Tag Archives: cerita

Tip Kamera Saku: Foto yang Bercerita

Muhammad Ibrahim Ada kredo yang mengatakan ‘satu foto seribu kata’. Maksudnya foto bisa bercerita seperti untaian ribuan kata. Meskipun memotret dengan kamera saku biasa, foto yang kita ambil sebaiknya memiliki ‘cerita’ dan mengandung ‘pesan’ yang ingin disampaikan. Kalau ‘pesan’ itu gagal diterima oleh orang yang melihat foto kita, gagal pulalah foto yang kita buat.

‘Cerita’ atau ‘pesan’ sebuah foto bisa bermacam-macam. Kadang-kadang jelas, tersamar, tersembunyi, atau bahkan abstrak. ‘Pesan’ itu adalah bagian yang menarik dalam sebuah foto, istilah kerennya Point of Interest (POI).

Pesan yang ingin kita sampaikan bisa apa saja. Entah itu keindahan, kejelekan, kebahagiaan, kesedihan, kecantikan, ketampanan, kelucuan, keunikan, kepedihan, kesakitan, kehampaan, ketenangan, kedamaian, kesejukan, kejorokan, keakraban, kebencian, amarah, benci, cinta, bentuk, warna, lengkung, atau abstrak, dan lainnya. Sebelum memotret, temukan dulu ‘pesan’ itu. Entah apa saja itu, dan kemudian coba tangkap dengan kamera saku kita.
Continue reading

Jadi Sopir Omprengan Plat Hitam

Colt T Station Wagon

Dengan mobil Colt T merah ini aku 'ngompreng' waktu SMA

Ini ceritaku 20 tahun yang lalu waktu kelas 2 SMA. Aku pernah nyari tambahan uang saku dengan nyopir angkutan plat hitam. Kenangan yang tak pernah terlupakan.

Aku belajar nyetir mobil ketika masih kelas 1 SMA, umurku masih sekitar 15-16 tahunan. Sebenarnya seumur itu belum boleh nyopir mobil dan dapat SIM A. Di Indonesia tahu sendiri lah – ‘semua bisa diatur’. Meskipun aku belum cukup umur, tapi bisa juga aku dapat SIM A. Modal buat nyopir mobil.

Bapakku membeli sebuah mobil Colt T station Wagon warna merah. Bapakku punya kenangan tak terlupakan dengan Colt T warna merah, makanya mobil yang diinginkan Beliau adalah mobil tipe ini. Tahun 1982 Bapak pernah kecelakaan ketika naik angkot Colt T merah. Ceritannya Bapak mau melayat ke Muntilan. Dasar sopir angkot, kalau nyopir ugal-ugalan, sampai di jembatan kali Elo desa Blondo Colt T dengan kecepatan tinggi mencoba menyalip mobil di depannya. Tanpa disadari dari arah depan ada bis Sumber Waras dari arah Jogja juga melaju dengan kecepatan tinggi. Tabrakan hebat tidak terhindarkan. Bis banting setir ke kiri, menabrak pembatas jembatan, dan langsung nyemplung ke kali. Badan bis terendam air dan banyak jatuh korban jiwa karena tenggelam. Kondisi Colt lebih memprihatinkan. Separoh body mobil rinsek. Tujuh dari 14 penumpang meninggal. Enam orang yang lain pingsan di tempat. Termasuk teman bapakku, Pak Gundir, yang tiga hari tidak sadarkan diri. Hanya Bapak yang masih siuman dengan rahang patah dan dua gigi depan hilang. Kalau tidak salah ingat total 39 orang meninggal dalam tragedi itu. Colt T merah dijadikan monumen peringatan tragedi itu di dekat jembatan Blondo. Colt T merah yang mirip seperti itu mobil pertama yang Bapak beli.

Continue reading

Nama Saya Dani Penjol dari Spanyol

dani penjol dari spanyol
Aku, Dani Penjol, Celiene, dan ‘Car’-nya Dani

Di apartemen ini kami lah yang datang pertama. Saya satu kamar dengan Pak Muslikhin. Hari pertama datang badan penat luar biasa setelah menempuh perjalanan lebih dari 18 jam. Pinginnya langsung glosor aja.

Di kamar cuma ada satu tempat tidur ukuran satu orang, untungnya ada kasur tipis extra yang bisa dijadikan alas tidur. Saya pakai kasur itu untuk tepar. Dalam sekejab saya sudah melanglang buana di dunia mimpi.

Sedangkan Pak Mus yang belum bisa tidur, karena mesti menunggu kopernya yang tertinggal di KLM Airlines. Pihak KLM janji sore hari mau mengantar ke apartemen, karena itu Pak Mus tetap menjaga mata tetap terbuka. Menjelang sore bel telepon berbunyi. Pak Mus pikir ini dia orang dari KLM.

“Hello….!!!!” terdengar suara orang dari luar apartemen. Gedung apartemen pintunya terkunci. Hanya penghuni yang punya kuncinya dan bisa masuk gedung. Kalau ada tamu, dia mesti pencet tombol bel semacam interkom. Kalau tuan rumah pencet tombol telepon maka pintu gerbang akan terbuka.

“Hai…Hello..Are Your from the air port?”, tanya Pak Mus.
“Yes…I am from the air port”, jawab orang itu dengan mantap. Lalu tombol telpon dipencet untuk membuka pintu gerbang.

Apartemen kami ada di gedung no. 32 lantai tujuh No. 315. Tak berapa lama terdengar lift berhenti di lantai kami. Pak Mus yang dengan kegirangan – dalam pikirannya kopernya bisa segera kembali – segera membuka pintu apartemen.

Setelah dibuka, berdiri sesosok manusia asing di depan pintu. Kepalanya lonjong penjol dan plontos. Rambutnya mungkin baru tumbuh kurang dari satu mm. Licin kepalanya. Tingginya sekitar 160-an cm. Cukup pendek untuk ukuran orang eropa. Dia membawa koper besar dan tas. Tapi, bukan tasnya Pak Mus.

Dengan wajah penuh ragu, Pak Mus bertanya sekali lagi untuk meyakinkan: “Are You from the air port?”
“Yes…yes…I’m from the airport. You not believe me?”, dia balik bertanya dengan bahasa Inggris yang sedikit kacau.

Wajah Pak Mus semakin ragu, apalagi orangnya tampak tidak meyakinkan. Rupanya orang itu merasa kalau dirinya diragukan.

“I have a key…I have a key…You not bilieve me?” katanya sambil menunjukkan kunci untuk meyakinkan. Lalu dia masuk ke dalam apartemen.
Continue reading

Kebutuhan untuk Menulis

buku menulis

Pernah suatu ketika ada temen yang bertanya padaku: mengapa aku suka menulis? Kalau pertanyaannya di awali dengan kata ‘apa’, mudah aku menjawabnya, tinggal tunjukkan….nih….baca sendiri…!

‘Mengapa’…sebuah pertanyaan yang tidak mudah aku jawab. Aku sendiri binggung mau njawab apa.

Aku coba mengingat-ingat sejak kapan aku mulai menulis. Waktu SD dulu aku suka niru-niru tulisannya para pujangga jaman pergerakan: Armin Pane, Sanusi Pane, Sultan Haji; baca ceritanya HAMKA; atau kadang-kadang syair Ronggowarsito, geguritan, dan syair jawa lainnya.

Aku punya buku khusus untuk itu dan aku tulis sampai aku SMP. Tapi, buku itu sudah tidak ada lagi, diminta seorang temen dan katanya sekarang sudah hilang. Duh…..

Continue reading

CERITA TENTANG KRAN AIR

kran antik yang awet sekaliDi rumah orang tuaku ada beberapa buah kran air kuno. Seingatku kran air ini sudah ada sejak aku masih sekolah SD, sekitar tahun 80-an. Kran ini terbuat dari kuningan dan sekarang sudah banyak kerak dan karat warna hijau di sekelilingnya. Ajaibnya kran ini selalu luancar jaya, tidak pernah mampet, tidak pernah bocor, dan tidak pernah ngadat. Aku sama sekali tidak ingat apakah kran air ini pernah rusak atau tidak. Ada sekitar tiga buah kran air yang sama seperti ini di rumah. Kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 20 tahun kran ini setia mengeluarkan air PDAM tanpa keluhan.
Continue reading

Berbagi Pengalaman dengan Om Tino, Bag. 1

Pagi masih buta ketika bis yang membawaku sampai di kota hujan, Bogor. Tempat yang kutuju pertama kali adalah masjid Al Ihsan, sebentar lagi masuk waktu subuh. Di masjid ini banyak kenangan tertinggal. Kurang lebih 3 tahun lamanya aku ngurusin masjid ini, sebelum aku pergi meninggalkan Bogor.
Continue reading

Pak Tua, Imam Sholat Subuh di Masjid Jombor

Meskipun jalannya agak sedikit terhambat, bis Santoso yang aku naiki sudah sampai di terminal Jombor sekitar jam 3 pagi. Hari ini aku baru saja kembali dari Bogor. Dua hari yang lalu aku menitipkan motor di salah satu penitipan motor di sini. Rencananya agar aku bisa cepat kembali ke rumah. Ternyata penitipan motor tutup dan tidak bisa dihubungi. Di depan pintu, tertulis bahwa motor bisa diambil setelah jam 5 pagi….. Wealah….berarti saya harus nunggu dua jam lagi.
Continue reading

Ibrahim dan Royan di Taman Reptil

100_1154Ibrahim suka dengan binatang. Hampir semua binantang dia suka. Ibrahim suka menangkap belalang, kupu-kupu, bahkan capung yang sulit ditangkap dia bisa menangkapnya. Dia juga tidak takut atau jijik dengan cacing, luwing (kaki seribu), dan kepiting. Ibrahim juga punya buku yang banyak sekali tentang binatang. Saat liburan sekolah, kami sempat bermain di Taman Reptil, Purbalingga. Ibrahim senang sekali. Di sini ada pengalaman yang menarik sekali, ternyata Ibrahim juga tidak takut dengan ular.

Ceritanya waktu itu kami pergi ke Purwokerto untuk menghadiri acara reuni di kampus Fakultas Biologi, Unsoed. Ibrahim sempat bertemu dengan Mas Imung, temanku yang jadi pendongeng cerita anak-anak di Banyumas. Mas Imung menceritakan kalau di Purbalingga ada Taman Reptil, pasti Abim suka. “Di sana ada ular yang boleh dipegang, lho..”, lanjut Mas Imung. Ibrahim senang sekali dan merengek-rengek minta di antar ke Taman Reptil.
Continue reading

Belajar

Beberapa minggu ini aku masuk ke sebuah gua. Tempat yang banyak digunakan orang untuk semedi. Berkontemplasi. Gua di lereng gunung, di tengah hutan belantara. Gua yang gelap, dingin, lembab, dan sepi. Sendiri. Jauh dari dunia luar. Jauh dari orang-orang. Jauh menghindar dari semua masalah. Hanya ada suara tetes-tetes air yang menemani.

Guanya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk duduk dan berbaring. Anehnya tidak ada binatang di dalam gua ini. Aku bersihkan gua ini. Cahaya mentari mengintip malu-malu. Bisikan angin menyapa, “Selamat datang penghuni baru”.
Continue reading

Pelajaran Hidup dari Aki Penjual Telur Ayam

Waktu aku tinggal di Jabaru IV, Pasir Kuda, ada aki-aki penjual ayam kampung. Kami biasa memanggilnya Aki, karena umurnya sudah sangat tua. Perkiraanku umur Aki kira-kira tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Sudah tua sekali. Kalau berjalan Aki sangat lambat. Langkahnya setengah langkah-setengah langkah dengan tempo yang sedikit cepat. (Maaf) Langkahnya mirip mainan robot-robotan. Aki berjalan sambil berpegangan di pagar-pagar rumah yang dilaluinya. Wajahnya sudah berkeriput dan rambutnya sudah putih semua.
Continue reading