Catatan Buku: S H A G, Rusa Kutup Tak Kenal Mundur

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku ini juga salah satu buku lama yang mengisi rak buku kami. Beberapa kali kami mensortasi isi rak buku dan menghibahkan beberapa buku yang jarang kami baca, namun buku kuno yang sudah sobek2 ini tetap kami pertahankan ada di rak buku.

Buku ini berjudul: Shag, Rusa Kutup Tak Kenal Mundur. Sebuah buku terjemahan karangan C. Bernard Rutley.  Sepertinya buku ini merupakan pengadaan diknas untuk anak2 sekolah.

Buku ini menceritakan tentang kisah kehidupan  Shag si rusa kutup mulai dari lahir hingga menjadi pemimpin kawanannya. Buku ini ditulis berdasarkan riset tentang kehidupan rusa kutup di alam liar. Rangkaian cerita, kondisi lingkungan, dan uraiannya dibuat seperti kehidupan rusa kutup itu sendiri.

Membaca cerita Shag seperti belajar tentang kehidupan rusa kutup. Cara belajar seperti ini menurut saya lebih mengena daripada pelajaran menghafal buku-buku teks pelajaran. Dengan membaca cerita seperti ini anak-anak juga dirangsang untuk mencintai lingkungan.

Jaman dulu, ketika saya masih kecil, ketika tv masih hitam putih dan jarang, membaca cerita adalah kegiatan yang mengasikkan. Anak-anak tidak terkacaukan dengan acara televisi, main game, atau internetan.

Saat ini kegiatan membaca anak kalah dengan acara televisi yang melenakkan. Jika acaranya mendidik sih tidak mengapa. Masalahnya banyak acara, film, atau iklan TV yang tidak mendidik dan tidak menambah informasi. Anak-anak menjadi malas membaca dan belajar. Waktunya lebih banyak dihabiskan di depan TV, atau gadget. Apalagi membaca buku-buku yang sudah lusuh, kusut, dan gambarnya kurang menarik.

Entah, saya juga binggung bagaimana caranya agar anak2 saya gemar membaca.

image

Baca juga : Catatan Buku.

image

Catatan buku: Puisi Arab Modern

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Kali ini saya ingin berbagi tentang buku yang lain yang tersimpan di ranjangku. Kadang-kadang saya  membaca buku sastra; cerita, novel, cerpen, dan kumpulan puisi. Buku ini adalah buku terjemahan kumpulan puisi dari Timur Tengah. Buku ini dulu saya ‘pinjam’ dari perpustakaan sekolah SMAku; SMANSA.

Ceritanya dulu saya langganan pinjam buku di perpus sekolah. Saking seringnya saya pinjam, petugas perpusnya membolehkan saya masuk ke ruangan koleksi dan meminjam buku-buku ‘Res’ yang ada tandanya merah. Banyak buku yang saya pinjam; baik yang resmi maupun yang ‘tidak resmi’. Ketika lulus buku-buku itu saya kembalikan, tapi ada beberapa buku yang ‘tetap saya pinjam’ sampai sekarang. (Hehehehe….maaaffff).

Penerjemah buku ini juga sastrawan Indonesia; Hartojo Andangdjaja. Ulasannya dan terjemahannya bagus. Saya suka sekali. Makanya buku ini tetap saya pinjam dan masih sering saya buka-buka sampai sekarang.

image

image

Catatan Buku: Di Bawah Lindungan Ka’bah

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku klasik ini saya temukan di perpustakaan keluarga milik Bapak Mertuaku. Sampul bukunya sudah hilang entah ke mana. Warna kertasnya juga sudah coklat. Tapi, isinya tetap menarik untuk dibaca.

Buku tipis setebal 84 halaman ini adalah salah satu karya sastrawan besar bangsa ini; Prof. Buya HAMKA. Cetakan pertama buku ini tahun 1938 dan buku ini adalah cetakan yang ke-12 tahun 1976. Sudah cetak ulang selama 38 tahun. Luar biasa. Bahkan mungkin ada cetakan terbaru dari buku ini.

Seingat saya, saya pernah membaca buku ini waktu SD dulu. Pinjam dari perpustakaan sekolahku; SD Inpres Cacaban 2. Jaman dulu belum ada ruangan khusus perpustakaan. Bukunya juga masih sedikit. Ketika jam istirahat buku-bukunya akan digelar di atas meja di depan ruang kantor sekolah. Anak-anak mengerumininya, termasuk aku.

Buku ini bercerita tentang kisah tragis anak manusia yang berakhir sedih. Sebuah kisah cinta yang tak sampai dan berakhir dengan kematian.

Meskipun saya sudah beberapa kali membaca buku ini. Kadang2 saya ulangi lagi. Ketika membacanya saya seperti kembali ke masa-masa silam. Sekolahku yang di bawah gunung sukorini seperti hadir kembali. Teman-teman kecilku dulu muncul di kepalaku.

Kalau Anda suka membaca buku cerita, buku ini sebaiknya tidak Anda lewatkan.
Selamat membaca.
Baca juga : Catatan Buku.

image

Catatan buku: Setan Angka; sebuah petualangan matematika

image
Buku “Setan Angka”; foto koleksi pribadi.


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku cerita petualangan yang menarik karya Hans Magnus Enzensberger. Buku cerita ini bukan buku cerita biasa, tetapi cerita yang syarat dengan ‘palajaran matematika’.  Hans menulis cerita yang menjadikan pelajaran matematika sebagai petualangan yang mengasikkan.

Dari nama pengarangnya buku ini jelas buku terjemahan. Mengeja namanya bisa membuat lidah keseleo. Hans Magnus Enzensberger adalah penulis terkenal di Spanyol. Bukunya ini sangat terkenal dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Di Jerman saja, konon, bukunya sudah laku 130rb exemplar.

Continue reading

Bunga Merah Zingiber spectabile yang menawan

Zingiber spectabile beehive ginger

Zingiber spectabile (beehive ginger) (Foto koleksi pribadi)

Bunga cantik merah nan menawan ini nama kerennya adalah Zingiber spectabile atau beehive ginger. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau bunga ini masih kerabat dengan jahe-jahean. Daunnya yang menjulang memang mirip dengan daun jahe. Tetapi tanaman ginger ini tidak memiliki rimpang yang beraroma panas seperti jahe.

Keunikan dari bunga merah ginger ini adalah tandan bunganya yang besar dan berwarna menyolok. Ada beberapa varian warna, yaitu merah, kuning, dan hijau. Warna merah yang banyak disukai, karena menyolok dan terlihat cantik.

Zingiber spectabile beehive ginger

Zingiber spectabile (beehive ginger) (Foto koleksi pribadi)

Continue reading

Catatan Kuliner: Sate Maranggi Cianjur; sate sapi dengan sambel oncom dan ketan bakar

image
Sate Maranggi dengan bumbu oncom dan ketan bakar.


Catatan kuliner: KULINER


Saya sering makan sate, tapi baru kali ini ketemu dengan kuliner sate yang ‘anti mainstream’. Umumnya sate dibuat dari daging ayam atau kambing dengan bumbu kacang atau kecap. Sate Maranggi Cianjur ini beda sendiri, karena dibuat dari daging sapi dan sambal oncom plus ketan bakar.

Sebelumnya saya pernah makan sate Maranggi yang di jalan Cikopo-Purwakarta. (Baca di sini: Sate Maranggi). Daging satenya memang daging sapi, tetapi bumbunya tetap bumbu kacang dan kecap. Mirip dengan sate-sate yang lain.

Ketika ke Cianjur saya diajak makan sate Maranggi yang berbeda. Lokasinya di jalan sawojajar (kalau tidak salah ingat). Warungnya kecil dan biasa-biasa saja, tetapi pembelinya ramai. Saya menunggu lebih dari setengah jam baru mendapatkan bagian.

image

Awalnya saya berfikir kalau satenya mirip dengan sate yang saya makan di Cikopo. Rupanya saya keliru. Menu satenya sedikit berbeda. Awalnya saya sedikit curiga; kok di bakaran satemya ada ketan yang di bakar. Kata temen saya kalau cara makan yang khas di sini makannya dengan ketan bakar. Saya jadi semakin penasaran dan tidak sabar menunggu pesanan sate saya datang.

Saya lebih heran lagi ketika melihat sambalnya kok tidak seperti biasanya. Dari kenampakan visual mirip sambal sambal yang biasa buat makan. Saya tanyak ke teman saya; “sambalnya apa itu?”
“Sambal oncom.”
“Sambal oncom?”
“Di sini memang makannya dengan sambal oncom.”
“Ooo……hhmmmm.”
Saya semakin penasaran.

image

Akhirnya pesanan saya datang juga. Tidak sabar saya pingin mengigitnya. Porsi satenya kecil2 dan dalam satu tusuk hanya ada sekitar 3 potong daging saja. Pertama saya cobain satenya dulu. Rasa dagingnya beda. Menurut saya lebih mirip rasa dendeng sapi dan sedikit manis. Kata penjualnya memang sate ini direndam dulu dengan bumbu semalaman sebelum di bakar.

Lalu saya coba colek satenya ke sambal oncom.
Hhmmmm……
Enak. Citarasanya beda. Lain dengan sate2 yang pernah saya makan sebelumnya. Sambal oncomnya tidak terlalu pedas. Di menunya juga tidak disediakan potongan tomat dan bawang merah mentah.

Continue reading

Musibah Membawa Berkah

image

Toni kini mendapat pekerjaan yang lebih baik setelah mendapatkan musibah.

Seringkali kita berburuk sangka kepada Allah, Tuhan Seluruh Alam. Ketika diberi musibah, kita merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Padahal belum tentu musibah itu membawa keburukan. Percayalah selalu ada hikmah di balik semua ketetapan Allah, termasuk takdir yang kita anggap sebagai musibah.

Ini adalah kisah nyata dari temanku, dan ceritanya ini aku juga ketahui sendiri. Namun, untuk menjaga perasaan orang2, cerita ini sedikit saya samarkan.

Ini adalah cerita tentang sekuriti yang bekerja di sebuah perusahaan. Sebut saja namanya Tony. Tony sudah mengabdi selama delapan tahun sebagai karyawan tidak tetap. Gajinya kecil, meski dalam menjalankan tugas nyawa adalah taruhannya. Sekuriti bertanggung jawab terhadap keamanan seluruh kantor. Ini tidak mudah. Banyak orang jahat yang mengintai dan jika terjadi sesuatu sekuriti harus menanggungnya.
Continue reading

Catatan Mudik 1435H (2014) Bagian 2

Menurut kabar di media massa, lalu-lintas mudik tahun ini yang paling parah dibandikan tahun-tahun sebelumnya. Ketika berangkat saya mesti menempuh perjalanan hingga 30 jam, dua kali lipat lebih daripada hari-hari biasa. (Baca di : Cataran Mudik Bagian Pertama).

Minggu, 27 Juli 2014
Dini hari
Saya capek luar biasa. Begitu sampai kami langsung sahur. Setelah sholat subuh saya langsung tidur. Badan capek luar biasa. Praktis saya dua hari tidak tidur.

Minggu malam
Saya panggil tukang pijet langganan saya untuk datang ke rumah. Habis sholat isya’ dia baru datang. Namanya Gatot, tetangga kampung sebelah. Dia seumuran dengan adikku. Dulu neneknya yang jadi tukang pijat. Namanya Mbah Gito. Keahlian memijat ini menurun dari neneknya.

Gatot kalau mijitin lama, bisa satu jam lebih. Bahkan kadang-kadang saya tertidur waktu dipijit. Pijitannya sakit, tapi nyaman setelahnya.

Senin, 28 Juli 2014
Kami sholat Ied di Masjid Agung Magelang. Jamaah kali ini sangat ramai, lebih ramai dari tahun lalu. Jamaahnya sampai meluber ke alun-alun. Kami kebagian sholat di alun2.

Selesai sholat, seperti biasa kami silaturahim. Pertama, tentunya sungkem ke Emak. Lalu dengan keluarga sendiri.

Di kampungku punya tradisi salam-salaman dengan orang sekampung. Orang2 berdiri di pinggir jalan utama. Kemudian dari ujung kampung tempel sari berjalan memutar dan berujung di masjid As Sofyan. Selesai silaturahim dengan orang sekampung lalu kami pergi ke rumah Simbah dan beberapa famili di desa.

Sore baru pulang ke rumah dan langsung ‘tepar’ lagi. Pinginnya malam ini langsung berangkat ke Eyang Pati alias Nano. Tapi badan sepertinya belum mau diajak pergi. Insya Allah besok baru berangkat.

Selasa, 29 Juli 2014
Selasa pagi kami sudah siap2 berangkat ke Pati. Rencananya kamk mau berangkat lewat Jogja sambil pingin silaturahim ke beberapa sahabat dan kerabat.

Kami pingin mampir ke rumah P Muslikhin dan Bu Ria, terus klo bisa ke Bu Siti sekalian. Sudah lama kami juga tidak mampir ke P Hartono, Bapak kos saya dulu. Lanjut klo sempat juga mampir ke Kang Cessi. Dari status di FB sepertinya beliau sedang balik ke kampung Macanan. Tidak lupa juga mampir ke Piyungan, ke tempat saudara jauh kami.

Tapi ternyata semua berjalan di luar rencana. Konon kabarnya jalan2 Jogja-Solo macet. Jalan di jogja memang biasanya macet kalau lebaran. Akhirnya kami merubah rencana dan langsung belok via Selo-Boyolali. Jalur ini sering kami lewati. Jalur yang melewati tengah2 dua gunung; Gunung Merapi dan gunung Merbabu. Jalannya memang berkelak-kelok, tapi pemandangannya asik.

Sampai di Boyolali, ambil kanan menuju Solo. Kira2 15 km sebelum pertigaan Kartosuro Waze

Menaklukkan Tanjakan Ciengkek Ciomas

image

Istirahat di tanjakan Ciengkek Ciomas

Bersepeda adalah salah satu. Olah-raga favoriteku untuk membakar tumpukan lemak di perut. Biasanya saya bersepeda sendiri atau bersama anak-anak menyusuri kampung-kampung (cross country) di seputaran tempat tinggal kami. Ada satu jalur sepeda yang memiliki tanjakan tajam dan menantang. Tanjakan Ciengkek namanya.

Tanjakan ini juga tanjakan favorite bagi para goweser yang menyukai tanjakan dan cross country. Kemiringannya mungkin sampai 40-45o. Artinya tajam banget tanjakannya. Di beberapa tempat orang mesti mengenjot sepeda sambil berdiri agar roda depan tidak terangkat ke atas. Jaraknya dari bawah sampai ke puncak sekitar 500 – 800 m. Ada beberapa kelokan di tanjakan ini.

Ketika melalui jalur ini saya sering ketemu dengan goweser-goweser lain. Pernah ketemu dengan satu atau dua orang. Pernah ketemu dengan rombongan delapan orang. Bahkan pernah ketemu dengan rombongan 40 sepeda. Banyak goweser ingin menaklukkan tanjakan ini.

image

Pete dan rute tanjakan Ciengkem

Peta dan rute tanjakan Ciengkek

Continue reading

Kuliner Bogor: Sop Buntut Ma’Emun VS Mbak Par

Sop buntut sudah terkenal sebagai kuliner favorite di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia punya kuliner sop buntutnya masing-masing. Tak terkecuali di kota Bogor. Ada banyak warung sop buntuk, dua yang terkenal adalah Sop Buntut Ma’Emun dan sop buntutnya Mbak Par.


Catatan kuliner: KULINER


Ada beberapa warung sop buntut yang pernah saya coba. Saya pernah makan sop buntut yang di dekat air mancur jl. A Yani. Kuah sop buntutnya berwarna kuning dan kental. Minyaknya banyak. Orang yang ‘anti’ kolesterol pasti tidak suka memakannya. Rasanya pun biasa-biasa saja. Saya tidak merekomendasikannya. Pernah juga makan sop buntut di Ciomas dekat perumahan Bukit Asri. Rasanya lumayan lah, cuma belum istimewa rasanya. Pernah juga makan sop buntut di daerah SurKen. Rasanya masih biasa-biasa saja.

Nah, sop buntut yang cukup istimewa rasanya yang pernah saya coba adalah sop buntutnya Ma’Emun dan Mbak Par.

Sop Buntut Ma’Emun

Kuliner Sop Buntut Ma' Emun Bogor.

Kuliner Sop Buntut Ma’ Emun Bogor.

Warung sop buntut Ma’Emun cukup terkenal di kota Bogor. Ada beberapa cabang warung sob buntut ini. Misalnya di Jl. A Yani di depan markas Zeni. Ada juga yang di Jl. Salak di GOR INIRO, ada juga di beberapa tempat. Konon sop buntut ini sudah lama berdiri dan sudah beberapa generasi.

Yang istimewa dari sop buntut ini adalah dagingnya yang masih berwarna merah dan sangat empuk. Ukuran porsinya besar dan banyak lemaknya. Meskipun lemaknya tidak sekental dan kebanyak di warung yang di dekat air mancur.

Rasanya enak dan mantap. Bumbunya pas. Tidak terlalu ‘njomplang’ rasanya. Soalnya, saya pernah makan sop buntut yang rasa rempah-rempahnya terasa banget. Jadi lebih mirip makan jamu daripada makan sop.

Continue reading