Baca juga:
Semuanya tentang Jahe
Pupuk Anorganik Khusus Jahe
Hormon/ZPT Giberelin untuk Jahe
Hormon/ZPT untuk Bibit Jahe
Hormon/ZPT untuk Menghambat Tunas Jahe
Penggunaan Mikroba Trichoderma sp untuk Tanaman Jahe
Dari luar tampak biasa-biasa saja. Namanya Warung Sederhana yang terletak di Jl. Dadali, tepat di samping SPBU Dadali, Bogor. Jangan terkecoh dengan tampilan luarnya. Meski tampak biasa-biasa saja, warung ini menyediakan menu masakan sunda yang mengoyang lidah. Warungnya selalu ramai, apalagi pas jam makan siang. Penuh. Full. Sampai ngantri tempat duduk di luar. Pelanggannya sebagian besar pns dan karyawan kantor di sekitar jl Dadali, Jl. A Yani, warung Jambu. Ada juga yang bukan orang biasa-biasa saja. Pernah saya bareng makan dengan pelanggan yang datang pakai mobil Fortuner atau Pajero Sport.
Menu makanan yang disediakan tidak jauh berbeda dengan warung sunda pada umumnya. Ada ikan mas goreng, ayam goreng, oncom, leunca, bunga pepaya jantang, pepes, paru goreng, sayur asem dan tidak lupa lalapan. Yang istimewa adalah sambalnya. Sambal inilah yang menurut saya membuat masakan di warung ini semakin nikmat. Sambalnya tidak terlalu pedas, tidak terlalu asin atau manis. Sambalnya pas. Cocok dengan lalapan dan goren ikannya. Sambal ini yang membuat air liur terus mengucur dan makanan terasa nikmat di mulut. Setiap tamu yang datang akan diberi semangkok sambal. Sambal ini cukup untuk dua orang.
Harga menu di warung ini juga miring. Murah meriah untuk ukuran di Bogor. Semua orang suka makan di sini, dari mulai tukang becak sampai bos-bos di kantor seputaran Jl. A. Yani dan Dadali.
Kalau Anda sedang di Bogor dan bosan dengan menu makanan fast food ala barat. Silahkan datang saja ke Warung Dadali. Kuliner alternatif di Kota Bogor. Warungnya tepat di sebelah SPBU Dadali. Kalau dari jalan memang tidak terlalu kelihatan. Warung Dadali relatif mudah ditemukan.
Mangga
Salah satu kegiatan yang saya sukai adalah berjalan-jalan di hutan dan menikmati alam bebas. Ketika ada rencana kalau Kepanduan akan diadakan kegiatan menyusuri gunung Halimun, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Terakhir saya naik ke Halimun tahun 2006 yang lalu. Sudah luama sekali.
Saya tanya ke panitia apakah Royan yang baru kelas 7 boleh ikut. Jawabannya boleh. Saya ajak Royan untuk ikut acara ini. Saya tahu Royan juga suka berpetualang di alam bebas.
Banyak yang mesti saya siapkan. Perlengkapan gunung saya entah ada di mana. Terpaksa saya mesti berhemat dan menabung untuk mendapatkan beberapa perlengkapan hiking. Terutama untuk Royan, karena dia belum punya sama sekali. Sebagian dari perlengkapan itu saya pinjam dari Green Camp, seperti tenda, sleeping bag, tas ransel, kompor gas portable, dan lainnha. Sisanya kami beli di Toko Kataraf langganan kami.
Untuk bekal kami beli di tok grosir Lestari Makmur yang harganya miring. Kami bawa Indomie berbagai macam rasa, Sarden, Cornet, minuman instant, biskuit, roti, permen. Kami bawa juga lontong dan beras. Jumlahnya lebih dar cukup untuk makan tiga hari.
Setelah di-packing ternyata bawaan kami berat. Bobot tas saya mungkin 25-30kgan. Tas Royan 15-20kgan. Berat untuk orang seumuran saya. Satu regu kami ada 8 orang. Regu saya ada tiga orang yg sdh uzur, saya, Pak Jo dan P Mig. Royan yang paling muda.
Kamu kumpul di halaman masjid at taufiq. Kata panitia ada 112 orang peserta. Setelah konsolidasi agak lama kira2 menjelang pukul 21 malam baru berangkat. Kami naik truk. Perjalanan semakin seru ketika turun hujan. Gede lagi hujannya.
Awalnya saya pikir kami akan naik ke puncak Halimun. Ternyata tidak. Kami menuju gerbang Taman Nasional Halimun Salak di desa Malasari, kec. Nanggung. Dari gerbang kami jalan kira2 4 jam menuju tempat peninapan pertama.
Posted in Jalan-jalan, MyStories
Tagged Arroyan, bogor, gunung, Halimun, hiking, kepanduan, Salak, Taman Nasional
Video ini merupakan perbaikan dari video yang telah diupload sebelumnya. Video ini lengkap berisi cara pengomposan jerami dengan Promi yang mudah, murah, dan sederhana.
Informasi Promi silahkan klik di sini : PROMI

Sumber: Flowers. Diolah dengan Adobe Lightroom Mobile
(Gambar screenshot dari HP Pribadi)
Adobe Lightroom merilis softwere untuk platform Android. Applikasi pengolah foto yang sangat populer ini tersedia gratis. Hasilnya luar biasa. Namun, aplikasi ini perlu koneksi internet dan memakan cukup banyak sumberdaya Smartphone Android.
Baca juga: Tips Android | Fotografi
Adobe Lightroom Mobile bisa didownload di Google Playstore: Adobe Lightroom Mobile. Cara menginstallnya mudah dan pemakaiannya juga mudah. Jika Anda sudah pernah menggunakan LIghtroom sebelumnya di laptop atau PC akan segera familier dengan applikasi ini.

Sumber: Download dan install Adobe Lightroom Mobile di Google Playstore
(Gambar screenshot dari HP Pribadi)
(Gambar screenshot dari HP Pribadi)
Adobe Lightroom Mobile menggunakan mekanisme yang mirip dengan versi dekstopnya. Pertama foto yang akan diedit mesti di-import dulu ke koleksi. Anda juga bisa memberi nama koleksi2 foto tersebut.
Posted in Android, Download, Fotografi, Tutorial
Tagged Adobe, Android, applikasi, Fotografi, Lightroom Mobile, Smartphone
Ada fonomena menarik yang saya amati beberapa waktu ini di halaman Facebook. Petani2 dan peternak mulai membentuk grup2 sendiri2. Ada yang berbagi pengalaman, berjualan, atau berbagi status saja. Kalau dioptimalkan fasilitas FB gratis ini bisa menjadi senjata ampuh untuk petani untuk meningkatkan ketrampilannya dan meningkatkan pendapatannya.
Ketika harga cabe sedang gila-gilanya saya mengikuti grup Petani Cabe. Banyak yang menarik dari grup ini. Anggotanya hampir dari seluruh belahan Indonesia. Pengeraknya petani2 dan (mungkin) juga tengkulak cabe. Ada kegiatan yang menarik yang dilakukan di grup ini, yaitu absen harga cabe di wilayah masig2. Dari jabar ada yang melaporkan harga di tingkat petani sudah turun hanya Rp. 20rb per kg. Ada yang mengatakan harga cabai di Makasar masih bertengger di atas harga Rp. 100rb per kg. Komentar2 pun bersahutan dan terjadi transaksi antar daerah. Menarik.
Ada juga yang mengupload foto2 tanaman cabenya yang rimbun dengan buah cabe siap panen. Disertai harga dan omzetnya. Bahkan ada yang melaporkan jika lahan yang disewanya sudah dibeli dari hasil panen cabe. Hebat.
Petani2 yang mengalami masalah dengan tanaman cabainya juga mengupload foto2 tanaman yang terserang hama/penyakit. Petani2 lain yang punya pengalaman yang sama saling memberi saran. Ini sarana belajar yang luar biasa.
Masalah pupuk, obat, pupuk organik, media tanam pun cukup ramai. Saya perhatikan beberapa produsen pupuk atau marketingnya gencar berpromosi. Media promosi yang efektif, lintas jarak dan waktu. Ruuaar biasa.
Namun ada juga sebuah grup yang dibentuk oleh produsen komoditas pertanian. Isinya jualan melulu. Namun, menurut saya hebat juga. Adminnya selalu mengupload aktivitasnya memenuhi permintaan pelangan2nya. Hebat.
Ada juga beberapa grup yang dibuat oleh produsen pupuk/pestisida. Sebagian besar isinya hanya promosi, baik yang langsung maupun terselubung. Grup2 seperti ini kurang banyak peminatnya.
Tidak bisa dipungkiri jika FB sedik8t banyak merubah perilaku petani kita. Hadirnya smartphone Android ikut mendorong perubahan ini. FB sangat mudah diakses dari HP. Grup2 di FB juga lebih interaktif daripada milist2 jaman dulu. Kita bisa melihat update status dan komentar langsung dari halaman FB, berikut notifikasinya. Komunikasi private (PM) pun mudah dilakukan dengan messenger.
Peluang ini mestinya perlu dilirik oleh stakeholder pertanian Indonesia, termasuk pemerintah via Deptan atau Meninfo. Petani jaman sekarang tidak lagi hanya pegang pacul. Mereka sekarang sudah pegang smartphone. Dengan koneksi internet yang minimalis pun tetap bisa terhubung dengan rekan2 petani yang lain.
Saya juga menemukan grup2 penyuluh mandiri. Sayang isinya lebih banyak keluh kesah daripada sharing ide tentang pertanian.
Ayo Maju Petani Indonesia.
Malam2 datang ke kantor, karena mesti menerima kiriman barang yang dibawa oleh dua orang petugas. Karena sudah malam, saya ajak mereka mengobrol di ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan ini kuno, perabotannya kuno, buku2nya juga kuno, termasuk ruangannya yang besar dan tinggi juga bergaya Belanda. Saya berdua dengan Arroyan. Tamu saya juga berdua. Saya dan tamu duduk di meja tamu. Arroyan duduk agak jauh di meja baca kuno. Cukup lama kami ngobrol di ruang perpus itu.
Ketika pulang, Royan cerita:
“Bi, tadi waktu di perpus aku dengar ada yang suara orang menyanyi.”
“Di mana?”
“Di dekat pintu depan itu. Suaranya samar-samar, tapi aku dengar.”
“Ah…tidak ada siapa2. Abi tidak dengar apa2. Satpam kali yang menyanyi?”
Di depan perpustakaan memang ada meja satpam.
“Yang nyanyi suaranya perempuan kok, Bi. Suaranya pakai bahasa apa gitu, aku nggak jelas.”
“Pakai bahasa Inggris?”
“Bukan!”
“Bahasa Belanda?”
“Nggak tahu, iya mungkin.”
Saya tenggok jam, jarum pendek berada di tengah angkan 10 dan 11. Setahuku di kantor malam itu hanya ada saya, Royan, dua tamu saya, dan dua orang satpam. Tidak ada yang lain dan tidak ada yang perempuan. Apalagi bisa bahasa Belanda.
Entah siapa yang berdendang malam2 di depan perpustakaan tadi.
Info lengkap pestisida nabati organik klik di sini: Pestisida Nabati
Semua bahan ditumbuk sampai hancur, tambahkan air 1 liter dan didihkan sebentar. Setelah selesai pindahkan ke ember atau wadah. Tambahkan sabun cuci yang biasa untuk mencuci piring secukupnya, aduk sampai rata, kemudian dinginkan. sebelum digunakan saring dengan kain halus, agar tidak menyumbat semprotan.
Aplikasi:Tambahkan air, setiap 100 cc – 200 cc tambahkan air 3 s/d 4 liter air. Semprotkan pada tanaman yang terkena hama.
Sumber: Group FB Jahe Merah Organik