Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber
Masih ingat gambar di atas di artikel “Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe“. Hara nutrisi alias ‘gizi’ tanaman jahe yang juga dibutuhkan dalam jumlah banyak adalah ‘gizi’ Mg (Magnesium) dan Ca (kalsium). Di grafik di atas bahka posisi Mg dan Ca lebih tinggi daripada N (nitrogen) pada saat umur > 4 bulan. Ini menandakan bahwa pupuk Mg dan Ca juga sangat penting untuk tanaman jahe. Kecukupan pupuk Mg dan Ca dibutuhkan untuk mendapatkan hasil panen rimpang jahe yang optimal. Continue reading →
Di semua petunjuk budidaya jahe, baik yang dari Balitro, Deptan, Warintek bahkan India dan China selalu mencantumkan pupuk kompos atau pupuk kandang atau pupuk organik sebagai salah satu pupuk yang sangat direkomendasikan. Variasi dosisnya bermacam-macam mulai dari 10 ton hingga 60 ton per ha.
Dosis pupuk kompos dan pupuk kandang tersebut untuk penanaman di lapang/ladang. Nah, untuk penanaman di dalam polybag belum ada panduannya. Ada yang menyarankan sekian kg. Ada juga yang perlu penambahan bermacam2 bahan tambahan lain di dalam pupuk kompos (dedak, molases, gula, dan lain-lain). Panduan penambahan pupuk kompos untuk media tanam dalam polybag bisa dihitung dari panduan yang ada di dalam buku2 di atas.
Syarat Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang
Syarat pertama pupuk kompos dan pupuk kandang yang dipakai harus sudah “matang”. Beberapa panduan mengajarkan cara pembuatan pupuk kompos yang menurut saya sangat rumit. Perlu tambah ini itu, dibolak-balik atau bahkan mengambil tanah/humus dari daerah tertentu. Padahal menurut saya membuat pupuk kompos dan pupuk kandang mudah dan tidak perlu langkah2 yang rumit seperti itu. Satu lagi, menurut saya semua pupuk kompos dan pupuk kandang bisa digunakan, tidak mesti dari daerah tertentu dari tanaman tertentu atau dari hewan tertentu.
Cara membuat pupuk kompos dan pengomposan kotoran ternak sudah saya tuliskan di artikel lain; silahkan baca: Kompos Promi.
Semua mahluk hidup membutuhkan asupan makanan, termasuk tanaman. Makanan untuk tanaman adalah hara mineral alias pupuk. Tanaman ‘makan’ (maksudnya ‘menyerap’) sari pati makanan dari dalam tanah dengan menggunakan akar-akarnya. Jadi akar tanaman itu ibarat mulutnya tanaman. Namun, tanaman juga memiliki mulut yang letaknya di daun. Mulut ini disebut dengan ‘stomata’ alias mulut daun. Mulut daun juga bisa digunakan untuk menyerap saripati makanan dan udara (CO2 dan O2). Karena ‘mulut daun’ juga digunakan untuk menyerap udara, ‘mulut daun’ ibarat ‘hidungnya tanaman’. Tanaman berbeda dengan mahluk lain dalam hal makan. ‘Makanan’ tanaman alias pupuk diserap dalam bentuk mineral, karena itu orang juga sering menyebutnya saripati makanan.
‘Makanan’ alias pupuk tadi ada beberapa macam, yang sering dibagi menjadi dua kelompok utama. Gampangnya, ‘gizi’ tanaman ada dua macam, yaitu: ‘gizi’ makro dan ‘gizi’ mikro. ‘Gizi’ makro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah besar, sedangkan mikro adalah saripati makanan yang dibutuhkan dalam jumlah suedikit zekali. ‘Gizi’ makro yang dibutuhkan tanaman adalah N alias nitrogen, P alias fosfor, K alias potasium atau kalium, Ca alias calsium atau kapur dan Mg atau magnesium. Nah, sedangkan ‘gizi’ mikro hanya dibutuhkan dalam jumlah yang suangat-suangat sedikit, karena saking sedikitnya satuan yang digunakan juga kecil, yaitu ppm atau seper sejuta.
Para ahli sudah meneliti tentang pola makan tanaman jahe ini. Lagi-lagi ahlinya dari China dan India. (maaf saya cari literatur yang dari Indonesia tidak ketemu). Para ahli dari negeri produsen utama jahe dunia itu mengamati serapan saripati makanan oleh tanaman jahe sejak masih bibit sampai umur 4 bulan. Umur 4 bulan adalah umur panen jahe muda yang biasa dilakukan oleh petani jahe di India dan China. Kalau di Indonesia kebiasannya umur 6-8 bulan. Karena tidak ada data yang dari Indonesia, saya gunakan saja data dari negeri seberang itu.
Ternyat pola ‘makan’ tanaman jahe kalau dibuat gambar grafik jadinya seperti gambar di bawah ini.
Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber
Dari grafik di atas terlihat jika pola ‘makan’ tanaman jahe membentuk kurva exponensial alias melengkung ke atas. Di fase2 awal sedikit, lalu perlahan-lahan naik, dan di akhirnya meningkat dengan pesat. Pola ini bisa dipahami dengan melihat fase-fase pertumbuhan tanaman jahe (baca di sini: Fase-fase pertumbuhan jahe). Di fase awal, yaitu fase benih dan bibit, kebutuhan ‘makanan’ tanaman jahe lebih banyak dipenuhi dari ‘simpanan makanan’ yang ada di dalam rimpang jahe. Kita tahu bahwa tanaman jahe menimbun dan menyimpan makanannya di dalam rimpangnya, karena itu rimpangnya besar dan penuh gizi. Serapan saripati makanan dari dalam tanah di fase-fase ini kecil. Di jurnal lain disebutkan jika efisiensi pupuk N (nitrogen) pada fase ini hanya sekitar 20%an. Kecil sekali.
Melanjutkan postingan sebelumnya tentang prosek peningkatan produksi jahe Indonesia (baca artikelnya di sini: Prospek Jahe Balitro). Rasa penasaran saya terusik, pertama karena jahe sedang marak di Indonesia, tetapi data dari jurnal Balitro menyebutkan kita peringkat ke 14 dunia dalam produks jahe. Ada yang janggal menurut saya. Kemudian saya mencoba mencari informasi dari sumber data yang menjadi rujukan, yaitu data dari FAOSTAT (http://faostat3.fao.org/download/Q/QC/E). Data dari FAO ini selalu menjadi data rujukan utama untuk melihat trend produksi dan perdagangan komoditas pertanian dunia. Pagi ini saya searching data dan mencoba membuat grafik dan analisa sederhana. Hasilnya adalah seperti gambar di bawah ini.
Produksi Jahe di 10 negara produsen utama (data dari FAOSTAT)
Dari data itu menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara peringkat ke-6 dalam produksi jahe dunia. Peringkat pertama dalah India dan kemudian di ikuti oleh China. Namun, yang menarik adalah hampir di semua negara 10 produsen utama jahe dunia mengalami penurunan. Memang beberapa tahun sebelumnya di Indonesia juga mengalami penurunan produksi ketika negara-negara lain mengalami kenaikan produksi.
Yang patut disyukuri adalah dalam dua tahun terakhir (2012-2013) produksi jahe Indonesia mengalami kenaikan, sedangkan produksi di negara-negara produsen besar mengalami penurunan. Hanya Nigeria yang juga mengalami kenaikan. Nigeria sedang konflik, jadi bisa dimaklumi jika produksinya naik dan turun secara drastis.
Data FAO tersebut adalah data tahun 2013, data terbaru belum divalidasi dan mungkin juga belum masuk. Setidaknya dari data ini, petani jahe Indonesia perlu optimis untuk terus mengenjot produksi, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas jahe. Mumpung produksi jahe di negera India dan China sedang turun. Semoga kita bisa merebut pasar jahe dunia dan mengalahkan China dan India, Insha Allah.
Tapi jangan lengah, petani jahe Indonesia juga perlu hati-hati. Saya tidak tahu data teruptodate dan kondisi pertanian jahe di negara-negara produsen utama jahe tersebut (India dan China). Siapa tahu saat ini mereka sedang memperbaiki diri dan mengenjot produksinya. Jika di dua negara ini terjadi peningkatan produksi yang tinggi, bisa dipastikan jahe Indonesia akan dilibas oleh jahe dari India dan China.
Testimoni petani di Desa Karangayu, Kec. Cepiring, Kab. Kendal, yang melakukan pembuatan kompos dari kotoran sapi dengan Promi. Sebelum membuat pupuk kompos, ibu ini sering diprotes warga karena bau kotoran sapi yang sangat menyengat. Kotoran sapi tidak diolah, ditumpuk dan dibiarkan saja.
Si Ibu mendapatkan pelatihan cara pembuatan pupuk kompos dengan aktivator Promi dari LSM LP3KLH Kab. Kendal. Cara pembuatan komposnya sangat sederhana sekali. Pertama, kotoran sapi ditumpuk membentuk lapisan setebal kurang lebih 10-15 cm, kemudian disiram dengan larutan Promi. Larutan Promi dibuat dengan mengencerkan 1 kg Promi untuk 200 L air. Pada prakteknya, larutan Promi yang dibuat secukupnya saja. 1 Kg Promi kira-kira cukup untuk 3-4 minggu. Sangat hemat sekali.
Setelah diberi larutan Promi, kotoran sapi ditutup dengan plastik. Seminggu kemudian, tumpukan itu diceker-ceker untuk menambah aerasi. Di atas tumpukan itu juga dibuat lagi tumpukan satu lapisan kotoran sapi yang masih baru. Tinggi tumpukan kurang lebih hingga 1 meteran. Selama perjalanan waktu, tumpukan akan menyusut. Kotoran sapi akan menjadi pupuk kompos dalam waktu 3 minggu. Bau kotoran sapi hilang, boleh dikatakan sudah tidak berbau kotoran sapi lagi.
Kompos dari kotoran sapi ini dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk lahan pertaniannya. Kotoran sapi tidak bisa langsung dipakai sebagai pupuk organik, karena tanaman bisa mati atau kuntet (kerdil). Kotoran sapi yang sudah jadi kompos sangat baik untuk pupuk organik. Kompos ini akan menambah bahan organik tanah, memperbaiki sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah, dan menyediakan hara nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Aplikasi pupuk organik dari kotoran sapi juga sangat bagus untuk memperbaiki kondisi lahan yang rusak karena pemakaian pupuk kimia yang berlebihan.
Aplikasi kompos kohe sapi ini juga mudah. Kompos dikeringkan terlebih dahulu, agar bobotnya berkurang dan memudahkan untuk di bawa ke lahan. Kompos langsung ditebarkan ke guludan atau diberikan di sekitar pokok tanaman. Kompos juga bisa digunakan sebagai pupuk dasar sebelum penanaman bibit. Kompos kotoran sapi bisa digunakan untuk memupuk tanaman apa saja; padi, jagung, kedelai, kacang, tomat, kubis, brokoli, kentang dan sayuran-sayuran lainnya.
Berikut ini adalah update untuk Permentan No. 70 Tahun 2011 Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah yang lengkap. Dokumen ini lengkap berserta lampiran-lampirannya, termasuk syarat pendaftaran, pentunjuk pengujian, baku mutu, dll.
Urine hewan, seperti urine kelinci, bisa dimanfaatkan menjadi MOL dengan bantuan Aktivator Promi. MOL ini bisa dimanfaatkan sebagai POC (Pupuk Organik Cair) untuk tanaman apa saja. Urine binatang yang bisa dipakai antara lain urine sapi, kelinci, domba atau binatang lain yang bisa dikumpulkan urinenya.
Bahan-bahan:
1. Urine binatang
2. Promi
3. Molases atau gula jawa
4. Empon2: kunyit, temu ireng, temu lawak
Peralatan:
1. Bak atau drum penampung
2. Aerator aquarium
3. Selang
4. Botol atau jerigen penampung
Cara pembuatan:
1. Tampung urine ke dalam drum atau bak penampung.
2. Beri aerasi selama kurang lebih satu hari satu malam.
3. Siapkan empon2 kurang lebih 10-25% dari volume urine. Jadi jika urine yang digunakan sebanyak 100 L, empon2 yang ditambahkan kurang lebih 10-15 kg. Parut/haluskan empon2 tersebut.
4. Masukkan empon2 ke dalam drum.
5. Tambahkan molasea atau gula jawa sebanyak 5% dari volume urine. Misal, urine yang tersedia 100 L, maka volume molases yang diberikan sebanyam 5 L atau 5 kg gula jawa. Jika menggunakan gula jawa, parut atau haluskan terlebih dahulu gula jawa tersebut.
6. Tambahkan aktivator Promi sebanyak 1-5% dari volume urine. Misal; urine yang tersedia 100L, maka aktivator Promi yang ditambahkan sebanyak 1- 1,5 kg..
7. Aduk hingga semua bahan tercampur merata.
8. Tutup drum.
9. Tambahkan selang aerasi untuk pengeluaran udara. Masukkan ujung selang ke dalam botol air untuk menjaga masuknya udara luar ke dalam drum.
10. Beri aerasi drum tersebut selama kurang lebih satu minggu. Aerasi bisa diperpanjang sampai 10 hari.
11. Setelag satu minggu MOL siap digunakan. Saring larutan MOL untuk memisahkan antara larutan dan endapan.
12. Tampung larutan MOL ke dalan botol atau jerigen.
Cara pemakaian:
1. MOL Urine bisa diberikan ke daun atau dikocorkan ke tanaman.
2. Encerkan MOL Urine dengan dosis 50 ml untuk 1 L air bersih/air sumur. Aduk hingga tercampur merata.
3. Larutan dikocorkan ke daerah perakaran sebanyak atau disemprotkan ke tanaman. Banyaknya larutan yang dikocorkan adalah 150-200 ml (satu gelas air mineral) untuk tanaman semusim/hortikultura atau 2-3 L untuk tanaman tahunan.
4. Penyiraman/penyemprotan diulang seminggu s/d dua minggu sekali untuk tanaman semusim atau sebulan s/d 2 bulan sekali untuk tanaman tahunan.
Untuk pembuatan pestisida nabati, dalam fermentasi urine kelinci ini bisa ditambahkan bahan-bahan yang memiliki manfaat sebagai pestisida nabati. Contoh bahan-bahan yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati bisa dilihat di link ini: Pestisida Nabati. Silahkan cari bahan pestisida nabati yang paling mudah didapat atau bisa juga disesuaikan dengan hama yang sedang menyerang di lahan kita. Bahan-bahan pestisida nabati itu bisa ditambahkan pada saat fermentasi atau setelah fermentasi, tergantung dengan bahan pestisida nabatinya.
Kalau Anda tertarik dengan tulisan di blog ini dan berniat untuk meng-copy-nya serta menyebarluaskannya. Jangan malu-malu, copy aja langsung atau save as lewat menu bar. Boleh diubah, dimodifikasi, dan diperkaya, asal tetap mencantumkan credit-nya dan alamat URL-nya. Diperbolehkan selama untuk tujuan kebaikan, tidak melanggar hukum, norma-norma etika dan kesulilaan, tidak menyinggung SARA, dan BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL. Yang terakhir ini harus bayar Royalti ;). Jika Anda memiliki sesuatu yang ingin ditambahkan, koreksian, komplain, bantahan, protes, gugatan, atau yang lainnya, silahkan masukkan di kolom komentar. Kalau Anda merasa bahwa isi blog bermanfaat, silahkan berbagi dengan yang lain. Silahkan klik icon-icon berbagi yang ada di bawah setiap artikel.