada di perut, Ummi? ” kata saya sambil mengelus-elus perut stri saya.
Kami memberi tahu anak-anak kami, Mas Royan dan Mas Abim.
“Horree……!!!!!”, teriak mereka serempak. Mereka memang sudah lama ingin punya adik lagi.
“Aku pingin punya adik laki-laki,” kata mereka hampir serempak.
Saya dan istri saya tentu saja ingin punya anak perempuan. Maklum, dua anak pertama kami laki-laki. Istri saya jadi orang paling cantik di rumah ini. Istri saya pun sudah capek menghadapi kenakalan kedua anak laki-laki kami. Hampir setiap hari mereka berantem yang membuat sewot umminya. Istri saya tidak bisa membayangkan jika ada tiga anak laki-laki di rumah.
Namun, bagi kami, laki-laki atau perempuan adalah semua karunia Allah. Laki-laki atau pun perempuan yang akan Allah karuniakan kepada kami akan kami terima dengan senang hati. Insya Allah.
Continue reading
Posted in Fotografi, Göteborg, MyFamily
Tagged bayi, Göteborg, Gothenburg, hamil, kampret, kompasiana, lahir, melahirkan, photography, rumah sakit, Svartemosse, Sweden, Yusuf
Memotret Portrait dengan Kamera Saku
Tulisan ini adalah seri tulisan saya tentang belajar fotografi dengan menggunakan kamera saku, compact camera, atau kamera kecin lainnya yang non DSLR. Silahkan lihat seri tulisan yang lain di link ini: Fotografi dengan Kamera Saku.

Fotografi portrait sudah menjadi objek fotografi sejak dulu kala. Portrait adalah foto orang atau sekelompok orang yang menampilkan emosi, kepribadian, ekspresi, ‘mood’, atau budaya/kulture dari orang yang difoto. Focus fotofrafi ini adalah orang atau sekelompok orang, bisa sebagian atau seluruh tubuh, dan bisa juga dengan lingkungan sekitarnya. Kini saatnya mencoba mode Portrait atau Close-up yang ada di kamera saku Anda. Jika memotret orang dalam jarak yang cukup dekat, gunakan Mode Close-up, jika jaraknya cukup jauh atau sekelompok orang, gunakan mode Portrait.
Memotret orang perlu seni tersendiri, karena memotret orang tidak bisa sembarangan dan gampang-gampang susah. Orang yang akan kita foto bisa anggota keluarga, teman, orang yang datang ke pesta, atau bahkan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Sebelum memotret temukan dan kenali apa yang paling menarik dari orang atau sekelompok orang ini. Misalkan foto Abim di halaman samping ini yang difoto oleh Umminya dengan kamera HP LG GW300. Abim sedang menunggu waktu masuk sekolah. Suasana sekolah masih sepi, Abim terlihat sedih dan kesepian. Dia bersandar di pintu masuk kelasnya. Cahaya dari halaman menerangi sisi kanan wajahnya, dan pendaran cahaya dari jendela sedikit menerangi sisi kiri wajahnya. Pencahayaan ini menambah kesan kuat kesedihannya. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang sendu. Umminya bertanya, “Abim kenapa?”. “Abim rindu Abi”, jawabnya lirih.
Continue reading
Posted in Fotografi
Tagged Fotografi, kamera saku, Kodak, orang, photography, portrait
Sunset Pukul 22.45 Tengah Malam
Waktu sholat magrib ditandai ketika Sang Mentari mulai singgah ke peraduannya. Adalah saat Sang Mentari masih terlihat malu-malu di ufuk dan memancarkan warna jingga keemasan. Di desaku, yang tidak jauh dari garis katulistiwa, waktu magrib hampir selalu sama setiap harinya, yaitu antara pukul 17.30 – 18.30 WIB.
Saya mengalami ‘shock’ waktu sholat ketika tinggal di kota Gothenburg, Swedia. Waktu sholat yang berdasarkan posisi matahari ini tidak sama setiap harinya. Di kota yang lebih dekat ke kutup utara daripada katulistiwa ini, waktu terbit dan terbenamnya matahari berubah-ubah setiap hari. Di musim dingin, bulan Desember – Maret, Sang Surya malas bersinar. Hari lebih banyak gelapnya daripada terangnya. Gelap dan dingin……bbbrrrrr…..
Sedangkan di musim panas, bulan Juni-Agustus, Sang Surya sedang giat-giatnya menyinari bumi Skandinavia. Waktu siang lebih panjang daripada waktu malam. Di puncak musim panas, Sang Surya sudah ‘bangun’ pukul 2.30 pagi. Semburat warna merah terlihat di langit timur, tanda waktu sholat subuh. Pukul 5 pagi sudah terang benderang.
Udara menghangat dan orang-orang dengan riang menyambutnya. Wajah-wajah orang terlihat lebih cerah, senyum terkembang, dan menyapa ramah. Waktu siang sungguh panjang sekali. Sang Surya seperti tidak pernah lelah bersinar, menemani orang-orang yang bercanda riang dan berjemur di bawahnya. Lapangan sepakbola di seberang apartemen masih ramai hingga tengah malam.
Continue reading
Posted in Fotografi, Göteborg, MyFamily
Tagged Fotografi, Göteborg, Gothenburg, photography, summber, sunset, Svartemosse, Sweden
Fotografi Hitam Putih
Fotografi hitam putih istimewa, karena dalam warna duotone tidak ada warna yang salah. Orang akan fokus pada bentuk, garis, ‘tone’, dan pesan foto itu sendiri.
Fotografi hitam putih memiliki sejarah panjang, sepanjang sejarah kamera itu sendiri. Meskipun dunia fotografi sudah sedemikian maju, namun foto hitam putih masih tetap memiliki tempat tersendiri di dunia fotografi. Masih banyak fotografer-fotografer ternama masih setia dengan foto hitam putih. Sebut saja Alm. Pak Ansel Adam, bapak fotografi landscape, yang tetap setia dengan warna duotone, meskipun Pak Adam adalah konsultan untuk perusahaan film ternama. Pak Sebastiao Salgado, fotografer dokumenter, selalu menggunakan film hitam putih dalam karya-karyanya. Sally Man, fotografer Amerika, yang memanfaatkan nuansa suram dan mistis foto hitam putih dalam karya-karya fotografinya. Nick Brandt, fotografer binatang, memotret binatang di alam liar Afrika dengan sangat menajubkan dalam nuansa duotone. Banyak karya-karya foto humor Pak Elliot Erwitt adalah fotografi hitam putih. Beberapa majalah fotografi terkemuka juga menampilkan foto hitam putih di dalam majalahnya. Sebut saja majalah Lens Work. Karya fotografi hitam putih di dalam majalah ini sungguh luar biasa.

Karya fotografi hitam putih klasik oleh Eugene Atget.
Continue reading
Posted in Fotografi
Tagged Ansel Adam, atget, BW, Fotografi, hitam putih, Nick Brandt, Paul Nadar, photography, Sally Mann, Sebastiao Salgado
Langit
Tengoklah ke atas. Langit tak selalu biru. Arak-arakkan awan putih. Mendung kelabu. Burung-burung. Bulan. Matahari. Langit tak selalu biru. Jingga di ufuk. Pekatnya malam.
Tantangan memotret dalam kondisi low light
Fotografi sering diibaratkan melukis dengan cahaya. Cahaya sebagai media, seperti halnya cat minyak, atau cat air. Nah, kalau cahayanya kurang, ibarat pelukit kehabisan cat. Seperti dalam kondisi pencahayaan yang ‘low light’, fotografer harus bisa ‘melukis’ dengan cahaya seadanya. Inilah tantangannya.
Kondisi ‘low light’ bisa dibuat, seperti di ruangan yang gelap dengan hanya diterangi lilin atau lampu kecil. Kadang-kadang fotografer menemukan objek foto yang memang berada di tempat yang low light. Saya lebih banyak berada dalam kondisi yang kedua. Sangat jarang saya sengaja memotret di tempat yang gelap. Memang ada beberapa foto seperti itu, ketika saya sedang belajar memotret low light. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika jamannnya masih pakai film selluloid. Saya pingin banget memotret lilin. Habis satu rol film, hanya satu foto yang jadi. Bisa dibayangkan kan, jaman dulu memotret pakai film. Apes deh……
Pengalaman itu membuat saya jadi agak malas menciptakan kondisi low light untuk memotret. Selain itu foto-foto seperti itu terkesan ‘klise’. Kalau saya tidak menemuka ide yang cukup menarik, saya malas memotret seperti itu.






















