Category Archives: MyStories

Macet di Bogor; 12 km ditempuh 4 jam

Saya biasa kena macet di Bogor. Ini salah satu yang paling parah. Perjalanan saya dari Bogor – Cisarua yang jaraknya cuma kira2 12 km ditempuh dalam waktu 4 jam. Artinya kecepatannya 3 km per jam. Lebih cepat jalan kaki daripada naik mobil.

Hari weekend memang ada aturan buka tutup di jalur puncak. Jalan ke arah puncak ditutup dan dibuka sekirar pukul 6 sore. Saya kebetulan menjemput teman2 dari BPTP yang akan presentasi Monev kegiatan KKP3SL dan MP3I di sebuah hotel di Cisarua. Saya menunggu kedatangan mereka di pool Damri sampai kira2 pukul 4.30 sore. Kami langsung berangkat via tol ke arah puncak.

Saya tidak inggat kalau ada buka tutup jalan. Jadi saya ikut terjebak antrian keluar tol. Jika saya inggat, ada jln alternatif menuju puncak. Keluarnya lewat rest area yang ada sebelum keluar tol. Di samping rest area itu ada jalan kecil yang ada tepat di samping jln tol. Ikuti saja jln jecil ini. Biasanya banyak mobil2 yg lewat jln ini. Ada juga guide motor yang membimbing melewati jln2 kecil menuju puncak.

Setelah jam 6 pintu tol dibuka. Kami mulai jalan. Awalnya perjalanan lancar. Sampai di cipayung, kira2 8 km sebelum tempat tujuan jalan macet. Macet total. Jalannya tersendat2. Saya lihat pakai Waze, kemacetan sampai puncak.

Waze menyaranjan jalan alternatif lewat gang. Saya tawarkan ke temen2 apa kita mau lewat jalan alternatif. Sebagian ada yg khawatir dengan jalan itu, karena saya belum pernah lewat jalan itu. Kalau lewat jalan alternatif, kami bisa menghemat waktu 1 jam. Akhirnya kita lewat jalan itu.

Pintu masuknya sebuah gapura kecil yang hanya cukul 1 mobil saja. Semakin ke dalam semakin sempit jalannya. Jika ada mobil dari depan, kami tidak akan bisa lewat. Ada motor saja sulit untuk lewat.

Ada belokan yang sangat sempit. Saya tanya ke anak2 muda yang nongkrong di situ apakah jlannya bisa dilewati mobil. Mereka menjawab “Bisa”. Kami jalan terus menyusuri jalan sempit itu.

Akhirnya kami sampai di jalan yang cukup lebar. Jalan berkelok2 tajam. Ada tanyakan yang sangat tajam. Hampir2 mobil saya tidak kuat menanjak. Diganjal juga tidak kuat. Saya harus mundur untuk ambil ancang2. Denfan sedikit susah payah, akhirnya sampai juga di puncak tanjakan.

Pas di puncak, pas jalan membelok tajam ke kiri. Untungnya jalan itu sudah diaspal bagua dan cukup lebar. Kami mengikuti jalan itu sampai bertemu kembali ke jalan puncak. Di jalan puncak macet lagi. Macet total. Jarak sebemum tujuan 2.8 km. Kami bisa menghemat perjalanan sekitar 4 km.

Kira2 satu jam lebih kami baru sampai ke tempat tujuan. Kalai dihitung Bogor – Cisarua ditempuh dalam waktu 4 jam lebih dengan kecepatan 3 km per jam.

Foto-foto Kuno Kantor Saya 80an tahun yang lalu

PPBBI_jaman_dulu-2

PPBBI_jaman_dulu-3

PPBBI_jaman_dulu-4
Continue reading

Tempat Belanja Murah di Ciomas

Minimarket ‘branded’ banyak bertebaran di sudut-sudut kota Bogor, bahkan sampai ke daerah-daerah pingiran dengan interval jarak yang sangat dekat sekali. Belanja di minimarket ‘branded’ memang enak, tapi harga-harganya miring ke atas. Beberapa item lebih mahal dari warung-warung kecil. Untungnya di daerah Ciomas ada tempat-tempat belanja yang murah sekali untuk belanja kebutuhan sehari-hari/bulanan, namanya Toko ‘Barokah Lestari Makmur’. Toko grosir dan eceran langganan warung-warung di seputaran Ciomas.

Saya diberitahu toko ini oleh ibu kostku dulu. Beliau tahu, anak kost uangnya mempet, karena itu dia memberitahu tempat belanja yang harganya murah-murah. Awalnya Toko Lestari Makmur ada di pertigaan pintu ledeng, dekat pasar Ciomas lama. Toko ini berkembang pesat hingga membuat toko yang lebih besar mirip supermarket di dekat Kantor Kecamatan Ciomas. Kalau dari arah Kecamatan posisinya ada di kanan jalan. Toko ini selalu ramai, buka mulai jam 7.30 sampai 20.30 malam.

Langganan toko ini adalah para pedagang-pedagang warung yang ada di kampung-kampung di sekitar Ciomas. Warung-warung di komplek kami pun juga belanja di toko ini. Harganya jauh lebih murah daripada harga di Minimarket yang menjamur di sepanjang jalan ini. Contoh sederhana saja, harga mie instan; harga eceran lebih murah sampai 15%. Harga grosir bisa lebih murah 20%. Hampir semua barang harganya murah.

Untuk belanja kebutuhan bulanan seperti: sabun, detergen, pewangi, pasta gigi, shampoo, gula, beras, tepung, mie instant, minuman instant, kertas tissue, saus, minyak goreng, telor dan makanan kecil. Kalau belanja di toko ini cukup untuk satu bulan, dengan uang yang sama jika belanja minimarket hanya cukup untuk tiga minggu. Memang sih, sebagian besar barang-barang di toko ini dijual grosir dan kalau beli harus satu kotak atau satu renteng, tidak bisa satuan.

Tempat Beli Susu dan Minyak

Sebagian besar belanjaan kami beli di Toko Lestari Makmur, kecuali susu dan minyak goreng. Untuk susu dan minyak goreng ada toko yang juga murah harganya, yaitu Toko Serasi. Harga susu instant, susu bayi dan minyak goreng lebih murah daripada di Toko Lestari Makmur. Kecuali harga susu kotak, harga susu kotak di toko ini lebih tinggi dari pada di toko Lestari Makmur.

Letak toko ini memang tidak strategis. Posisinya pas di belokan dan tempat parkirnya agak sempit. Meski tidak strategis banyak langganannya, terutama yang punya bayi dan anak kecil. Dari Toko Lestari Makmur masih jalan sedikit ke arah Cikoneng, posisinya tepat di seberang gang masuk ke Cikoneng.

Untuk belanja-belanja kecil lainnya, kami biasanya beli di warung dekat rumah saja. Meski di warung kecil, harganya lebih murah daripada di minimarket. Kami sangat jarang belanja di minimarket. Hanya sekali-sekali saja kami belanja di minimarket. Kasihan juga warung-warung kecil ini, keberadaannya terdesak oleh minimarket.

Ketika Waduk Gunung Rowo Kehilangan Airnya

Waduk Gunung Rowo Pati

Waduk gunung rowo pati yang sudah tidak ada airnya sama sekali.

Di Pati, Jawa Tengah, tempat favorit kami untuk bersepeda adalah waduk Gunung Rowo. Jalan menuju ke sana melewati kebun tebu, hutan jati, kebun singkong, sungai, kebun arbei, jagung dan pohon-pohon randu yang besar-besar. Jaraknya kurang lebih dari tempat kami 20 km. Sesampainya di waduk, rasa capek terobati dengan pemandangan waduk yang menghijau indah. Nelayan dan pencari ikan naik gethek/sampan kecil menjaring ikan-ikan yang ada di waduk ini. Ada juga orang yang memancing ikan dari pinggiran waduk. Di pingir-pingir waduk yang kering terlihat segerombolan sapi dan kambing/domba sedang merumput. Kami menikmati dari saung sambil menikmati ikan bakar dan es kelapa muda. Nikmat dan indah sekali.

TAPI ITU DULU. Waduk gunung rowo sekarang sudah kering kerontang. Tidak ada airnya sama sekali. Entah kemana perginya ikan-ikan itu. Entah kemana perginya air yang melimpah ruah itu. Kata Nano (Eyang Kakung) waduk Gunung rowo ini belum pernah kering. Meski kemarau dan panas panjang sekalipun. Waduk ini konon di bangun oleh penjajah Belanda. Berarti minimal lebih dari 70 tahun air waduk ini tidak pernah kering. Kenapa sekarang jadi kering.

Waduk gunung rowo pati jawa tengah

Pemandangan dulu ketika waduk gunung rowo banyak airnya.

Katanya waduk ini mengalami kebocoran. Ketika kami turun ke waduk, memang di tengah waduk seperti ada tambalan aspal yang besar sekali. Mungkin bagian ini yang bocor. Anehnya, meski yang bocor sudah ditambal, sampai sekarang tidak ada air sama sekali tergenang di waduk ini. Rumput-rumput yang dulu terlihat hijau saja sekarang gersang. Tidak terlihat sapi dan kambing yang merumput di pingiran waduk ini. Apalagi nelayan yang mencari ikan.

Keringnya waduk ini pastilah sebuah tanda dan peringatan, khususnya bagi warga kota pati dan sekitarnya. Mungkin juga ini adzab dari Allah Robb Semesta Alam. Mungkin juga ini ujian.

Semoga kita segera tersadar!!!

Belajar Menikmati Minum Kopi

Pak Yusianto Ahli Kopi

Saya dengan Pak Yusianto di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung. Saya banyak belajar dengan beliau bagaimana cara menikmati kopi. Beliau adalah ahli kopi, tapi bukan peminum kopi.

“Ada peminum kopi dan ada penikmat kopi,” kata pak Yusianto, salah satu tester kopi yang bersertifikat Internasional. Beliau menyampaikan itu waktu kami minum kopi di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung Bogor.

Tiga hari ini di kantor diselenggarakan acara pelatihan peningkatan citarasa kopi dengan teknik bioteknologi. Pembicara utamanya antara lain adalah Pak Dr. Surip Mawardi dan Pak Ir. Yusianto, peneliti senior di Puslit Koka. Mereka adalah para ahli perkopian. Mereka menyampaikan materi tentang citarasa kopi, pengenalan dan faktor2 yang mempengaruhi citarasa kopi.

Pak Yus dan saya diajak mampir ke rumah Kopi Rannin. Pak Yusianto diminta untuk mencicipi minuman kopi2 yang disuguhkan di sini dan memberikan komentarnya. Saya senang sekali, karena bisa dapat tambahan ilmu dari beliau.

biji kopi sangrai

Biji kopi sangrai

Secara umum memang ada dua tipe orang minum kopi, yang pertama peminum kopi dan penikmat kopi. Sebagian besar orang Indonesia adalah peminum kopi dan minum kopi untuk mendapatkan manfaat ‘melek’-nya. Sehari bisa minum dua sampai tiga gelas kopi. Kopi yang umum di pasaran lokal Indonesia adalah kopi robusta yang kandungan kafeinnya tinggi dan rasanya lebih pahit. Minumnya ditambah banyak gula biar rssanya manis. Sekali minum bisa langsung satu cangkir. Saya punya teman yang kalau tidak minum kopi rasanya lemes dan males.

Tipe kedua adalah penikmat kopi. Mereka meminum kopi untuk menikmati citarasa kopinya itu. Penikmat kopi biasanya minum kopi tanpa gula. Kopi yang dipilih kopi arabika atau kopi2 yang sudah terkenal citarasanya seperti kopi luwak, kopi gayo, kopi flores dan lain2. Saya belajar dari Pak Yusi bagaimana menikmati kopi dan mengenali citarasanya.

Kopi yang enak adalah kopi yang baru disangrai. Citarasanya belum banyak berubah. Kopi yang baru disangrai dan dihaluskan akan mengeluarkan bau yang khas. Bau ini namanya fragrance. Jika dicium, kopi akan mengeluarkan bau yang bermacam2. Baunya bisa seperti ada bau gulanya, madu, rempah2, kacang2an, atau bau jagung manis. Kopi yang enak akan berbau segar dan menyenangkan. Tapi kopi yang jelek akan berbau tanah, bau gosong, bau jamur/tengik dan lain2.

Setelah itu kopi baru diseduh tanpa diaduk. Kopi yang baru diseduh akan mengeluarkan aroma segar. Penikmat kopi pertama kali akan menikmati aroma ini. Aromanya juga bermacam-macam. Ada aroma seperti aroma buah, kacang2an atau rempah2. Selain itu ada juga aroma seperti gula/karamel dan coklat.

Setelah dinikmati aromanya baru diminum kopinya. Ketika diminum kopi yang enak akan meninggalkan citarasa di lidah. Rasanya tidak hanya pahit, ada rasa sedikit asam, sedikit manis dan sedikit sepat. Kopi robusta terasa lebih pahit dan tidak masam. Sedangkan kopi arabika terasa lebih masam dan tidak terlalu pahit. Kopi arabika lebih enak diminum dalam kondisi hangat.

Pak Tedjo, pemilik kopi Rannin, menyugguhkan beberapa kopi dengan berbagai cara penyeduhan/penyajian. Saya mencoba menikmati kopi2 ini. Memang terasa bedanya. Setiap kopi memiliki citarasanya sendiri2.

Sampai dirumah saya coba menyeduh kopi yang biasa kami beli di warung. Beda banget rasanya. Terasa sekali ada bau tanahnya, ada bau tengiknya, dan pahit banget. Minum kopi warung tidak enak kalau tidak pakai gula. Aroma dan citarasa yang kurang tadi akan tertutup dengan rasa gula yang manis.

Terima kasih, Pak Yus. Sekarang kalau minum kopi saya akan coba untuk menikmatinya.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pengalaman Konyol: Salah turun halte gara-gara HP

Ini pengalaman lama, tapi pengalaman konyol ini tidak pernah terlupakan dan jadi pengalaman berharga bagi saya. Hanya gara-gara asik main HP saya salah turun halte dan tersesat di belantara Yotebori (Göteborg).

Saya masih baru di kota Göteborg, jadi belum hafal jalur trem, bis dan peta kota. Biasanya saya naik bis menggunakan tram No. 10 dan turun tepat di depan kampus Chalmers. Tapi hari itu saya naik bis no. 16 yang turun di jalan belakang kampus. Sebenarnya in bukan yang pertama, sudah beberapa kali saya naik No. 16.

Jarak dari rumah sampai kampus ditempuh dalam waktu kurang lebih 25menit. Biasanya saya sempatkan waktu di tram atau di bis untuk menulis dengan HP. Kebetulan HP saya waktu itu adalah Motorola Millestone A1 yang sangat nyaman untuk menulis. Saya duduk di deretan nomor 2 dari sopir. Saya sangat asik menulis. Sampai saya lupa dengan keadaan sekeliling saya.

Tiba-tiba sopir menegur saya.
“Vi får”
“Stannar här”
Saya kaget dan belum bisa bahasa Swedia.
Saya cuma melonggo dan tengok kanan tengok kiri. Ternyata saya sudah sampai di ujung bis no. 16.

Di bis ini hanya saya saja penumpangnya. Saya segera turun dari bis dengan kebingunggan. Tertulis di halte itu Vasaplatsen.
“Ampun deh… turun di mana saya ini …. ?????”

Saya coba lihat di peta. Adanya peta jalur tram. Saya cuma ingin tahu saya ada di mana?

Ditengah kebingungan ini saya cobe telp temen sedepartemen saya, Bu Erna. Dia ternyata juga tidak hafal kota ini. Saya minta tolong ke Bu Erna untuk tanya ke teman lain, terutama teman yang asli swedia atau sudah lama di Swedia. Hasilnya nihil.

Saya lihat lagi peta tram dan coba mengenali daerah2 yang saya hafal. Yang saya hafal adalah Brunnsparken di tengah kota. Saya naik bis lagi dan turun di Brunnsparken. Dari sini saya naik lagi tram no. 10 dan turun di tempat biasanya saya turun.

****
Beberapa waktu berlalu, dan saya semakin hafal kota ini. Ternyata Vasaplatsen tidak terlalu jauh dari Chalmers. Jalan kaki kira 10-15 menit sampai juga ke kampus Chalmers.

Pengalaman ini jadi pelajaran penting bagi saya. Jangan sampai terlalu serius dan terlalu fokus sampai lupa keadaan di sekitar kita.

Pak Haji Zaka: Kunci sukses gapoktan/poktan atau komunitas petani

Sudah lama sekali saya tidak sungkem ke Pak Haji Zaka. Kebetulan saya ada kegiatan di Sukabumi dan lewat Cigombong. Saya tidak lewatkan kesempatan ini untuk mampir ke saung Pak Haji. Setelah bertahun-tahun tidak ketemu, Pak Haji Zaka masih tetan awet tua, tetap energik, tetap cerdas, humoris dan penuh semangat.
Salam hormat, Pak Haji.

Sihir Mencuri Bayi dalam Kandungan


Setiap mudik selalu saja ada cerita2 yang menarik. Mudik tahun 1436H ini ada satu cerita yang menarik bagi saya, yaitu fonomena kandungan yang hilang. Anda boleh percaya boleh tidak.


Sudah sering ada kasus kandungan yang tiba-tiba menghilang. Bayi dalam kandungan yang sudah berumur beberapa bulan tiba2 hilang begitu saja tanpa ada bekas sama sekali. Penyelasan dokter atau  bidan biasanya mereka menyatakan kalau ini adalah hamil anggur, seorang wanita yang hamil palsu. Seperti hamil tetapi sebenarnya tidak hamil.

Selama ini saya hanya membaca beritanya saja atau hanya cerita dari orang. Saya cenderung percaya dengan penjelasan ‘hamil anggur’ itu. Ada  banyak penjelasan lain yang lebih berbau mistis. Sulit dijelaskan secara ilmiah, yaitu pencurian bayi dalam kandungan oleh jin atau dengan ilmu sihir.

Mudik kali ini secara tidak sengaja saya bertemu dengan ibu2 yang pernah kehilangan bayi dalam kandungan. Cerita2 unik dan ‘mistis’ seperti ini selalu menarik untuk disimak. Tentu saja saya tidak langsung saja percaya. Saya korek2 cerita dari si Ibu.

[Nama dan tempat tidak saya sebutkan untuk menjaga privasi Si Ibu. Dia tidak mau rahasianya terbuka untuk umum.]

Ceritanya Si Ibu merantau kerja ke Jakarta bersama dengan suaminya. Mereka mengontrak sebuah rumah petak. Suaminya kerja di pabrik, dia juga kerja di pabrik yang lain. Sebagai pasangan yang baru menikah tentunya mereka sangat ingin segera mendapatkan momongan.

Si Suami ternyata juga tertarik untuk belajar ‘ilmu’ dan berguru ke seorang ‘guru’. Anehnya, suaminya yang belajar ‘ilmu’, tetapi justru Si Istri yang mendapatkan ‘ilmu’nya. Entah bagaimana awal mulanya, Si Istri tiba-tiba mendapatkan kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan ‘mahluk lain’ alias ‘jin’. Si Istri bisa melihat kenampakan-kenampakan aneh di sudut-sudut rumah, di kebun, atau di tempat2 tertentu. Awalnya dia ketakutan, tetapi lama-kelamaan menjadi terbiasa. Bahkan dia bisa berkomunikasi dengan mereka.

Misalnya saja, dia bisa tahu kalau di rumah kontrakan yang mereka tempati ada ‘penghuni lain’ yang juga berkeluarga dan beranak-pinak. Yang Bapak bentuknya raksasa, tinggi dan besar. Mereka juga punya anak yang masih kecil2. Anak2 ini sering mengganggu. Kadang2 kalau melihat tivi, Si Ibu pindah channel, ‘jin’ itu ikut3an pindah channel. Suaminya sempat heran, karena sering melihat istrinya bicara sendiri. Gangguan semakin menjadi2. Pernah suatu hari teman suaminya pingsan di rumah kontrakan itu, karena dia melihat anak kecil yang mau membunuhnya.

Si Suami akhirnya tidak tahan. Mereka pindah kontrakan.

Jika habis melihat ‘makhluk2’ itu matanya jadi sakit dan berair. Seperti orang yang sakit belekken. Kemampuan ini semakin lama semakin menjadi. Dia bisa tahu dan merasakan kehadiran ‘mahluk lain’ itu.

Iseng2 saya tanya, “Kalau di rumah ini ada ‘mahluk’ tidak?”
“Ada!
Yang dibelakang ini nenek2.
Kalau yang di atas ada ibu2 dan anak2nya.”
“Tapi mereka tidak mengganggu kok.” Jelasnya.
“Kalau di rumah yang satunya lagi?” Tanya kami penuh selidik.
“Ada juga. Tapi, tidak usah saya ceritakan. Khawatir kalau yang lain jadi takut,” jawabnya singkat.

***
Dia melanjutkan kisahnya.
Akhirnya dia hamil. Karena ini kehamilan pertama, dia keluar kerja dan kembali ke kampung halamannya di Gemolong, Purwodadi, Jawa Tengah. Dia rutin periksa ke dokter, bidan dan juga di USG. Bayinya laki-laki. Dia senang sekali.

Di Jawa ada tradisi acara tujuh bulanan, yaitu acara selamatan untuk kehamilan usia tujuh bulan. Keluarga ini  berencana akan mengadakan acara tujuh bulanan ini. Usia kehamilannya sebentar lagi tujuh bulan. Tinggal menunggu hari saja.

Suatu malam mereka melihat acara televisi. Si Ibu, orang tuanya dan adik2nya.

Kurang lebih pukul 10 malam, Si Ibu melihat ada kepala ular di bawah televisi. Ularnya hanya terlihat kepalanya saja sebesar tangan orang dewasa. Dia berteriak histeris:
“Ular….ular….ular…!!!…..” sambil menunjuk ke arah bawah televisi.
Sontak saja orang tuanya kaget. Bapaknya segera mengambil pentungan untuk memukul ular. Anehnya, Bapaknya tidak menemukan ular itu di bawah televisi dan hanya dia saja yang melihatnya.

Selesai menonton tivi si Ibu tidur. Kurang lebih pukul 2 dini hari dia terbagun. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Perutnya terasa kosong. Bayi dalam kandungan biasanya akan aktif di malam hari dan menendang2 perut ibunya. Malam ini tidak terasa apa2. Aneh. Si Ibu juga mengalami ‘flek2’.

Keesok harinya dia pergi periksa kandungan ke bidan. Bidan kaget, karena perutnya tidak ada bayinya, tidak terdengar ada denyut jantung bayi. Si Ibu pun pergi ke dokter. Dokter juga binggung, bagaimana bayi dalam kandungan bisa raib tidak berbekas.

Si Ibu benar2 syok. Harapannya untuk memiliki bayi pupus. Dia sedih, keluaganya pun geger. Dokter memberi penjelasan kalau kehamilannya mungkin.hamil anggur. Mustahil, katanya dalam hati. Hamil anggur tidak ada gerakan bayi dan tendangan2 bayi. Juga tidak ada tonjolan tulang2 bayi itu. Dia tidak bisa mempercayai penjelasan itu.

Sampai sekarang Si Ibu ini belum hamil lagi. Kadang2 dia kangen sama anaknya. Kalau kagen seperti itu dia akan melihat foto2 hasil USG. Kalau lihat anak kecik yang seusia dengan anaknya dia menjadi sedih dan teringat anaknya lagi.

Kadang2 dia bermimpi tentang anaknya. Pernah suatu hari dia merasa anak bayinya tidur bersama dia dan suaminya. Kadang2 dalam mimpinya si anak minta digendong. Sedih.

****

Cerita seperti ini bukan yang pertama. Beberapa kasus pernah terjadi. Konon bayi2 yang hilang seperti itu karena dicuri oleh ‘jin’. Kehadiran ‘ular’ misterius itu bisa menjadi tanda kehadiran jin yang akan mencuri bayinya. Salah satu perwujudan jin adalah ular.

Konon juga jin2 itu adalah suruhan ‘dukun’ yang menjadi tuannya. Dia akan mencuri bayi dalan kandungan ibu yang sedang hamil dan memindahkan ke kandungan perempuan lain yang sulit hamil. Perempuan itu datang ke dukun dan minta bantuan dukun agar bisa hamil.

Sungguh jahat pekerjaan dukun ini. Terlaknat. Dukun dan yang minta bantuan ke dukun sama2 dosa. Tempatnya kelak di neraka bersama2 dengan setan dan jinnya.

Wallahu a’lam.

Pangan Pengganti Nasi dari Kearifan Lokal Maluku

makan pisang pakai sambel

Menu pisang goreng yang dimakan bersama dengan nasi dan sayur. Makanan di sebuah rumah makan di Tobelo, Halmahera Utara. (Foto koleksi pribadi)

Bagi saya, kalau belum makan nasi serasa belum makan meski sudah banyak makan makanan lain. Sebagian besar orang Indonesia, terutama Indonesia bagian barat, memiliki tabiat yang sama. Karenanya, kita sangat tergantung pada makanan pokok nasi atau beras. Saudara-saudara kita dari Indonesia Timur sudah terbiasa makan makanan pokok selain nasi, yaitu: sagu, singkong, ubi dan pisang. Saya baru sadar setelah merasakannya sediri ketika berkunjung pertama kali ke Halmahera, Maluku.

Sagu sebagai makanan pokok sudah diajarkan sejak saya masih SD dulu, tapi saya baru tahu kalau sagu dimasak menjadi seperti lem yang disebut dengan papeda. Di sebuah rumah makan kami disuguhi makanan ini. Ketika pertama kali saya melihatnya yang terbayang dikepala saya adalah lem dari tepung kanji. Mirip sekali soalnya. Cara membuatnya juga sangat sederhana. Tepung sagu, diberi air panas lalu diaduk sampai mengental seperti lem.

Papeda dimakan seperti makan nasi. Papeda dimakan dengan sayur ikan, sayur terong, sayur daun ketela dan juga sambal. Makannya pun hanya dengan tangan. Bagi saya ini agak aneh, sulit mengambil papeda dengan tangah, soalnya ‘njedel’ seperi itu. Meski bagi saya sedikit asing dan aneh, tapi makan papeda ini enak juga.

Makanan pengganti nasi berikutnya adalah singkong rebus, ubi rebus dan pisang rebus. Singkong, ubi dan pisang ini direbus dengan menggunakan santan. Saya tidak tahu apa nama buah pisang yang dimakan ini, tapi buah pisang ini banyak mengandung pati. Cara makannya sama persis dengan jenis sayuran yang sama seperti makan papeda atau nasi. Kalau makan singkong dengan sayur ikan, tidak terlalu mengherankan bagi saya. Yang akan aneh adalah ubi dan pisang. Ubi dan pisang rasanya manis ditambah gurih dari santan kelapa. Ketika dipadukan dengan sayur ikan, ikan bakar dan sambal rasanya sedikit unik di mulut saya. Paduan rasa manis ubi dan pisang dengan gurih ikan dan pedas sambal.

Pisang ternyata dimakan dengan banyak makanan lain. Orang Maluku makan pisang dicocol dengan sambal dan kacang merah. Pisangnya disebut dengan pisang bebek, salah satu jenis pisang lokal yang terkenal di Maluku. Pisang yang dimakan dengan nasi ini adala pisang yang masih agak muda. Pisangnya juga banyak mengandung pati, jadi rasanya pulen dan mengenyangkan.

Rasanya saya perlu mencoba makan dengan cara ini di rumah. Saya akan coba minta istri saya sesekali makan singkong dan ubi dengan sayur.

Andaikan kebiasaan ini bisa ditularkan ke orang-orang di wilayah Indonesia bagian barat, mungkin diversifikasi pangan bisa direalisasikan. Pak Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail, sudah memulai untuk menggalakan makan pokok selain nasi. Kalau tidak salah, dalam sehari dicanangkan makan selain nasi.

Sayang sekali, saya tidak membawa HP ataupu kamera, sehingga saya tidak bisa tampilkan foto-fotonya.

Batu Akik Hitam Jahanam dari Pulau Halmahera untuk Meningkatkan Kejantanan Pria