Lampiran PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 70/Permentan/SR.140/10/2011 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

Persyaratan Teknis Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah

buku pupuk organik granul
Baca juga: Video Membuat Pupuk Granul | membuat pupuk organik sendiri | Mesin Cacah Kompos | Pupuk Organik, Pupuk Kimia, dan Pupuk Hayati | Tata Letak Mesin Pabrik Pupuk Organik | Bagan Pabrik POG | Permentan No. 70/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011 | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011

 


PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 70/Permentan/SR.140/10/2011 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

buku pupuk organik granul
Baca juga: Video Membuat Pupuk Granul | membuat pupuk organik sendiri | Mesin Cacah Kompos | Pupuk Organik, Pupuk Kimia, dan Pupuk Hayati | Tata Letak Mesin Pabrik Pupuk Organik | Bagan Pabrik POG | Permentan No. 70/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011 | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011

 


PRETREATMENT BIOMASSA:Kunci Keberhasilan Teknologi Produksi Bioetanol Generasi Kedua

Bioetanol generasi ke dua berbahan baku biomassa lignoselulosa ‘digadang-gadang’ akan menjadi salah satu energi alternatif di masa depan. Namun, penerapan teknologi ini belum banyak berhasil ditingkat komersial. Salah satu kendala terbesar adalah sulitnya mememecah holoselulosa menjadi monomer gula yang bisa difermentasi menjadi etanol. Pengembangan teknologi pretreatment adalah salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan ini. Keberhasilan pretreatment biomassa lignoselulosa akan membuka ‘bottle neck’ teknologi produksi bioetanol generasi kedua.

 

Kendala Hidrolisis Holoselulosa

Biomassa lignoselulosa terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa sering juga disebut dengan holoselulosa. Holoselulosa adalah polimer gula. Bagian lignoselulosa yang bisa difermentasi menjadi bioetanol hanya holoselulosa setelah dihidrolisis menjadi monomer gula penyusunnya. Lignin adalah polimer dari gugus aromatik dan bukan merupakan polimer gula. Lignin dan monomernya tidak bisa difermentasi menjadi bioetanol.

Hidrolisis holoselulosa menjadi gula monomernya adalah langkah awal dalam proses produksi bioetanol. Permasalahanya adalah menghidrolisis holoselulosa di dalam lignoselulosa tidak selalu mudah. Kecernaan (digestibilitas) biomassa lignoselulosa asli adalah sangat rendah. Sebagai contoh, hasil hidrolisis enzymatik tandan kosong kelapa sawit (TKKS) hanya <4% dari kandungan selulosanya (Isroi 2013). Artinya dari satu kg TKKS yang mengandung 39% selulosa hanya diperoleh gula sebanyak 15.6 gr saja. Jika hasil gula ini difermentasi menjadi etanol, maka hanya diperoleh etanol sebanyak 8 gr. Hasil ini sangat-sangat tidak menarik secara ekonomi.

Padahal potensi biomassa lignoselulosa sangatlah besar. Sebagai contoh untuk TKKS; kandungan 39% selulosa dalam TKKS bisa menghasilkan 19.89% bioetanol. Sedangkan kandungan 23% hemiselulosa bisa dihasilkan bioetanol sebesar 18.17%. Jadi jika dijumlahkan akan bisa dihasilkan sebanyak 38.06%. Ini artinya dari setiap 1 kg bisa diperoleh 380,06 g bioetanol. Jumlah ini sangat banyak, apalagi jika dikalikan dengan volume TKKS yang tersedia.

Faktor-faktor yang menghambat hidrolisis biomassa lignoselulosa juga disebut sebagai ‘Biomass Recalcitrance’ (Himmel 2008). Sulitnya holoselulosa dihidrolisis menjadi gula monomernya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah komposisi dan struktur lignoselulosa. Selulosa dilindungi oleh hemiselulosa dan lignin (Gambar 1). Jika diibaratkan sebuah kabel, selulosa adalah bagian dari serabut elemen kabel. Serabut elemen ini dilindungi secara kuat oleh selaput pelindung, yaitu hemiselulosa, dan dilindungi lagi oleh lapisan lignin. Hemilselulosa merupakan polimer gula yang relatif lebih mudah dihirolisis daripada selulosa. Sedangkan, lignin adalah senyawa komplek yang sangat sulit untuk dipecah, baik secara kimia, fisika maupun biologi. Lignin tersusun dari unit phenylptopan dan terdiri dari tiga unit yaitu: unit guaiacyl (G), syringyl (S), dan p-hydroxyphenyl-alcohol (P). Semakin banyak kandungan lignin dan hemiselulosa di dalam biomassa akan semakin menyulitkan selulosa untuk dihidrolisis.

 


Gambar 1. Gambar skematik struktur biomassa lignoselulosa (Isroi et al. 2011).

Kendala berikutnya adalah suprastruktur dari selulosa. Selulosa merupakan polimer glukosa yang tidak bercabang. Banyaknya monomer glukosa yang mementuk rantai selulosa disebut dengan derajat polimerisasi yang berkisar antara beberapa ribu hingga puluhan ribu. Sebagai contoh, polimer selulosa kayu memiliki derajat polimerisasi kurang lebih 1500, sedangkan katun memiliki derajat polimerisasi hingga 15000. Semakin tinggi derajat polimerisasi selulosa akan semakin sulit selulosa tersebut dihirolisis (Alvira et al. 2010).

Beberapa rantai selulosa akan saling berikatan melalui ikatan hidrogen menjadi untaian serabut yang disebut dengan mikrofibril. Beberapa mikrofibril akan bergabung dan saling berikatan menjadi satu membentuk makrofibril. Ikatan antara rantai selulosa membentuk bagian yang disebut dengan area kristalin. Selulosa di area ini sangat kuat ikatannya dan sulit untuk dihidrolisis. Perbandingan antara area kristalin dan area yang amorf disebut derajat kristalisasi selulosa. Semakin tinggi derajat kristalisasi selulosa, semakin sulit selulsosa tersebut dihidrolisis (Al-Zuhair 2008).

Beberapa biomassa lignoselulosa memiliki struktur khusus yang melindungi dari proses degradasi dan dekomposisi. TKKS memiliki struktur yang disebut dengan silica bodies (Law et al. 2007). Silica bodies (tubuh silika) ini berbentuk seperti bola bergerigi yang mengelilingi serabut TKKS (Gambar 2).Tubuh silika ini ibaratnya paku-paku kecil yang menancap kuat di sekeliling permukaan serabut TKKS. Faktor –faktor lain yang menghambat hidrolisis selulosa antara lain adalah luas permukaan, ukuran partikel, volume pori-pori, dan beberapa kelompok asetil yang terikat pada selulosa (Anderson and Akin 2008).

 


Gambar 2. Tubuh silika (silica bodies) yang menyelubungi permukaan serabut TKKS (Isroi 2013).

 

Pretreatment Biomassa Lignoselulosa

Biomassa lignoselulosa memerlukan perlakuan awal (pretreatment) sebelum bisa dihidrolisis menjadi gula dan difermentasi menjadi bioetanol. Pretreatment ini bertujuan untuk memecah pelindung lignin, merubah struktur lignoselulosa, dan membuat selulosa dan/atau hemiselulosa menjadi lebih mudah dihirolisis (Mosier et al. 2005). Perhatikan pada Gambar 3 di bawah ini. Setelah pretreatment struktur lignin dan hemiselulosa akan pecah. Bagian kristalin selulosa akan merenggang dan menjadi berkurang kristalinitasnya.


Gambar 3. Efek pretreatment terhadap stuktur biomassa lignoselulosa (Mosier et al. 2005)

Pretreatment bisa dilakukan dengan metode fisika, kimia, biologi, atau pun kombinasi dari metode-metode itu. Berbagai macam metode dan teknik pretreatment telah dicoba pada biomassa yang berbeda-beda. Hasilnya bervariasi untuk setiap metode maupun jenis biomassa lignoselulosa. Setiap metode pretreatment juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Beberapa metode pretreatment yang telah dilaporkan dalam literature diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa metode pretreatment biomassa lignoselulosa

Prinsip

Proses/Metode

Perubahan pada biomassa

Referensi

Pretreatment mekanik atau fisik    

Milling:

  • ball milling
  • two-rol milling
  • hammer milling
  • colloid milling
  • vibrotory ball milling

Irradiation:

  • gamma-ray
  • electron beam
  • microwave

Lainnya:

  • hydrothermal
  • uap bertekanan tinggi
  • expansi
  • extrusi
  • pirolisis
  • air panas
  • mengurangi ukuran partikel
  • meningkatkan luas permukaan yang kontak dengan enzim
  • mengurangi kristalisasi selulosa

(Taherzadeh & Karimi, 2008)

(Sun & Cheng, 2002)

(Zhu, et al.,, 2005)

(Thomsen et al., 2008)

(Ahring et al.,, 1996)

(Hendriks & Zeeman, 2009)

(Eggeman & Elander, 2005)

(Ohgren et al.,, 2006)

(Kabel et al.,, 2007)

Pretreatment kimia dan fisiko-kimia

Explosion:

  • eksplosi uap panas
  • ammonia fiber explotion (AFEX)
  • eksplosi CO2
  • eksplosi SO2

Alkali:

  • sodium hidroksida
  • ammonia
  • ammonium sulfat
  • ammonia recycle percolation (ARP)
  • kapur (lime)

Asam:

  • asam sulfat
  • asam fosfat
  • asam hidroklorat
  • asam parasetat

Gas:

  • Clorin dioksida
  • Nitrogen dioksida
  • Sulfur dioksida

Agen Oksidasi:

  • Hidrogen peroksida
  • oksidasi basah
  • Ozone

Pelarut untuk ekstraksi lignin:

  • ekstrasi etanol-air
  • ekstrasi benzene-air
  • ekstraksi etilen glikol
  • ekstraksi butanol-air
  • agen pemekar (swelling)
  • meningkatkan area pemukaan yang mudah diakses
  • delignifikasi sebagian atau hampir keseluruhan
  • menurunkan kristalisasi selulosa
  • menurunkan derajat polimerisasi
  • hidrolisis hemiselulosa sebagian atau keseluruhan

(Sun & Cheng, 2002)

(Taherzadeh & Karimi, 2008)

(Eggeman & Elander, 2005)

(Eklund et al., 1995)

(Negro et al., 2003)

(Bower et al., 2008)

(Cara et al., 2008)

(Kim & Hong, 2001)

(Mosier, et al., 2005)

(Saha & Cotta, 2008)

(Shimizu et al., 1998)

(Sun & Chen, 2008)

(Sun & Chen, 2008b)

(Sun & Cheng, 2005)

(Zhang et al., 2008)

(Kim & Lee, 2002)

(Zhao et al., 2008)

(Lloyd & Wayman, 2005)

(Ahring et al., 1996)

(Silverstein et al., 2007)

Biologi

  • Jamur Pelapuk Putih
  • Aktinomicetes
 

(Taniguchi et al., 2005)

(Shi et al., 2008)

(Keller et al., 2003)

(Kirk & Chang, 1981)

 

 

Target Pretreatment Bioassa Lignoselulosa

Pretreatment merupakan tahapan yang banyak memakan biaya dan berpengaruh besar terhadap biaya keseluruhan proses (Chen and Qiu 2010). Sebagai contoh, pretreatment yang berhasil dapat mengurangi jumlah enzyme yang diperlukan dalam proses hidrolisis. Biomassa lignoselulosa memiliki karaktaristik yang berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi digestibilitas juga berbeda-beda untuk setiap biomassa lignoselulosa. Tidak ada satu metode pretreatment yang sesuai untuk semua biomassa. Demikian pula metode pretreatment yang berhasil diterapkan untuk satu biomassa belum tentu berhasil diterapkan pada biomassa yang lain. Pencarian metode pretreatment yang tepat dan ekonomis untuk jenis biomassa tertentu sangat diperlukan.

Target pretreatment biomassa lignoselulosa adalah meningkatkan digestibilitas holoselulosa setinggi-tingginya. Patokannya adalah potensi gula masimal yang bisa dihasilkan oleh biomassa lignoselulosa. Sebagai contoh, potensi glukosa yang bisa dihasilkan oleh TKKS adalah sebanyak 39% x 0.51 = 43.29%. Digestibilitas dinyatakan dalam persen (%) dan dihitung dari banyaknya gula yang dihasilkan dibagi dengan gula total dalam biomassa dan dikalikan dengan 100%. Semakin tinggi nilai digestibilitas artinya semakin banyak gula yang bisa dihasilkan. Digestibilitas tidak mungkin bisa mencapai 100%. Menurut saya, pretreatment yang bisa menghasilkan digestibilitas >85% sudah cukup baik.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan metode pretreatment adalah faktor ekonomis dari teknologi tersebut. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pretreatment + kebutuhan biaya hingga dihasilkan produk harus lebih rendah daripada nilai jual produk tersebut. Nilai jual ini bisa sangat relatif, tergantung pada kondisi perekonomian pada saat itu. Teknologi yang pada saat ini belum ekonomis, kemungkinan akan menjadi ekonomis pada masa-masa yang akan datang.

Teknologi pretreatment yang dikembangkan juga harus relatif mudah dan bisa dilakukan dalam skala yang besar. Banyak metode pretreatment yang telah dilaporkan di jurnal-jurnal ilmiah. Sebagian besar, metode tersebut baru dilaksanakan pada skala laboratorium. Peningkatan skala pretreatment ke skala yang lebih besar membutuhkan penelitian yang lebih cermat dan belum tentu akan sama hasilnya dengan skala kecil. Problem-problem yang belum muncul pada skala laboratorium akan muncul pada saat scaling-up. Kemudahan sebuah metode pretreatment dilakukan dalam skala yang besar merupakan salah satu target dari pengembangan metode pretreatment biomassa lignoselulosa.

Salah satu alasan pemanfaatan biomassa lignoselulosa adalah biomassa lignoselulosa dianggap lebih ramah lingkungan dan re-newable. Metode pretreatment yang dikembangkan sebaiknya juga ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan.

 

Penutup

Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa yang sangat besar. Apabila potensi besar ini bisa diwujudkan menjadi produk bioetanol akan mencukupi sebagian kebutuhan energi bangsa Indonesia. Salah satu kunci untuk mewujudkannya adalah pengembangan teknologi pretreatment yang sesuai dengan jenis biomassa lignoselulosa di Indonesia. Jika pengembangan ini berhasil, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan mandiri dan berdaulat di bidang energy, karena tidak tergantung pada sumber energy dari bahan bakar minyak (BBM).

 

Daftar Pustaka

Al-Zuhair S. 2008. The effect of crystallinity of cellulose on the rate of reducing sugars production by heterogeneous enzymatic hydrolysis. Bioresource Technology 99: 4078-4085.

Alvira P, Tomás-Pejó E, Ballesteros M, Negro MJ. 2010. Pretreatment technologies for an efficient bioethanol production process based on enzymatic hydrolysis: A review. Bioresour Technol 101: 4851-4861.

Anderson WF, Akin DE. 2008. Structural and chemical properties of grass lignocelluloses related to conversion for biofuels. J Ind Microbiol Biotechnol 35: 355–366.

Chen H, Qiu W. 2010. Key technologies for bioethanol production from lignocellulose. Biotechnology Advances 28: 556-562.

Himmel ME. 2008. Biomass Recalcitrance: Deconstructing the Plant Cell Wall for Bioenergy. Edition 1.: Wiley, John & Sons, Incorporated.

Isroi. 2013. Peningkatan Digestibilitas dan Perubahan Struktur Tandan Kosong Kelapa Sawit oleh Pleurotus floridanus dengan Penambahan Mn dan Cu. Dissertation. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Isroi, Millati R, Syamsiah S, Niklasson C, Cahyanto MN, Lundquist K, Taherzadeh MJ. 2011. Biological pretreatment of lignocelluloses with white-rot fungi and its applications: A review. BioResources 6: 5224-5259.

Law KN, Daud WRW, Ghazali A. 2007. Morphological and chemical nature of fiber strands of oil palm empty-fruit-bunch (OPEFB). BioResources 2: 351-362.

Mosier N, Wyman C, Dale B, Elander R, Lee YY, Holtzapple M, Ladisch M. 2005. Features of promising technologies for pretreatment of lignocellulosic biomass. Bioresour Technol 96: 673-686.

 

 

Tips cara mudah dan cepat menyimpan referensi dari Google Scholar dan membuat daftar pustaka

tips google scholar referensi isroi

Google Scholar untuk mencari pustaka

Google Schoolar, Search Engine Khusus Jurnal Ilmiah

Google Scholar menyimpan lautan pustaka dan jurnal-jurnal ilmiah. Pencarian pustaka dengan Google Scholar akan mendapatkan ratusan atau bahkan ribuan pustaka ilmiah yang sesuai dengan kata kunci yang kita masukkan dalam waktu yang sangat singkat. Menyimpan dan membuat daftar pustaka dengan cara menuliskan atau meng-copy-paste satu persatu sangat-sangat tidak efektif. Saya ingin berbagi tips bagaimana cara menyimpan dan membuat daftar pustaka dari Google Scholar yang lebih cepat dan lebih efisien.

Di tulisan sebelumnya saya sudah menyampaikan tips mencari pustaka yang efisien secara on-line. Baca di link ini Tip Mencari Literatur Gratis di Internet.

Saya juga sudah menuliskan tips mengelola daftar pustaka dengan menggunakan aplikasi gratis yang bisa didownload di internet: JabRef atau Zotero. Silahkan baca di link ini JabRef dan Zotero.

Tips berikut ini berkaitan dengan tulisan sebelumnya. Saya tidak akan mengulang tip-tip tersebut. Jadi kalau Anda belum membacanya silahkan pelajari di link yang saya sebutkan di atas.

Langkah-langkah Menyimpan Daftar Pustaka dari Google Schoolar

Pertama Anda memasukkan beberapa kata kunci penting referensi yang ingin Anda cari ke dalam kotak pencarian Google Scholar. Kemudian klik tombol SEARCH. Google Schoolar akan menampilkan hasil pencarian yang sesuai dengan katan kunci yang Anda masukkan. Semakin spesifik kata kunci yang Anda masukkan, akan semakin spesifik pula hasil pencariannya.

tips google scholar referensi isroi

Klik pada link More > Cite untuk melihat pilihan untuk mendownload file sitasinya.

Di bagian bawah daftar pencarian akan ditampilkan beberapa menu. Salah satunya adalah menu untuk mendownload file sitasinya. Di bagian kanan akan ditampilkan link untuk mendownload file full text jika tersedia. Silahkan klik menu MORE>CITE untuk menampilkan beberapa pilihan sitasi.

tips google scholar referensi isroi

Klik pada file yang sesuai dengan aplikasi manajemen pustaka Anda.

Jika Anda menggunakan aplikasi Endnote, download file untuk EndNote. Jika Anda menggunakan JabRef atau Zotero, download file BibTex. Tentukan nama file dan tempat penyimpanan file tersebut.

tips google scholar referensi isroi

Simpan file dengan nama tertentu pada folder Anda.

Langkah berikutnya adalah membuka file tersebut dengan mengklik dua kali pada file yang sudah didownload atau melalui aplikasi manajemen daftar pustaka yang Anda gunakan: Endnote, Zotero, atau JabRef. Aplikasi akan secara otomatis memasukkan sitasi tersebut ke dalam aplikasi manajemen daftar pustaka.

Dari daftar pustaka yang sudah Anda kumpulkan, Anda bisa menambahkan sitasi pada tulisan ilmiah yang sedang Anda buat dan menambahkan daftar pustakanya.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Permentan RI No. 64/Permentan/OT.140/5/2013 Tentang Sistem Pertanian Organik

Tips Android: Waze Social GPS Maps & Traffic, Aplikasi Menghindari Jalan Macet

tampilan kondisi macet di waze

Waze Social GPS smartphone android macet

“Tua di Jalan” atau “Umurnya habis di jalan”. Ungkapan itu muncul dari teman-teman yang sering kena macet di jalan Jabodetabek. Salah ambil jalan atau salah memperediksi waktu-waktu macet bisa membuat strees. Namun, dengan aplikasi gratis Waze, Anda bisa menhindari macet dan bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Hebatnya lagi aplikasi ini bisa didownload gratis di Google Play.

Ketika masih tinggal di ‘pedalaman’ yang jarang sekali kena macet, saya masih cukup mengandalkan Google Maps. Saya cukup puas dengan Google Maps yang bisa memberikan peringatan dengan suara ketika akan membelok ke kanan atau ke kiri. Google Maps juga memberikan prediksi waktu yang cukup akurat. Sebenarnya Google Maps juga bisa memberikan informasi tentang kondisi traffic di jalan yang akan kita lalui. Sayangnya, karena koneksi internet yang masih buruk di ‘pedalaman’, fasilitas ini praktis tidak berfungsi.


Artikel lain tentang Android, klik di sini: Tip-tip Android

Kiat Mudik dengan Waze


Continue reading

Pretreatment dengan Phanerochaete chrysosporium dalam Hidrolisis Asam Encer Sludge Kertas

Analisa Kandungan Lignosellulosa dengan Metode Chesson – updated

Analisis Kandungan Lignoselulosa Dengan Metode Chesson

Alternatif link: Analisis Kandungan Lignin dengan Metode Chesson-Datta

Perbedaan Pola Pikir Entrepreneur dan Peneliti

Entepreneur mulai dari melihat sebuah peluang atau potensi. Kemudian mencari-cari pasar, mencari harga, mengitung keuntungan, dan mencari konsumen potensial. Baru kemudian mencari cara bagaimana membuat sebuah produknya. Baik atau buruk, sempurna atau tidak sempurna tidak jadi soal, yang penting produk itu bisa dijual dan bisa menghasilkan uang. Setelah mendapat uang baru langkah berikutnya melakukan riset untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk itu dengan membayar peneliti-peneliti profesional. Hasilnya, sebuah produk yang laku dijual dan menghasilkan benefit yang nyata.

Penelitia mulai dari sebuah ide, seringkali dari membaca literatur atau browsing di internet. Kemudian mencoba memformulasikan ide itu menjadi sebuah topik penelitian. Mengaduk-aduk kembali isi internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang topik itu. Selanjutnya, mencoba merumuskan ‘state of the art’ dari topik itu. Baru kemudian mencari peluang untuk menjadi topik penelitian. Untuk justifikasi, dicari-cari peluang dan potensi pasarnya. Membuat dasar teori yang njlimet, merusmuskan hipotesis yang scientific, dan mencari metode yang rumit-rumit dan secanggih mungkin. Setelah itu pusing tujuh keliling mendapatkan dana untuk penelitian. Kalau beruntung mendapatkan dana penelitian, penelitian akan dilaksanakan seteliti mungkin se-scientific mungkin. Setelah itu dengan malas ditulis dalam sebuah laporan penelitian. Kalau masih punya semangat, ditulis menjadi sebuah paper ilmiah dan diterbitkan di jurnal-jurnal. Akhirnya, hasil penelitian itu numpuk di perpustakaan atau website-website referensi lainnya. Kalau pun membuat prototipe produk, susah sekali dijual dan sangat jarang dilirik oleh pengusaha. Tragis…..

Saya beberapa kali diskusi dengan entepreneur, pengusaha, marketing, dan orang-orang yang punya ide bisnis luar biasa. Kejelian mereka melihat peluang pasar dan mendapatkan cara untuk bisa mendapat keuntungan sungguh luar biasa. Bahkan, produknya belum jadi, belum diriset, mereka sudah bisa mendapatkan pembelinya.

Untuk menghasilkan produknya, tidak jarang mereka melakukan riset ‘asal-asalan’, yang penting jadi dengan modal youtubing dan googling. Meskipun ‘riset’nya terkesan ‘asal-asalan’, tapi hasinya nyata dan bisa dijual. Salut….

Baru-baru ini saya dibuat tercengan ketika diskusi dengan seseorang yang punya ide bisnis ruaar biasa. Idenya simpel saja, dia melihat ada limbah pertanian yang volumenya sangat besar di suatu pabrik: 10rb ton/bln. Orang kebanyakan mengabaikannya bahkan sama sekali tidak melihatnya sebagai ‘gunung uang’. Termasuk saya.

Limbah itu terdiri dari tiga komponen utama, sebut saya A, B, dan C. Setelah dia browsing-browsing, googling-googling, dan tanya ke kolega-koleganya, tiga komponen itu memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Nilai kasarnya, sebut saja rp. 100rb/kg. Hitung saja Rp. 100rb * 10.000.000. Dua belas digit……weleh-weleh….pengusaha mana yang tidak tergiur dengan ‘gunung uang ini’.

Merubah potensi limbah ‘gunung uang’ 10.rb ton/bln menjadi ‘uang’, bukanlah pekerjaan mudah. Tentunya perlu dana besar juga dan perlu penelitian intensif agar bisa menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Mulai lah ‘teman’ saya itu cari informasi ke sana-sini dan melakukan ‘riset gila-gilaan’ di dapur rumahnya sendiri. Meskipun belum sempurna dan hampir saja membakar rumahnya, dia berhasil mendapatkan tiga produk yang ‘mungkin’ bisa dijual.

Saat ini dia sedang mencari pembeli ke negeri gingseng. Kalau sudah dapat pembelinya, baru dia akan mulai membuat pabrik dan melakukan ‘riset yang benar’.

***
Terus terang, sebagai seorang peneliti saya merasa iri (dalam artian positif) dengan ‘teman’ saya ini. Tanpa dasar keilmuan yang mencukupi, tanpa studi literatur yang cukup, tanpa landasan teori yang kuat, tanpa hipotesis yang sahih, tapi hasil risetnya ‘nyata’.

Nah, saya, kadang-kadang mesti mikirin bagaimana membuat hipotesis yang shahih, latar belakang yang kuat, dan metode yang valid, ketika dibuat proposal pun sering tidak didanai. Hasilnya, masih jauh dari ‘bisa dijual’, paling banter numpuk di perpustakaan.

Sepertinya, saya mesti mem-format-ulang cari berfikir saya selama ini. Hampir 25 tahun hidup saya dihabiskan di bangku sekolah/kuliah, tapi belum bisa memecahkan masalah yang ‘nyata’ dan memberikan kontribusi yang ‘nyata’. Apalagi menghasilkan produk yang ‘laku’ dijual.

-It is save to shutdown your mind-

CHANGES IN LIGNOCELULLOSIC CONTENTS OF OIL PALM EMPTY FRUIT BUNCHES PRETREATED WITH WHITE-ROT FUNGI