Maryani Cyccu Tobing di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara membuktikan umbi gadung efektif mengatasi ulat grayak Spodoptera litura terhadap tanaman tembakau Nicotiana tabacum. Hama itu menyebabkan kehilangan hasil tembakau 40%. Maryani mengambil 120 gram umbi gadung, mengupas, lalu memblender hingga halus. Ia menambahkan 1 liter air dan 10 ml etanol. Semprotkan pada tanaman dengan interval 7 hari. Serangan ulat pada tembakau yang telah disemprot umbi gadung hanya 30%. Sementara tanpa penyemprotan 49%.
Info lengkap pestisida nabati/pestisida organik klik di sini: Pestisida Nabati
Berenang di kali Progo bareng keluarga. Rasanya seperti kembali ke masa kecilku dulu. Dulu aku biasa berenang dengan teman2 di kali Progo ini.
Rumahku hanya 10-15 menit jalan kaki dari kali Progo. Dulu waktu kecil sering main dan berenang di kali Progo. Meskipun kalau pulang dari Progo selalu di-sabetin sama Emak, tetap saja tidak kapok main di Progo.
Orang mungkin lebih mengenal sate ayam Madura atau sate kambing Tegal. Jangan salah di Purwakarta juga ada masakan sate yang tidak kalah enaknya dengan sate ayam Madura atau sate kambing Tegal, namanya Sate Maringgi Hj. Tetty.
Ini pertama kalinya saya makan di warung sate ini. Sebenarnya dulu saya sering lewat jalan ini, cuma baru sekarang saya diajak makan oleh teman. Lokasinya tidak begitu jauh dengan pintu tol Cikampek. Dari pintu tol belok kanan ke arah Sadang Purwakarta. Kira2 10 menit perjalanan akan Anda temui warung sate yang cukup ramai di sisi sebelah kiri jalan. Lokasi parkirnya cukup luas dan tempat makannya juga luas. Tempat makannya biasa saja. Meja panjang dan beberapa bangku panjang. Jelas terlihat kalau warung ini memang ditujukan untuk mengisi perut, bukan untuk bersantai-santai.
Konon warung sate ini berdiri sudah cukup lama. Awalnya cuma warung kecil, lalu berkembang menjadi besar seperti sekarang ini. Waktu kami datang, hampir semua meja terisi semua. Penuh.
Malam ini pukul 09.30 malam saya kembali bertemu dengan dua orang anak pemulung dan ibunya. Mereka anak2 yang sama yang saya temui beberapa waktu yang lalu. Mereka selalu memulung selepas isya’. Malam hari. Mereka menyusuri jalan2 di kedinginan malam. Mencari dan mengumpulkan barang2 yang masih bisa dijual. Barang itu dimasukkkan ke dalam gerobak yang didorong ibunya.
Saya salut dengan mereka. Keluarga miskin ini memilih untuk mencari rizqi yang halal; sampah yang bisa dijual. Mereka memilih memulung daripada duduk dipinggir jalan dan meminta-minta. Dua anak itu masih tetap sekolah. Mereka mulai memulung setelah malam tiba, mungkin setelah mereka selesai belajar.
Berjuanglah kawan. Semoga Allah memberi rizqi yang barokah pada kalian.
Petani, kelompok tani (POKTAN), atau gebungan kelompok tani (Gapoktan) bisa membuat sendiri mikroorganisme lokal (MOL) yang digunakan sebagai pupuk organik cair (POC) atau pupuk organik granul (POG) atau padat yang dibuat dari kompos jerami, kotoran ternak, seresah daun, dll. (Info lebih lengkap klik di sini: Kumpulan Resep MOL, kompos jerami, Promi, membuat POG, biang POC). Kalau petani bisa membuat sebagian pupuknya sendiri, petani tidak akan terlalu tergantung pada pupuk kimia/anorganik. Berikut adalah cara sederhana untuk menguji kualitas MOL, POC, atau POG yang dibuat petani. Cara ini bisa dilakukan oleh petani sendiri melalui pengamatan visual tanpa perlu analisa laboratorium yang rumit dan mahal. Paling tidak dengan uji sederhana ini, petani bisa mengetahui kualitas pupuk/mol yang dihasilkan sebelum diaplikasikan secara luas di lahannya atau anggota kelompok tani.
Catatan:
1. Cara pengujian POG ini adalah cara sederhana untuk petani dan bukan untuk tujuan ilmiah.
2. Cara pengujian POGini bukan cara baku, jadi bisa dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi di sekitar petani.
3. Cara pengujian POG ini adalah pengujian skala kecil dengan menggunakan pot atau polybag.
4. Keberhasilan uji ini tergantung sepenuhnya pada penguji.
5. Saya tidak bertanggung jawab terhadap setiap kegagalan akibat menggunakan cara uji ini.
Film dari negeri tirai bambu ini menceritakan tentang kondisi sosial budaya orang Tiongkok jaman dulu. Film ini menceritakan tentang seorang kakek tua yang berprofesi sebagai penari aktraksi topeng. Dia memiliki keahlian berganti topeng secara cepat. Cepat sekali. jadi seperti sulapan saja. Namun, sayangnya sang kakek tidak memiliki anak. Dia pingin punya anak laki-laki yang kelak akan menggantikannya sebagai Master Topeng.
Di Tiongkok anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan. Kadang-kadang anak perempuan akan ditelantarkan, dibuang, dijual, atau bahkan dibunuh….hiiii…mengerikan.
Nah, suatu ketika sang kakek datang ke pasar yang menjual anak. Dia tertarik dengan seorang anak laki-laki yang tampan. Akhirnya, sang kakek membelinya dan membawanya pulang. Tempat tinggal kakek ini adalah sebuah sampan kecil. Di dalam sampan ini sang kakek melakukan aktivitas kesehariannya, makan, tidur, masak, dan menyimpan perlengkapan pertunjukannya.
Mulailah kehidupan baru sang kakek dengan anak angkatnya ini. Hidupnya berubah menjadi lebih berwarna. Sang kakek tampah bahagia.
Namun, anak yang sedikit aneh dari kelakuan sang anak. Anak angkat itu selalu kencing sembunyi-sembunyi dan kalau kencing selalu jongkok. Gaya kecing anak perempuan. Ternyata memang, sang anak itu bukan anak laki-laki, tetapi anak perempuan yang berpakaian dan meyamar sebagai anak laki-laki agar laku dijual.
Sang anak bisa menyembunyikan rahasianya itu sampai beberapa lama. Hingga akhirnya sang kakek tahu, bahwa anak itu adalah anak perempuan. Dia sangat kecewa dan marah. Anak itu ditinggalkannya sendiri di tepi sungai. Sang kakek pergi kembali ke desanya dengan hati hancur.
Anak itu akhirnya menjadi anak gelandangan. Mencari makan dari sisa-sisa makanan orang dan kadang-kadang mencuri untuk mengisi perutnya. Sedih sekali.
Daripada baca tulisan saya, mendingan lihat sendiri saja filmnya. Dijamin menguras air mata. Banyak pesan sosial dan moral dari film ini. Saya merekomendasikan Anda untuk menyaksikannya, karena film ini belum pernah diputar di televisi di Indonesia.
Tadi siang ketika aku sedang asik dengan spirulinaku ada yang datang menghampiriku; seorang anak muda, pakaiannya perlente, kulitnya bersih, bicaranya halus, dan dia seorang pengusaha muda. Saya salut sekaligus malu pada diriku sendiri. Ternyata anak muda ini adalah salah satu pengunjung blogku ini. Semoga dia baca posting ini dan ngasih komentar…. 🙂
Umurnya masih muda, belum sampai kepala tiga. Meskipun masih muda dia sudah punya usaha sendiri. Bisnis tradding saprotan. Hebat. Kami hanya ngobrol sebentar. Jadi tidak banyak yang kami bicarakan. Ada yang menarik saya dari cerita2 yang dia sampaikan. Bukan tentang bisnis yang dia lakukan, tetapi agrobisnis unik dari anak2 muda di desanya.
Dia bercerita jika ada anak muda yang melakukan usaha agribisnis dengan cara yang tidak biasa. Cerdas dan cerdik menurut saya. Entah cara ini merupakan cara baru atau memang sudah membudaya di desa itu. Continue reading →
Kalau Anda tertarik dengan tulisan di blog ini dan berniat untuk meng-copy-nya serta menyebarluaskannya. Jangan malu-malu, copy aja langsung atau save as lewat menu bar. Boleh diubah, dimodifikasi, dan diperkaya, asal tetap mencantumkan credit-nya dan alamat URL-nya. Diperbolehkan selama untuk tujuan kebaikan, tidak melanggar hukum, norma-norma etika dan kesulilaan, tidak menyinggung SARA, dan BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL. Yang terakhir ini harus bayar Royalti ;). Jika Anda memiliki sesuatu yang ingin ditambahkan, koreksian, komplain, bantahan, protes, gugatan, atau yang lainnya, silahkan masukkan di kolom komentar. Kalau Anda merasa bahwa isi blog bermanfaat, silahkan berbagi dengan yang lain. Silahkan klik icon-icon berbagi yang ada di bawah setiap artikel.