Category Archives: MyStories

Tanaman Unik Jenggot Musa atau Spanish moss (Tillandsia usneoides)

Keluarga kami suka menanam dan suka tanaman. Kalau ketemu tanaman yang unik pasti kami suka. Kali ini kami punya koleksi tanaman baru yang unik sekali, yaitu Jenggot Musa. Kami dapatkan dari Kebun Raya Cibodas. Di rumah kaca anggrek kami melihat tanaman menggantung yang bentuknya aneh. Saya tanya ke penjaganya, apakah ini tanaman lumut janggut (usnea). Penjaganya bilang: “Bukan, Pak. Ini Jenggot Musa, bukan usena.”

Ketika kuliah dulu, saya ingat sekali dengan usnea atau lumut janggut. Tanaman ini adalah simbiosis antara lumut dan alga dan morfiloginya seperti jenggot. Biasanya digunakan untuk tanaman herbal. Mirip banget bentuknya, cuma usnea tidak bisa panjang-panjang seperti Jenggot musa.

Tanaman jenggot musa bisa panjang sekali, bahkan bisa sampai beberapa meter panjangnya. Tanaman yang saya lihat panjangnya kurang lebih 2 meter dan rimbun sekali.
Continue reading

Bus Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Pesawat terbang adalah salah satu sarana transportasi yang paling banyak dipakai untuk pergi dari satu kota ke kota lain secara cepat. Tarifnya pun semakin lama semakin murah dan terjangkau. Pesawat hanya mengantarkan penumpang dari satu bandara ke bandara lain. Masalahnya bagi penumpang adalah transportasi dari dan ke rumah – bandara. Untungnya saat ini ada Bis Damri khusus angkutan bandara. Salah satunya yang ada di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Kalau Anda datang ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan akan melanjutkan perjalanan ke kota lain di sekitar Yogyakarta; Magelang, Secang, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Wonosari, yang paling murah dan cepat adalah naik Bis Damri Angkutan Khusus Bandara. Jadwal Bis Damri adalah setiap jam, mulai pukul 4 pagi sampai pukul 8 malam dari Yogyakarta. Tarifnya pun cukup murah, berkisar dari Rp. 50rb – Rp. 75rb. Lihat foto tarif di foto berikut ini.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tarif Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tempat parkir Bis Damri agak sedikit jauh dari Bandara. Kalau keluar dari Bandara, ikuti saja ke arah KELUAR atau PARKIR Mobil. Melewati jalan lorong bawah tanah menuju ke tempat parkir mobil bandara. Keluar dari pintu ke tempat parkir itu adalah tempat poolnya Bis Damri.

Jurusan Bis Damri Angkutan Khusus Bandara Adi Sucipto adalah:
– Magelang
– Secang
– Temanggung
– Purworejo
– Kebumen
– Wonosari
– Borobudur

Kalau di Magelang, pool bis Damri Angkutan khusus bandara ada di Hotel Wisata yang di dekat Jalan Ikhlas atau terminal lama Tidar. Jam 4 pagi sudah ada bis yang berangkat menuju ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Keberadaan bis ini sangat membantu penumpang. Tarifnya jauh lebih murah daripada naik taksi atau sewa mobil. Posisinya yang agak jauh juga agar tidak konflik dengan taksi dan mobil omprengan.

Sugeng Tindak Simbah Kakung

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.


Simbah, begitu biasanya kami memanggilnya. Nama lengkapnya Simbah Amat Dakwan. Simbah lupa tanggal dan tahun lahirnya. Yang beliau masih ingat adalah ketika sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1908. Mungkin usianya ketika itu sudah 8-9 tahunan. Simbah hanya lulus SR saja tidak melanjutkan sekolah lagi. Simbah kemudian nyantri di pesantren di ‘kulon progo’ (desa di seberang barat kali progo yang ada di desa Kedungingas).

Simbah tinggal di desa Kedungingas. Pekerjaannya adalah tukang kayu dan bertani. Beliau pernah kerja jadi tukang kayu di beberapa kota di Jawa, bahkan katanya pernah sampai ke Jakarta. Kalau musim tanam, biasanya awal musim penghujan, simbah kerja menggarap sawahnya. Mengolah tanah dan menanam padi. Selesai tanam simbah kembali jadi tukang kayu, yang mengurus sawahnya adalah simbah wedok.

Aku lahir di rumah Simbah. Konon katanya Simbah juga yang memberiku nama ISROI. Waktu kecil aku sering pergi ke rumah Simbah. Jaraknya dari rumahku cuma sekitar 2 km. Biasanya aku pergi dengan temen-temen naik sepeda BMX. Menyusuri kali Bening sampai ke desa Nepak. Dari Nepak turun ke Kedungingas. Di rumah Simbah ada pohon rambutan, duku dan mundung. Dulu di sawah juga ada pohon mangga. Kami paling senang ke main ke rumah Simbah apalagi kalau lagi musim buah.

Ketika SD dulu aku juga diajari simbah pencak silat. Kalau malam minggu aku nginep di rumah Simbah. Aku, Bambang dan Joko yang biasaya ke desa. Kami bertiga diajari pencak oleh Simbah. Tapi, karena Simbah sudah sepuh, keseimbanganya kurang, beliau juga sering kelihatan capek. Mungkin karena siangnya kerja di sawah. Lama-lama aku kasihan sama Simbah. Ketika lulus SD, aku masuk ke perguruan silat Kembang Setaman, anak perguruan SH. Latihannya di Stadion Abu Bakrin setiap minggu pagi.

Simbah hidup sangat sederhana. Rumahnya dari kayu dan bambu. Di depannya ada dipan bambu yang dibuatnya sendiri. Simbah cerita, kalau dulu punya anjing. Simbah tidak sengaja memeliharanya. Ceritanya, simbah malam-malam pulang dari kota Magelang. Pulangnya jalan kaki lewat pekuburan Giridarmoloyo (kami biasanya menyingkatnya menjadi Goriloyo). Ketika di tengah kuburan itu ada anjing yang mengikuti Simbah. Simbah menghalau anjing itu agar pergi. Tapi anjing itu tetap saja mengikuti Simbah sampai rumah. Akhirnya, karena tidak mau pergi Simbah bilang sama anjing itu:
“Nek kowe pingin melu aku, kudu nurut aku.”
“Kowe turu wae nang kene.” Sambil menunjuk ke dipan bambu itu.
“Ora oleh mblebu oman.”
Simbah adalah muslim yang taat. Tidak suka memelihara anjing. Meski tidak suka anjing, simbah tetap memelihara anjing itu. Tiap hari selalu diberi makan oleh Simbah lanang atau simbah wedok. Anjing itu jadi penjaga rumah. Kalau siang pergi dan kalau malam pulang ke rumah. Sampai suatu ketika anjing itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Simbah juga pernah punya burung perkutut. Burungnya bagus dan ‘manggungnya’ bagus. Kalau ada orang pasti ‘manggung’. Kalau didekati ‘manggung’ juga. Simbah sangat menyayangi burungnya itu. Karena bagus, burung itu disukai orang dan ingin dibelinya. Simbah berat hati menjualnya, tapi karena sedang butuh uang. Burung perkutut itu akhirnya dijual juga.

Keahlian simbah sebagai tukang kayu banyak membantu bapak. Semua kusen dan kayu-kayu ketika membantun rumah yang mengerjakan Simbah dan Lik Pangat. Meja-meja warung Bapak yang membuat juga Simbah. Sampai sekarang masih bagus dan kuat.

Simbah orangnya suka bercanda. Kalau ditanya umurnya, simbah bilang:
“Umurku songolas tahun,” sambil ketawa-tawa.
Kami menyahutnya, “Ning ongkone di walik tho, Mbah?”
Kami pun ketawa bersama-sama.

Simbah sangat rajin beribadan, mengaji dan sholat. Setiap waktu sholat hampir selalu di masjid. Meskipun simbah sudah sangat sepuh sekali. Simbah masih rajin mengaji dan membaca Al Qur’an. Ketika pandangannya sudah mulai rabun dan pendengarannya berkurang, simbah mulai jarang membuka Al Qur’an. Kami belikan Al Qur’an yang ukurannya besar, biar mudah dibaca oleh Simbah.

Masih segar dalam ingatanku, simbah selalu menasehati aku dengan nasehat yang selalu diulang-ulang.
“Kowe ojo lali sholatte lan ngaji moco Quran.”
“Arepo kowe tekan ngendi-ngendi wae ojo lali sholat yo!”
“Tak dongakke kowe lan keluargamu sok ben iso munggah kaji nang mekah kono.”
“Amin…ngih, Mbah….”

“Aku wis ora pingin opo-opo. Aku wis tuwo. Mung kepingin ‘khusnul khotimah’ wae.”
“Aku ora pingin duwit opo sandang pangan sing enak. Ora.”

Meski sudah sepuh, simbah sangat sehat dan tidak pikun. Makannya banyak, apalagi kalau pakai sambel dan ikan. Meski giginya sudah banyak yang ompong, simbah tetap lahap makannya.

Simbah juga jarang sakit. Paling sakit masuk angin saja. Pernah beliau sakit parah beberapa tahun yang lalu. Di bawa ke rumah Jambon dan tidur di kamarku. Kami menyangka ini ‘sudah waktunya’ simbah. Alhamdulillah Simbah sehat lagi dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Setahun yang lalu simbah juga sakit parah. Sudah lupa semuanya dan sudah tidak bisa apa-apa. Kami sudah pasrah, kalau Simbah mau ‘dipundut Sing Kuoso’. Alhamdulillah simbah kembali sehat. Waktu saya telepon ke adik saya,
“Piye kabar Simbah”,
“Alhamdulillah sehat wae, malah wingi bar seko Jambon.”

Minggu yang lalu, hari kamis malam, sepulang kerja. Seperti biasa kami sholat magrib di masjid dan pulang ke rumah sambil menghafal Al Qur’an. Saya buka laptop saya. Tiba-tiba ada ‘notification’ dari Facebook kalau adik saya men-tag sebuah foto. Sangat jarang adik saya men-tag foto, karena itu saya buka linknya.
Adik saya memposting foto lama simbah dan ada tulisannya; Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Seperti disambar geledek. Langsung saya telepon ke adik.
“Ono opo, Ngek?”
“Simbah sedo” jawabnya singkat.
Innalillahi wa innailaihi rojiun, ucap saya lirih.

“Mau awan jam siji.”
“Lha saiki piye, wis disarekke durung?”
“Wis, iki bar rampung wae, mau jam limo sore.”
“Aku mau telpon kowe ora iso-iso.”

Saya sangat dekat dengan Simbah. Setelah Bapak ’tilar’, Simbah lah yang saya anggap sebagai orang tua penganti Bapak. Sangat sulit saya menceritakan bagaimana perasaanku waktu mendengar kabar ini. Dulu ketika Bapak ’tilar’, saya tidak sempat menunggui dan pulang. Kini, ketika simbah ’tilar’ saya juga tidak bisa menunggui dan pulang.

Tapi saya bangga dengan Simbah. Beliau ‘sedo’ dengan kondisi baik. Hanya sakit biasa dua hari saja. Insha Allah, khusnul khotimah seperti yang selalu beliau inginkan.

Nasehat Simbah selalu tergiang di telinga saya. Karena nasehat itu selalu diucapkan beliau sejak aku masih SMA dulu sampai sekarang. Nasehatnya sama terus dan diulang-ulang.
Simbah menjadi suritauladan saya; kesederhanaan Simbah, keistiqomahan Simbah, kepasrahan Simbah, ke-itmi’nan beliau, ke-qona’ahan Simbah.

Sugeng Tindak Simbah.

simbah kakung

Foto kenangan terakhir bersama Simbah Kakung ketika lebaran 1436H/2015. Simbah masih sehat wal afiat.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang - 1 (1)

Simbah Kakung Magelang - 1 (2)

Simbah Kakung Magelang - 1 (3)

Simbah Kakung Magelang - 1 (4)

Simbah Kakung Magelang - 1 (5)

Simbah Kakung Magelang - 1 (8)

Simbah Kakung Magelang - 1 (9)

Simbah Kakung Magelang - 1 (10)

Selamat Jalan Pak Raden

Pak Raden dan Si Unyil

Pak Raden dan Si Unyil (nyomot dari halaman Facebook)

“Unyil Kucing….!!!!!”
Kata-kata itu sangat familier di telinga kami ketika masih anak-anak dulu. Duluuu sekali tahun 80an. Waktu itu stasiun televisi hanya satu: TVRI. Pesawat televisi juga masih jarang. Hanya orang-orang kaya di desa saya yang punya televisi. Itu saja masih hitam putih.

Keluarga kami yang pas-pasan belum punya tv. Kalau mau nonton TV, ngintip dari jendela nako-nya tetangga depan rumah yang orang kaya. Kami ngintip ramai-ramai dari luar rumah. Itu saja sudah seneng benget kalau sudah lihat Si Unyil dan Pak Raden.

Bagi kami, anak-anak, setiap hari minggu acara yang selalu ditunggu-tunggu adalah “Si Unyil”. Cerita boneka dengan tokoh utama: Unyil, Ucrit, Usrok, Pak Raden, dan Pak Ogah. Ada juga orang gila yang selalu bernyanyi: “Di mana anakku? Di mana istriku?”. Ceritanya macam-macam, khas anak-anak jaman dulu. Main layangan, nyuri buah mangganya Pak Raden. Pak Raden adalah sosok orang jawa dengan kumis tebal dan galak. Pak Raden sering digoda dan diganggu oleh anak-anak. Meski pak Raden tokoh yang galak, tetapi anak-anak suka dengan tokoh Pak Raden ini.

Pak Raden selalu berpakaian jawa dan memakai blankon. Suaranya mengelegar, “Raden Mas Singgo menggolo jalmo wono…”””””. Acara Si Unyil terus menjadi acara favorit kami sampai televisi-televisi swasta bermunculan dan acara-acara karton dari luar menyerbu negeri kita ini.

Meski sudah lama berlalu dan Si Unyil sudah tidak tayang lagi, karena kalah pamor dengan film animasi import, kharisma Pak Raden dan Si Unyil tidak pernah pudar. Bagi saya dan temen-temen yang seumuran saya, pasti setuju dengan pendapat ini. Pak Raden dan Si Unyil tetap hidup di hati kami.

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang mengisi acara pengomposan di Banyumas, jum’at 30 Oktober 2015, ada kabar jika Pak Raden telah tiada. Pak Raden telah kembali ke pangkuan Ilahi. Saya bukan anak atau cucu pak Raden, saudara juga bukan, tapi kepergian Pak Raden begitu menyedihkan. Kalau tidak malu dengan umur yang sudah kepala empat, sudah saya tumpahkan air mata ini. Saya ingin berteriak keras memanggil namanya …..Pak Radeeennnn……!!!!!!!! Dan berlari kepelukannya, seperti Si Unyil yang memeluk Pak Raden itu.

Selamat jalan Pak Raden….!!!!!
Dirimu akan selalu kami kenang di hati kami, anak-anak yang selalu mengagumimu.

Modus Anak Pengemis dan Pemulung di Ciomas

Hati siapa yang tidak akan ‘trenyuh’ kalau melihat anak kecil mengemis dan memulung. Rasa iba akan meluluhkan hati para dermawan untuk mengulurkan tangan dan memberi sedekah pada anak-anak ini. Justru ini yang dijadikan ‘modus’ oleh para pengemis-pengemis ini.

Kalau Anda sering melintasi jalan Pasir Kuda – Ciomas, Bogor, dalam minggu-minggu terakhir ini mungkin sering melihat anak kecil yang duduk di belokan Bojong Menteng dekat Sekolah Rimba Raya. Anak ini duduk sambil membawa kantung plastik besar dan memasang wajah yang seperti kesakitan. Siapa pun orang yang melihatnya pasti akan iba. Banyak orang yang melintas dan memberikan uang atau makanan.

Anak ini adalah anak yang sama, kira-kira setengah tahun yang lalu yang sering lewat di perumahan kami. Waktu itu dia juga duduk sambil memegangi perutnya. Selepas magrib dan hujan rintik-rintik. Dia seperti meringis menahan sakit dan lapar. Saya panggil anak itu, saya ajak ke rumah. Saya tanyakan siapa namanya, berapa umurnya, tinggal di mana, masih sekolah tidak dan kenama memulung.

Dia menyebutkan namanya. Tinggalnya di Kreteg. Ibunya di rumah dan ada seorang adiknya. Bapaknya katanya galak, suka mabuk dan suka berjudi. Dia masih sekolah kelas 5. Dia memulung untuk membantu mencari uang keluarga buat makan. Dia bercerita kalau dia dan adiknya belum makan.

Hati saya luluh. Saya beri dua uang, cukup untuk makan sekeluarga beberapa hari. Saya kasih juga makanan yang ada di rumah. Saya berjanji akan mencoba mencarikan donatur/dermawan yang bisa memberikan bantuan sehingga dia tidak perlu lagi memulung atau mengemis. Saya juga berencana untuk menengok rumahnya. Ketika saya mau antar dia pulang, dia menolak diantar.

Beberapa hari kemudian dia muncul lagi. Saya beri lagi sedikit rizqi. Ini berlangsung cukup lama. Lama-lama saya ‘curiga’ juga. Anak ini kalau dikasih makanan seperti menolak dan lebih memilih dikasih uang.

Kemudian dia mangkal di jalan dekat masjid. Selepas sholat berjama’ah banyak yang lewat jalan ini. Saya tanya ke Pak Haji tetangga saya, “Kasihan anak itu, Pak Haji,”
“Biarkan saja, anak itu memang kerjaannya mengemis”,

Saya sedikit kaget dengan jawaban Pak Haji ini setahu saya adalah orang yang dermawan.

Lama-lama saya juga tidak lagi rutin memberi uang ke anak ini.

Entah sejak kapan, anak ini tidak lagi terlihat di komplek perumahan kami. Tahu-tahu dia sudah ada di pertigaan Bojong Menteng itu.

Saya mencoba mencari tahu ke tetangga sekitar dan beberapa orang tentang anak ini. Saya terkejut dan sedikit jengkel juga. Pertama, anak ini tinggal di kampung di dekat sekolah anak saya. Beberapa teman anak saya kenal dan tahu anak ini. Pantas saja anak saya tidak mau ketika saya minta untuk memberikan sedekah ke anak ini.
“Bi, nggak usah ngasih uang ke anak itu,”
“Kenapa?”
“Kata temenku, uangnya dipakai untuk ‘ngenet’ di warnet di dekat sekolah.”
“Masa…???”
“Iya…Abi sih suka nggak percaya.”

Di pertigaan Bojong Menteng (Bomen), saya coba tanya ke pedagang sepatu dan tukang gosok batu.

“Uuuuu…anak itu mah…memang begitu. Bandel.”
“Tuh….noh Bapaknya nongkrong di warteg. Bapaknya jagain di sana.”

Orang-orang di situ mengenal Bapaknya yang suka berjudi dan mabok. Dia yang mengajari anaknya untuk memulung dan mengemis. Dia gunakan uang itu untuk main judi dan mabok. Anaknya juga sama saja, lebih banyak menggunakan uangnya untuk ‘berfoya-foya’ dan main di warnet.

“Coba dikasih makanan, pasti anak itu tidak mau. Maunya dikasih uang.”

Saya baru menyadari kenapa tetangga saya yang awalnya iba dan kasihan, kemudian berubah mengacuhkan anak ini. Sebenarnya ada banyak lembaga dan dermawan yang bisa dan bersedia untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolah anak ini. Tetapi, kalau anaknya sendiri lebih memilih untuk ‘menjual’ kefakirannya dan seperti tidak mau di tolong, mau bagaiman lagi.

Asal-usul Teh Wangi dan Teh Melati

kebun teh pasir sarongge

Di kebun teh Pasir Sarongge milik Pusat Penelitian Teh dan Kina

Siang tadi di sela-sela acara Workshop PUI saya ngobrol santai dengan Bu Oha (Dr. Rohayati), Kabid Riset Pusat Penelitian Teh dan Kina. Beliau cerita banyak tentang teh di Indonesia. Sampailah pada ceita tentang teh wangi melati.

Kalau diperhatikan, sebagian besar teh yang dikonsumsi di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah teh melati. Berbeda dengan teh yang banyak diminum di Sumatera atau di Jawa Barat. Kalau orang Jateng minum teh di Jabar akan terasa sedikit aneh. Orang Sunda lebih suka minum teh tawar bening. Oranf Jateng lebih suka minum teh tubruk yang super manis. Kalau di daerah Slawi, Tegal dan sekitarnya, teh diminum dengan gula batu; manis banget.

Bu Oha sedikit cerita tentang asal-usul dan sejarah teh wangi ini. Seperti yang kita ketahui, teh adalah tanaman yang diintroduksikan oleh kolonial Belanda. Mereka menanam teh di daerah jajahan mereka, salah satunya di Indonesia. Sejak jaman dulu teh adalah komoditas eksport. Teh yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia dikirim ke Eropa. Teh-teh yang dikirim ini adalah teh-teh2 yang berkualitas bagus.

Sisa-sisa produksi teh eksport ini yang hanya batang2 dan sisa2 daun yang sudah tidak laku. Ya… boleh dikatakan sampahnya lah…. Teh itulah yang diseduh dan dikonsumsi oleh budak2 pribumi di perkebunan teh. Karena kwalitasnya yang sangat jelek, citarasa tehnya pun sangat jelek. Kalau menurut bu Oha, sudah tidak ada rasa tehnya.

Nah, rupanya orang jawa cukup kreatif. Teh2 yang rasanya tidak jelas ini diberi tambahan aroma dan yang dipakai adalah bunga melati. Aroma melati harum dan wangi. Teh melati ini rupanya disukai oleh orang pribumi.

Continue reading

Jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas, Cipanas – Puncak

Kebun Raya Cibodas

Pintu Utama (1) Kebun Raya Cibodas, Cipanas.

Kebun Raya Cibodas, Wisata Alam Alternatif di Wilayah Puncak Bogor

Hari minggu ini kami pergi ke Kebun Raya Cibodas. Sudah lama kami ingin liburan ke sini, tapi baru sekarang terlaksana. Jaraknya sih tidak terlalu jauh dari rumah kami di Bogor. Cuma 48km. Masalahnya buka jaraknya, tapi waktu. Maklum, arah ke Puncak dan Ciboas sudah terkenal macetnya. Pengalaman saya pergi ke Cianjur, Cipanas dan Cibodas, jalur ini sangat macet di akhir pekan dan polisi menerapkan sistem buka tutup. Tipsnya untuk menghindari kemacetan adalah:

  • Harus sudah keluar tol Ciawi sebelum jam 6 pagi.
  • Harus sudah turun ke Bogor dan sampai di pintu tol Ciawi sebelum pukul 6 sore.

Karena itu kami berangkat di pagi buta. Selesai sholat subuh di masjid langsung berangkat. Kami sudah bangun pukul 03.30 pagi. Barang-barang yang mau dibawa sudah disiapkan sejak kemarin malam. Sholat subuh pun sudah dengan pakaian siap berangkat.

Karena masih pagi, jalanan masih cukup lancar. Masuk Tol cuma perlu waktu 20 menit. Keluar tol Ciawi masih pukul 5.30 pagi. Masih lancar. Meski begitu, jalan raya puncak sudah mulai ramai. Kecepatan rata-rata kami cuma 30 km/jam. Alhamdulillah, kami sudah sampai di pintu gerbang Cibodas pukul 06.20 pagi.

Harga Tiket Masuk Kebun Raya Cibodas

Masuk ke Kebun Raya Cibodas ada berlapis-lapis tiketnya. Sebel sebenarnya di sini. Pertama ada pungutan dari desa, besarnya di tiketnya Rp.3000 per orang, tapi tambah pungutan PMI Rp. 2000. Jadi total per orang Rp. 5000. Masih ada lagi pungutan untuk mobil. Entah berapa saya lupa.

Berikutnya tiket masuk ke Kebun Raya Cibodas. Ini tiket resmi dari LIPI yang mengelola Cibodas. Menurut saya sih murah. Harga tiket masuknya Rp. 9.500 per orang dan untuk Mobil Rp. 16.000. Tiket ini lebih murah daripada yang di Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Cibodas

Tiket masuk kebun raya Cibodas, Cipanas.

Jam 07.00 pagi loket baru buka. Jadi kami masuk ke pintu gerbang yang pertama kali. Pertama masuk belok ke kiri. Ini pertama kali kami masuk, jadi kami belum tahu tempat-tempat mana yang bagus dan mana yang kurang bagus. Kami berjalan sambil menyusuri taman-taman yang ada. Kalau ada tempat yang bagus kami turun dan bermain-main di situ.

Anak-anak seneng banget bermain-main di taman itu. Terutama Yusuf, dia lari sana-sini, plosotan dan kejar-kejaran dengan kakaknya.

Suasana Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas sedikit berbeda dengan Kebun Raya Bogor. Mungkin karena belum tua umurnya. Tanamannya belum terlalu banyak. Beberapa yang unik di tempat ini yang tidak ada di Kebun Raya Bogor adalah koleksi lumut dan koleksi kantung semar. Namun, sayang sekali, ketika kami ke sana, kedua taman ini tutup.

Di Kebun Raya Cibodas juga ada beberapa air terjun. Di Kebun Raya Bogor tidak ada air terjunnya. Airnya pun masih jernih sekali, bisa untuk mandi dan main air. Ketika kami sholat pun wudhu dengan air sungai yang jernih ini.

Kami juga seneng sekali, karena di Cibodas kami bisa membeli tanaman hias. Ada banyak sekali jenisnya. Harganya pun lumayan miring daripada di Bogor. Asalkan kita pintar-pintar menawar saja. Ada berbagai macam kaktus, tanaman bunga, bonsai, sekulen, anggrek dan beberapa jenis tanaman lainnya. Kami memborong banyak sekali tanaman.

Tapi kamu juga sedikit kecewa, terutama dengan pedagang asongan di parkiran Kebun Raya Cibodas. Kami beli kue moci dan straberry. Kecewa banget, karena kue mocinya kecil-kecil. Satu kotak cuma isi lima gelintir yang kecil-kecil. Rasanya nggak karu-karuan. Kapok deh. Sama ketika beli berry-berryan. Kalau pergi ke sana, mendingan tidak usah beli makanan-makanan seperti ini.

Untuk menghindari macet, kami harus keluar dari Kebun Raya sebelum pukul 3 sore. Pertimbanganya, meski jaraknya cuma sekitar 20km ke pintu tol Ciawi, jalan di sini macet. Bener saja, ketika kami keluar masih macet dan masih jalan dua arah. Pukul 3, jalan dibuat satu arah ke bawah saja. Meski begitu, jalanan tetap saja macet. Perjalanan pulang ke rumah kami tempuh dalam waktu 2.5 jam. Artinya 45km/2.5 jam, kecepatannya cuma 18 km per jam. Gila kan.

Tapi kami puas sih main-main ke Cibodas. Kapan-kapan main ke sini lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang. Kalau bisa dihari kerja, biar tidak macet banget.

Kebun Raya Cibodas

Di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas

Pemandangan di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas, Cipanas

Continue reading

Mimpi Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar aswad kakbah mekkah Mencium Hajar Aswad

Jika mimpiku bisa naik haji bersama seluruh keluarga dan Emakku terwujud, aku pingin banget bisa mencium hajar aswad. Mencium sepuas-puasnya, kalau bisa berkali-kali.


Tiga tahun kemudian, kami bisa umroh. Dan Alhamdulillah, kami bisa mencium hajar aswad. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.

Baca di sini:

Perjuangan Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad Kedua Kali


Mencium hajar aswad haji mekkah Mencium Hajar Aswad

Cara Penyembelihan Hewan Qurban

Berkurban adalah salah satu sunnah muakad yang dilaksanakan pada hari raya Idhul Qurban. Saya menemukan beberapa video menarik dari YouTube tentang cara-cara penyembelihan hewan Qurban. Video yang paling menarik adalah video dari Sam Kouka. Terus terang, saya penakut dengan darah. Pingin banget mempraktekkan sendiri tapi tidak berani. Silahkan kalau ada yang mau mempraktekkannya. Ada juga video lain yang saya peroleh dari group WA.

Pengalaman dengan Tukang Rumah

Jika punya rumah sesekali akan membutuhkan tukang bangunan, baik tukang borongan maupun tukang harian. Pekerjaan tukang bisa pekerjaan yang kecil/ringan, atau renovasi yang cukup berat. Milih-milih tukang ada seninya tersendiri. Kalau lagi apes, dapat tukang yang belagu, kerjaannya jelek, anggaran jebol. Kalau sedang beruntung, dapat tukang yang baik, kerjaannya rapi, bahan irit dan kita puas.

Beberapa kali saya menggunakan jasa tukang seperti ini. Ketika saya mau pindah rumah, saya sewa tukang untuk merenovasi rumah yang akan kami tinggali. Tidak banyak dana yang saya punya, jadi saya mesti berhemat. Untungnya saya mendapatkan tukang yang baik. Ada tiga orang yang kerja dengan satu pemimpinnya. Kerjaan selesai dalam waktu 3 minggu. Kerjaannya rapi dan yang lebih memuaskan, anggarannya lebih hemat 40% dari yang direncanakan. Padahal mereka sendiri yang membuat anggarannya. Saya pun tidak berat hati untuk memberi sedikit lebih dari upah mereka.

Beberapa tahun kemudian saya perlu tukang lagi. Kali ini saya dapatkan dari rekomendasi salah seorang mandor. Saya minta bantuan tenaga 2 orang yang tukang batu dan cat. Ketika kerja, saya agak kecewa dengan hasil kerjanya. Jelek banget sih tidak, cuma tidak seperti harapan saya. Setelah saya tanya-tanya, ternyata keahlian utamanya adalah tukang listrik. Pantes saja. Saya tidak marah ke mereka, tapi mangkel dengan orang yang mengirim mereka. Ya…sudah mau bagaimana lagi…. 😦

Pengalaman ini membuat saya lebih berhati-hati ketika memilih tukang untuk kerjaan kecil/ringan maupun kerjaan rumah yang agak berat.

Beberapa minggu yang lalu saluran septik tank di rumah bermasalah. Saya sudah panggil tukang sedot dan habis ratusan ribu. Masalah bukannya selesai malah semakin parah. Solusinya hanya membuat saluran baru. Nah, nomor-nomor kontak tukang saya sudah hilang semua, bersama ‘wafat’-nya hp lama saya. Berhari-hari saya mencari tukang. Saya tanya ke teman-teman dan tetangga. Mencari tukang di saat seperti ini ternyata tidak mudah.

Dari tetangga kami direkomendasikan seorang tukang. Tukang itu datang ke rumah malam hari. Saya berdiskusi dengannya dan menunjukkan kerjaan yang mesti mereka lakukan. Awalnya, saya selalu khusnudzon saja. Tapi ketika si tukang membuat analisa pekerjaan penilaian saya mulai berubah.

Pertama, dia memperkirakan pekerjaan ini akan membutuhkan waktu seminggu. Alasannya, karena harus gali sana sini, belum tahu arah salurannya. Trus, ketika saya tanya berapa ongkosnya. Dia menyebutkan biaya harian. Yang ditawarkan sama dia 1.5 kali lebih tinggi dari harga pasaran. Saya tidak banyak komentar. Orang ini mau menipu saya, dia pikir saya tidak tahu berapa harga pasaran tukang.

Kedua, yang membuat saya semakin tidak respek adalah ketika dia menawarkan harga borongan. Harganya sama seperti tukang harian (2 orang) untuk 3 minggu. Gendeng, pikir saya. Saya sama sekali tidak menawar. Saya hanya bilang kalau jadi nanti saya hubungi lagi.

Saya mencari-cari tukang lagi. Seminggu kemudian ada tukang yang datang ke rumah. Orangnya lebih kalem/pendiam. Ketika saya tunjukkan pekerjaannya dia menunjukkan solusi yang lebih simple dan mudah. Dia bilang, “Pipa yang lama tidak usah digali, pak! Langsung dibuat baru saja dari sini ditanam sampai di sini. Kalau sudah siap, baru pipa yang lama dipindahkan ke yang baru ini. Jadi bisa lebih cepat pengerjaannya.”

Bener juga, pikir saya. Tukang yang ini juga memberi harga yang sama seperti harga pasaran di tempat ini. Langsung saja saya terima. Esok hari mereka, 2 orang, mulai kerja.

Pagi hari sudah saya belikan bahan-bahan utama yang diperlukan. Pipa pralon besar dan tebal, semen, pasir, lem dll. Sore hari ketika saya pulang 90% pekerjaan sudah selesai. Mereka belum selesai, karena pipa pralonnya kurang panjang 50cm. Kalau semua bahan lengkap, hari ini juga selesai. Jadi pekerjaan yang awalnya saya perkiraakan selesai dua-tiga hari, bisa selesai dalam waktu sehari. Kerjaannya memang tidak bagus-bagus amat. Kemampuannya standard-standard saja, tapi sudah lebih dari cukup bagi saya. Karena cuma dua hari selesai, tukang ini saya minta untuk membereskan beberapa bagian rumah yang lain.

Saya dan istri pun senang dengan pekerjaan tukang ini. Kami juga tidak merasa berat hati ketika memberi tambahan makanan kecil dan kopi.