Category Archives: MyFamily

Kecap Uenak Tenan dari Pati

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau di kota Pati ada kecap yang uenakkk tenan. Namanya Kecap Tiga Keong. Kecap manis dengan citarasa spesial. Rasanya manis, gurih, dan ada citarasa khas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kecap ini cocok untuk penyedap masakan, sepertI nasi goreng atau tumis. Kecap ini enak juga untuk makan krupuk, tahu goreng, atau tempe goreng. Satu ‘dhulit’ saja sudah cukup membuat lidah bergoyang.

Proses pembuatan kecap in masih mempertahankan teknik asli pendirinya. Proses memasaknya masih menggunakan wajan besar dengan kayu bakar. Fermentasinya juga masih menggunakan gentong khusus. Tidak ada bahan pengawet sama sekali yang ditambahkan.
Continue reading

Bermain dengan Ular Seharga Puluhan Juta Rupiah

This slideshow requires JavaScript.

Untuk sebagian orang, binatang melata ini mungkin sangat menakutkan bin menjijikkan. Tetapi ada sebagian orang yang lain yang sangat mengandrunginya. Yang namanya hobi, uang tidak jadi hambatan.

Salah satunya adalah Pak Ronny, yang tinggalnya dekat terminal sukarno hatta. Dirumahnya banyak sekali binatang koleksi. Rumahnya lebih mirip kebun binatang kecil daripada sebuah rumah tempat tinggal. Ada ular, ada celeng, ada buaya, dan berbagai macam anjing. Ularnya saja ada beberapa macam dan harganya hampir tidak aku percayai.

Ular kuning kecil yang panjangnya sekitar 1 meteran ini harganya lebih dari dua puluh lima juta, katanya. Ularnya memang cantik, kulitnya bersih mengkilat, kuning cerah, ornamennya jelas, dan sangat jinak. Yang aku belum bisa pahami, dari mana caranya menghargai ular-ular ini. Lha wong cuma binatang melata kok harganya sampai segitunya???!!!

Ada lagi ular piton warna kuning juga. Besar, warnanya sedikit pucat.

Di rumahnya yang lain, masih banyak ular-ular jenis piton yang ditangkap liar. Galak dan suka mengigit katanya

Bencana Lahar Dingin di Magelang

This slideshow requires JavaScript.

Hari senin , tgl 4 Jan 2011, Magelang-Jogja hujan gede banget. Sejak mulai sebelum Asar sampai menjelang pagi. Malam hari ketika lihat berita di tivi, agak terkejut juga aku, karena akibat hujan lebat itu jalur jogja-magelang terputus.

Penjebabnya adalah lahar dingin yang meluap ke kali di desa Jumowo, Muntilan, Magelang. Kali yang beberapa waktu sudah kebanjiran lahar dingin itu menjadi dangkal. Gelontoran lahar dingin meluap dan melalap desa-desa di sekitar kali.

Subhanallah….Allahuakbar….Benar-benar luar biasa terjangan lahar dingin ini. Meskipun sudah dingin, terjangan lahar dingin tetap dahsyat. Lahar dingin berupa pasir dan batu-batu. Batu-batunya segede mobil dan becak. Pasir dan batu-batu itu menimbun rumah-rumah penduduk. Saya lihat ada rumah yang terendam sampai ke atapnya.

Lahar dingin ini meluap menutupi jalan Magelang-Jogja. Pantesan jalur ini matot alias macet total selama beberapa jam.

Pantun Rindu

Jangan ke laut tanpa perahu,
Topan halilintar kan berlalu.
Jangan ditanya rinduku padamu,
rinduku gemuruh lautan biru.

Jangan berjalan di hutan randu,
onak duri tajam mengelana.
Jangan ditanya cintaku padamu,
Cintaku semerbak harum cendana.

Jangan mengelana ke padang baru,
panas pasir datang mendera.
Jangan ditanya kesetianku padamu,
kesetianku setegar karang samudera.

Göteborg, Nov 2010
Posted from WordPress for Android

Pergi ke Taman Kota

Pargi ketaman kota

Kemarin hari kamis tanggal 28 oktober 2010 aku pergi ketaman kota bersama teman -teman sekolah. Di sana aku melihat monyet dan rusa. Di sana juga ada pohon yg bisa di panjat. Setelah puas bermain kamipun akan makan makanan yg kami bawa. Jika sudah kenyang kami akan pulang kerumah masing -masing.

Beda dengan adikknya yang suka menyanyi dan menulis puisi. Mas Royan, anakku yang nomor 1, juga sering menulis. Dia suka menulis pengalamannya di buku khusus. Pernah dia menulis sampai 500 kata, satu kata perbaris. Tulisannya ada yang lucu, ada juga yang mengharukan. Tulisannya di atas sudah ada sedikit kemajuan. Karena dia menulis satu paragraf.
Teruslah menulis anakku….!!!!

Royan

Puisinya Abim: Tamanku

Anakku yang nomor dua, Dedek Abim alias Ibrahim (8 tahun), mulai belajar menulis. Anaknya periang, sensitif, dan sedikit romantis. Hari ini dia mengirimkan puisi gubahannya yang pertama via Skype. Ini dia puisinya:

Tamanku

tamanku kau bersih sekali,
aku lihat burung bernyanyi riang,
tidak ada sampah dimana – mana,
tamanku kau indah sekali,
karena kubersihkan setiap hari.

Pati, 30 Oktober 2010
Abim

100_1154

Di Göteborg, Swedia, Pejalan Kaki adalah Raja

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Menyebrang jalan dengan tenang dan mobil-mobil pun menunggu dengan sabar.

Waktu kecil, orang tua saya sering menasehati kita kalau mau menyebrang jalan: ‘Lihat kanan-kiri, kalau sepi baru menyebrang’. Seandainya tidak hati-hati waktu menyeberang, bisa-bisa ditabrak mobil.

Nasehat ini sepertinya tidak berlaku di Göteborg, Sweden. Di sini pejalan kaki seperti raja. Orang-orang hampir selalu menyeberang jalan di tempat yang sudah disediakan; zebra cross. Jarang sekali saya lihat orang menyebrang jalan sembarangan. Kalau kebetulan kita menyeberang jalan di zebra cross yang tidak ada lampu ‘bangjo’-nya, mobil-mobil akan mendahulukan penyebrang jalan. Kita bisa tetap melintas meskipun ada mobil yang akan lewat. Mobil akan berhenti, mendahulukan dan menyilahkan kita melintas, setelah itu mobilnya baru berjalan.

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Continue reading

Västraffik: Urat nadi transportasi kota Göteborg

This slideshow requires JavaScript.

Transportasi publik ibarat aliran darah dalam tubuh. Kalau aliran darah lancar jaya, maka tubuh pun akan sehat sentosa. Kalau alirannya tersumbat, apalagi acak-kadul, bisa seperti menir kena jantung koroner.

Göteborg, atau Sverige (bahasa jawanya Swedia) pada umumnya, memiliki trasportasi publik yang tertata sangat apik. Semua sarana trasportasi via darat, laut, dan udara sudah saling terkoneksi dan terintegrasi. Orang bisa pergi dengan mudah dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.

Transportasi utama kota ini adalah tram dan bis. Tram adalah kereta listrik pendek dengan dua atau tiga gerbong. Sepanjang jalan utama terlihat dua jalur rel untuk tram. Ada tram yang sudah cukup uzur, sudah tua, terlihat dari bentuknya yang antik. Saya agak heran juga tram ini kok masih bagus mesinnya dan berfungsi dengan baik. Tram yang baru terlihat lebih aerodinamis dengan gerbong yang lebih banyak. Bagian dalam Gerbongnya juga saling terhubung.

tram uzur goteborg sweden
Tram yang sudah cukup uzur, bentuknya sedikit antik

tram uzur goteborg sweden
Tram yang lebih baru, gerbongnya sudah saling terhubung.

tram uzur goteborg sweden
Tram yang paling baru, bentuknya lebih aerodinamis.

Bus digunakan untuk meng-cover transportasi ke wilayah yang berbukit-bukit, berkelok-kelok, atau wilayah lain yang tidak bisa dijangkau tram. Busnya juga dibuat mirip seperti tram, panjang-panjang dan ada yang gandeng. Bus ini kalau menurut saya fungsinya mirip angkot untuk puter-puter kota. Menariknya, bus di sini besar-besar dan panjang-panjang. Panjang satu bus mungkin lebih dari 15 m. Ada lagi bus gandeng. Bus gandeng satu panjangnya sampai 20 m dan yang gandeng 2 sampai 25 meter.

tram uzur goteborg sweden
Dua macam bis, bis biasa yang ukurannya besar dan bis gandeng 3.
Continue reading

Pasar Klithikan-nya Göteborg

kviberg gotenborg sweden
Pasar Kviberg dilihat dari atas, menempati tiga gudang bekas markas tentara. Selalu penuh setiap minggu.

Orang Jogja pasti tahu pasar Klithikan. Pasar yang dibuat oleh pemkot Ngayojokarto Hadiningratan untuk menampung pedagang barang-barang bekas dan -katanya- barang-barang ‘spanyol’ (separo nyolong). Ternyata di Götenborg pun ada pasar seperti pasar Klitikan ini.

Pasar ini ada di daerah Kviberg (baca kwiberi). Menempati tiga gudang besar, konon dulu adalah bekas maskas tentara. Pasar Kviberg (begitu saja saya menyebutnya) hanya buka hari sabtu-minggu. Ramai sekali pasar ini.
Untuk mencapai pasar ini dari apartemenku di Våstra Frölunda cukup naik tram satu kali, tram no. 7. Waktu tempuhnya kurang lebih 30 menit. Turun di halte Kviberg. Tak sulit mencari tempat pasar ini, karena orang seperti menyemut datang dan pergi. Ikuti saja arah orang-orang berjalan, pasti sampai.
Pasar ini sangat terkenal dan ramai, terutama untuk para pendatang bin imigran. Pembeli dan pedagang sebagian besar para pendatang ini. Umumnya dari timur tengah (Iran, Irak, Arab), Turki, Sudan, Somalia, Ethiopia, dan Asia (Indonesia Raya, Thailand, China, Philiphine, Korea, Laos, India, Pakistan),  juga dari eropa timur (Bosnia, Armenia), dan lain-lainnya yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu (seperti kata sambutan aja..). Hanya sedikit orang Swedia yang terlihat di pasar ini. Banyak tampang-tampang arab di pasar ini, karena itu kami sering juga menyebut pasar ini pasar Arab.
Continue reading

Nama Saya Dani Penjol dari Spanyol

dani penjol dari spanyol
Aku, Dani Penjol, Celiene, dan ‘Car’-nya Dani

Di apartemen ini kami lah yang datang pertama. Saya satu kamar dengan Pak Muslikhin. Hari pertama datang badan penat luar biasa setelah menempuh perjalanan lebih dari 18 jam. Pinginnya langsung glosor aja.

Di kamar cuma ada satu tempat tidur ukuran satu orang, untungnya ada kasur tipis extra yang bisa dijadikan alas tidur. Saya pakai kasur itu untuk tepar. Dalam sekejab saya sudah melanglang buana di dunia mimpi.

Sedangkan Pak Mus yang belum bisa tidur, karena mesti menunggu kopernya yang tertinggal di KLM Airlines. Pihak KLM janji sore hari mau mengantar ke apartemen, karena itu Pak Mus tetap menjaga mata tetap terbuka. Menjelang sore bel telepon berbunyi. Pak Mus pikir ini dia orang dari KLM.

“Hello….!!!!” terdengar suara orang dari luar apartemen. Gedung apartemen pintunya terkunci. Hanya penghuni yang punya kuncinya dan bisa masuk gedung. Kalau ada tamu, dia mesti pencet tombol bel semacam interkom. Kalau tuan rumah pencet tombol telepon maka pintu gerbang akan terbuka.

“Hai…Hello..Are Your from the air port?”, tanya Pak Mus.
“Yes…I am from the air port”, jawab orang itu dengan mantap. Lalu tombol telpon dipencet untuk membuka pintu gerbang.

Apartemen kami ada di gedung no. 32 lantai tujuh No. 315. Tak berapa lama terdengar lift berhenti di lantai kami. Pak Mus yang dengan kegirangan – dalam pikirannya kopernya bisa segera kembali – segera membuka pintu apartemen.

Setelah dibuka, berdiri sesosok manusia asing di depan pintu. Kepalanya lonjong penjol dan plontos. Rambutnya mungkin baru tumbuh kurang dari satu mm. Licin kepalanya. Tingginya sekitar 160-an cm. Cukup pendek untuk ukuran orang eropa. Dia membawa koper besar dan tas. Tapi, bukan tasnya Pak Mus.

Dengan wajah penuh ragu, Pak Mus bertanya sekali lagi untuk meyakinkan: “Are You from the air port?”
“Yes…yes…I’m from the airport. You not believe me?”, dia balik bertanya dengan bahasa Inggris yang sedikit kacau.

Wajah Pak Mus semakin ragu, apalagi orangnya tampak tidak meyakinkan. Rupanya orang itu merasa kalau dirinya diragukan.

“I have a key…I have a key…You not bilieve me?” katanya sambil menunjukkan kunci untuk meyakinkan. Lalu dia masuk ke dalam apartemen.
Continue reading