Category Archives: Kompos

artikel dan posting tentang kompos, pengomposan, pembuatan kompos, dan pertanian organik

Media Tanam Jahe: Asam Humat

Asam Humat Cair kandungan 20%

Asam humat cair berkualitas tinggi dengan kandungan 20%.

Asam humat adalah salah satu bahan pembenah tanah yang bisa memperbaiki sifat-sifat tanah. Banyak sekali manfaat asam humat untuk pertanian. Dalama jumlah sedikit asam humat akan memperbaiki karakteristik tanah, namun dalam jumlah besar asam humat bisa meracuni bahkan mematikan tanaman. Asam humat bisa bertindak sebagai agen pengkelat yang akan ‘memegang’ hara nutrisi tanaman di dalam tanah, sehingga hara tersebut tidak cepat tercuci dan lebih mudah diserap oleh akar tanaman. Asam humat juga telah dipakai sebagai pelapis (coating) beberapa pupuk kimia seperti urea dan kalium. Beberapa hasil penelitian di China membuktikan bahwa pupuk yang diberi asam humat lebih efisien diserap oleh tanaman jahe. Selain digunakan sebagai coating pupuk, atau disemprotkan ke tanaman. Asam humat juga bisa dipakai dalam media tanam jahe. Asam humat bisa dipakai untuk tanaman jahe gajah, jahe merah, dan jahe emprit.

Asam humat, baik yang cair maupun yang padat bisa ditambahkan dalam formulasi media tanam jahe. Asam humat cair bereaksi basa, penambahan harus diperhatikan agar tidak meningkatkan pH media terlalu tinggi (>7), sedangkan asam humat padat bereaksi masam. Penambahan asam humat hanya sedikit/secukupnya saja.

Informasi lanjut: Asam Humate

Referensi:
Liang, T. B., et al. “Effects of humic acid urea on yield and nitrogen absorption, assimilation and quality of ginger.” Plant Nutrition and Fertilizer Science 13 (2007): 903-909.

LIANG, Tai-bo, et al. “Effects of Potassium Humate on Growth, Potassium Uptake and Utilization Efficiency of Ginger.” Journal of Soil and Water Conservation 1 (2008): 018.

Lan, L. I. U., et al. “Microbial and enzyme activity in response to humic acid in soil with a ginger crop.” (2009).

PETUNJUK APLIKASI PROMI UNTUK MEDIA TANAM JAHE

Aktivator Promi produk dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) berbahan aktif mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman, yaitu: Polyota sp (mikroba pendegradasi lignoselulosa), Aspergillu sp (mikroba pelarut P), dan Trichoderma sp (mikroba pelarut P, perangsang pertumbuhan tanaman, dan agensia hayati). Aktivator Promi bisa digunakan dalam pembuatan kompos dari bahan-bahan organic, maupun pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi. Aktivator Promi juga bisa digunakan langsung pada pembuatan medi a tanam jahe.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikroba pada media tanam seperti Trichoderma sp dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jahe dan mengurangi resiko serangam penyakit tular tanah, seperti busuk rimpang jahe. Trichoderma sp yang ada di dalam Promi bisa berperan sebagai perangsang pertumbuhan tanaman, maupun sebagai agensi a hayati untuk melindungi tanaman jahe dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri/fungi dari dalam tanah.

Aplikasi Promi dalam Media Tanam

Aplikasi Promi pada pembuatan media tanam jahe

1. Dosis aplikasi Promi untuk media tanam adalah 1 kg Promi untuk 1-2 ton media tanam.
2. Campurkan semua bagian Promi menjadi satu dan diaduk merata.
3. Pencampuran Promi dengan media tanam diberikan secara bertahap. Tahap pertama campurkan 1 kg Promi dengan kurang lebih 100 kg media tanam.
4. Aduk hingga semua Promi tercampur merata.
5. Tambahkan secara bertahap ke dalam 100 kg media tanam tersebut sedikit-demi sedikit hingga volumenya 1 – 2 ton.
6. Masukkan media ke dalam polybag sebagai media penanaman jahe.

Aplikasi Promi pada polybag yang sudah ditanami jahe

1. Dosis aplikasi adalah 1 kg Promi dilarutkan dengan 100-200 liter air.
2. Aduk hingga tercampur merata.
3. Siramkan larutan Promi kurang lebih 1/5 liter – 1 liter ke dalam polybag.
Continue reading

Panduan Aplikasi Aktivator Promi untuk Media Tanam Jahe

Aktivator Promi produk dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) berbahan aktif mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman, yaitu: Polyota sp (mikroba pendegradasi lignoselulosa), Aspergillu sp (mikroba pelarut P), dan Trichoderma sp (mikroba pelarut P, perangsang pertumbuhan tanaman, dan agensia hayati). Aktivator Promi bisa digunakan dalam pembuatan kompos dari bahan-bahan organic, maupun pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi. Aktivator Promi juga bisa digunakan langsung pada pembuatan medi a tanam jahe.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikroba pada media tanam seperti Trichoderma sp dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jahe dan mengurangi resiko serangam penyakit tular tanah, seperti busuk rimpang jahe. Trichoderma sp yang ada di dalam Promi bisa berperan sebagai perangsang pertumbuhan tanaman, maupun sebagai agensi a hayati untuk melindungi tanaman jahe dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri/fungi dari dalam tanah.

Aplikasi Promi dalam Media Tanam
Continue reading

Panen Jahe Gajah per Polybag 10 – 20 kg, mungkinkah?

Jahe Gajah

Rimpang Jahe Gajah yang tumbuh maksimal

Saya tertarik membahas ini. Banyak orang yang tergiur menanam jahe gajah karena terbuai dengan ‘janji’ panen jahe per polybag 10 kg bahkan ada yang bilang 20 kg. Apakah mungkin ….. ? Siapa saja yang sudah bisa panen rata-rata 10 kg atau lebih per polybag ukuran 60 cm x 60 cm atau pakai karung silahkan absen di kolom komentar di bawah dengan menyertakan foto atau buktinya. Terus terang, saya belum pernah melihat dengan mata kepala dan mata kaki sendiri, belum pernah pegang dengan tangan sendiri, dan belum pernah mencium dengan bibir sendiri.


PENTING!!!

Baca juga: Informasi-informasi menyesatkan Budidaya Jahe dalam Polybag. | Panen Jahe Emprit dalam Polybag.


Saya ingin membahas masalah ini dengan data literatur yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan dari kabar angin apalagi katanya si anu yang tidak jelas ‘sanad’ dan ‘matannya’. Jadi pakai data dari laporan ilmiah atau dari data statistik resmi pemerintah. Data-data tersebut umumnya adalah data produksi tanaman jahe yang ditanam di ladang, bukan di polybag. Untuk mendapatkan perkiraan produksi data per polybag saya menggunakan asumsi. Asumsi yang saya gunakan adalah satu polybag ukuran 60 cm x 60 cm atau karung yang diisi dengan tiga bibit jahe gajah. Satu ha kurang lebih setara dengan 6000 polybag. Jadi menghitungnya adalah dari data produksi jahe per ha dibagi dengan 6000 polybag didapatkan data produksi per polybag. Perhitunga ini juga bisa dibalik, data dari polybag dikalikan 6000 diperoleh data setara produksi satu hektar.

Produktivitas jahe nasional di Indonesia hanya berkisar dari angka 21-30 ton per ha (saya baca di tulisan dari Balitro). Ini data hasil panen jahe yang di tanam di ladang bukan di polybag. Dari data itu, kalau dibagi per polybag produktivitas jahe gajah tertinggi adalah 5 kg per polybag. Ada teman yang menceritakan jika jahe gajah yang ditanam di polybag, sampai-sampai rimpang dan tunasnya menonjol keluar polybag, ketika dipanen bobotnya masih kurang dari 5 kg per polybag.

Ok. Jadi kalau dibuat perhitungan, itung-itungannya seperti ini:

5 kg per polybag —> 30 ton per ha
10 kg per polybag —> 60 ton per ha
20 kg per polybag —> 120 ton per ha

Laporan produksi paling top di China yang pernah saya dapatkan adalah 88 ton per ha (Baca di sini: Penelitian Top di China). Laporan yang lain di bawah itu semua, ada yang 60 ton per ha, ada yang 51 ton per ha, tapi umumnya masih berkisar di kepala 3. Kalau produksi 88 ton per ha, dibagi per polybag dapatnya angka 14,7 kg per polybag. Saya tidak sepenuhnya percaya dengan data ini. Kalau pun benar, mungkin varietas jahenya adalah varietas terbaru yang super top markotop.

Sepanjang pengetahuan saya, varietas jahe keluaran Balitro (lembaga penelitian yang menghasilkan varietas jahe paling top di Indonesia) tidak ada yang potensi produksinya mencapai 88 ton per ha. Dilihat dari sisi varietas jahe gajah yang digunakan oleh petani jahe di Indonesia, rasanya mustahil bin mustahal produksi jahe per polybag 60×60 bisa mendapatkan 20 kg per polybag. Angka 10 kg per polybag saja menurut saya masih jauh. Bukan tidak mungkin, tapi rasanya masih perlu kerja keras dari peneliti2 di Balitro untuk mendapatkan varietas jahe gajah super. Kalau pakai bibit jahe asalan, artinya tidak jelas varietasnya apa, tetuanya dari mana, jahe muda atau jahe tua tidak jelas, penyakiten lagi; hampir bisa dikatakan tidak mungkin bisa panen 10 kg per polybag.

Yang lagi mimpi bangun-bangun … heh heh … bangun…. !!!!!!!

Bisa panen jahe gajah 10 kg per polybag tentu saja mungkin, tapi banyak syaratnya.

Pertama, varietas jahe yang digunakan memiliki potensi produksi >80 ton per ha. Realitas produksi selalu di bawah potensi produksinya, bisa dapat 80% dari potensi produksinya sudah sangat top markotop.

Kedua, bebas dari serangan hama dan penyakit. Kalau tanaman jahenya terserang busuk rimpang, busuk pangkal batang, daun bercak-bercak, dimakan uret, dimakan nematoda, tidak mungkin jahe bisa tumbuh maksimal dan optimal. Sekali lagi, selain bibit yang top, tanaman jahe juga harus bebas dari hama dan penyakit.

Ketiga, nutrisi hara/pupuk yang diberikan jumlahnya cukup dan seimbang. Pupuk tidak hanya perlu banyak sekali, tetapi juga harus seimbang. Kebutuhan nutrisi/pupuk tanaman bisa disediakan dari media tanam dan pupuk yang diberikan, baik yang padat maupun pupuk cair lewat daun. Saya ingin membahas masalah ini agak lebih detail.

Dari laporannya Koh Kun, diperkirakan pupuk yang dibutuhkan untuk setiap panen 1000 kg jahe adalah: 6,34 kg N, 0,75 kg P2O5, dan 9,27 kg K2O. Kalau ingin panen 10 kg per polybag kebutuhan nutrisi pupuknya masing-masing per polybag adalah sebanyak 63,4 gr urea, 7,5 kg SP36 dan 92,7 gr KCl. Kebutuhan pupuk per hektarnya lumayan buanyak zekali. Nilai-nilai ini belum diperhitungkan efisiensi serapan haranya. Sebagai gambaran, untuk KCl saja agar produksinya setinggi itu perlu paling tidak 650 kg KCl per ha.

Bukti kongkrit dari laporan penelitian di China, untuk mendapatkan hasil produksi 51 ton per paling tidak dibutuhkan 1000 kg urea, 250 kg SP36 dan 725 kg KCl per ha. Agar bisa mencapai 60 ton per ha (atau 10 kg per polybag) perlu pemupukan dan perawatan yang optimmal. Media tanam yang digunakan harus yang paling bagus; baik dari kualitas maupun kuantitas. dan harus bersih dari hama dan penyakit. Pupuk jahe bisa diberikan dalam bentuk padat maupun cair.

Jadi kalau teman-teman sekarang menanam jahe di polybag hanya menggunakan pupuk kandang/bokashi saja, itu saja dibuat dalam waktu seminggu, persentasenya juga kuecil bin sedikit, tidak pakai pupuk kimia, hanya pakai MOL atau POC buatan sendiri yang belum jelas berapa kandungan pupuknya, satu polybag hanya diisi satu bibit, bibitnya tidak jelas varietas dan potensi produksinya, kena serangan busuk rimpang, kena serangan busuk pangkal batang, daunnya bercak-bercak kuning, layu bakteri; segera bangun dan sadar.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal perlu kerja keras dan ketekunan. 10 kg per polybag bukan tidak mungkin.
Salam sukses.

— ::: lanjut lagi lain kesempatan :::–


Baca juga:

Semuanya tentang Jahe
Pupuk Anorganik Khusus Jahe
Hormon/ZPT Giberelin untuk Jahe
Hormon/ZPT untuk Bibit Jahe
Hormon/ZPT untuk Menghambat Tunas Jahe
Penggunaan Mikroba Trichoderma sp untuk Tanaman Jahe


Media Tanam Jahe: Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang

Di semua petunjuk budidaya jahe, baik yang dari Balitro, Deptan, Warintek bahkan India dan China selalu mencantumkan pupuk kompos atau pupuk kandang atau pupuk organik sebagai salah satu pupuk yang sangat direkomendasikan. Variasi dosisnya bermacam-macam mulai dari 10 ton hingga 60 ton per ha.

Dosis pupuk kompos dan pupuk kandang tersebut untuk penanaman di lapang/ladang. Nah, untuk penanaman di dalam polybag belum ada panduannya. Ada yang menyarankan sekian kg. Ada juga yang perlu penambahan bermacam2 bahan tambahan lain di dalam pupuk kompos (dedak, molases, gula, dan lain-lain). Panduan penambahan pupuk kompos untuk media tanam dalam polybag bisa dihitung dari panduan yang ada di dalam buku2 di atas.

Syarat Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang

Syarat pertama pupuk kompos dan pupuk kandang yang dipakai harus sudah “matang”. Beberapa panduan mengajarkan cara pembuatan pupuk kompos yang menurut saya sangat rumit. Perlu tambah ini itu, dibolak-balik atau bahkan mengambil tanah/humus dari daerah tertentu. Padahal menurut saya membuat pupuk kompos dan pupuk kandang mudah dan tidak perlu langkah2 yang rumit seperti itu. Satu lagi, menurut saya semua pupuk kompos dan pupuk kandang bisa digunakan, tidak mesti dari daerah tertentu dari tanaman tertentu atau dari hewan tertentu.

Cara membuat pupuk kompos dan pengomposan kotoran ternak sudah saya tuliskan di artikel lain; silahkan baca: Kompos Promi.

Continue reading

Media Tanam Jahe: Abu dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit

kompos tandan kosong kelapa sawit

Kompos tandan koson kelapa sawit


Melanjutkan lagi tentang bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam untuk jahe, terutama bahan-bahan alami yang mengandung ‘gizi’ K alias pottasium yang tinggi. Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang coco peat sebagai media tanam jahe yang kaya K (Bacaa di sini: coco peat). (Silahkan baca dulu: Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe). Bahan alami yang juga kaya akan kandungan K adalah tandan kosong kelapa sawit. Indonesia adalah negera produsen sawit terbesar dan memiliki kebun sawit terluas di dunia. Artinya, ada banyak sekali sumber tandan kosong kelapa sawit. Melimpah ruah di pabrik-pabrik kelapa sawit.

tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit

tkks utuh

Tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit atau TKKS atau sering disebut juga tankos kaya akan kandungan ‘gizi’ K. Berikut ini adalah kandungan hara tanaman tkks segar: 0,54% N total, 0,06% P, 2,03% K, dan 0,19% Mg (Sumber: Heriansyah).

Namun, bahan organik segar seperti tankos kurang baik jika langsung digunakan sebagai media tanam. TKKS perlu dikomposkan terlebih dahulu dengan menggunakan Promi. Promi bisa digunakan untuk pembuatan kompos dari bahan organik apa saja, termasuk TKKS dengan waktu yang singkat dan tanpa membutuhkan bahan tambahan.

Kompos TKKS

kompos tkks kaya K

Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawwit

Kompos tkks juga kaya akan K. Kandungan hara kompos TKKS adalah sebagai berikut: 1.45% N, 2,9% K, 0,25% Mg, dan 0,37% Ca. Kandungan N-nya meningkat daripada tkks segar, tetapi kompos tkks lebih baik daripada tkk segar.

Kompos TKKS mudah diperoleh di daerah-daerah sentra kelapa sawit, seperti di P Sumatera, sebagian Kalimantan dan sulawesi. Kalau di P jawa memang sangat jarang pabrik dan kebun kelapa sawit. Hanya di jawa Barat dan Banten saja yang ada Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Abu TKKS

abu tankos janjang tkks yang kaya akan K

Abu tankos (tkks) yang kaya akan unsur K

Jaman dulu tkks lebih banyak dibakar di pabrik-pabrik sawit. Janjang segar dimasukkan ke dalam acinerator/tungku dan dibakar sampai jadi abu. Karena bahan asalnya kaya akan K, abu tkks juga kaya dengan unsur K. Di jurnal terbitan PPKS Medan yang pernah saya baca, kandungan K di dalam abu tkks sampai 27-30%. Kandungan ini sangat tinggi sekali. Namun, K di dalam abu berada dalam bentuk oksida yang tidak mudah tersedia bagi tanaman. Abu tankos juga mengandung ‘gizi’ mikro yang lain seperti: Mg, Zn, dan Fe. Hara mikro ini juga diperlukan oleh tanaman jahe.

Abu tankos sudah lama digunakan sebagai pupuk di perkebunan sawit atau perkebunan lain yang membutuhkan unsur K yang tinggi. Tanaman jahe juga sangat membutuhkan K yang tinggi, karena itu menurut saya abu janjang sawit cocok digunakan sebagai salam satu bahan untuk media penanaman jahe. Abu janjang juga bereaksi basa, jadi perlu diperehatikan rasio pemakaiannya, jika terlalu tinggi bisa kurang bagus untuk tanaman.

Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe

Semua mahluk hidup membutuhkan asupan makanan, termasuk tanaman. Makanan untuk tanaman adalah hara mineral alias pupuk. Tanaman ‘makan’ (maksudnya ‘menyerap’) sari pati makanan dari dalam tanah dengan menggunakan akar-akarnya. Jadi akar tanaman itu ibarat mulutnya tanaman. Namun, tanaman juga memiliki mulut yang letaknya di daun. Mulut ini disebut dengan ‘stomata’ alias mulut daun. Mulut daun juga bisa digunakan untuk menyerap saripati makanan dan udara (CO2 dan O2). Karena ‘mulut daun’ juga digunakan untuk menyerap udara, ‘mulut daun’ ibarat ‘hidungnya tanaman’. Tanaman berbeda dengan mahluk lain dalam hal makan. ‘Makanan’ tanaman alias pupuk diserap dalam bentuk mineral, karena itu orang juga sering menyebutnya saripati makanan.

‘Makanan’ alias pupuk tadi ada beberapa macam, yang sering dibagi menjadi dua kelompok utama. Gampangnya, ‘gizi’ tanaman ada dua macam, yaitu: ‘gizi’ makro dan ‘gizi’ mikro. ‘Gizi’ makro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah besar, sedangkan mikro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah suedikit zekali. ‘Gizi’ makro yang dibutuhkan tanaman adalah N alias nitrogen, P alias fosfor, K alias potasium atau kalium, Ca alias calsium atau kapur dan Mg atau magnesium. Nah, sedangkan ‘gizi’ mikro hanya dibutuhkan dalam jumlah yang suangat-suangat sedikit, karena saking sedikitnya satuan yang digunakan juga kecil, yaitu ppm atau seper sejuta.

Para ahli sudah meneliti tentang pola makan tanaman jahe ini. Lagi-lagi ahlinya dari China dan India. (maaf saya cari literatur yang dari Indonesia tidak ketemu). Para ahli dari negeri produsen utama jahe dunia itu mengamati serapan saripati makanan oleh tanaman jahe sejak masih bibit sampai umur 4 bulan. Umur 4 bulan adalah umur panen jahe muda yang biasa dilakukan oleh petani jahe di India dan China. Kalau di Indonesia kebiasannya umur 6-8 bulan. Karena tidak ada data yang dari Indonesia, saya gunakan saja data dari negeri seberang itu.

Ternyat pola ‘makan’ tanaman jahe kalau dibuat gambar grafik jadinya seperti gambar di bawah ini.

pola serapan hara mineral pupuk oleh tanaman jahe

Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Dari grafik di atas terlihat jika pola ‘makan’ tanaman jahe membentuk kurva exponensial alias melengkung ke atas. Di fase2 awal sedikit, lalu perlahan-lahan naik, dan di akhirnya meningkat dengan pesat. Pola ini bisa dipahami dengan melihat fase-fase pertumbuhan tanaman jahe (baca di sini: Fase-fase pertumbuhan jahe). Di fase awal, yaitu fase benih dan bibit, kebutuhan ‘makanan’ tanaman jahe lebih banyak dipenuhi dari ‘simpanan makanan’ yang ada di dalam rimpang jahe. Kita tahu bahwa tanaman jahe menimbun dan menyimpan makanannya di dalam rimpangnya, karena itu rimpangnya besar dan penuh gizi. Serapan saripati makanan dari dalam tanah di fase-fase ini kecil. Di jurnal lain disebutkan jika efisiensi pupuk N (nitrogen) pada fase ini hanya sekitar 20%an. Kecil sekali.

Continue reading

Peningkatkan Pertumbuhan Jahe dengan Mikroba Trichoderma spp

Tulisan ini terinsipirasi oleh sebuah artikel ilmiah dari China yang berjudul “Screening strains of Trichoderma spp for Plant Growth Enhancement in Taiwan” (artikel aslinya bisa dibaca di bagian bawah). Dalam artikel itu ditemukan bahwa beberapa isolat Trichoderma spp diperoleh dari perakaran (rhizospere) tanaman jahe dan terbukti bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman. Artinya, bahwa Trichoderma spp memiliki effek positif pada tanaman, tidak hanya pada tanaman jahe tetapi juga berspektrum luas, bisa juga untuk tanaman yang lain. Ketika saya kuliah S2 dulu, saya juga menemukan sebuah artikel tentang efek ‘plant growth promoting’ pada isolat Trichoderma spp, yaitu artikelnya Altomare et al (1999). Nah kebetulan di PPBBI (dulu BPBPI) memiliki banyak koleksi isolat Trichoderma spp. Salah satunya adalah koleksi milik Dr. Darmono Taniwiryono yang juga terbukti memiliki effek positif pada tanaman. Foto ini adalah percobaan sederhana saya untuk membuktikan pengaruh positif mikroba terhadap tanaman. Salah satu mikroba yang saya gunakan adalah Trichoderma spp. Percobaan ini saya lakukan sekitar tahun 2005 atau 2006. Sudah lupa saya. Lihat linknya di sini: Aplikasi Mikroba pada Tanaman.

aplikasi mikroba pada tanaman

Keterangan:
A = kontrol tanpa pemupukan
B = pemupukan standard
C = pemupukan dengan Posmanik + Urea
D = seperti perlakuan A + inokulum T. harzianum dan Aspergillus sp.

Percobaan ini dilanjutkan dengan menggunakan tanaman tebu, sawit, jati, dan lain-lain. Hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi mikroba memang bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Continue reading

Pembuatan Pupuk Kompos Jerami dengan Promi di Kab. Kendal Jawa Tengah

Silahkan lihat cara pembuatannya di Youtube:

Cara Membuat Kompos dan Pupuk Organik dari Kotoran Sapi dengan Promi

Testimoni petani di Desa Karangayu, Kec. Cepiring, Kab. Kendal, yang melakukan pembuatan kompos dari kotoran sapi dengan Promi. Sebelum membuat pupuk kompos, ibu ini sering diprotes warga karena bau kotoran sapi yang sangat menyengat. Kotoran sapi tidak diolah, ditumpuk dan dibiarkan saja.

Si Ibu mendapatkan pelatihan cara pembuatan pupuk kompos dengan aktivator Promi dari LSM LP3KLH Kab. Kendal. Cara pembuatan komposnya sangat sederhana sekali. Pertama, kotoran sapi ditumpuk membentuk lapisan setebal kurang lebih 10-15 cm, kemudian disiram dengan larutan Promi. Larutan Promi dibuat dengan mengencerkan 1 kg Promi untuk 200 L air. Pada prakteknya, larutan Promi yang dibuat secukupnya saja. 1 Kg Promi kira-kira cukup untuk 3-4 minggu. Sangat hemat sekali.

Setelah diberi larutan Promi, kotoran sapi ditutup dengan plastik. Seminggu kemudian, tumpukan itu diceker-ceker untuk menambah aerasi. Di atas tumpukan itu juga dibuat lagi tumpukan satu lapisan kotoran sapi yang masih baru. Tinggi tumpukan kurang lebih hingga 1 meteran. Selama perjalanan waktu, tumpukan akan menyusut. Kotoran sapi akan menjadi pupuk kompos dalam waktu 3 minggu. Bau kotoran sapi hilang, boleh dikatakan sudah tidak berbau kotoran sapi lagi.

Kompos dari kotoran sapi ini dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk lahan pertaniannya. Kotoran sapi tidak bisa langsung dipakai sebagai pupuk organik, karena tanaman bisa mati atau kuntet (kerdil). Kotoran sapi yang sudah jadi kompos sangat baik untuk pupuk organik. Kompos ini akan menambah bahan organik tanah, memperbaiki sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah, dan menyediakan hara nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Aplikasi pupuk organik dari kotoran sapi juga sangat bagus untuk memperbaiki kondisi lahan yang rusak karena pemakaian pupuk kimia yang berlebihan.

Aplikasi kompos kohe sapi ini juga mudah. Kompos dikeringkan terlebih dahulu, agar bobotnya berkurang dan memudahkan untuk di bawa ke lahan. Kompos langsung ditebarkan ke guludan atau diberikan di sekitar pokok tanaman. Kompos juga bisa digunakan sebagai pupuk dasar sebelum penanaman bibit. Kompos kotoran sapi bisa digunakan untuk memupuk tanaman apa saja; padi, jagung, kedelai, kacang, tomat, kubis, brokoli, kentang dan sayuran-sayuran lainnya.

Ibu ini senang dan tidak diprotes warga lagi.